
Aahh ... Di!
Aku bisa gila, jika membayangkan jadi kamu!
"Apa kamu baru menyadari, kalau aku segila itu karena mencintaimu?" Dion membuyarkan ingatanku.
Aku lagi-lagi terkesiap, mendengar pertanyaan Dion. Seakan aku diingatkan lagi, tentang perasaannya padaku yang sudah over dosis. Anehnya, itu tak lantas membuatnya sekarat, tapi malah semakin bertekad untuk terus meluluhkanku.
"Di ...." aku memanggil Dion sambil mengarahkan pandanganku pada mata teduhnya.
Dion tak menjawab sapaanku, dia hanya menoleh ke arahku sambil tersenyum. Aku jadi ragu untuk bertanya lagi.
"Kok, malah diem," Dion kembali melihatku.
"Di, segila itukah, kamu mencintaiku?" aku bertanya dengan sedikit terbata.
"Menurut kamu gimana?" Dion malah balik bertanya.
Aku memutar bola mataku. Dikatakan berpikir untuk menemukan jawaban Dion, sebenarnya tidak. Hanya bingung mengungkapkan apa yang ku rasa.
"Ku rasa begitu," jawabku kemudian.
"Ya begitulah, terus rasakan saja, nanti kamu akan tau, seberapa gila aku mencintaimu," Dion menjawab.
"Cintaku padamu itu "TENTANG HATi" tak akan bisa disentuh oleh pemikiran dangkal.
Jadi, kalau kamu bertanya kenapa aku bisa mencintaimu segila ini, itu karena "KAMU". Karena kamu yang hatiku pilih untuk aku cintai. Karena hanya kamu, yang bisa membuat mataku tak pernah berpaling untuk menatapmu. Karena kamu selalu membuat detak jantungku terus berdegup. Karena kamulah alasan aku mencintaimu. Kamu, segala sifatmu, segala tentangmu "AKU CINTA"," Dion memberikan penjelasan.
Sesungguhnya aku bingung dengan jawaban Dion. Alasan mencintaiku karena "AKU". Aah ... pikiranku belum bisa mencerna penjelasan panjang yang Dion berikan.
"Kamu bingung," Dion bertanya lagi.
Aku mengangguk. Dion tersenyum dan membelai rambutku dengan tangan kirinya.
"Loh, kok kita ke sini," tanyaku setelah Dion membelokkan mobilnya ke sebuah cafe.
"Lebih enak ngobrol disini, daripada di mobil," Dion memberikan alasan.
Aku mengaminkan alasan Dion. Aku sudah melepas safety belt, Dion pun sama.
"Ayo, turun," ajak Dion.
"Kamu punya baju ganti buat aku gak, Di?" aku bertanya pada Dion karena gak nyaman pakai kebaya buat ke cafe.
"Ada kaos sama celana jeans, mau," tawar Dion.
"Kaos sih oke, tapi kalau celana kamu pasti kedodoranlah," jelasku.
"Udahlah, gak 'pa 'pa pakai pakaian ini, kan aku juga gak ganti," Dion menjelaskan.
"Ya sudahlah," aku mengiyakan.
Kami segera turun dari mobil dan memasuki cafe yang memiliki desain kebun bunga tersebut. Dion berjalan menuju meja yang terletak di outdoor, dengan suasana layaknya kebun bunga dengan hamparan bunga warna-warni ala film- film india.
__ADS_1
"Woww, indah banget," aku terpesona dengan konsep desainnya.
"Cantik kan, kayak kamu," Dion mulai mengeluarkan gombalannya.
"Lebih cantik, akulah," jawabku dengan penuh senyum.
"Itu pasti," Dion menggenggam tanganku.
"Apa ini," aku menunjuk tangan Dion yang terpaut di jemariku.
"Ikuti aku," pinta Dion.
Aku pun memasrahkan langkahku disampingnya. Dia membawa kami pada suatu titik instagramable di cafe tersebut. Sebuah sudut dengan dekorasi bunga-bunga yang dibentuk menyerupai bentuk hati raksasa menjadi spot foto yang indah.
"Sini," Dion merapatkan tubuhku ke dalam pelukannya.
"Senyuuum," Dion berhasil mengbil 1 foto kami.
"Berasa prewed deh Di, spotnya begini, trus kita pakai kebaya couple-an," celetukku.
Dion tersenyum. Senyum yang teramat manis.
"1 lagi ya," usul Dion.
"Mas,minta tolong fotoin ya," pinta Dion pada seorang lelaki yang berpenampilan seperti seorang forografer.
"Pose yang bagus, ya," pinta lelaki itu.
Dion menarikku lembut hingga aku berhadapan dengannya. Satu tangannya menggamit indah di pinggangku, sementara 1 tangan lainnya memegang daguku, yang spontan mendongak ke arah wajahnya, karena tarikan tubuhku yang mendadak tadi. Mataku tak sengaja menatap matanya.
"Posenya bagus banget," nilai lelaki itu sambil mengembalikan HP milik Dion.
Lelaki itu juga memberikan sebuah kartu nama kepada Dion.
"Hubungi aku, jika kalian butuh fotografer untuk acara kalian. Dan maaf, tadi aku mengambil foto kalian dengan kameraku, tidak keberatan kan?" izin lelaki itu.
"Tidak masalah, terimakasih dan maaf telah mengganggu waktumu," ucap Dion.
Sepeninggal lelaki yang mengaku sebagai fotografer itu, Dion menuntun langkahku ke meja yang tak jauh dari situ. Dion memilih meja kecil dengan sofa berwarna biru pada 1 sisinya. Meja yang khusus untuk 2 orang.
"Lihat deh, hasil foto kita," Dion memperlihatkan hasil foto kami tadi.
"Bagus," kataku.
Dion tersenyum ke arahku.
"Emang harus ya, jadi wallpaper gitu," tanyaku, saat foto kami itu dijadikan wallpaper HP Dion.
"Bukanlagi harus, tapi wajib," ucap Dion.
"Terserah kamu aja deh, Di," balasku.
"Kamu marah?" Dion bertanya sambil menyeruput lemon tea hangat yang baru disajikan oleh waitress.
__ADS_1
"Pengennya sih, gitu, tapi ...." aku menggantung kalimatku.
Dion menatapku. Menunggu lanjutan kalimatku yang tak kunjung ku selesaikan.
"Tapi apa?" Dion tidak sabaran.
"Kali ini, aku maafin," ungkapku.
Senyum mengembang di bibir Dion setelah mendengarku bicara. Dia kembali menyeruput lemon tea nya hingga tersisa setengahnya saja.
"Mau nerusin obrolan yang tadi, gak?" Dion mengingatkanku akan tujuan kami mampir ke cafe ini.
"Sampai mana tadi? Aku jadi lupa," kataku jujur.
"Kamu bingung alasanku mencintaimu karena "KAMU"!" Dion menjelaskan.
"Oh iya," aku mengingatnya.
Bukannya meneruskan meminta penjelasan, aku malah ikutan meneguk air mineral yang tadi ku pesan. Aku bingung mau bertanya apa? Pertanyaanku yang tadi berseliweran, seolah terlupakan dengan sesi foto yang romantis tadi.
"Hei," Dion memanggilku.
Aku belum menyadari panggilan Dion yang sudah diulangnya berkali-kali. Pikiranku masih melayang entah kemana.
Cup!
Sebuah kecupan lembut mendarat di pipi kananku. Aku tersentak sadar dari lamunanku. Langsung ku tolehkan kepalaku ke arah kanan, arah dimana kecupan itu berasal. Ku dapati wajah yang begitu dekat dengan wajahku. Bibirnya berbalut senyum penuh kemenangan.
"Apa yang kamu lakukan, gak sopan tau," aku menggerutu.
"Kamu ngelamunin ap? Dari tadi aku panggil gak sadar-sadar," tukas Dion.
"Aku gak ngelamun, kamu jangan nyari pembenaran atas tindak pencurianmu padaku," marahku.
"Apa perlu aku buka CCTV?" tawar Dion.
"Ayo!" ajakku mencari bukti kemarahanku.
Sebenarnya hatiku menciut juga. Aku sadar kalau dari tadi, aku memang sedang melamun. Tapi tindakannya yang menciumku tersebut, walaupun hanya kecupan di pipi, tapi itu bukan suatu tindakan legal yang bisa ku terima.
Dion tetap duduk santai pada posisinya. Dia lantas menarikku untuk duduk kembali.
"Maafkan aku, jangan marah lagi," Dion memulai pembicaraan.
Aku sudah kembali pada posisi dudukku. Hanya saja wajahku masih berteman cemberut.
"Apa kecupan tadi adalah sesuatu yang amat berharga untuk kamu jaga?" Dion mengelus rambutku.
Aku hanya diam, kualihkan pandanganku pada arah lain, menghindari wajahnya yang hanya berjarak 10 cm dari pipi kananku. Dion malah tersenyum melihat kegugupanku.
"Seharusnya aku tau, kamu masih begitu suci untuk hal-hal seperti itu. Selama 10 tahun bersamaku, aku tau, kamu gak pernah dekat dengan cowok lain. Tapi aku gak tau, selama kamu bersamanya. Aku pikir, ini gak akan membuatmu semarah ini. Maafkan, aku!" Dion panjang lebar dengan uraian katanya.
"Kamu, gak usah mengingatkanku tentangnya," ucapku mengerti siapa yang Dion maksud
__ADS_1
Dion tersenyum dan lagi-lagi mengambil jemariku untuk digenggamnya. Dion masih memposisikan dirinya menghadapku dari arah kananku.
"Semoga, kecupan yang ku ambil tadi adalah awalan dari kecupan lain yang nanti aku dapatkan selanjutnya atas izinmu." Dion membisikkan kalimatnya lirih di telinga kananku.