Tentang Hati

Tentang Hati
Sengit


__ADS_3

Mual pagi masih datang dan pergi. Beberapa hari kemarin masih mengganggu tapi hari ini aku mulai terbiasa. Kunikmati sebagai bagian menyenangkan dari sebuah proses panjang memiliki buah hati. Oleh karenanya, aku siap kembali bekerja.


Dion yang berencana berangkat seperti biasa akhirnya kembali pergi lebih pagi. Alhasil pilihan keduaku adalah berangkat dengan Abang apartemen depan. Itu adalah keputusan Dion agar ada yang mengawasiku tanpa adanya dia. Seperti penjaga kedua.


"Enak ya punya lelaki cadangan. Kalau suami gak bisa mengantar, ada Abang yang siaga dua puluh empat jam," sindir Tya saat dia melihatku turun dari mobil Pak Aryan.


"Ngiri, ya?" godaku sambil berlari untuk dapat berjalan menyejajarinya.


"Nganan, dong! Ngiri cuma bikin keki," celetuknya sambil melirik Pak Aryan yang tengah berjalan mendahului kami.


Tak kutanggapi lagi Celotehan Tya. Aku memahami suasana hatinya yang sedang dihantam gelombang kecemburuan. Lelaki yang dia cintai telah menolaknya dan malah perhatian denganku yang sudah memiliki pasangan. Dia memendam cemburu padaku dan juga pada Anggen.


Penolakan yang Pak Aryan alamatkan untuk cinta yang ia miliki, membuatnya sakit hati. Terlebih, Anggen tiba-tiba saja memutuskan menerima lamaran Tuan Eric dan menikah tak lama setelah itu. Alhasil ia merasa seperti ditinggalkan seorang diri. Status jomblo membuatnya seperti dilabeli sebagai wanita cantik yang tidak laku. Dan itu sukses membuatnya terluka.


Selangkah menuju lift, Tya memilih memutar langkah menuju tangga. Entah apa yang terjadi dengan pemikirannya, tapi yang kutangkap ia tidak ingin dekat-dekat lagi dengan Pak Aryan. Aku hanya bisa menghela napas mendalam.


"Korban Bapak tolak, 'tuh. Jadi baperan," sindirku pada Pak Aryan yang bersamaan naik lift denganku.


"Biar makin kuat," timpal Pak Aryan yang kuhadiahi pelototan.


"Apa 'sih kurangnya, Tya?" gerutuku gemas karena Pak Aryan menolak gadis secantik, semenyenangkan dan selucu Tya.


Dengan wajah tenang Pak Aryan mengulas senyumnya. "Kurang cinta."


Kalau sudah bicara cinta maka sudah berat masalahnya. Seperti hati yang tak bisa kita kendalikan maka cinta pun juga sama. Dan aku harus ingat akan janjiku, gak boleh memaksanya untuk menerima cinta seorang wanita, sama seperti aku yang tak bisa menolaknya untuk tetap memperhatikanku berlebihan.


"Semoga suatu saat Bapak bisa mendapatkan cinta yang kurang itu," jelasku sambil menepuk pundaknya.


🚘🚘🚘🚘🚘

__ADS_1


Pukul 17.00 aku sudah merapikan meja untuk segera beranjak pulang. Janji berangkat bersama yang gagal tadi pagi, pulang kerja pun tak bisa ditepati. Lahi-lagi jatuhlah pada pilihan kedua, nebeng si Abang. Anehnya, si bos satu itu selalu saja bisa pulang tepat waktu. Tak pernah lembur atau pun ada meeting di luar. Seperti bodyguard saja, selalu ada saat aku membutuhkannya.


"Dijemput atau diantar?" tanya sinis Tya padaku saat dia baru saja lewat untuk beranjak pulang.


Dia hanya sekadar berucap sambil berlalu. Tanpa menoleh ia melangkah pasti. Rupanya kekesalannya tadi pagi masih menguasainya. Dia sedikit berubah sikap padaku. Dahulu yang gak gampang tersinggung sekarang sering terbawa perasaan. Apalagi mengenai kedekatanku dengan Pak Aryan. Sepertinya dia selalu mencari-cari kesalahan.


Kalimat pertanyaannya pun terdengar sengak. Bukan perhatian tapi sebuah sindiran untuk menyamarkan sebuah kecemburuan. Ya ... kusimpulkan jika Tya merasa iri. Kedekatanku dengan lelaki yang ditaksirnya itu sepertinya sangat berlebihan di matanya. Memang Pak Aryan menolak Tya karena masih belum move on dengan perasaannya padaku. Namun, apakah itu salahku? Bahkan aku selalu membujuk untuk mencoba dengan Tya, tapi memang Pak Aryan yang menolaknya. Jadi, aku bisa apa?


"Kenapa bengong?" tanya Pak Aryan setelah aku terpaku melihat kepergian Tya.


Kutolehkan kepala segera, "Tya sepertinya masih marah sama aku."


Pak Aryan tak menyahut lagi. Aku pun segera menyambar tas dan berjalan mendahuluinya yang masih berdiri menunggu. Sungguh tidak sopan, ditunggu malah melangkah lebih dulu. Tak ada kalimat yang kami lontarkan sepanjang perjalanan menuju parkiran. Pak Aryan hanya sesekali menjawab sapaan orang-orang yang kebetulan berpapasan. Selain itu dia memilih diam. Sikap yang sangat jarang bahkan tidak pernah aku temukan.


Karena dia diam aku pun juga diam. Canggung. Padahal biasanya kami selalu bercanda tanpa memedulikan perasaan satu sama lain. Lebih tepatnya aku yang selalu berkata tanpa rem di hadapannya. Kalau dia lebih suka memerhatikan padahal jelas-jelas aku sudah punya pasangan. Dengan dalih sebatas adik dia memuaskan perasaannya untuk membahagiakanku.


Kuanggukkan kepala sembari melihatnya. Tatapanku membuatnya mengulurkan tangan dan mengacak puncak rambutku. "Jangan terlalu dipikirkan. Semua bukan salahmu. Sekarang kamu harus selalu berbahagia agar calon keponakanku tidak merasa terabai."


"Bapak jangan memperlakukanku berlebihan. Tya aja salah paham, aku takut suatu saat Mas Dion juga akan berpikiran begitu," pintaku dengan mimik serius.


"Tenanglah, aku bisa menempatkan diri. Aku tahu kapan harus menjaga perasaan suamimu itu," terang Pak Aryan dengan santai.


Kami memang tak memiliki hubungan terlarang. Namun perasaan awal yang dimiliki Pak Aryan bisa saja menjadi bumerang. Tak kami pungkiri bahwa rasa lelaki itu masih ada. Hanya saja dia mengolah sedemikian rupa hingga cinta itu tidak menyakitkan tapi membahagiakan. Kuhargai itu.


"Kapan Bapak akan mengalihkan perhatian istimewa dariku ke wanita spesialmu?" tanyaku mulai lagi mengintrogasi tanpa basa-basi.


"Setelah kupastikan bahwa kamu benar-benar bahagia," timpal enteng Pak Aryan dengan senyum yang tak kutampik bahwa itu penuh jerat.


Pantas saja Tya jatuh terjerembab pada pesonanya. Sok oke ditolak, padahal hatinya mencak-mencak. Membiaskan cinta jadi sakit hati, benci, iri, mencaci dan menyakiti. Walaupun begitu mempesona, tapi aku tetap tak tergoda. Seorang Rosa adalah pencinta yang susah berpaling jika sudah jatuh cinta. Dan itu sekarang sedang terjadi. Dion sudah mengisi seluruh ruang hati.

__ADS_1


"Mas Dion akan selalu membahagiakanku, jadi kini saatnya Bapak mencari wanita lain sebagai penggantiku," pintaku setelah meyakinkan bahwa tanpanya akan ada yang selalu membuatku bahagia, Dion.


"Belum sekarang ya Adek, nantilah. Ada saatnya," ucapnya kembali mengacak puncak kepalaku.


"Apa gak ada kesempatan sama sekali untuk Tya?" selidikku kembali.


"Aku sama sekali gak merasakan getar perasaan padanya, Sa. Jangan paksa aku untuk belajar mencintai. Seperti aku yang tak bisa membencimu, begitulah juga aku tak bisa mencintainya," terang Pak Aryan tenang.


"Apakah itu berarti jika aku harus bersiap dibenci oleh Tya selamanya?" tanyaku dengan muka penuh kesedihan.


"Nanti aku yang akan bicara padanya."


Janji manis yang harus aku apresiasi. Meminta Pak Aryan bicara berdua dengan Tya itu sangat susah. Namun sekarang dia sendiri yang menawarkan diri. Bukankah itu sebuah keajaiban?


🛣🛣🛣🛣🛣


Cinta dan Dendam kadang berjalan seiring jalan. Selalu pintarlah mengolah perasaan agar tidak pernah berakhir menyakitkan.


Seperti Zeno dan Jessie, saling melepaskan perasaan hanya untuk sebuah perasaan lain dan kelanjutan sebuah aksi balas dendam. Penasaran?


Baca novel Anggen si Trio Somplak! Novel kocak yang fresh dipadu action romantis, dijamin bikin ngakak sepanjang malam. Buktikan!



Mau yang romantis?


Baca yang ini!


__ADS_1


__ADS_2