
"Istirahatlah!" suruh Dion.
"Aku masih penasaran, Di, gimana bisa kamu yang menjagaku di sini?" aku mencari jawab atas rasaku.
"Pertanyaan itu, harusnya kamu tanyakan padaku sejak 10 tahun yang lalu," Dion menjelaskan.
"Dulu, aku gak minat untuk tau," jawabku.
"Kenapa sekarang jadi minat?" tanya Dion sambil senyum menggodaku.
"Ayolah Di, tinggal jawab aja apa susahnya sih?" aku cemberut.
Dion tak menjawab tanyaku dalam wujud kalimat. Dia hanya mengusap rambut di kepalaku sambil tersenyum.
"Tidurlah, apa kamu gak ingin cepat sembuh dan pulang dari sini!" pinta Dion.
"Atau, kamu sengaja pengen lama-lama disini! Agar aku selalu menemanimu," ucap Dion lagi sambil senyum-senyum.
Aku memasang muka sebel, mendengar kalimat-kalimatnya yang membuatku tak berkutik itu. Kalimat itu gak salah, tapi aku juga gak bisa memastikan kebenaran kalimat itu. Yang jelas, pikiranku lebih rileks dengan kehadirannya. Masih memikirkan hilangnya mas Rud tanpa kabar, hanya saja dengan porsi yang seperlunya saja.
*****
Ini adalah pagi pertamaku menghuni kamar rawat ini. Kekhawatiranku akan sendirian tak terbukti karena Dion menepati janjinya untuk menemaniku.
__ADS_1
"Karena udah bisa senyum, sarapannya dihabisin," ucap Dion sambil menyuapiku.
"Aku bisa makan sendiri kok Di, gak perlu disuapin," tegasku.
"Gak 'pa &pa, itung-itung latihan, nanti pas prosesi nikahan," kata Dion sambil cengengesan.
"Kapan kamu mau nikah, Di?" tanyaku kemudian.
"Nungguin kamu sembuh dulu!" jawab Dion enteng.
"Aku nikahnya sama mas Rud, bukan sama kamu!" ucapku tersenyum.
"Yang penting kamu nikah dengan bahagia, aku pasti seneng! Ayo dihabisin, tinggal 2 suapan lagi nih," Dion masih saja menebarkan senyumnya.
Dion kamu benar-benar membuatku penasaran. Sebenarnya hati kamu terbuat dari apa? Hingga punya cinta tulus, yang luar biasa agungnya! Memikirkan ini aku begitu sedih, karena selalu melukaimu, meskipun begitu kamu selalu ada untukku. Jika saja reinkarnasi itu benar-benar ada, aku berharap terlahir kembali untuk selamanya mencintaimu.
Aku menuruti perintahnya. Dion benar-benar menjadi dokter dan aku seorang pasien yang patuh.
"Aku bisa juga jadi anak manis, padahal minum obat adalah hal yang paling aku hindari meskipun sakit," gumamku.
"Karena ada dokter ganteng begini, jadi kamu bisa minum obat dengan manis," balas Dion atas gumamanku.
"KePDan!" jawabku.
__ADS_1
Dion tersenyum lagi.
"Di, kamu gak kerja?" tanyaku.
Sebenarnya, aktivitas Dion sehabis kuliah itu apa? jujur aku gak tau! Mungkin juga aku yang gak mau tau!
Tapi, aku rasa dia kerja kantoran. Karena sewaktu kemarin aku siuman dan melihatnya, Dion memakai kemeja panjang, celana bahan, dan sepatu pantovel khas orang-orang kantoran.
"Aku bisa kerja dari sini sambil nungguin kamu," tukas Dion.
"Emang bisa begitu?" tanyaku.
"Bisalah," jawabnya.
Kalau melihat dari kuliahnya, sekarang ia sudah bertitel arsitek. Entah proyek apa yang dikerjakannya sekarang, yang aku yakin dia bukan seorang pengangguran. Karena sewaktu dulu masih menemaniku dengan cintanya saja, dia adalah seorang freelancer walaupun kuliah dengan jadwal padat.
"Kamu kerja di mana sekarang?" aku benar-benar gak tahu banyak tentangnya.
"Jangan kepo! Nanti hatimu berpaling," jawab Dion menyebalkan.
"Kamu nyebelin tau, Di!" jujurku.
"Kalau aku ngegemesin, nanti kamu jatuh cinta," Dion tambah menyebalkan.
__ADS_1
"Diooooonnnnn!" teriakku gemes.
Dia beranjak dari duduknya sambil tersenyum. Rupanya dia mengambil laptopnya dan duduk di sofa untuk mulai bekerja. Dia benar-benar akan bekerja disini sambil menungguku.