Tentang Hati

Tentang Hati
Berimbas Penculikannya


__ADS_3

Malam baru menunjukkan pukul delapan. Makan malam baru saja usai. Niatan ingin segera pulang tetapi terhenti saat melihat Arrki yang tengah tertidur pulas di box putihnya. Aku menghentikan langkah di depan kamarnya. Ingin masuk melalui pintu yang setengah terbuka tetapi merasa canggung. Dion yang berjalan di depanku pun menghentikan langkah saat menyadari langkahku yang tertinggal jauh di belakangnya.


"Mau lihat Arrki, dulu?" tawarnya begitu berdiri menyejajariku dan ikut melongok, mencari tahu hal apa yang menarik perhatianku di dalam kamar Mbak Sharika.


"Boleh?" tanyaku dengan mata berbinar.


"Tentu saja, Ayo!" ajak Dion seraya mengetuk pintu sebagai adab masuk kamar. Setelah mendengar jawaban mempersilakan dari dalam, kami segera beranjak masuk.


"Lucu, banget," seruku lirih seraya mengusap pipi gembil bayi lucu itu.


"Cepetan, bikin yang selucu, Arrki!" goda Mbak Sharika yang tak kutanggapi karena asyik memandangi wajah anaknya yang tanpa dosanya.


"Tiap malam juga bikin, Mbak," celetuk Dion yang dihadiahi pukulan manja oleh kakak perempuannya.


"Kasih istrimu libur, jangan suruh lembur terus," Dion pun tergelak karena merasa berhasil mengerjai kakak satu-satunya itu.


"Aku gak senakal itu, kali, Mbak," ujar Dion dengan senyum manisnya.


Suamiku itu memang gak nakal, tapi justru aku yang merindukan kenakalannya. Sengaja memancing, walaupun pada akhirnya itu hanya sebuah godaan manja. Saling mencurahkan kasih dalam kehangatan dekapan hingga pagi datang menyapa. Hanya sebatas itu, sebatas bercerita tentang kisah lalu yang miris dan akhirnya berujung manis. Meskipun sesekali membawa kisah cinta yang berujung luka sebagai topik bahasannya.


"Mau cowok atau cowok, Yang?" tanya Dion setelah Mbak Sharika keluar kamar dan dia beralih berdiri di belakangku. Mendekap dengan melingkarkan satu tangannya di perutku. Dagunya ia letakkan di bahu belakangku sementara tangan satunya ia gunakan untuk mengusap lembut pipi keponakannya yang nampak lucu.


"Mas, lepasin! Malu kalau dilihat Mbak Sharika atau Mas Dito," perintahku seraya menepis pelukan manjanya.


"Mereka, kan pernah muda, harus maklumlah. Dulu mereka begini, aku juga diam, aja," ujar Dion dengan senyum termanisnya.


"Kamu gak tau malu, Mas. Aku masih punya malu, tau," timpalku masih tetap berusaha untuk melepaskan lingkaran lengan kokohnya.


"Pulang, yuk! Kita bikin yang lebih lucu dari Arrki," pinta Dion dengan senyum menggoda.


"Mas, kok masih mikir begituan saat situasi lagi kayak begini, sih?" Pending dulu, ya," pintaku dengan mengubah ekspresi dari senyum menjadi sendu.

__ADS_1


Dion menghela napasnya. Terasa embusan hangat yang menerpa bahuku. Membuatku menoleh dan mendapati mukanya yang ditekuk. Tanpa senyum dan malah menunjukkan bibirnya yang mengerucut membentuk huruf U.


"Cemberut begitu, emang masih pantas?" ejekku sambil mengusap lengannya yang melingkar di perutku.


"Biarin, aja!" balasnya singkat tanpa mengubah ekspresinya.


"Malu, kali sama Arrki," ejekku memilih membandingkannya dengan bayi yang memiliki bakat cantik saat besarnya nanti.


"Kenapa bandingin sama arrki? Jelas aja aku kalah telak," timpalnya semakin merajuk.


"Maumu dibandingin sama siapa?" tanyaku menawari.


"Anak cewek kita, dong!" balasnya sedikit menambah binar pada matanya.


"Aku, maunya anak cowok!" tegasku.


"Gak mau tersaingi, ya?" tuduhnya yang seratus persen salah.


"Apa keromantisanku belum cukup untuk membuatmu baper, Sayang?" tanyanya dengan senyum yang sangat menggoda.


Siapapun, pasti mengakui jika seorang Dion adalah rajanya keromantisan di dunia pernovelan ini. Tingkat kebaperan hati orang yang menjadi korban kalimat manisnya bahkan sudah mencapai level tertinggi. Berhasil memporak-porandakan sebuah hati wanita yang haus akan cinta dan perhatian. Alasan itulah yang membuatku ingin memiliki anak lelaki juga. Dion junior yang memiliki cinta, kesetiaan, ketulusan, dan perjuangan yang luar biasa. Sama seperti cinta yang dimiliki oleh Dion senior untuk Rosanya.


Dion mengecup bahu yang bersembunyi dibalik kemejaku. "Malah melamun."


"Aku gak melamun, aku hanya ingat kalau kita harus segera keluar dari kamar ini. Kasihan Arrki keberisikan Om bucinnya," balasku seraya mengusap pipi Arrki dan kemudian mencium pipinya yang menggemaskan.


"Pulang, yuk! Bikinin sepupu buat Arrki. Kasihan dia sendiri, si cantik ini harus punya sepupu cowok yang bisa melindunginya," modus Dion untuk segera mengajakku pulang.


Setelah mengikutiku mencium sebelah pipi dari keponakannya, Dion mengajakku untuk keluar kamar dan mencari keberadaan kakaknya di ruang keluarga. Benar saja, mereka berdua sedang asyik menonton televisi dengan mesra. Mas Dito rebahan manja di pangkuan Mbak Sharika.


" Aww mata aku yang masih perjaka ternoda!" goda Dion dengan menutup matanya saat baru saja sampai di ruang keluarga.

__ADS_1


Mbak Sharika melemparkan cemilan yang ada di tangannya. "Perjaka dari mana? Sebelum nikah aja udah terciduk kok ngaku perjaka."


"Emang begitu? Aku, lupa," celetuk Dion sambil memungut cemilan yang dilemparkan kakaknya dan kemudian memakannya.


"Kalian mau nginep, kan?" tanya Mas Dito tanpa merasa sungkan dengan posisinya.


"Ini kami mau pamit pulang, Mas," jawabku melempar pandang pada Dion agar dia ikut mengamini perkataanku.


Rupanya suamiku itu mengerti kodeku dan segera melempar senyum sebelum mengalirkan kata demi katanya. "Kami mau bikinin Arrki sepupu yang tampan, Dion junior."


"Bikin di sini juga bisa, kali," seloroh Mbak Sharika dengan santainya.


"Ogah, nanti ada yang ngintip," timpal Dion berikutnya kemudian segera mengambil kunci mobil yang ada di meja samping televisi. Mengucapkan beberapa kalimat menjengkelkan kepada kakaknya, dan langsung ngeloyor pergi untuk meninggalkan rumah sang kakak.


*****


Sebelum pukul sepuluh, kami sudah sampai di apartemen. Begitu masuk, aku segera menuju kamar untuk berganti pakaian. Sementara Dion mengikuti dari belakang. Dengan santainya ia meloloskan kancing demi kancing kemejanya dari lubang hingga semua terlepas dan membuka kain yang menutupi tubuh bagian atasnya tersebut.


Lantas, dia merebahkan tubuh lelahnya di ranjang. Terpampanglah perut bersekatnya yang nampak sexi. Aku yang baru selesai mengganti kemeja kerjaku dengan baju tidur yang terdiri dari atasan dan celana pendek sepaha, sempat tak berkedip melihatnya. Sekuat tenaga menelan saliva yang hendak mengucur karena terpesona oleh tawaran menggiurkan dari tubuh atas bagian depan suamiku tersayang.


Senyum smirk nampak lolos dari sudut bibir tebal itu. Mata yang terpejam, seolah hanya sandiwara karena pada kenyataannya dia dapat mengetahui jika aku sedang bertarung untuk menghalau nafsu yang datang menggebu. Tangannya kemudian menepuk sisi ranjang di sebelahnya. "Kemarilah! Menggoda suami itu berpahala. Jangan malu-malu!


"Aku pikir kamu tertidur, Yang," ucapku dengan mendudukkan diri di sisi ranjang yang bersebelahan dengan kakinya.


"Aku menantimu untuk tidur bareng," ujarnya seraya membuka mata.


"Jangan malam ini, ya! Aku ...," sengaja kuhentikan kalimatku padahal belum waktunya.


Sebenarnya tidak ada yang salah dengan malam ini. Hanya saja, hatiku masih merasa kurang nyaman kalau mengingat penculikan Mas Rud. Entah rasa itu bernama apa tetapi yang jelas aku tidak bisa bersenang-senang di atas penderitaannya. Mungkin berlebihan, untuk seseorang yang tidak ada hubungan lagi denganku. Bagaimanapun, aku tak mau menjadi seorang pendosa, mencari pahala dengan suami sementara ada nama lelaki lain yang mengganggu pikiranku.


Dion tampak menghela napasnya lebih dalam. Memejamkan mata dan membukanya kembali. Terbangun dari rebahannya dan segera memungut kemeja yang tadi ia biarkan terserak begitu saja. Menaruh di keranjang baju kotor dan segera berganti dengan kaos polos putihnya dan celana pendek. "Aku mau ke Aryan, kamu tidur aja duluan!"

__ADS_1


Kutatap kepergian Dion dengan perasaan bersalah. Mengapa aku menolak permintaan seorang suami yang super sabar itu. Apakah ia marah?


__ADS_2