
Dua pasang mata saling memandang dalam rasa canggung. Aku tak mau mengawali dan dia juga ragu untuk membuka kata. Embusan napas kasar sengaja kami buang bersamaan. Bingung bagaimana hendak berbicara. Keheningan terpecah saat suara pintu kembali terbuka. Bang Kotan tersenyum dan keluar dari pantry. Tinggalah kami berdua.
"Pe," panggil Anggen setelah waktu beberapa menit berlalu dalam kebisuan.
Aku masih diam. Ingin mendengar kalimat apa yang akan keluar dari mulutnya kemudian. Meskipun aku tahu dia tak berpihak pada Tya untuk mengucilkanku, tapi rasanya ada yang aneh. Hubungan pertemanan kami sedang dihantam badai, goyah.
"Aku bingung harus bersikap bagaimana. Kamu gak salah. Hanya Tya saja yang terlalu sensi karena kamu justru mendapatkan perhatian Pak Aryan, padahal jelas-jelas kamu sudah punya Mas Dion."
"Iya, aku tahu. Aku ingin berbicara dari hati dengannya. Namun dia selalu menyindirku. Jadi, aku juga jadi canggung."
Keluar sudah unek-unek yang sama-sama kami pendam. Hati terasa sedikit lebih lega. Setidaknya kami tahu, ini hanya kekesalan Tya yang seharusnya dibicarakan lebih mendalam. Tinggal mencari waktu yang tepat untuk membicarakannya.
"Balik ke meja lagi, yuk!" ajak Anggen yang kutolak dengan alasan ingin menghabiskan teh dahulu. Padahal sebenarnya, aku masih ingin membebaskan pikiran dari kata-kata Tya yang membuatku tersakiti.
Tinggal sedikit lagi teh yang tersisa di gelasku. Kuraih laptop yang sedari tadi tak kusentuh. Membawanya kembali meninggalkan pantry dan berjalan menuju rooftop. Lama sudah aku tak menginjak tempat ini. Persembunyian yang dikenalkan oleh Pak Aryan.
Kunyalakan laptop dan mulai berkutat dengan pekerjaan. Ketenangan di sini membuat lebih mudah untuk berkonsentrasi. Dalam waktu tak lama, pekerjaan yang menumpuk sudah banyak berkurang. Hingga tak sadar jika waktu makan siang sudah datang.
Begitu asyik menekuni pekerjaan hingga waktu makan siang kuabaikan begitu saja. Terus bergelut dengan kewajiban untuk diselesaikan. Perutku rasanya juga tidak merasa lapar. Namun tiba-tiba suara nyanyian perut kosong, mengingatkanku. Segera kumatikan laptop.
"Ah, aku lupa membawanya," gumamku ingat jika benda pintarku tertinggal di meja.
Pikiranku sudah melayang kemana-mana. Dion pasti khawatir. Takut jika dia berpikir aku sengaja mengabaikannya. Keadaannya sekarang akan menjadi sangat rentan. Pikiran bijaksananya bisa saja beralih jadi sangat sensitif. Tak mau itu terjadi, segera kuberanjak dari bangku yang sedari tadi kududuki.
"Handphone itu, jangan main tinggal-tinggal, saja. Suamimu kalang kabut, tuh," ucap Pak Aryan sambil menyerahkan benda yang kucari.
Tergesa mengecek yang baru saja dikatakan Pak Aryan, aku mengabaikan rasa terimakasih yang seharusnya kuucapkan. Puluhan panggilan dan pesan dari Dion memenuhi notifikasi. Tanpa menunggu lebih lama, kuharus balik menghubunginya. Tak peduli dengan keberadaan lelaki yang baru saja mengantarkan benda yang kubutuhkan. Apakah masih di sini ataukah sudah pergi.
Aku sangat bahagia ketika panggilan pertamaku langsung diangkat Dion. Tak ada drama marah dan balik mengabaikan. Langsung kuucapkan kata maaf karena telah membuatnya was-was. Dan tentu saja laki-laki itu memaafkanku tanpa syarat.
__ADS_1
Makan siang yang sudah kulewatkan hampir dua jam, membuat Dion memaksaku untuk segera mematikan telepon. Memerintahkan untuk segera makan. Dia marah karena aku hanya memikirkan diri sendiri dan melupakan janin yang ada diperutku.
"Buruan, makan!" perintah Pak Aryan begitu telepon kumatikan.
Seporsi nasi dengan menu sehat dan seimbang diberikan Pak Aryan. Entah bagaimana lelaki itu bisa tahu jika perutku belum terisi.
"Kenapa hanya dilihat? Nunggu aku suapin?" celetuk Pak Aryan yang membuatku tersadar dari khayalan dan segera membuat suapan pertama.
"Tidak perlu berterima kasih. Habiskan saja makananmu!"
Sambil menungguku makan, Pak Aryan membuat laporan pada Dion lewat video call. Dia arahkan kamera padaku yang tengah lahap menyuapkan makanan. Kuabaikan kelakuan dua lelakiku itu. Kemarin bertengkar sekarang sudah kembali berbaikan. Berkebalikan dengan Trio Somplak yang saat ini sedang tidak kompak.
"Anak manis," ucap Pak Aryan saat aku menghabiskan makan siang yang ia bawakan seraya mengacak puncak kepalaku.
"Sebentar lagi saya bakalan jadi ibu, Pak. Jangan anggap anak kecil lagi," sungutku menanggapi.
"Bagiku kamu akan tetap jadi anak manis yang menggemaskan, adikku tersayang."
"Buatlah anak kecil sendiri, Pak!" celetukku santai.
Pak Aryan mengacak puncak kepalaku lagi. "Kamu pikir semudah itu bikin anak kecil?"
"Semua akan menjadi mudah jika Bapak mempermudah," ucapku menggiring pembicaraan.
"Jangan paksa aku nerima Tya!" tegas Pak Aryan sambil menatapku.
Kubuang napas kasar. Siasatku selalu saja terbaca. Menyerah rasanya lebih baik jika harus berhadapan dengannya. Toh juga percuma terus memaksa. Cintanya sudah mentok, setidaknya saat ini seperti itu yang terjadi.
"Bang,"panggilku lirih.
__ADS_1
Mendengar panggilanku, Pak Aryan tahu jika aku akan membicarakan hal yang serius. Dia tarik dirinya untuk duduk di hadapan. Menatapku, menunggu hal penting apa yang akan aku sampaikan. Dia sudah bersiap tapi aku justru bingung mau mengawalinya.
Pak Aryan menatapku semakin lembut. Mengulas senyum agar aku merasa lebih tenang. "Mau bilang apa?"
"Tya, Bang," sebutku singkat.
"Kenapa lagi, dia? Menyudutkanmu? Karena aku menolak perasaannya dan malah memerhatikanmu," tanya Pak Aryan yang mewakili semua yang ingin kukatakan.
Kuanggukkan kepala mengiyakan semua kalimat yang keluar dari mulutnya. "Aku harus bagaimana, Bang?"
"Biarkan saja! Nanti aku yang akan bicara dengannya."
"Bukankah Bapak anti bicara dengannya?"
"Demi kamu aku akan melakukannya. Sudahlah, semua ucapan Tya jangan kamu masukkan hati!"
Seandainya aku bisa melakukannya, pasti sekarang aku tidak di sini, membagi cerita dengannya. Seorang Rosa terlalu peka dengan perasaannya. Sesuatu yang dirasa tidak pas di hati pasti akan membuat nyeri. Menjadi beban pikiran dan mengganggu pekerjaan.
"Jangan terlalu baik padaku, Bang. Aku takut jika nanti akan bermunculan Tya-Tya yang baru."
Puncak kepalaku kembali diacaknya. "Jadilah Rosa yang masa bodoh saat menghadapi wanita-wanita seperti Tya. Jadilah seperti saat kamu menolak Dion berkali-kali, tanpa perasaan."
"Rosa yang itu udah mati, Bang."
"Jangan terlalu baper, nanti hatimu akan mudah sakit," nasihat Pak Aryan sambil bangkit dari duduknya.
"Ayo, balik ke meja! Jangan di sini sendirian. Aku ada meeting. Kalau tidak pasti akan aku temani," ucap Pak Aryan sambil mengulurkan tangan untuk membantuku bangun.
Kuringankan langkah untuk mengikutinya. Tak memedulikan uluran tangannya, aku bangkit dengan kekuatan sendiri. Berjalan di belakangnya, melenggang. Laptopku diambil alih oleh Pak Aryan. Dia tak ingin aku keberatan. Kehamilanku semakin membuatnya memanjakanku.
__ADS_1
Kami berjalan beriringan tanpa saling berbicara. Hingga sampai melewati mejaTya aku kembali mendengarkan suara yang bikin gatal telinga. "Nona muda menggoda Tuan Muda Lainnya."
Rasanya ingin kudamprat, tapi teringat nasihat Pak Aryan. Terpaksa kutulikan pendengaran meski hatiku sudah memanas tak karuan.