
Aku membalikkan badanku. Ku tengadahkan kepalaku agar pandanganku bisa menjangkau matanya.Ku menunjuk gelang di tangan kiriku, "Lalu, ini?"
Dion menatapku dan tersenyum. Dia merapikan helaian rambut yang bermain nakal di wajahku. Aku sudah tak sabar menunggu bibirnya mengucap, tapi dia malah sengaja mengulur waktu. Hanya senyum yang kembali ia pamerkan.
"Mandilah, dulu! Aku akan menyiapkan makan malam untukmu," ucap Dion.
Aku meragukan tangkapan indra pendengaranku. Memasak? Dion akan masak untukku? Lelaki ini, kenapa selalu membuatku terkejut dengan pesonanya. Tak bisakah, aku menemukan cela dari dirinya. Kamu terlalu sempurna untukku yang biasa ini.
Dion melepaskan pelukannya, "Ayo, aku tunjukkan kamar mandinya."
"Sejak kapan kamu tinggal di sini, Di?" tanyaku sambil berjalan di belakangnya.
"Sejak ngerjain skripsi," jawabnya singkat.
"Udah lama juga, ya?" gumamku.
Dion menghentikan langkahnya dan berbalik tiba-tiba, "Mulai sekarang, kenalilah aku lebih dalam!"
Aku kaget dengan langkahnya yang berhenti tiba-tiba. Aku refleks mematung agar tak berbenturan dengannya. Tangannya yang tiba-tiba memegang pundakku dan permintaannya untukku itu, membuatku ingat bahwa aku sama sekali tak mengenalnya. Jangankan tentang bagaimana cerita hidupnya selama ini, dimana ia tinggal saja, aku tak banyak tau.
"Seharusnya, aku tak lolos seleksi jadi pacarmu, Di." kataku kemudian.
"Mandilah, nanti akan aku tes ulang," tukasnya.
Aku pun segera masuk ke kamar mandi yang ada di kamarnya. Ku lihat Dion sudah membalik langkahnya untuk keluar kamar, sebelum aku menutup pintu kamar mandi. Kamar mandinya sungguh tertata rapi. Tak terlalu luas tapi terkonsep dengan apik. Sebuah bathtub, menawan perhatianku.
Aku tersenyum, "Berendam enak kali ya."
Rasanya pasti akan nyaman, bisa melepaskan ketegangan dan kepenatan di dalam air yang beraroma menggoda.
"Sayang, kalau mau berendam lain kali aja, ya! Ini udah malem, nanti kamu pulangnya kemaleman. Baju ganti kamu aku taruh di ranjang, ya," jelas Dion dari luar kamar mandi.
Gila ... gila ... gila ...
Kenapa pacarku itu semakin menggemaskan.
Bagaimana dia bisa membaca pikiranku? Padahal kami terhalang dimensi ruang.
Aku menyentuh dinding bathtub di hadapku, "Tunggulah aku menjadi penghunimu!"
*****
Di dalam mobil Dion yang dikendarai oleh Mas Rendra, Maya tak menampakkan rona ceria seperti biasanya. Raut mukanya lebih benar jika disebut sedang penasaran.
__ADS_1
"Mas Ren, Mas Dion kenapa?" Maya tak tahan untuk tak bertanya.
"Dia cemburu akut," terang Mas Rendra.
"Kemana seorang Mas Dion yang biasanya setegar karang itu, Mas?" tukas Maya.
"Dihempas gelombang cemburu," Mas Rendra terkekeh.
Benar juga yang mereka katakan, Dion yang sanggup melibas lorong waktu, menghempas sakitnya penolakan, kini tersakiti oleh kata yang dibaca "cemburu". Cinta itu memang ajaib, bisa menguatkan dan melemahkan sekaligus.
"Secinta itukah Mas Dion sama Rosa, Mas?" Maya belum puas mengulik.
Mas Rendra melihat Maya sekilas dan tersenyum, "Dion itu bahkan lebih mencintai Rosa daripada dirinya sendiri."
"Itu bukan cinta yang sehat, Mas," pikir Maya.
"Nyatanya, hanya Rosa yang bisa bikin Dion sehat, entah dulu waktu terus ditolak, apalagi sekarang mereka udah pacaran," jelas Mas Rendra panjang lebar.
Benar, sekali lagi benar. Semua yang dikatakan Mas Rendra adalah kebenaran murni. Dion akan memilih tersakiti di samping ku daripada meninggalkanku. Aku akan menyakitinya, tapi meninggalkanku akan membunuhnya.
"Rosa beruntung banget ya, Mas?" pikir Maya.
"Mereka saling melengkapi," tukas Mas Rendra.
"Apa kamu gak merasa beruntung karena aku pilih?" tanya Mas Rendra kemudian.
"Poliandri itu ilegal di Indonesia," jelas Mas Rendra.
"Aku gak kuat liat cowok ganteng, Sayang." goda Maya.
Mas Rendra tak menggubris celotehan Maya. Dia membelokkan mobilnya di sebuah halaman rumah bergaya etnik yang asri dengan warna-warni bunga di taman depan. Dia menghentikan mobilnya, dan melepas seatbelt-nya. Maya yang dari tadi berceloteh, tak sadar jika ia sudah sampai di rumahnya. Dia melihat Mas Rendra untuk meminta penjelasan. Ia bingung, kenapa bisa berhenti di rumahnya. Harusnya kan mereka menuju Mall untuk menonton film, setidaknya begitulah rencana awal kepergian mereka.
"Kok, di sini?" Maya mencari jawaban.
"Mas Rendra tiba-tiba sudah membukakan pintu mobil di sebelah kiri Maya, " Silakan turun Tuan Putri!"
Maya masih menampakkan raut bingungnya. Namun, ia memilih diam. Ia tau, Mas Rendra pasti akan menjelaskan semuanya setelah ini.
Menjadi tunangan Mas Rendra, membuat Maya semakin mengenal bagaimana karakter tunangannya itu.
"Aku mau balikin mobil Dion dulu, dia akan membutuhkannya untuk mengantar Rosa pulang," jelas Mas Rendra.
Maya mengangguk, "Hati-hati, Sayang!"
__ADS_1
Mas Rendra memberikan sebuah tanda cinta manis di kening Maya, "Aku adalah keberuntunganmu, Sayang. Jangan pernah sekalipun, kamu iri dengan Rosa. Dion ada untuk Rosa, dan aku juga akan selalu ada untukmu. Aku akan selalu mencintaimu."
Maya terpaku kelu dengan ucapan manis Mas Rendra. Rayuan Mas Rendra itu seolah sudah menjadi candu baginya. Membuainya, melambungkannya dan membuat harinya terasa begitu indah.
*****
Aku duduk di meja makan, menunggu Dion yang sedang plating. Dia tak mengizinkanku untuk membantunya. Aku dimintanya menjadi Tuan Putri yang akan dilayaninya. Aku pun hanya bisa memandanginya yang sedang berperan menjadi chef ganteng malam ini. Celemek yang dikenakannya itu, entah kenapa membuatnya terlihat lebih macho di mataku.
"Aku mengizinkanmu untuk memandangku di sepanjang hidupmu, jadi gak usah curi-curi pandang begitu," tukas Dion sambil menyajikan makanannya di depanku.
Aku tersadar jika dari tadi aku memang malu-malu memandangnya. Aku takut akan semakin luluh oleh pemilik raga yang bernama Dion itu, jika aku terlalu fokus menikmati kesempurnaannya.
Aku melemparkan pandanganku ke makanan yang dihidangkannya. Mencoba mengalihkan perhatian dari godaannya. Godaan kata-kata manisnya, terlebih godaan dari senyum mautnya. Aku semakin tertolong, saat tiba-tiba saja bunyi bel terdengar.
Aku bergegas berdiri, "Biar aku yang bukain pintunya."
Saat pintu terbuka, nampak Mas Rendra sedang tersenyum sambil menunjukkan kunci mobil padaku. Dia lantas berjalan masuk, "Syukurlah kalau kamu baik-baik saja."
Aku tak menjawab hal yang baru saja Mas Rendra katakan. Aku berjalan mengikutinya, membawaku kembali ke meja makan.
"Rupanya aku datang tepat waktu," ucap Mas Rendra sambil mencicipi makanan di depannya.
"Mau apa ke sini?" tanya Dion sambil menjauhkan piring yang baru saja Mas Rendra cicipi makanannya.
"Ngecek keadaan calon kakak sepupuku," jawab Mas Rendra santai.
"Kamu pikir, aku bakalan nyakitin dia," gerutu Dion.
Mas Rendra melihatku dari ujung ke ujung, "Hmmm ... mungkin kamu menyakitinya di tempat yang tak terlihat."
"Pergilah, aku mengusirmu!" Marah Dion.
"Biarkan aku makan dulu, aku kelaparan," alasan Mas Rendra sambil terus saja menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Aku hanya membuatnya dua porsi, tak ada sisa untukmu," jelas Dion.
Mas Rendra menulikan telinganya atas usiran Dion. Dion pun sudah gak peduli dengan ulah sepupunya itu. Aku justru sedikit kaget, saat Dion menyuapiku.
"Makanlah, aku gak mau kamu kurus karena sudah menghabiskan waktu dan tenagamu untuk semakin mencintaiku." pinta Dion.
Ku terima suapan darinya, "Aku rasa aku akan kegemukan karena kemanisan kata-katamu padaku."
"Tahan sebentar hasratmu anak muda, aku akan pulang setelah menghabiskan makanan ini," ucap Mas Rendra yang menyaksikan keromantisan kami.
__ADS_1
Mas Rendra buru-buru menghabiskan makanan di piringnya dan menghabiskan segelas air putih di depannya.
Mas Rendra berdiri, "Jangan nyicil, ya!".