Tentang Hati

Tentang Hati
Telepon Malam Ini


__ADS_3

Aku yang mematikan telepon Dion tapi aku juga yang merasa gerah karena ia tak juga berinisiatif meneleponku balik. Teori yang menyatakan bahwa perempuan itu susah dimengerti rupanya benar. Jangankan dimengerti oleh kaum adam, aku yang perempuan saja juga bingung dengan sikapku sendiri.


Berkali-kali ku kunjungi WA dari nomor kekasihku itu. Online tapi tak mengetikkan kata untukku. Geram, aku makin geram saat beberapa waktu kemudian dia memilih offline.


Ku tinggalkan HP yang membuat hatiku berkecamuk itu. Kakiku bolak-balik mengabsen tiap sudut ruangan di kamarku. Terasa lelah dan akhirnya ku jatuhkan tubuhku kasar di ranjangku. Ku rentangkan tanganku dan ku biarkan mataku menatap langit-langit yang kemudian memvisualisasikan wajah dengan lengkungan senyum indahmu.


"Di, telepon aku, dong!" gumamku.


Ddrrtt-ddrrtt-ddrrtt!


Binar mataku kembali terpancar melihat HPku yang berkedap-kedip manja. Ku geser tanda hijau itu ke atas dengan senyum terkembang.


"Sayang ...." panggilku mesra seraya fokus membenahi penampilanku yang acak-adul.


"Iya, Sayang ...." jawab lelaki di ujung sana.


Suara yang menjawab panggilan sayangku ini, ku rasa tidak pas di hati. Ini bukan suara Dion yang merdu menghanyutkan. Tone suara ini lebih tinggi satu oktaf. Suaranya cenderung lebih renyah.


D.On begitulah kata yang tersemat sebagai nama pemanggilnya. D.On dan Dion, dua kata yang hampir sama tapi sungguh ini adalah dua nomor dengan status kepemilikan yang berbeda.


Dion, tentu saja ini adalah merek paten untuk nomor kekasihku. Sementara D.On adalah singkatan dari driver online. Siapa lagi kalau bukan Pak Aryan. Alamak ... Pak Aryan?


"Kenapa nutup mata gitu, sih?" tanyanya.


Kok, dia tahu aku merem? Oh iya, aku lupa kalau panggilan ini adalah video call. Ish ... kenapa aku jadi pikun begini, sih?


"Ada apa, Pak? Kenapa video call?" tanyaku.


Pak Aryan tersenyum nyengir. "Gabut." Cengiran itu kemudian berubah menjadi senyum smirk. "Terimakasih, buat panggilan sayangnya, ya."


Ku pasang muka seriusku. "Pak, Saya mau mengklarifikasi dua hal:


Saya menarik kembali panggilan sayang tadi, itu bukan untuk Bapak tapi spesial untuk Dion.


Usia Bapak gak cocok pakai istilah gabut."


Pak Aryan melawan muka seriusku dengan muka manisnya. "Aku juga mau bilang sama kamu:


Aku terlanjur mendengar panggilan sayangmu, percuma jika kamu tarik kembali.


Kamu jangan bahas usiaku, kamu gak tahu kan liarnya lelaki seusiaku, apalagi sedang jomblo."


"Saya lagi gak mood berdebat, Pak, maaf teleponnya saya matiin,"


Tut-tut-tut!


Ini telepon kedua yang ku matikan malam ini. Akankah ada telepon ketiga yang akan bernasib sama?


Entahlah ....

__ADS_1


*****


Kamar ini terlalu banyak menguapkan aroma-aroma yang membuat pikiranku kacau. Akan berdampak buruk pada kesehatan jika terus ku berdiam diri di sini.


"Makan mi super pedes, enak, kali, ya?" pikirku seraya mengayun langkah menuju dapur.


"Mau kemana, Mbak?" tanya Kristy yang masih standby di depan televisi.


Aku terus melangkah tanpa menoleh. "Ngemi."


"Nanti dimarahi Mas Dion, Mbak!" ingat Kristy yang mengikuti langkahku ke dapur.


Aku langsung memasak air dan menyiapkan bahan-bahan untuk membuat mi super pedas. "Dia udah marah."


"Tumben?" ucap Kristy setelah meneguk air putih.


"Cemburu sama Nadeo," ceritaku.


"Mbak juga, sih, udah punya Mas Dion masih aja main hati sama Nadeo. Mereka kan sama aja," seloroh Kristy.


"Sama tapi beda rasa," jawabku enteng.


"Wah ... Mbak Rosa, udah ngerasain rupanya. Lapor Mama, ah!" goda Kristy.


Aku memasukkan mi ke dalam panci. "Laporin, sekalian bilang sama Mama kalau anak laki-lakinya lagi cemburu buta."


Mama baru saja masuk dapur. "Ada apa, sih, ribut-ribut?"


Mama ikutan duduk di kursi ruang makan bersebelahan dengan Kristy. "Tumben?"


Kristy tersenyum mendengar tanggapan Mama. "Tuh, kan, Mbak, Mama juga bilang tumben."


Kristy dan Mama memang benar dengan kata "tumben" menanggapi pertengkaranku dengan Dion. Selama dua bulan ini, aku gak pernah berantem dengannya. Debat-debat kecil jangan dihitung ya, karena aku adalah aku, Rosa yang keras kepala. Nasihat lembut pun bisa jadi genderang perang jika penyampaiannya tidak luwes.


Malam ini, kenapa dia begitu marah? Padahal pemicu masalahnya hanya sepele.


Sepele?


Sepele, kan?


Apakah hanya aku yang menganggapnya sepele?


Apakah baginya ini pemantik keras?


Huft!


"Jangan suka membiarkan masalah berlarut-larut, cepet selesaikan," nasihat Mama.


Mi ku sudah selesai ku masak. Segera ku pindahkan ke mangkuk dan ku bawa ke meja di mana Mama dan Kristy berada. Ku racik saos dan kecap manis agar mi ini lebih mengeluarkan cita rasanya.

__ADS_1


"Kenapa kamu makan mi, lagi? Bukankah Dion sudah sering memarahimu," tukas Mama.


"Dia gak akan memarahiku lagi, Ma," akuku.


"Ada masalah apa sampai Dion tak lagi memarahimu untuk urusan mi instan lagi?" Mama mulai menguak ceritaku.


Keraguan untuk membagi cerita masih menyelimuti hatiku. Terlebih dengan sikap tertutup yang ku miliki, aku jadi tak yakin untuk curhat kepada mereka. Apalagi aku tahu jika mereka berada di kubu Dion. Tak dapat ku sangsikan jika saran mereka akan menumpu pada satu titik, pembelaan terhadap Dion tentunya.


Mama mengusap punggungku. "Kamu pikirkan baik-baik, Dion itu terbaik untukmu, susah menemukan lelaki seperti dia."


"Ya udah, deh, Ma, mi ini buat kalian aja, Rosa mau ke kamar dulu," aku bergegas meninggalkan mereka.


Nafsu makanku sudah hilang. Selera yang tadinya menggebu untuk ku puaskan mendadak lenyap tak bersisa. Entah karena aku mengingat nasihat Dion untuk menjaga jarak dari mi instan atau karena aku enggan membahas masalah Dion dengan Mama dan Kristy.


Ingin segera ku lepaskan penat yang bersarang di otakku. Lebih baik tidur saja, begitulah jalan yang ku pilih. Percuma menghubungi Dion kalau hatinya masih dipenuhi oleh amarah. Biarkan dia mendinginkan pikiran terlebih dahulu. Mungkin besok kami akan berbaikan kembali tanpa harus ada perdebatan.


Setelah berbaring di ranjang untuk segera menuju alam mimpi, nyatanya pikiranku tetap tak tenang. Ku ambil HP yang ada di nakas. Ragu-ragu ku buka kunci yang mengurung kerahasiaan alat canggihku ini. Data yang tadinya sengaja ku matikan, ku aktifkan kembali.


Sepi ....


Jangankan telepon dari Dion, sekedar WA pun tidak. Ku hela napas panjang. "Sepertinya kemarahanmu kali ini akan berlarut!"


Ku niatkan untuk video call Dion duluan. Belum sempat ku wujudku niatku, video call lain sudah masuk duluan.


Mas Rud


Begitu nama yang hadir di penglihatanku.


Deg!


Kenapa nama keramat itu muncul lagi? Memang aku tak pernah menghapus nomornya dari HPku. Dan mungkin aku juga belum utuh menghapusnya dari hatiku.


Aku mengakui ini?


Aku mengakui semua yang dikatakan Dion?


Tidak!


Tidak!


Tidak!


Panggilan itu masih merayuku manja. Dia masih berkedap-kedip menggoda. Tanganku mulai terhipnotis bujuk rayunya. Ingin ku angkat sesegera mungkin, tapi ada sisi pikirku yang bekerja mencegahku untuk menjawabnya.


Bayang Mas Rud yang meneleponku di sana silih berganti dengan bayangan Dion yang tak juga meneleponku. Seperti kaset rusak yang berulang-ulang memutar wajah mereka bergantian. Kepalaku mulai terasa pening, ku biarkan rayuan itu berakhir tanpa sambutanku.


Napasku yang sempat terasa berat, sedikit longgar saat HPku tak lagi berkedap-kedip manja. Ku hentikan perhatianku pada benda yang telah membuatku kacau karena rayuan-rayuan menggetarkan jiwa dari tiga lelaki yang berbeda.


Beruntunglah rayuan yang ketiga tak menjadi korbanku berikutnya. Ku akhiri permainanku dengan benda pintar ini. Ku palingkan badanku untuk membelakanginya. Ingin ku istirahatkan batinku yang sedang berkecamuk hebat. Namun, tiba-tiba saja ada sebuah WA masuk. Hatiku kembali bergemuruh. Ingin membiarkan tapi nyatanya aku penasaran. Tanganku tak kuasa untuk ku tahan, dengan lincahnya membuka WA yang baru saja masuk dan ....

__ADS_1


Deg!


Sebuah foto seorang lelaki tampan dengan kemeja putih yang terlepas semua kancingnya tengah menatapku dengan senyum smirknya. Nampak lekuk-lekuk tegas yang membuatnya begitu menggoda. Sebuah caption tertulis di sana. "Kamu lihat, aku sudah sehat! kapan kamu siap bertemu denganku?"


__ADS_2