
Postinganku yang menampilkan Dion dan Pak Aryan ramai dengan komentar. Rata-rata pada salah fokus dengan ketampanan mereka. Selain itu, banyak juga komentar yang menyatakan kesalutan dengan kecintaan mereka dengan calon buah hatiku. Bahkan ada yang mau bertukar tempat denganku lantaran nasib baik yang kumiliki.
Momen ini, kujadikan sarana untuk promosi novel. Kukatakan jika mereka adalah visual nyata dari tokohku. Dan hasilnya adalah? Belum ada. Novelku yang baru up satu jam yang lalu belum memiliki pembaca. Popularitas dan jumlah like masih nol. Dan tahukah kamu, jika menanti pembaca pertama itu lebih menegangkan daripada kencàn pertama dengan pacar.
"Serius bener, mantengin gawai," sindir Kristy yang baru datang dari kampus.
Sepulang kerja aku memang main ke rumah Mama. Kangen sama masakan Mama, itu alasannya.
"Baru pulang?" tanyaku balik melenceng dari apa yang ia ucapkan.
"Iya, nih. Dari toko buku," jawab Kristy sambil menghempaskan diri di sofa.
"Lihat novelku di sana, gak?" celetukku dengan cengengesan.
Kristy langsung bangkit dari rebahan. "Mbak, nulis novel di NT?"
"Nyalurin hobi."
"Nanti deh aku baca."
"Promoin, dong!"
Aku menulis awalnya memang untuk menyalurkan hobi. Sekadar pelampiasan untuk membangkitkan lagi bakat terpendam yang sudah lama kuabaikan. Menunggu pembaca datang sendiri. Namun setelah melihat kolom komentar novel yang kubaca banyak promo dari para author, akhirnya aku berpikiran untuk melakukan hal yang sama.
Menawarkan novel yang baru satu episode, kuyakin yang datang bukan pembaca tetapi sesama author yang promo juga. Itu tidak masalah, kulalui proses demi proses dengan santai. Mungkin saja semua author baru melakukan hal yang sama denganku. Walaupun dalam hati, yang kuinginkan adalah pembaca bukan hanya sekedar nyumbang like semata.
Kepuasan batin penulis sepertiku adalah saat karya yang kutulis dengan hati, ada seseorang yang suka. Berkomentar tentang isi cerita bukan sekadar komen lanjut, mantap, next, semangat, dan keren. Namun tetap kuhargai kehadiran semua yang sudi berkunjung.
"Tenang, Mbak. Nanti aku bakal promoin di semua akun media sosialku. Aku ancam mereka kalau gak mau baca," seloroh Kristy yang diakhiri tawa pada akhir kalimatnya.
"Jangan galak-galak! Kamu mau promo apa ngajal gelud?" timpalku sambil melayangkan bantal sofa ke arahnya.
"Demi Mbak tercinta, aku bisa melakukan apa saja."
"Aku juga bakal promoin karyamu, istri tercintaku."
"Abang juga bakalan promoin novel adik tercinta."
Aku hanya diam mendengarkan kalimat ketiga saudaraku yang bersambung tanpa henti itu. Kehadiran Abang dan Mas dari dapur membuat suasana sepi melebur. Beginilah jika kami sudah berkumpul, rumah Mama yang biasa sepi akan menjadi sangat ramai.
__ADS_1
"Ngapain ikut pakai kata tercinta?" sindir Dion sambil menyikut pelan lelaki di sampingnya.
"Kalian semua pakai kata itu, aku juga mau."
"Adik, tersayang bukan tercinta," kilah Dion.
"Kristy, Mbak tercinta. Bukankah kalimatnya sejajar dengan kalimatku?" Pak Aryan tak mau kalah.
"Kalian mau promoin novelku apa mau berantem dulu? Apa perlu aku rekam buat gimmick untuk mendongkrak promo?" celetukku mengatasi debat kusir saudara tanpa ikatan darah itu.
Ketiga manusia yang masuk dalam kategori dewasa itu akhirnya diam. Tak bersuara lantang hanya saling melempar gerutuan dan ekspresi muka saling serang. Persis anak kecil yang sedang terlibat kasus beda kubu dalam permainan.
"Kalian pemain sinetron ikan terbang, ya? Bibir dimanyum-manyunin, mata dipelototin, hidung kembang kempis."
"Ada sinetron baru, ya?" tanya Mama yang baru saja ikut berkumpul.
Telunjuk kuarahkan pada mereka bertiga. Sementara mata kutujukan pada Mama. Kata sinetron sangat menarik di pendengaran, karena hampir setiap hari Mama menjadi penonton setianya. Kuyakin Mama tak sendirian, di luar sana pasti banyak sekali yang memiliki kegiatan yang sama. Tergila-gila dengan cerita yang memiliki ikon kumenangissssssss.
"Yeyyyy ...," sorakku bahagia dengan menampakkan senyum penuh bahagia.
Dion yang paling antusias melihat ekspresiku, segera mendekat. Kristy dan Pak Aryan pun merangsek mengikuti. Sementara Mama tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Bahagia melihat keempat anaknya rukun kembali setelah tadi berdebat dengan sengit.
Dion merangkulku. Ikut merasakan kebahagiaan yang aku gaungkan. Kristy pun ikut menghambur dalam pelukanku. Tak mau kalah, Pak Aryan pun ikut menyatu dalam rangkulan empat saudara.
"Hai Teletubbies, ayo kita rayakan komentar pertama reader novelmu dengan makan malam." Mama menawarkan menyantap hasil masakan kolaborasinya dengan dua anak lelaki tampannya.
"Aku Tinky Winky," ujar Pak Aryan sambil berjalan di belakang Mama menuju dapur.
Kristy segera berlari menyusul Abang sulung. "Aku, Po."
Tinggal aku dan Dion yang ada di ruang keluarga. Saling pandang dan melepaskan senyuman. "Apakah itu berarti aku adalah si hijau muda, Dipsy?"
"Dan aku si kuning, Lala?" selidikku sambil melempar senyuman lebih lebar.
"Berpelukan, Sayang!" pinta Dion yang langsung kusambut dengan melingkarkan kedua tangan di perut sixpack-nya yang bersembunyi di balik kemeja.
"Makanan sudah terhidang. Teletubbies saatnya makan malam. Ayo, jangan terus berpelukan!" ucap Mama dengan suara yang dimiripkan dengan yang ada di film lucu anak zaman dulu itu.
Kami pun saling pandang dan segera beranjak menuju meja makan. Mataku langsung berbinar dengan banyaknya sajian yang ditawarkan. Mulai sup ikan Batam segar yang sangat cocok untuk bumil yang suka mual, cap cay, dan tumis sapi campur kailan yang menggoda iman, semua ada. Selain itu ada stroberi mix pisang yang dijadikan smoothies. Sempurna sudah godaan makanan kali ini.
__ADS_1
"Kalau kayak gini, mending tiap hari kita makan di sini, aja!" celetukku dengan tersenyum tanpa malu.
Dion mengacak puncak kepalaku. "Aku bisa masakin kamu makanan kayak gini, Sayang."
"Nanti kita masak bareng di apartemen buat Rosa tercinta," timpal Pak Aryan yang kembali mendapatkan sikutan dari suamiku tersayang.
"Mama senang kalau setiap hari kalian ke sini." Mama menyuarakan isi hati sekaligus untuk memecah kepingan kalimat yang lagi-lagi akan menjadi debat.
"Kalian bertiga tinggal di sini ajalah, biar enak," ujar Kristy memberikan saran untuk kebaikan semua orang. Mama tidak kesepian, sementara aku dan dua pria yang rawan beradu mulut ini tak perlu memikirkan masakan.
"Aryan pertimbangkan, Ma."
"Asyik," seru Kristy penuh semangat.
Selalu ada keseruan saat kami berkumpul. Meskipun ada saja perbedaan pendapat yang akan timbul tetapi selalu ada solusi yang muncul. Memang kebersamaan keluarga besar itu adalah hal yang tak bisa dibeli dengan uang. Waktu, terlalu mahal untuk ditukar dengan sesuatu yang hanya bisa membeli kepuasaan bukan kebahagiaan.
"Bagaimana umrah, kalian?" Mama mulai menanyakan kabar rencana keberangkatan kami ke tanah suci.
Dion yang mengetahui seluk beluk ibadah yang akan kami jalankan mengambil tugas sebagai juru bicara. "Sudah mulai pengumpulan dokumen, Ma. Kebetulan paspor Rosa kan sudah mati, juga. Ada manasik umrah nanti. Yang penting sekarang kami jaga kondisi. Selain itu semakin mempersiapkan hati."
Ibadah ke tanah suci yang merupakan bagian dari rukun islam yang kelima itu memang memiliki syarat jika mampu. Itu artinya bukan hanya masalah dana tetapi juga harus ada kedekatan spiritual dengan Sang Maha segalanya.
"Semoga umrah kalian nanti dimudahkan ya, Sayang."
"Aryan pengen deh, kita umrah bareng sekeluarga. Ngajak Papa sekalian. Gimana?"
"Cari gratisan ini, pasti?" sindir Dion dengan menaikturunkan alisnya.
"Punya Papa kaya rugi gak dimanfaatin."
"Anak sultan mah bebas, ya?" timpalku.
"Sultan apa?" tanya Pak Aryan dengan entengnya.
"Sultan bucin, lah. Kan aku anaknya punya sebutan pangeran bucin. Bukankah bucin itu warisan genetik?" Dion menjelaskan dengan gaya yang tak kalah santai.
"Aku gak bucin."
"Mana ada gak bucin? Tuh buktinya jomblo up terus, gak ada endingnya."
__ADS_1
"Ssssttt! Tinky winky sama Dipsy, makan yang benar! Jangan berantem!"