
Keluar kembali dari ruang praktek dokter untuk kedua kali, kami justru memiliki masalah besar yang harus segera kami carikan jalan keluar. Pak Aryan yang melihat kami dengan wajah penuh tanya segera beringsut dari duduknya.
"Bagaimana?"
Dion membawaku keluar dari ruang tunggu dokter dan berpindah ke ruang tunggu yang ada di sepanjang lorong rumah sakit. Segera kumendudukkan diri. Sementara Dion bersimpuh di hadapanku. "Kamu lebih siap melahirkan seperti apa, Sayang?"
"Pengenku spontan, Mas."
"Kalau kamu memang mau spontan, kita pilih spontan."
Aku menunduk. "Tapi ...," jedaku pada satu kata yang baru saja kukeluarkan.
"Jika tekanan darahku semakin naik, bagaimana?"
"Berpikirlah positif, Sayang."
Kembali kupilih diam. Pikiran tentang keputusan yang akan kuambil dan hal yang kutakutkan kembali bergentayangan menakuti. Jika memilih ini maka begini, jika memilih itu maka konsekuensinya juga begitu. Begini begitu, semakin membuat perasaan tak menentu.
"Jika memang resiko yang paling minim adalah melalui operasi caesar, Mas menyarankan kamu memilih itu. Namun jika kamu memang ingin spontan, yakin bahwa kamu bisa, Sayang."
"Tapi, jika nanti gagal ...?"
Pikiranku gamang.
Dion bangun dari hadapanku dan meraihku ke dalam pelukannya. "Mas salat isya dulu sekalian minta petunjuk sama Pemilik kehidupan kita, Sayang. Tenanglah! Yakin dengan pilihanmu karena kita memiliki Allah yang Maha Kuasa," tutur Dion seraya mencium keningku.
"Jaga Rosa dulu!" pesan Dion pada Pak Aryan sebelum dia berjalan menuju musala rumah sakit.
Pikiranku kembali berkelana. Masih mengejar hal yang sama. Pilihan tepat saat waktu semakin mendesak. Dalam hati terus berdoa. Semoga keputusan terbaik itu sebentar lagi akan memunculkan diri. Membuang gamang agar bisa kembali tenang menuju persalinan.
Ya Allah, hidup dan matiku sudah Engkau tuliskan. Namun bolehkah aku memohon, untuk bisa menuliskan cerita bahagia bersama putra dan suami hamba.
__ADS_1
"Sa," panggil Pak Aryan seraya menyerahkan sebotol air mineral.
Abang membuka tutup botol tersebut dan menyodorkan tepat di depan mulutku. "Minumlah!"
Meskipun tak merasakan dahaga, akhirnya kuteguk cairan bening itu. Aku memang membutuhkannya walaupun aku tak sadar jika sedang dilanda kehausan yang meraja. Pak Aryan mengambilnya lagi saat aku sudah menjauhkan dari bibirku.
"Melahirkan memang bukan hal yang mudah. Nyawa adalah taruhannya. Namun sebagai makhluk yang dicipta, kamu tahu kan kepada siapa harus meminta?"
Iya, tiada tempat untuk bermunajat kecuali Allah, Sang Penguasa Jagat. Meminta yang paling tepat adalah pada pemilik yang sesungguhnya.
"Bang, menurut Abang mana pilihan terbaik?"
"Jawabannya ada di hatimu. Buatku apapun yang kamu pilih, yang penting kalian selamat."
Semua menyerahkan padaku. Sayangnya aku malah tak bisa menentukan pilihan. Dikejar waktu, pikiranku semakin buntu. Nyeri punggung pun perlahan kembali menyerang. Kuusap sendiri dengan pelan.
"Mau aku bantu?" tawar Pak Aryan hati-hati karena dia menyadari bahwa hal ini bukan hal yang pantas dia lakukan.
"Kita telepon Mama," ucap Dion begitu sampai di hadapanku.
Mama ... mengapa aku bisa melupakan beliau pada saat seperti ini? Doa mustajab itu adalah miliknya.
"Mama ...," panggilku dengan air mata tertahan.
"Aku sudah memaafkan semua kesalahanmu, Nak." Kalimat Mama itu mendahului terlontar sebelum kata maaf aku ucapkan.
"Ma, Rosa harus bagaimana?"
"Dion sudah menceritakan semuanya. Menurut Mama jika lahir spontan terlalu beresiko, apalagi jumlah ketubanmu sedikit dan akan membutuhkan waktu yang lama untuk menunggu pembukaan lengkap, pakai induksi saja."
Mama benar.
__ADS_1
"Percayalah, Allah akan memudahkan semuanya, Nak."
Pilihan dari Mama itu akhirnya kupilih sebagai caraku melahirkan. Keputusan Dion untuk meminta doa dari Mama adalah jalan terbaik. Keyakinan bertahta kuat di hati. Ya ... aku siap menjemput lahirnya buah hati kami berdua.
Penguatan dari Pak Aryan pun semakin menambah keyakinanku. Segera kutinggalkan dia dengan senyum yang sama-sama terukir di bibir kami bertiga. Mengayun kaki dengan pasti memasuki ruang praktek dokter kembali.
"Bagaimana? Sudah memiliki keputusan?" tanya dokter Sitta memastikan.
Senyum penuh keyakinan kutunjukkan. Dengan mengucapkan basmallah, kuyakinkan memilih jalan ini, induksi.
Dion mendorong kursi roda dengan aku yang berada di atasnya. Mengikuti seorang suster untuk memasuki ruang sementara sebelum memasuki ruang bersalin. Tubuhku merebah di sana. Sementara suster memeriksa dan kemudian menyuntikkan obat induksi. Satu jam berlalu, belum begitu terasa efeknya.
Sekitar pukul sepuluh malam, aku dibawa ke ruang bersalin. Di sampingku Dion menunggu dengan setia. Mengusap-usap punggungku seperti malam itu. Sementara di sebelah tanganku sudah terpasang selang infus. Suster datang dan pergi untuk mengecek keadaanku.
Ada dorongan di sana, seperti sesuatu yang ingin keluar tetapi kemudian menghilang. Berulang kali begitu. Awalnya jarang lama-lama hanya lima menit berselang. Setiap gejala itu menyerang, rasanya aku ingin mencengkeram apa saja yang ada di hadapan. Dion kujadikan sasaran. peganganku melemah saat rasa itu kembali menghilang. Dan akan kembali menguat saat kesakitan itu datang lagi.
Kulihat mata Dion mulai memerah. Tak tega dengan situasi yang sedang kuhadapi. Bibirnya selalu menguatkanku dalam sela doa yang ia panjatkan. Dalam sakitnya perjuangan, kubersyukur dalam ucapan. Memiliki suami sepertinya adalah harta yang paling berharga.
"Mas," seruku tertahan.
"Berdoa, Sayang."
Saat dihadapkan pada pilihan jalan yang pasti antara hidup dan mati, maka ucapan yang harus dilafalkan adalah menyebut kebesaran Allah Sang Maha Segalanya. Karena pemberi kemudahan persalinan itu hanyalah Dia Sang Peniup Ruh.
Semua tenaga kesehatan berkumpul. Dokter Sitta, bidan dan seorang suster sudah standby di ruang persalinan. Pengecekan terakhir sudah menunjukkan pembukaan 10.
Kontraksi pun datang dan pergi selang hanya hitungan menit. Dion terus menggenggam jemariku sambil mengusap rambutku. Saat bibir terus berdzikir, bayi di dalam sana juga ikut berjuang untuk segera menyapa alam dunia. Semua terpekur, larut dalam doa agar aku dan dan sesuatu yang bernyawa di dalam sana bisa menyambut kelahirannya dengan bahagia.
Kontraksi yang mencapai puncaknya, penebar semangat yang makin rapat tanpa sekat, napas yang memburu melaju seiring suara tangis yang tiba-tiba memecah buncahan perasaan. Alhamdulillah, seruan yang terlontar dari semua bibir yang sedari tadi mengukir harap dalam suasana pengap.
Bayi mungilku yang begitu lucu itu, dokter rebahkan di atas tubuhku. Tak ada kata yang meluncur, hanya air mata yang meluruh. Rasa bahagia yang tak akan bisa diwakili dengan kata-kata. Dalam dekapanku, Dion mengumandangkan adzan di telinga kanan bayi kami, buah cinta Dion dan Rosa. Sungguh, inilah surga dunia yang sesungguhnya itu.
__ADS_1