
Pikiranku masih belum bisa lepas dari obrolan di meja makan tadi siang. Rasanya masih ada perasaan yang mengganjal. Merutuki diri sendiri yang tak bisa menyaring kata saat berbicara. Alhasil aku meminimalkan kalimat dengan Dion setelahnya. Bahkan waktu makan malam, yang biasanya aku sangat bersemangat menjadi pendiam. Makanan pun hanya sedikit yang kusentuh. Padahal ada ayam lodho favoritku yang menghias lezat di piring.
Mama yang sudah hafal tabiatku, membiarkan. Memilih tak berkomentar. Kristy yang biasanya kritis dan pengkritik sadis sedang keluar, jadi meja makan sudah seperti kuburan. Hanya Dion yang memilih menjadi pembicara. Mengobrol ala kadarnya dengan Mama.
Segera kuberanjak dari meja meskipun makananku masih banyak tersisa. Berjalan ke lantai dua dan mendamaikan hati di balkon kamar. Lamunanku menyerang, terngiang segala nasihat Dion tentang Pak Aryan.
Huft ... Terbuanglah napas kasar dari mulutku.
"Mas hanya ingin kamu lebih santun berbicara, Yang. Kamu, mau kan? Nanti kita tetap bersama di surga," ucap Dion yang tiba-tiba saja sudah berdiri di sampingku.
Kutoleh sebentar dan kembali lagi kubalikkan pandangan pada titik pandang sebelum Dion datang.
Sebentar. Itu tidak berlangsung lama karena aku memilih untuk menghambur ke pelukannya. Mengharap belaian lembut pada rambut hitamku, yang benar saja, apa yang kupikirkan sekarang sedang ia lakukan. Semakin kutenggelamkan diri dalam rengkuhannya.
"Aku ingin minta maaf pada Pak Aryan," kalimat itu lolos begitu saja dari bibirku.
Entahlah. Walaupun dia tidak mendengar, tapi hatiku sangat tidak tenang karena melabelinya dengan kata yang sangat tidak sopan. Seandainya itu benar pun, aku tak boleh bicara seperti itu di belakangnya. Kemana Rosa yang lebih suka bicara apa adanya di depan orangnya langsung? Kurasa itu lebih baik.
"Itu kalimat yang kutunggu, Sayang. Mas tahu hatimu baik, makanya Mas gak perlu memerintahmu melakukan itu. Karena Mas yakin kamu akan berpikiran seperti itu, hanya membutuhkan waktu," terang Dion sambil mencium keningku.
Akhirnya senyum pun bisa aku kembangkan sempurna di hadapannya.
"Pulang, yuk! Aku mau minta maaf malam ini juga," ajakku dengan penuh pengharapan dikabulkan. Karena rencana awal kami akan menginap.
"Aryan ada di bawah, 'tuh. Samperin, sana!" ujar Dion yang langsung membuatku berbinar.
Benar-benar skenario Tuhan yang indah. Apa yang kuinginkan selalu disodorkan. Mungkin ini adalah jalan untukku memperbaiki diri. Meminta maaf saat aku melakukan kesalahan. Ya ... begitulah wujud cinta Tuhan.
Aku siap memutar langkah tapi Dion malah mengambil sebuah benda dari sakunya. Kuhentikan langkahku. "Kamu gak ikut?"
"Aku mau telepon dulu, nanti aku nyusul."
"Baiklah," ucapku sebelum kembali melangkah menuju pintu yang menghubungkan balkon dan kamar.
"Telepon siapa?" tanyaku penasaran, belum ikhlas meninggalkan Dion yang ingin berkutat dulu dengan benda pintarnya.
Dion yang sudah menempelkan benda pipihnya memilih menurunkan lagi dari telinga. Ia matikan panggilan yang sudah ia hubungkan tapi belum sempat diangkat. Dia mendekatiku dengan senyumnya yang tak pernah terlepas.
__ADS_1
"Aulia, Sayang."
Dahiku menampakkan garis-garis halus. Mencoba mencerna nama Aulia. Wanita? Pria? Banyak Aulia di sekitar Dion. Yang mana?
"Aulia Putra Handika."
"Oh, Mas Dika. Baiklah," ucapku lega sambil mengecup pipi kiri Dion sebelum berlari kecil, kabur.
Lelaki itu pasti sekarang sedang tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. Melihat tingkah istrinya yang sangat kekanakan. Namun aku yakin itu sangat menggemaskan di matanya. Apakah aku terlalu percaya diri? Tidak, itu adalah sebuah kebenaran. Kebenaran dari pikiranku sendiri. Seorang istri yang dipenuhi pikiran jika suaminya adalah bucin sempurna.
Langkahku menuruni tangga terhenti saat berada di anak tangga pertama. Bingung mau mengambil langkah. Ke mana menemukan keberadaan Pak Aryan. Akhirnya kuputuskan mengambil arah kanan, ruang keluarga. Karena tempat itu adalah ruangan tempat kami biasa ngumpul selain meja makan.
"Hai, Sa! Bagaimana tadi hasil tesnya? Positif?" cercanya begitu aku terlihat di matanya.
"Gak jadi," jawabku sambil memilih duduk di sofa sebelahnya.
"Kenapa?"
Sebenarnya aku bosan untuk menjelaskan. Apalagi masalah yang berakar kecemburuan ini akan menjadi cerita baru. Aku digoda, diejek, dan dijadikan korban bullyan.
"Gak usah cerita, sepertinya aku bisa menebak apa yang terjadi," terang Pak Aryan yang akhirnya tidak akan kuperpanjang lagi dengan pertanyaan kenapa dia bisa tahu.
"Bapak ngapain ke sini? Buntutin aku, ya?" tanyaku melupakan tujuan awal mencarinya.
"Nganterin oleh-oleh dari Papa buat Mama," terang Pak Aryan yang kubalas kata OH.
"Eits, maksudnya?" tanyaku meminta penjelasan karena sepertinya kalimat Pak Aryan terdengar ada sesuatu yang janggal.
"Bilang terimakasih untuk Papamu ya, Kain sarinya bagus. Mama suka," ucap Mama yang baru saja keluar kamar dan berjalan ke arah kami.
Kain sari? Mama? Papa?
"Apakah aku belum tahu sesuatu?" tanyaku lolos entah untuk siapa kutujukan.
Pak Aryan mewakili berbicara. Dengan santai ia menjadi juru penjelas untuk tanyaku yang ingin dibalas. "Kemarin Papa baru dari India. Ini oleh-oleh buat Mama karena Papa tahu Mama sangat mengagumi kain sari. Tentunya kamu tahu kan kalau Mama penggemar film Bollywood?"
Tentu saja aku tahu. Karena aku mengenal dan jatuh cinta dengan pasangan SRK dan Kajol karena sering nonton bersama Mama. Kain indah itu memang sudah lama Mama inginkan, apalagi yang asli dari tanah kelahirannya.
__ADS_1
Masih banyak tanya yang bersarang di otakku. Dan itu wajib diberi jawaban. "Kok Papa tahu Mama pengen kain sari?"
"Karena kita keluarga," jawab aman dari Pak Aryan.
Begitukah?
"Ma ...?"
Panggilanku sia-sia. Mama sudah pergi entah kapan dan ke mana. Aku sibuk menjari jawaban sehingga lupa bertanya pada yang bersangkutan.
"Apakah sudah cukup kamu mengintrogasiku?" tanya Pak Aryan membuatku ingat tujuan awal mencarinya.
"Udah, tapi ... aku ingin minta maaf sama Bapak," ucapku memasang wajah sendu.
"Maaf untuk apa?" tanya Pak Aryan sangat lembut.
"Hmmm ... waktu aku sebel karena Bapak selalu menolak aku jodohkan, aku bilang kalau Bapak itu ...," ujarku memotong kata yang membuatku dihantui rasa bersalah.
Pak Aryan melihatku dengan serius. Menantikan lanjutan kata yang kupenggal. "Aku banci? Seperti kata Tya?"
Kepala yang sempat kutundukkan, terangkat seketika. Bagaimana ia bisa tahu semuanya. Bingung harus berkata apa, aku hanya bisa tersenyum canggung. Bukannya marah, dia malah tertawa ngakak.
"Kamu percaya kalau aku banci?" tanyanya kemudian.
"Kalau kamu pacarku, langsung aku buktikan sekarang juga kalau pemikiranmu itu salah besar."
"Menolak kamu jodohkan bukan berarti aku punya kelainan."
"Mau bukti?"
Secepat kilat, aku gelengkan kepala.
"Syukurlah kalau Bapak normal. Sepertinya rasa bersalah ini percuma. Aku merugi," ucapku sambil mengerucutkan bibir di hadapannya.
"Kalau kamu seperti itu, pembuktianku bisa salah sasaran, lo," goda Pak Aryan yang kubalas injakan di kakinya.
"Abang!" seruku saat dirinya semakin membuatku kesal.
__ADS_1
"Sana, temani suamimu. Nanti dia juga cemburu padaku," suruh Pak Aryan sambil mengacak puncak kepalaku.