Tentang Hati

Tentang Hati
Titik Terang


__ADS_3

Dua hari sejak kuterima kabar menghilangnya Mas Rud, Dion memberi sebuah informasi yang bisa membuatku sedikit bernapas lega. Sosok dibalik penculikan mengerikan itu sudah diketahui. Tuan Alex sedang berusaha untuk mencari cara bagaimana menemukan lokasi penyekapan Mas Rud dan membebaskannya. Bocornya kabar ini ke telinga Dion pun aku tidak mengetahui siapa sumbernya dan juga tidak memusingkannya. Yang lebih penting bukan itu melainkan kebebasan Mas Rud.


Sejujurnya, aku kasihan dengan lelaki yang berstatus mantanku itu. Perjalanan hidupnya kurasa amat berliku sejak perpisahan kami. Dahulu, yang aku tahu hidupnya berjalan mulus. Harinya penuh bahagia. Namun, keputusannya untuk mengakhiri hubungan sepihak denganku dan juga pekerjaan barunya yang sangat beresiko, pasti ada sesuatu yang besar hingga memicu latar belakang itu.


Sayangnya, dia memilih terluka sendiri. Mengangkat beban lebih berat dan menjatuhkanku agar aku tak ikut terseok bersamanya. Padahal jika ia tahu, aku akan berjuang bersamanya. Siap terluka dan merasakan sakit berdua.


"Mbak," panggilku untuk kakak iparku itu.


Ya ... sepulang dari kantor, Dion mengajakku ke rumah kakaknya. Entah ada urusan apa tapi tebakanku mengarah pada kasus penculikan yang baru saja aku pikirkan. Karena, terakhir kali Mas Rud bertandang ke butik Mbak Sharika sebelum menghilang. Jadi, aku pikir Dion tahu semuanya dari sang kakak.


"Apa, Sa?" jawab Mbak Sharika sambil mendudukkan dirinya setelah selesai menyiapkan makan malam di meja.


"Sebenarnya, Mas Rud mau menikah beneran, gak sih, Mbak?" tanyaku setelah berhari-hari menyimpan rasa penasaran sendiri.


"Tentu, saja," yakin Mbak Sharika. "Apa kamu tidak yakin?"


"Rasanya terlalu mendadak. Selain itu, aku juga tidak melihat calon pengantinnya. Bukankah seharusnya kemarin itu mereka fitting baju bersama?" analisaku panjang lebar.


"Awalnya, Mbak juga menganggapnya bercanda waktu dia datang ke butik bilang mau menikah. Namun setelah ngobrol dengannya, Mbak percaya jika dia serius," jelas Mbak Sharika yang masih membuatku belum puas.


"Siapa calonnya?" tanyaku untuk meyakinkan jika semua itu benar.


"Saudaranya Tuan Alex."


Rasa ketidakpercayaanku pada rencana pernikahan mendadak Mas Rud semakin bertambah saat mengetahui siapa wanita yang akan menjadi pengantinnya. Benarkah itu semua? Seorang bodyguard akan menjadi bagian dari keluarga besar Tuannya? Rasanya semua menjadi semakin misterius. Ada rahasia apa dibalik itu semua?

__ADS_1


"Sa," panggil Mbak Sharika karena aku melamun setelah mendengar kalimat terakhirnya.


"Ada apa, Mbak?" tanya Dion yang baru keluar dari kamar mandi dan merasa aneh karena melihat kakaknya menepuk lembut lengan atasku.


"Istrimu 'nih, lagi ngobrol sama Mbak tapi malah melamun," jelas Mbak Sharika yang mengisyaratkan matanya ke arahku.


Dion mengikuti arahan mata Mbak Sharika. Melihatku yang sedang terpekur. Tatapan mata kosong dan tanpa rona semangat. Lelakiku itu mengusap pelan punggungku disertai penyebutan namaku sedikit lirih. Berulangkali ia lakukan dengan sabar, hingga aku bisa terlepas dari dalamnya lamunanku.


"Apa yang kamu lamunin, Sayang?" tanya Dion sambil membelai rambutku lembut.


Kupeluk lelaki di hadapanku itu. "Aku kasihan sama Mas Rud, Mas. Dia pasti sedang kesakitan sekarang."


Tiba-tiba saja air mataku meluruh. Membasahi kemeja Dion yang menjadi sandaran kepalaku. Ini memang sesuatu yang tak pantas kulakukan. Menangisi lelaki lain di pelukan suamiku. Namun perasaan yang berlebihan ini, bukan aku yang menguasai. Dia datang sendiri, menyergapku dalam kedalaman duka.


"Bagaimana kalau Mas Rud tidak selamat, Mas?" pikiran negatif telah menguasai seluruh otakku. Berdoa untuk keselamatannya itu pasti tetapi mengingat kejamnya dunia usaha, nyawa manusia tiada harganya. Bukankah wajar jika aku memikirkan kemungkinan terburuk? Apalagi aku pernah berada pada situasi yang sangat mengerikan kala itu, baku tembak pada saat acara lelang. Rasanya belulangku kembali melunglai.


"Pikiranmu adalah bagian dari doa, Sayang," Dion terus menguatkanku. Menyemai benih-benih pikiran positif tentang Mas Rud.


"Aku baru dikabari jika Rud disekap di puncak. Tuan Alex dan anak buahnya sedang bergerak ke sana," tiba-tiba Mbak Sharika berucap.


"Mulai ada titik terang, Sayang. Yakinlah jika Tuan Alex pasti tidak akan membiarkan Rud menjadi korban," kembali Dion memberikan nasihat penguatan.


Aku diam, memikirkan semua yang Dion katakan. Perlahan aku lepaskan pelukan pada tubuh suamiku itu. Segelas air yang Dion sodorkan, perlahan aku teguk. Mengalirkan cairan untuk mengganti kristal-kristal yang telah dialirkan oleh sudut indra penglihatanku.


"Mbak, bagaimana keluarga Rud? Apakah mereka mengetahui penculikan ini?" Dion menelisik lebih jauh.

__ADS_1


"Mbak, kurang tahu. Semenjak menjadi bodyguard, Rud tinggal di kediaman Tuan Alex. Hanya dua minggu sekali ia pulang. Kasihan dia, Ayahnya meninggal begitu perusahaannya bangkrut beberapa bulan lalu. Sementara bundanya tinggal dengan kakak pertamanya.


Mendengar cerita pilu Mas Rud, aku semakin dirundung nestapa. Kenapa sama sekali tak mengetahui tentangnya. Bahkan kabar kepergian Ayahnya kenapa lolos begitu saja dari pendengaranku. Padahal Mama dan Tantenya Mas Rud, berteman, mengapa tak ada cerita yang kudengar dari mereka.


"Kenapa, Sayang?" tanya Dion begitu melihatku kembali termenung.


"Aku gak tahu kalau Ayahnya Mas Rud sudah meninggal," jelasku dengan memikirkan sesuatu yang terus mengganggu pikiranku.


"Benarkah, Sa?" Mbak Sharika terdengar terkejut dengan pernyataanku.


"Tega sekali mereka menyembunyikan ini dariku?" marahku dengan segera mengambil HP dan memilih sebuah nomor untuk aku hubungi.


Suara di seberang sana terdengar, sesaat setelah aku menghubunginya. "Ada apa, Sa?" tanya Mama dengan lembut seperti biasanya.


"Apakah Ayah Mas Rud sudah meninggal, Ma?" tanpa basa-basi langsung kutanyakan maksudku menelepon Mama.


"Iya, sudah beberapa bulan yang lalu," jelas Mama sama dengan penjelasan Mbak Sharika.


"Kok, Mama gak kasih tahu Rosa?" cercaku berikutnya.


"Mama pikir kamu sudah tahu, jadi Mama tak memberitahumu lagi. Mama tak ingin kamu kembali bersedih karenanya," balas Mama yang sudah tidak bisa lagi kuterima oleh otakku.


Pikiranku sudah menerawang ke suatu lahan kesedihan yang lapang. Di mana hanya ada Mas Rud di sana. Tengah berurai air mata karena terjebak dua situasi berlawanan yang kuyakin sama-sama menyakitkan. Meninggalkanku entah karena apa, dan ditinggalkan Sang Ayah karena shock yang dideritanya. Bagaimana wujud hatinya kala itu?


Benda pintar yang tadi menempel di pipiku hendak terjatuh saat kesadaranku melanglang buana. Untungnya Dion memerhatikan dan segera mengambilalihnya. Teleponku yang masih tersambung dengan Mama diambilnya. Sedikit berbasa-basi dan kemudian menutupnya. Sementara itu aku belum menutup lembar khayalku. Masih mengintip masa lalu Mas Rud melalui fantasiku. Ikut merasakan luka yang tercipta dalam selang waktu yang tidak lama.

__ADS_1


__ADS_2