Tentang Hati

Tentang Hati
Jangan Lupa Datang


__ADS_3

Janji yang aku untai semalam, rasanya meringankan pikiran. Hariku yang beberapa waktu ini selalu gamang, kini terasa tenang. Pernikahanku yang mendadak mungkin adalah cara Tuhan untuk memaksaku meninggalkan luka dan menyemai tawa. Melupakan Mas Rud selamanya dan menerima Dion seutuhnya.


Saat pikiranku jernih begini, aku pun heran dengan diriku sendiri. Mengapa tak bisa melepas mantan untuk mantap mendekap suami yang sangat diidamkan setiap wanita seperti Dion. Ya ... Dion! Suami yang selalu aku abaikan perasaannya itu, di luar sana banyak wanita yang mendamba untuk menjadi pasangannya. Memang dia bukan sekedar tampan tetapi keromantisannya dalam mencintai, aku rasa tak sembarang lelaki yang memiliki.


Cintanya harus kusambut. Jangan sampai aku menyia-nyiakan lelaki terbaik yang pernah Tuhan berikan padaku. Dia adalah kesempatan kedua yang hadir di sisiku. Tak boleh lagi aku jahat dan mengabaikannya. Cintaku lahir karena cintanya yang berjuang tanpa mengenal lelah dan penuh kesabaran.


"Senyumnya, manis bener! Dapat jatah berapa season semalam?" goda Pak Aryan saat kami berjalan beriringan menuju ruangan.


"Eittts ... Jangan sok tahu! Nanti kalau aku ceritain terus jadi pengen, coba mau salurin kesiapa? Bapak gak boleh nakal, loh!" tuturku dengan mimik serius.


Jarum jam yang belum menunjuk pukul delapan, membuat suasana kantor masih sepi. Sepanjang jalan kami hanya bertemu dengan Bang Kotan. Itu pun dia hanya sekadar tersenyum padaku dan menunduk hormat pada Pak Aryan yang berjalan di sisi kananku.


"Manajer aja, dihormatinnya sampai begitu, ya. Gimana kalau anak yang punya kantor, nyungsep kali tuh Bang Kotan saking dalamnya nunduk," celetukku.


Kurasakan sebuah usapan kecil di puncak kepalaku. Siapa lagi pelakunya kalau bukan abang gadunganku. Lama-lama makin berani aja dia. Kupercepat langkahku meninggalkannya sembari merapikan kembali rambutku yang baru saja di acaknya halus.


Sambil bersenandung lirih aku mendudukkan diri di kursiku. Mulai membuka laptop dan menyalakannya, seraya mengecek benda pintarku. Sebuah pesan dari Dion dikirimkan lima menit yang lalu. Mengabarkan jika nanti mau ikut makan siang di kantin.


"Lagi baca apa, sih? Senyum-senyum aja dari tadi," celetuk Anggen dari meja sebelah.


"Ada deh," balasku merahasiakan.


"Kamu juga senyum-senyum, hayo?" selidikku ganti menggoda Anggen.


Dengan rona merah di pipinya, Anggen mulai berbisik lirih mendekatiku. "Aku punya gebetan baru."


Mendengar pengakuan Anggen aku ikut merasa senang. "Aku pikir kamu naksir Pak Aryan juga," jujurku tentang pikiran yang selama ini menggantung di otakku atas nama Linanda Anggen.


"Aku hanya suka dengan pembawaannga aja, Pe. Santai , kalem tapi tetap punya wibawa," jelas Anggen seraya menerawang untuk menemukan kalimat pengungkapan yang tepat untuk menjelaskan sosok Pak Aryan.

__ADS_1


"Baguslah, berarti Tya gak ada saingan. Aku ngeri aja, kasihan rivalnya. Dia kan mainnya santet online, sogok menyogok, sukanya yang berbulu dan lincah, ah pokoknya nyeleneh banget tuh leadernya tim editor," jelasku santai tanpa menyadari kehadiran Tya di belakangku.


"Kalau bukan calon adik ipar, kupastikan kamu adalah korban pertama santet online-ku," ucap Tya sambil meletakkan setoples kue kering di hadapan kami.


"Kalau aku mati mengenaskan, saksi kuncinya kamu, Nggen," ujarku yang ditanggapi santai juga oleh Anggen. Ia malah sibuk membuka toples yang dililit oleh selotip bening yang memutar-mutar tanpa ujung.


"Jangan mati dululah, nikmati dulu jadi adik iparnya tukang santet, ha-ha-ha ...," tawa Anggen dengan mulut menganganya.


"Aku tukang santet juga berkelas kali, santet elegan. Medianya bukan boneka, tapi langsung orangnya, aku buka-buka, cek bulunya, raba-raba, tungguin lincahnya dan ...," jelas Tya seraya memejamkan matanya. Membayangkan langkah berikutnya yang sanggup membuat senyumnya terlihat mencurigakan.


"Dan sekarang waktunya bekerja!" ucap seseorang yang selintas melewati kami begitu saja tanpa berhenti.


"Ahhh Pak Aryan ...," seru Tya dengan sok manja.


"Bubar bubar!" usirku untuk dua wanita berkelakuan absurd itu.


Dengan langkah malas, keduanya meninggalkan mejaku dan kembali ke mejanya. Berkutat lagi dengan tumpukan pekerjaan yang seharusnya dikerjakan tapi malah dianggurkan demi sebuah ajang, gosip berjamaah.


"Hai, Semua!" sapaku pada Tya dan Anggen yang duduk semeja dengan Pak Aryan.


"Hai, Bro! sapa Dion pada Pak Aryan sembari memilih duduk di dekat kursinya.


"Ada apa, nih?" tanya Pak Aryan yang sepertinya gak menduga dengan kehadiran Dion di sini.


"Kangen istri," seloroh Dion santai.


"Mentang-mentang punya istri, jangan bikin aku yang jomblo makin merenungi nasib, dong," balas Pak Aryan tak kalah santai.


"Tidak perlu merenung, Pak. Saya sudah standby di hadapan Pak Aryan," ucap Bu Tya tanpa malu-malu.

__ADS_1


Anggen hanya berdecak menahan malu dari kelakuan Tya yang malu-maluin. Sementara aku hanya menaikturunkan alisku ketika Pak Aryan selintas melihatku setelah digoda Tya dengan gaya anti pelurunya, eh ... anti malu.


"Tya, pepet terus Aryan, ya! Pastikan kalau ke resepsiku, kamu yang bakal gandeng lengannya sepanjang acara" timpal Dion yang makin membuat Tya tersenyum penuh kepercayaan diri.


"Pastikan juga, habis itu dia bawa kamu ke KUA!" tambahku yang praktis membuat Tya semakin melayang dan Pak Aryan semakin tenggelam dalam pembulian.


"Nggen, bawa gebetan barumu, ya!" pintaku seraya menyerahkan sebuah undangan dengan kombinasi warna biru laut dan putihnya awan.


"Anggen punya gebetan juga, Pe?" tanya Tya yang sepertinya belum mendapatkan bocoran kisah dari si cewek absurd.


"Kok Tya memanggilmu, Pe, Sayang?" Dion merasa penasaran dengan panggilan yang tidak mengacu pada nama panjangku.


"Itu karena kamu kebanyakan DP sama Rosa, makanya sekarang istrimu itu mereka panggil Pe-Depe," terang Pak Aryan sambil terkekeh.


"Bagaimana kalian bisa tahu aku sering DP?" tanya Dion santai.


"Nih," Anggen dengan santainya menyibak rambut yang sengaja ku gerai untuk menutupi beberapa tanda merah di leherku.


Dengan cepat ku tepis tangan Anggen, dan kurapikan lagi rambutku. Dion hanya tersenyum sementara mereka bertiga berdecak sambil geleng-geleng kepala.


"Lain kali, bikinnya di tempat lain lah, Bro kalau hari kerja begini," tukas Aryan seraya melihatku santai, tepatnya melihat leherku.


"Di tempat lain lebih banyak," timpal Dion dengan santainya, tak merasa risih dengan semuanya.


Segera kucubit pahanya. Ia sedikit meringis tetapi malah mencuri ciuman di pipiku kemudian. Aku pun mengerucutkan bibir, merasa ditelanj*ngi habis-habisan. Sementara Dion santai saja tanpa ada perubahan ekspresi. Senyum masih tetap tersungging di wajahnya, sama seperti tadi ketika baru tiba.


"Kamu kurang ahli dalam penyamaran, Sa," terang Tya datar, datar ekspresi dan datar tanpa suara tinggi.


"Emang kamu ahli?" selidik Anggen dengan mengernyitkan dahi.

__ADS_1


Tya mengarahkan pandangannya pada Pak Aryan yang tepat berada di hadapannya. Memajukan tubuhnya dan tersenyum menggoda. "Aku bisa menyembunyikan dengan hebat segala tanda cinta, tapi diatas itu semua ... aku lebih ahli membuatnya."


Aku yang mendengarnya terkesiap dan sempat melongo. Kurasa Dion dan Anggen pun juga sama. Pak Aryan? Entahlah. Aku tak bisa membayangkan jika jadi dia. Mungkin kegerahan atau mungkin juga menahan penasaran. Atau langsung pengen membuktikan. Ya sudahlah ... itu urusannya. Yang penting dia bahagia, nanti kami yang ngintip aja. Eitsss!


__ADS_2