Tentang Hati

Tentang Hati
Nasib Fans Sepak Bola


__ADS_3

Kristy PoV


Bulan purnama tengah memanjakan langit malam ini. Bintang-bintang pun berebutan untuk menjadi penghias yang paling terang. Udara malam yang sejuk oleh sepoi angin yang menerpa, terlalu berharga untuk dilewatkan begitu saja.


"Teleponan sama siapa, Kris? Sampai harus keluar rumah," Mama menghampiriku yang baru saja selesai menerima telepon dan sengaja duduk di teras.


"Cowok ganteng dong, Ma," jawabku sambil cengengesan.


Mama memilih duduk di kursi kosong di sebelah meja . "Masih kecil, jangan pacaran dulu. Wujudkan mimpimu jadi dokter," nasihat Mama.


"Kalau nunggu Kristy jadi dokter, dia bisa nikah duluan, Ma," selorohku.


"Berarti dia bukan jodohmu," ucap Mama.


"Emang bukan jodohku, Ma. Orang yang nelepon Mas Dion," jelasku sambil cengengesan lagi.


"Dasar, kamu, Kenapa Masmu telepon?" Mama minta penjelasan.


"Mbak, lagi di apartemen Mas, Ma. Katanya nanti dianterinnya agak maleman," jelasku menirukan perkataan Mas Dion.


Mama nampak bingung. "Loh, kapan dia pulang? Bukannya tadi pagi Mbakmu bilang, kalau dia masih di Surabaya."


"Baru sampai tadi sore, Ma," jelasku.


"Ya ... sudah ... kalau gitu Mama ke belakang lagi, lihat rebusan kacang tanah." pamit Mama sambil beranjak dari duduknya.


*****


"Ngapain, sih, balik lagi?" tanya Dion yang melihat Mas Rendra sudah balik lagi di hadapan kami.


"Ngecek calon sepupuku, aku takut khilafmu keterusan," ucap Mas Rendra sambil duduk di antara aku dan Dion.


"Buruan tuh, pakai kaosmu!" perintah Mas Rendra pada Dion. "Kalian lagi ngapain, sih, pakai acara buka baju segala?"


"Balik ke apartemenmu, sana, di sini gak ada makanan. Kamu ke sini mau makan gratisan, kan?" usir Dion.


Mas Rendra kemudian berdiri. "Kamu tahu aja, baiklah aku keluar, tapi pakai tuh, kaos. Jangan sampai aku balik lagi, kamu masih begini."


"Itu Mas Rendra ngapain, sih, bolak-balik dari tadi?" tanyaku setelah Mas Rendra menghilang dari pandanganku.


"Gabut kali, dia," Dion menjawabnya enteng.


Aku memberikan kaos Dion yang ada di sofa. "Buruan pakai!"


"Urusan kita belum selesai," kilah Dion menolak memakai kaosnya.


"Urusan apa?" tanyaku penasaran.


Dion meraih tangan kananku dan meletakkan di perut sixpack-nya. Aku berusaha menarik tanganku tapi Dion kekeh menahannya. "Sentuhlah sesukamu, jangan terus-terusan membayangkan perut sixpack-nya Nadeo!"


Ingin ku tarik lagi tanganku dari sentuhan di perutnya. "Aku, gak semesum itu, kali. Ohya ... gimana kamu bisa dapet jersey asli plus tanda tangan Nadeo?"

__ADS_1


Dion melepaskan genggaman jemariku dan kemudian merangkul pundakku. "Aku paksa, dia."


"Ih, beneran, tau. Jangan bercanda, Di," ku cubit perut sixpack-nya itu.


"Kamu, mau godain, aku? Cubit-cubit, tadi aja suruh pegang sok malu-malu," hidungku kembali menjadi korban cubitannya


"Hobi banget, sih, nyubit hidungku," gerutuku.


"Habis, kamu ngegemesin banget, Sayang," aku Dion.


Aku kembali merengek. "Ayo, dong, cerita!"


"Setelah kamu matikan telepon, aku langsung cari tau, tuh, tentang si Nadeo. Kebetulan kan dia tanding di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, pas banget kan aku juga lagi di sana. Aku ngubungin temenku yang kebetulan asistan pelatih klubnya. Setelah melewati masa negosiasi yang panjang, akhirnya aku diizinkan nemuin dia di hotel. Kebetulan juga, aku sehotel sama teamnya dia. Wah aku bahagia banget, jalanku bener-bener dimudahkan. Makin yakinlah aku, buat ngelamar kamu, Sayang. Dia ku jadikan kejutan besar, dan kamu benar-benar terkejut bukan?" jelas Dion seraya menggamit pinggangku dan mendaratkan kecupan lembut di keningku.


Aku sudah benar-benar meleleh dengan segenap perhatian Dion. Rasa bersalah mengkabutkan diri memenuhi relung hatiku, menghadirkan sesal yang menyapa tiada hentinya. Aku begitu bodoh tak pernah menyadari bagaimana perjuangannya selama ini. Ku lecutkan amarah pada diriku sendiri karena telah gamang dan berpikir untuk menduakannya dengan Mas Rud.


"Kenapa melamun?" tanya Dion sambil menatapku lembut.


Ku genggam tangannya. "Maafkan, aku, menyia-nyiakanmu selama ini." Ku usap pipi kanannya lembut dan ku daratkan sebuah kecupan di sana. Dion menatapku dengan senyum manisnya. Ku balas tatapannya, ada desiran darah yang melecut rasa sensitifku.


"Astagfirullah ... kalian mesum sekali, buruan kawin, deh!" lagi-lagi Mas Rendra sudah berdiri di hadapan kami.


Mataku dan mata Dion yang sempat terhipnotis rasa, saling bertanya mengapa sepupu rese ini selalu datang disaat yang tidak tepat. Dijamin, dia akan kembali salah paham dan mengeluarkan semua dalil-dalil untuk menceramahi kami.


"Siapa suruh ngintip orang pacaran?" ucap Dion santai.


"Cepet anterin pulang anak orang!" perintah Mas Rendra.


Dion pun buru-buru memakai kaosnya. "Kamu, siap-siap, aku ambil kunci mobil dulu."


"Kami pergi dulu, jangan lupa bersih-bersih. Aku pulang rumah gak kinclong, siap-siap ku habiskan masa depanmu," ancam Dion.


"Dikata pembantu, dasar sepupu mesum. Seenaknya aja mau merusak masa depan orang," gerutu Mas Rendra sambil menjatuhkan diri di sofa dan segera memencet remote televisi.


*****


Memasuki halaman rumahku, nampak sebuah pemandangan yang tidak biasanya. Mama dan Kristy menggelar tikar di taman depan. Berbagai cemilan dan minuman terhidang di sana.


"Gak sekalian pasang tenda dan bikin api unggun?" selorohku begitu turun dari mobil.


"Ide bagus, tuh, Mas Dion pasangin tenda, dong!" teriak Kristy begitu melihat Dion berjalan di belakangku.


Dion bersalaman dengan Mama dan menciun tangan beliau. "Mau bikin perkemahan malam jumat, gak takut?"


"Seru kali, Mas, apalagi bulan purnama 'gini," jelas Kristy.


"Pekerjaanmu sudah selesai? Kok, sudah pulang," tanya Mama.


Dion tersenyum dan melirik ke arahku. "Ada yang ngambek, Ma, makanya Dion buru-buru pulang setelah kerjaan selesai. Padahal Dion masih pengen jalan-jalan di Surabaya."


Aku mengambil kacang rebus di piring. "Siapa 'tuh yang kangen sama anak laki-laki Mama?"

__ADS_1


Dion mengacak puncak kepalaku. "Ma, enaknya Dion nikahin anak Mama ini, kapan, ya? Dion udah gemes banget, nih."


Mama tersenyum seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Sementara Kristy sibuk dengan singkong keju di mulut dan tangannya.


"Buru-buru nikahin, aja, Mas! Biar Mas Dion bisa gantian nindas Mbak Rosa. Masa Mas Dion terus yang ditindas," usul Kristy.


"Itu pasti, adikku sayang," yakin Dion.


"Kalian berdua jangan bersekongkol untuk mengusirku dari rumah Mama," ungkapku.


"Mama senang melihat kalian bercanda, begini, Mama bahagia," jujur Mama.


Aku pun mendekati Mama dan memeluknya. "Maafin Rosa, ya, Ma. Rosa udah sering bikin Mama menangis, Rosa sayang Mama."


"Iya, Sayang, Maafkan Mama juga karena sering memaksamu menerima perjodohan dengan lelaki yang tidak kamu cintai. Mama merestui hubungan kalian," ucap Mama seraya membelai rambut panjangku.


"Aku masih ingin bermanja sama Mama," kataku masih bertahan di pelukan Mama.


"Mau kamu suruh Dion menunggumu berapa lama lagi? Bukankah Rio dan Tria saja sebentar lagi menikah," Mama mengingatkan.


Aku sampai lupa undangan dari Tria dan Rio. Hari minggu mereka akan menikah, tapi aku belum ada persiapan. Belum menyiapkan kado dan juga belum tahu bakalan ngajak siapa untuk menghadiri acara tersebut.


"Nanti, kita ke sana barengan, ya?" ajak Dion seolah mendengar kata hatiku.


"Sabtu, kita nyari kado dulu, ya," usulku sambil terus mengunyah kacang rebusku.


"Ok!" Dion setuju.


"Jadi, kapan kalian akan menikah? Biar Kristy siapin kado spesial," Kristy kembali mengorek.


"Sabar, baru juga dilamar," ceritaku.


Gak ada seorang pun yang mengetahui lamaran Dion padaku. Memang seperti inilah lamaran yang sebenarnya ku inginkan, private. Walaupun sejujurnya, aku gak suka ada lamaran, lebih baik langsung akad. Sederhana dan tidak mengundang banyak tamu. Namun sepertinya itu tak akan bisa ku wujudkan, mengingat Mama menginginkan mengadakan pesta meriah walaupun aku menolaknya.


"Beneran? Mana cincinnya?" Kristy mulai heboh.


"Cincin apaan? Aku dilamar pakai ini," ungkapku sambil membuka box dari Dion.


Kristy memperhatikan jersey itu dengan seksama. "Uh ... so sweet banget! Mas Dion benar-benar romantis, idamaaan ...."


Romantis dilihat dari sudut pandang siapa tuh? Ini lebih tepat disebut aneh ... unik ... ya ... semacam itulah! Namun, sejujurnya aku menyukainya. Sebuah perjuangan cinta yang tidak mudah.


"Mas, kok, bisa kepikiran bikin lamaran pakai jersey Nadeo, sih?" selidik Kristy.


"Bisa dong, aku malah kepikiran buat nyewa "Gelora Bung Karno" buat nikahan nanti," ungkap Dion penuh tawa.


"Maksudnya? Nanti kamu bakal ngasih aku mahar bola, pelaminannya gawang, terus penghulunya pakai kostum wasit, gitu?"


tuturku.


"Wah ... ide bagus, Sayang. Catet Kris!" Dion serius.

__ADS_1


"Siap, catet! Mas, ayo segera eksekusi!" ucap Kristy penuh semangat.


"Ogah ... ogah ... ogah ...," aku menolak keras.


__ADS_2