Tentang Hati

Tentang Hati
Dia suamiku


__ADS_3

Kejadian di kantin kantor tadi masih terngiang di pikiranku. Bagaimana canggungnya Pak Aryan yang terus dipepet oleh Bu Tya, lucu. Rasanya aku benar-benar ingin tertawa lepas jika mengingatnya. Namun kutahan untuk menjaga harga diri kakak sulungku itu.


"Dijemput suamimu, gak? Atau mau bareng aku?" tanya Pak Aryan begitu melewati mejaku untuk pulang kantor.


Kutengadahkan kepalaku padanya. "Dijemput."


"Ya udah, aku pulang duluan, ya," terang Pak Aryan dengan ramahnya.


"Pak Aryan perhatian banget ke kamu, Sa?" penasaran Anggen dengan wajah imutnya, setelah langkah Pak Aryan menjauh dariku.


"Itulah enaknya jadi orang cakep," kilahku dengan senyum ambigu.


"Aku juga cakep, tapi gak diperhatiin gitu sama Pak Aryan," gerutunya.


"Kamu, naksir Pak Aryan, juga?" godaku untuk menguatkan tebakanku jika Anggen juga menaruh rasa pada Pak Aryan.


Malu-malu dan salah tingkah. Fix, ada hati yang sedang jatuh cinta. Namun dia berusaha membohongi diriku entah karena alasan apa. Baiklah kawan, aku menghargai keputusanmu.


"Kamu, gak mau ngenalin aku sama suamimu?" tanya Anggen berikutnya, mencoba menutupi sikapnya yang barusan sudah bisa kuterka pertanda apa.


"Ayo! Suamiku sudah ada di bawah," jelasku seraya berdiri dengan tas yang sudah berada di tanganku.


*****


"Depe!"


Berulang kali aku mendengar panggilan nama itu tapi aku abaikan, begitu juga dengan Anggen. Kami masih asyik berbincang mengenai hal-hal kecil tentang diri kami. Mencoba saling mengenal lebih akrab dan dekat. Begitulah kiranya langkah awal untuk menuju hubungan yang bernama persahabatan.


"Depe, aku panggil-panggil gak denger, ya?" tutur Bu Tya dengan napas ngos-ngosan.


"Depe?" seruku bersamaan dengan Anggen.


"Iya, kamu Depe," ungkap Bu Tya dengan menunjukkan jari ke arahku.


"Saya?" aku meyakinkan diri.


"Iya, aku manggil kamu Depe, aja," tutur Bu Tya.


Depe? Aku Rosa! Seenaknya saja ganti nama orang. Huft ... dasar! Sebel, gak terima, tapi aku bisa apa? Menerima, hanya itu yang bisa kulakukan. Mendapatkan nama baru merujuk pada penyanyi dangdut yang terkenal dengan goyangan seksinya. Ish! Malu dong, aku. Memangnya bisa goyang? goyang? goyang? Ih ... jadi inget yang berbulu dan lincah kan jadinya. Rosa, sadar! Simpan kemesumanmu pada tempatnya.


"Terserah ibu, saja," jawabku pasrah.


"Sssssstttt ... jangan panggil aku, Bu, donk! Panggil Tya, aja. Kita seumuran, tau," jelasnya yang membuatku dan Anggen saling pandang.


"Bukankah tidak sopan kalau panggil nama, Bu?" Anggen menimpali.


"Sekarang kita bersahabat, tiga editor cantik," ungkap Bu Tya dengan menebarkan senyum lebarnya.


Lagi-lagi aku dan Anggen hanya saling pandang sambil menaikkan bahu.


"Ayo, kita pulang bersama, sahabatku!" ajak Bu Tya seraya menggandeng tangan kami pada masing-masing tangannya.


"Sebagai tanda bermulanya persahabatan kita, hari ini aku akan mengantar kalian pulang," seloroh Bu Tya kemudian.

__ADS_1


"Saya sudah dijemput, Bu," jujurku setelah melihat Dion sudah menungguku di lobi.


Bu Tya memperlihatkan wajah penasarannya. "Kamu sudah punya pacar?"


Aku diam saja, hanya terus melangkah mendekati lelaki yang tak henti menebarkan senyumnya itu. Meraih tangan kanannya dan meninggalkan sebuah ciuman di sana. "Ini, suami saya, Bu."


"Suami?" seru Bu Tya penuh rasa tidak percaya.


"Pak Aryan?" tanyanya kemudian.


Dion mengerutkan kening begitu mendengar nama Pak Aryan disebut oleh Bu Tya. Tak membutuhkan waktu lama baginya untuk menyadari jika wanita di depannya ini menaruh hati pada atasanku. Dengan senyum ramah ia mengakrabkan diri dengan Bu Tya. "Apa kamu memerlukan bantuanku untuk mendekati Aryan?"


Bu Tya menampakkan rona merah di pipinya. Malu-malu tapi mau, ya begitulah ekspresi dari orang yang mendamba cinta. Mulutnya diam tapi dari matanya terpancar jawaban, iya.


"Kalau begitu, kami duluan ya!" pamitku pada mereka berdua.


*****


Satu jam bertarung dengan kemacetan, akhirnya sampailah kami di rumah Mama. Mobil segera masuk halaman begitu aku membuka gerbangnya dan Dion segera mencari titik parkir. Setelahnya kami segera turun untuk mencari titik duduk santai. Pintu segera terbuka begitu aku menelepon Kristy memberitahukan bahwa kami sudah ada di depan.


"Cie ... pengantin baru. Bawaannya gandengan mulu, lepas 'napa tu tangan?" sindir Kristy melihat tangan kami yang saling bertautan.


Bukannya melepaskan tanganku, Dion malah merangkulku. Sengaja menggoda Kristy dan anehnya aku juga ikut melancarkan aksinya. Berikutnya, kami mengikuti langkah adikku itu menuju ruang keluarga yang sudah ada Mama di sana. Memeluk dengan hangat dan kemudian duduk di dekatnya dengan manja.


"Ma, Rosa kangen," akuku dengan bergelayut di lengan Mama.


Disentuhlah kepalaku oleh tangan penuh cinta dari pemilik kasih abadi itu. "Sudah mau jadi ibu, kuranginlah manja-manjanya," tutur Mama yang kuyakin itu hanya sebatas perona bibir, bukan sesuatu yang berasal dari hatinya. Karena bagi seorang ibu, sampai kapanpun anaknya tetap anak kecil yang akan selalu dimanjanya.


"Biarkan saja, Kris, sepertinya ia begitu merindukan Mama," bijak Dion yang membuatku makin manja.


"Jangan terlalu memanjakan Mbak Rosa, Mas, nanti ngelunjak, loh," pesan Kristy yang lagi-lagi hanya dibalas senyuman Oleh Dion.


"Dilarang sirik," ejekku pada Kristy yang mendengkus kesal.


Dion lagi dan lagi hanya tersenyum melihat perdebatan kami. Mengalihkan pandang dari Kristy dan memilih beradu pandang denganku dan Mama. "Ma, gimana persiapan pernikahan kami? Ada yang harus kami bantu?"


"Kalian tidak perlu khawatir, semuanya sudah beres. Serahkan pada kami!" Mama meyakinkan.


"Ini kan pernikahan kami Ma, kenapa justru kalian yang mengurus semuanya tanpa melibatkan kami sedikitpun," terang Dion tak ingin lepas tanggung jawab.


Mama mengelus rambutku lembut. "Perjuangan kalian untuk sampai mendapatkan cinta itu sudah berat dan berliku. Jadi sekarang biarkan kami yang ganti berjuang untuk membahagiakan kalian."


Kueratkan pelukanku pada Mama. Terharu dengan segala hal yang Mama dan semua orang lakukan untuk mendukung kami. Dion berjuang untuk mendapatkan hatiku sejauh ini dan sekarang mereka pun ikut berjuang mengeratkan penyatuan hubungan kami. Inilah saatnya aku juga berjuang bersama, mengikis habis rasa untuk hati lain selain hati suamiku. "Terimakasih ya, Ma. Rosa merasa begitu beruntung memiliki kalian," isakku bahagia.


"Kamu beruntung mendapatkan suami seperti Dion," tutur Mama yang seratus persen kuakui kebenarannya.


Dion adalah keberuntunganku.


"Ya sudah, kalian mandi dulu. Mama sama Kristy siapain makan malam, dulu," perintah Mama kemudian yang membuatku melepaskan pelukan dan beranjak berdiri.


"Masih ingat kamarmu di mana, kan, Mbak?" ejek Kristy dengan senyum nakalnya.


"Mas, aku lupa. Tunjukkin, dong!" rengekku pada Dion yang masih santai di sofa.

__ADS_1


"Cieee ... manggilnya sekarang Mas ... uhuy!" ledek Kristy semakin menjadi.


"Aku rasa Mbakmu mulai bucin, Kris," Dion ikut-ikutan meledekku.


Dengan senyum penuh pesonanya, Dion mulai meninggalkan posisi duduknya dan berjalan mendekatiku. Merangkul bahuku dan mulai berjalan. "Yang udah mulai bucin harus dipepet Kris, jangan sampai dia sadar kembali," timpal Dion dengan nada sindiran.


Cubitan di perutnya yang kulakukan membuatnya sedikit mengaduh. "Kamu pikir aku khilaf, 'gitu," gerutuku.


*****


"Ahhh ... akhirnya bisa juga rebahan di ranjang ini," seruku setelah selesai mandi dan berganti baju.


Meluruskan punggungku yang seharian ini aku paksakan duduk manis di kursi kantor. Memejamkan mata dan merasakan aroma kamar yang sudah kutinggalkan beberapa minggu ini. Rindu yang menyusup di hati dengan suasana dan aktivitas yang dulu selalu aku lakukan di sini, bermalas-malasan.


"Mas, malam ini kita nginep di sini aja, ya?" pintaku manja begitu Dion keluar dari kamar mandi.


"Boleh, sekalian mau ...," jeda Dion karena harus memakai kaosnya.


Memperhatikannya tanpa berkedip, aku menunggu kelanjutan kalimatnya. Namun Dion malah mendekatiku dengan senyum yang membuatku merasa curiga. Duduk di pinggir ranjang dan membelai rambutku.


"Sekalian mau buat cerita di sini," lanjutnya.


"Cerita apa?" polosku tak menaruh curiga sama sekali.


"Nanti aja, deh," ucap Dion seolah ingin main rahasia.


"Apa, sih?" penasaranku dengan tatapan penuh harap.


"Itu ...," kalimat Dion terpaksa berhenti karena mendengar ketukan tiga kali di pintu.


"Waktunya makan! Jangan kelamaan di kamar, nanti kalian saling memakan!" suara Kristy dari luar yang membuatku geli bercampur malu.


Adik kecilku itu selalu saja punya kalimat untuk menggodaku. Meskipun begitu, aku bahagia. Kehadirannya selalu menciptakan tawa dan suka cita.


"Ayo, turun!" ajak Dion seraya bangun dari duduknya. Mengulurkan tangan dan segera kusambut. Menarikku dengan lembut dan akhirnya kami bisa berdiri sejajar. Saling menatap dan memoles senyum di bibir.


Sebuah cubitan menjepit hidungku. "Ayo!"


*****


Main tebak-tebakan, yuk!


Apakah Anggen mencintai Pak Aryan dalam diam seperti judul novel dibawah ini?



Apakah Pak Aryan akan tergoda dengan Bu Tya? Ataukah perasaan Pak Aryan akan senantiasa kembali pada Rosa? Seperti judul novel adik tersayang Aldekha Depe,



Silakan dibaca up selanjutnya!


Jangan lupa mampir di novel yang aku promi hari ini, ya! Visual Mas Rud jadi visual di sana juga lho.

__ADS_1


__ADS_2