Tentang Hati

Tentang Hati
Malamnya Pengantin


__ADS_3

Selesai akad nikah, kami menikmati hidangan yang sudah disiapkan. Para orang tua mulai membahas acara resepsi yang akan diadakan begitu kami kembali dari London. Sementara kami yang muda-muda menghabiskan waktu dalam obrolan ringan yang penuh tawa.


"Kalian, besok langsung berangkat ke Jakarta?" Om Septian memastikan kebenaran informasi yang sempat ia dengar dari Mami.


"Iya, Jumat kami akan berangkat ke London," papar Dion dengan gamblang.


"Bakalan capek duluan nih, sebelum ada pertempuran," sindir Om Septian.


"Untungnya udah nyicil bergerilya sebelum pertempuran besar terjadi," timpal Mas Rendra.


"Itulah pentingnya icip-icip sebelum dihidangkan," papar Dion dengan senyum smirknya.


"Mbak, mau naik apa besok?" Kristy ikut bertanya.


"Pesawat, pengennya bareng mobil kalian. Ternyata kalian malah masih liburan di sini," ungkapku menjelaskan.


"Mumpung di sini, Mbak. Kan sayang kalau gak jalan-jalan, dulu," Kristy menjelaskan alasannya.


Itu benar sekali. Jogja terlalu indah, banyak kenangan yang bisa ditorehkan di sini. Berkunjung ke Keraton, Malioboro, Kampung Wisata Taman Sari, Candi Prambanan serta Pantai Parangtritis wajib dinikmati keindahannya.


"Tenang, Kris, besok aku yang bakal jadi tour guide kalian," tawar Om Septian penuh modus.


"Heran deh, ada aja jalan buat modusin," sergah Mas Rendra sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kalau jodoh emang gak akan kemana, kok," Om Septian merasa di atas angin.


"Yang cakep-cakep, bubar, yuk! Pengantin baru butuh istirahat," Mami datang untuk mengingatkan.


"Kita memang sengaja mengganggu waktu istirahat mereka, Mi. Biar malam pertamanya, gatot!" celetuk Mas Rendra penuh kejujuran.


"Persaingan harus sehat, Adik Bro!" ingat Dion.


"Kalian istirahat saja dulu, besok n lusa kan akan menempuh perjalanan panjang. Jangan sampai kecapekan," nasihat Mami.


Akhirnya kami pun memilih meninggalkan musala keluarga Eyang, tempat diadakannya akad nikah tadi. Mereka mempersilakan kami undur diri dulu meski semua keluarga masih berkumpul di sana. Kepadatan jadwal perjalanan kami hari esok membuat mereka bisa memahami alasan kami.


*****


"Perlu aku bantu untuk ganti pakaian, Sayang?" tanya Dion setelah aku langsung menjatuhkan diri di sofa begitu sampai di kamar Dion.


"Aku bisa melakukannya sendiri. Aku hanya ingin istirahat dulu sebentar," jawabku.


"Panggil aku kalau butuh bantuan," tawar Dion seraya melepas jasnya dan menggantungnya di lemari. Dasinya pun ia longgarkan dan dia lepas kemudian. Dua kancing kemeja teratasnya ia buka. Tak lupa ia menggulung lengan atasannya itu sampai siku.


"Akhirnya," ucap Dion setelah duduk di sebelahku.


Aku menoleh kearahnya. "Apa yang berakhir?"


"Aku bilang akhirnya, bukan berakhir, Sayang," jawab Dion dengan senyum termanisnya.


"Intinya kan akhir," kilahku dengan menaik turunkan kedua alisku.


"Kondisikan wajahmu, Sayangku. Aku takut tidak bisa menahan diri malam ini," papar Dion seraya menarikku ke dalam pelukannya.


"Sini, aku lepaskan resletingmu. Ganti bajumu, emang gak risih pakai kebaya terus?" ucapan dan gerakan tangan Dion seiring jalan.


Tanganku berusaha menahan gerakan tangannya. "Aku, bisa sendiri."


Mengembangkan senyum sempurna, agar penolakanku tidak membuatnya berpikir yang tidak-tidak. Sungguh, aku merasa malu. Belum terbiasa memperlihatkan bagian terlarang tubuhku di hadapan mata asing, meskipun dia adalah Dion, suamiku.

__ADS_1


"Semalu itukah kamu padaku, Sayang?" godanya.


Berusaha mengelak tapi rasanya mimik wajahku sudah mampu menjawabnya. Dion pun terlihat makin gemas. Ia menyalakan televisi untuk mengalihkan perhatiannya, agar aku bisa mengurangi rasa canggungku.


Meninggalkannya yang sedang menonton televisi, aku masuk ke kamar mandi dan berganti pakaian di sana. Kebaya putihku aku tukar dengan baju tidur model dress dengan panjang selutut. Jauh dari kesan sex* semacam lingerie.


Setelahnya aku memilih untuk membersihkan make upku. Langkah yang terbalik. Seharusnya membersihkan wajah dari polesan dulu baru mandi dan berganti baju. Bukan aku namanya kalau mengikuti aturan yang ada.


"Di ...," panggilku.


Yang ku panggil bergeming, tak menjawab panggilanku. Jangankan menjawab, menoleh pun tidak. "Mas Dion," panggilku lagi setelah mengingat perintahnya setelah akad nikah tadi. Tak ada panggilan nama tanpa kata Mas.


"Hmmm ...," jawab Dion sekenanya.


Ish!


Aku merasa diacuhkan. Akhirnya kudekati dia dan duduk di sebelahnya. Menghujaninya dengan tatapan tajam, tak terima karena diabaikan.


"Sayang," kegenitanku keluar kalau aku kurang perhatian.


"Sini, aku bantuin bersihin make upmu! Sudah kubilang jangan manja malam ini," terang Dion segera mengambil alat make up yang ada di tanganku.


"Emang kamu ngerti?" tanyaku meragukan kemampuannya.


Semultitalentanya Dion, ini bukan bidangnya. Okelah soal masak tapi make up, kurasa ia harus angkat tangan. Kalau sampe dia menguasai bidang ini juga, aku angkat tangan deh dengan kesempurnaannya.


Aku dan Dion sudah berada pada posisi saling berhadapan. "Yakin 'nih?"


"Gak juga sih, tapi kurasa cintaku akan membuat apapun bisa kulakukan untukmu," gombal Dion.


Tanpa membuang waktu Dion memulai tahapan pertama untuk menghapus make up tebalku. Dia mengambil make up wipes, dengan telaten dan lembut menyapukannya ke wajahku hingga foundationku berhasil angkat kaki dari wajahku.


"Kenapa sih, susah banget panggil aku Mas?" tanya Dion dengan senyum tulusnya yang membuatku semakin salah tingkah.


Kuputar mataku ke kanan, kiri dan berhenti tepat di matanya. Kembali ku ulaskan senyum canggung. "Gak biasa, rasanya aneh."


"Harus dibiasain, manggil aku pakai kata Mas itu hal kecil, loh. Bahkan mulai sekarang kamu harus mulai terbiasa ganti baju di depanku, gak perlu ke kamar mandi," goda Dion yang sukses membuatku menunduk malu. "Pakai malu-malu, lagi. Aku cium, nih," godanya lagi seraya memonyongkan bibirnya.


"Ih ... apaan, sih? Jauh-jauh!" ucapku seraya mendorong dadanya agar menjauhiku.


Hatiku semakin berdebar, darah yang mengalir disepanjang jalannya lekas berdesir, napasku mulai tak teratur, mata kupejamkan, pikiranku sudah membayangkan hal yang enak-enak, eh ... dianya malah menyentil hidungku sambil tertawa ngakak. "Hilangkan pikiran mesummu, itu! Mandi dulu! Bersihkan wajah dan rambutmu, sana!" Dion membuatku malu sekaligus mengusirku juga. Ah ... dasar!


Kukerucutkan bibirku, sebel. Segera aku tinggalkan Dion yang masih menyunggingkan senyumnya itu. Ku lempar guling ke arahnya dan dia berhasil menangkapnya.


"Aku bukan hanya bisa nangkap guling, loh. Sini, aku tangkap, kamu!" godanya.


Tak kutanggapi kalimat terakhirnya. Masuk ke kamar mandi dan menguncinya dari dalam. Rasanya, keberadaannya masih menjadi ancaman untuk privasiku. Padahal sebagai suami istri, batas itu harusnya sudah tidak perlu ada lagi.


Hampir setengah jam aku menghabiskan waktu bergelut dengan air hangat. Membersihkan segala hal yang bersifat menodai jiwa dan ragaku. Termasuk sisa-sisa pendengaran yang mengambil topik dengan tanda merah beserta angka 21+.


"Lama banget mandinya? Kirain milih tidur di bathup malam ini," sindir Dion dari duduknya di sofa.


"Ide bagus 'tuh, aku balik lagi, deh!" tukasku, hendak putar balik dari hadapannya.


Tangannya lebih cepat untuk meraih tanganku dan menariknya. Jatuhlah aku di pangkuannya. Ia memeluk perutku dari belakang. Menyandarkan dagunya di pundakku.


"Wanginya, aku kenal, nih. Kamu pakai shampo ku, ya?" tebaknya dengan jitu.


"He-he-he ... ketahuan, ya?" tanyaku seraya tersenyum nyengir.

__ADS_1


"Apa sih, yang aku gak tahu kalau soal kamu?" Dion mulai menggombal.


"Kamu, gak mandi?" tanyaku sambil menguap.


"Tadi kan udah mandi, Sayangku. Pengen ganti baju aja, tapi masih males," terang Dion sambil mencium pundakku.


"Aku ngantuk," jujurku sambil menguap berkali-kali.


"Ya udah, kamu tidur duluan, aja! Aku mau ngecek kerjaan bentar," izin Dion masih memelukku erat.


"Malam pengantin juga masih ngurus kerjaan, aja," gerutuku.


"Kamu, mau sekarang?" tanyanya seraya menciumi pundakku berulangkali.


Aku, mau? Mau sih, mau tidur, ngantuk.


Saat aku tengan berpikiran liar dengan kata mau, tanpa kusadari, Dion mulai melepaskan kancing kemejanya satu per satu. Mulai kusadari saat tak lagi ada lingkaran tangannya di perutku. Ketika kuputar tubuhku, terpampanglah perutnya yang membuat salivaku diproduksi berlebih dan terpaksa harus berulangkali kutelan.


"Baru segini aja kamu dah ngences, Sayang, gimana kalau melihat yang lain?" godanya semakin membuatku merona.


"Aku gak mau melihat yang lain, aku mau tidur, aja," alasanku karena merasa tak sanggup berlama-lama digoda dengan surga dunia.


Aku bangkit dari dudukku dan berjalan menuju ranjang. Dion mengikutiku bangkit dari sofa dan segera membaringkan dirinya di ranjang sebelahku. Memiringkan tubuhnya ke kiri, menghadapku. Sementara aku memunggunginya. Aku merasa belum sanggup jika harus melihatnya sedekat ini dalam posisi dan tempat yang bisa mempercepat PO cucu yang Mami pesan.


"Lihat, aku dong!" pinta Dion dengan suara manisnya.


"Aku dah tidur," jawabku untuk menolaknya.


Tak kusangka dia merangsek merapatkan tubuhnya. Sehingga dapat kurasakan embusan napas hangatnya yang menyapu telingaku. Lengan kokohnya ia lingkarkan di perutku, sementara yang yang lainnya ia gunakan untuk tumpuan kepalanya. Dagunya menempel di pundakku yang sedikit terbuka karena baju tidurku memiliki bentuk leher yang lebar.


"Mau sekarang atau ....," Dion memberikan pilihan padaku.


Konsentrasiku bukan pada pertanyaannya tapi pada posisi kedekatan kami yang tanpa ada batas lagi. Tubuhku dapat merasakan semua bagian tubuhnya yang berada dibelakangku tanpa jeda. Pikiran mesumku ini datang tiba-tiba, menyerang dan menaklukkan kejernihan pikiranku. Menghilangkan rasa kantukku dan malah mengunciku pada kungkungan nafs*.


"Pejamkan matamu, jangan banyak bergerak! Kamu bilang ngantuk," ingat Dion seraya mencium rambutku.


"Kamu terlalu dekat, aku jadi gak bisa tidur," jawabku polos.


Dion mendekatkan bibirnya ke telingaku. Menguarkan napas yang membuat gejolakku makin memburu. "Tidurlah dengan nyenyak," ucapnya seraya mencium rambutku lagi.


Apa maksudnya? Apakah malam ini tidak ada sesuatu yang akan mengganggu malam panjangku? Apakah kami melewatinya begitu saja? Apakah? Apakah? Apakah? Ya ... semua menjadi apakah yang terjawab dengan apa yang dilakukannya kemudian. Bukan membuka malam panas dalam dinginnya ruangan melainkan membuka laptop dan mengecek pekerjaan.


Ah ....


"Cepat tidur!" perintahnya tanpa melihatku.


Huft!


Cepat tidur! Cepat tidur! Cepat tidur!


Kuulang-ulang perintahnya hingga menjadi semacam obat bius yang membuatku hilang kesadaran dan terlelap. Tertidur dalam penasaran dengan berbagai pertanyaan yang tak jua ia jelaskan.


*****


Pasti kalian nunggu malam panas yang panjang, ya?


Maaf, author belum memberikannya sekarang. Itu karena author orang jawa, nah, secara adat jawa di tempat author, acara pernikahan itu berlangsung 2 hari. hari pertama akad dan hari kedua resepsi. setelah akad itu, suami balik lagi ke rumah orang tuanya, gak ada tuh malam pertama setelah akad. Mereka baru bertemu waktu resepsi hari berikutnya. Malamnya belum tentu juga bakal malam pertama, karena rumah masih ramai, saudara masih pada ngumpul. Gak sopan kan kalau banyak tamu tapi malah asyik-asyikan berdua di kamar. Bisa jadi hot news besok pagi. Selain itu, badan capek cuy, kalau dipaksa yang enak enak, gak maksimal kali. Yaa begitulah serunya menanti malam pertama versi dunia nyata. Beda dengan dunia novel yang langsung bar bar. Di novel ini juga authornya santai biarpun akan dihujani segala kata dari reader tercinta.


Ayo semua, silakan berikan bukti cinta kalian!

__ADS_1


__ADS_2