Tentang Hati

Tentang Hati
Kebetulan Atau Setingan Tuhan?


__ADS_3

Suara kicauan burung yang bersahutan mendamaikan hati siapapun yang mendengarnya. Udara pagi yang begitu sejuk membuatku terpanggil untuk menikmati pagi yang indah di luar rumah. Pukul 06.00 aku sudah selesai mandi dan sedikit merapikan penampilanku. Keluar dari kamar, sepi. Berjalan menuju dapur, berusaha mencari Mami yang mungkin sedang berkutat di dengan aneka masakan.


"Ma-mi," eja Mami sebelum aku menyapanya.


"Iya, Mi," sapaku menuruti permintaan Mami.


Mami menggandeng tanganku dan berjalan keluar dari area dapur. Aku hanya mengikutinya, tak berupaya untuk bertanya kemana Mami akan membawaku.


"Ikut Mami, ya! Kita ke rumah Eyang," jelas Mami kemudian.


Waduh, rumah Eyang. Bukankah itu sama saja akan mengenalkanku dengan keluarga besar mereka. Jujur aku belum siap. Apalagi, aku hanya sendiri. Tak ada Dion yang bisa ku andalkan. "Dion kemana, Mi?" tanyaku kemudian.


"Mulai sekarang panggil Mas Dion, Sayang. Apalagi kalau di depan Eyang," nasihat Mami.


Aku mengangguk. "Baik, Mi."


Wah ... beneran nih nasihat Kristy kemarin. Di sini aku harus tahu anggah-ungguh, harus manis seperti putri keraton. Tinggalkan Rosa yang bertingkah semuanya. Praktikan semua yang Kristy ajarkan.


"Tidak usah mencari tunanganmu, itu. Kalau di rumah dia memang suka ngilang. Ada Mami di sini, kamu gak usah khawatir," papar Mami menenangkanku.


Kami pun berjalan melewati taman samping dan masuk ke dalam dapur rumah Eyang. Melewati beberapa ibu-ibu yang sudah mulai beraktivitas di dapur menyiapkan pernikahan Mas Rendra. Menjabat tangan mereka dan melempar senyum termanis sesuai permintaan Mami. Begitulah hidup di desa, suasana kekeluargaan, keakraban dan sopan santun masih dijunjung tinggi. Aku sangat menikmatinya, sesuatu yang tak ku jumpai di Jakarta.


"Ini, ya, calonnya Mas Dion? Ayune," sapa ibu-ibu setengah sepuh dengan ramah.


"Iya, Bu," jawabku penuh senyum.


"Ini, Mak Ti, Sa. Juru masak Eyang yang masakannya huenyakkk," kenal Mami.


"Kalau yang ini, Bundanya Rendra. Kalian sudah saling mengenal, bukan?" ucap Mami.


Ku cium tangan beliau. "Tante," sapaku dengan penuh senyum.


"Panggil Bunda aja, Sayang! Mas Dionmu juga manggil Bunda, kok," jelas Bunda Mas Rendra.


Akrab. Keluarga besarnya Dion sangat ramah dan terbuka dengan kehadiranku. Sungguh penyambutan yang membuatku sangat bahagia. Keluarga yang hangat, tak seperti keluarga besarku yang sibuk dengan persaingan dunia bisnis.


"Wah, rame, nih," Mas Rendra masuk ke dapur diikuti Dion di belakangnya.


Aku fokus pada Dion yang menyunggingkan senyum termanisnya. Dion yang sebenarnya sudah kembali. Ini Dionku yang manis, bukan Dion yang tadi bersikap dingin. Apakah dia sudah memaafkanku? Ataukah ini hanya karena sedang berada di hadapan banyak orang?


"Sa, kedip dong! Sebegitunya merhatiin Mas Dion," sindir Mas Rendra.


Tak sadar, aku memperhatikan Dion tanpa mengedipkan mata. Sialnya, semua itu ditangkap oleh Mas Rendra. Alhasil, aku jadi korban godaannya. Malu, ku tundukkan pandangan. Sekilas ku lihat Dion tersenyum seraya mengerlingkan matanya padaku.


"Semuanya, aku pinjem Rosa dulu, ya," izin Dion menggandeng tanganku dan mengajakku pergi dari dapur.


" Yang mau kawin siapa, yang gak bisa pisah siapa?" lagi-lagi Mas Rendra menyindir.


"Kalian sama, aja. Gak usah saling ejek, bilang aja pengen," Om Septian menimpali ejekan Mas Rendra yang bertubi-tubi.


Ku tebarkan senyum kepada mereka semua. Sebenarnya aku malu tapi dalam hatiku, aku sangat mau. Tenang, karena kesalahanku tidak membuat Dion uring-uringan. Dia tetap kalem seolah tak terimbas apapun pada hatinya. Namun aku tak dapat membaca bagaimana dengan pikirannya.


Berhenti, duduk bersebelahan di kursi taman depan. Genggaman tangannya tak sedetikpun ia lepaskan. Tangan kiriku pun ku letakkan di atas genggaman tangan kami. Ia menoleh dan kembali mengulaskan senyumnya. "Selalu sabarlah dengan hatiku, ya, Di. Aku sedang berusaha keras untuk kuat dan lebih kuat mencintaimu."


"Aku tahu, aku hadir sebagai penggantinya di hatimu. Namun, aku tidak akan membiarkan dia kembali mengambilmu dan menggantikanku dengannya," Dion ikut meletakkan tangan kanannya di atas genggaman tangan kami.


"Kenapa kamu bersedih?" tanya Dion seraya memutar tubuhnya ke arahku.


"Aku kecewa dengan diriku sendiri. Aku menyerahkan sesuatu yang kamu jaga pada orang yang salah," jujurku.

__ADS_1


Dion tersenyum. "Aku bisa menghapusnya jika aku mau, seperti yang kamu ajarkan padaku beberapa hari yang lalu."


Memutar tubuhku sebesar sudut yang Dion lakukan, hanya saja berlawanan arah. "Hapuslah sampai aku lupa rasanya!"


"Sayangnya, aku tak mau melakukan itu, sekarang," tolak Dion.


Dahiku mengerut, tak mengerti dengan sikapnya yang begitu tenang kali ini. Dion tak seperti beberapa waktu lalu saat didera cemburu. Ia selalu tak bisa menahan diri saat mendapatiku dengan orang yang dia cemburui. Sementara tadi malam, aku sudah melakukan kesalahan yang lebih besar, tapi anehnya dia justru tidak marah.


"Kenapa?" ku cari jawaban dari rasa penasaranku.


"Karena aku gak ingin melakukannya," jawab Dion santai.


"Kenapa kamu gak ingin melakukannya?" cercaku.


"Karena aku gak mau," jawabnya lagi.


"Kenapa kamu gak mau?" terus ku kejar jawaban pastinya.


"Kalau Dion gak mau, aku mau!" suara lain menjawab pertanyaanku.


Spontan kami berdua menoleh ke arah datangnya suara.


"Pak Aryan!" aku kaget melihatnya ada di sini juga.


"Ya, ini aku. Kamu kira siapa?" jawabnya tenang.


"Ngapain Bapak di sini?" aku penasaran.


"Aku mau melakukan yang tadi gak mau Dion lakukan," jelasnya santai.


Ku lirik Dion, tetap santai. Tak terganggu sedikit pun dengan perkataan Pak Aryan. Aku benar-benar angkat topi untuk kesabaran Dion kali ini. Sungguh, bukan Dion yang biasanya. Dion yang membara saat aku didekati oleh lelaki lain.


"Kalian, sini! Sarapan dulu," Om Septian memanggil dari teras rumah Eyang.


Aku pun berdiri hendak melangkah tapi tanganku ditahan Dion. "Mau kemana?"


Aku tersenyum smirk. "Aku mau sama Pak Aryan."


"Enak, aja," gerutu Dion ikut berdiri.


"Kenapa?" tanyaku sok marah.


"Aku mau, sekarang!" jelas Dion.


Mengernyitkan dahi. "Apa?"


Dion menggenggam tanganku.


Bluzz!


Deg-deg-deg**!


Berharap-harap cemas. Membayangkan sesuatu yang lembut dan ...


"Aku mau sarapan, ayo! Jangan malah melamun," Dion menarik tanganku untuk berjalan mengikutinya.


Aku cubit perutnya gemas. "Kamu mematahkan khayalan indahku, Di."


"Gak usah dikhayalin, nanti kita praktekin," ucap Dion santai.

__ADS_1


"Kelamaan, pasti disuruh nunggu sampai 'dah halal," gerutuku.


"'Kan kemarin kamu udah nyicil," seru Dion.


Deg!


Ku hentikan langkahku, melepaskan genggaman tangan Dion dan rona wajahku berubah sendu. Sengajakah dia menyindirku ataukah dia keceplosan?


Dion ikut menghentikan langkah dan menatapku. "Nanti aku cicil, gak usah sedih gitu. Aku bisa selembut kapas tapi aku juga bisa ganas dan beringas. Gak perlu kamu ingat-ingat c*umannya!"


Dion pun kembali tersenyum dan merangkulku untuk kembali melangkah menuju kediaman Eyang.


*****


Meja makan dengan kapasitas dua belas orang itu, sudah banyak yang berpenghuni. Eyang menempati kursi utamanya. Sementara ada Ayah yang berseberangan dengan Bunda, Papi berseberangan dengan Mami. Sementara aku harus bertatapan mata dengan Om Septian karena Dion lebih memilih berada di sebelah kiriku. Mas Rendra berada di sebelah Om Septian. Sedangkan Pak Aryan berada di paling ujung.


"Ini, Papi. Kamu tadi belum ketemu, kan?" Mama seolah mengerti apa yang ku pikirkan mengenai lelaki di hadapan Mami.


Sebuah senyuman ku kirimkan khusus untuk beliau sebagai ucapan salam perkenalan. Dan aku mendapatkan balasan yang tak kalah ramahnya.


"Nak Aryan, apakah sudah menikah?" Papi bertanya sambil menunggu Mami mengambilkan makanan untuknya.


Senyuman terkembang sempurna dari bibir Pak Aryan. "Jodoh saya masih dijagain orang, Om."


Semua orang tersenyum mendengar jawaban Pak Aryan. Apakah mereka pikir itu sebuah lelucon? Itu Sindiran, ah ... bukan! Itu adalah sebuah curhatan.


"Rebut, dong!" saran gila Om Septian sambil terkekeh.


"Jangan ngajarin kecurangan, kamu!" Papi menimpali.


Pak Aryan hanya tersenyum. "Saya akan menunggu sampai kapan jodoh saya datang sendiri. Semuanya sudah tertakar, saya yakin tidak akan tertukar."


Prok-prok-prok!


Mas Rendra standing applause. "Ini baru lelaki!"


"Nak Rud, bagaimana denganmu? Rendra besok menikah, kamu kapan?" Bunda bertanya.


Mas Rud?


Apa dia ada di sini, juga?


Ku mencari sosok yang disebutkan namanya.


Deg!


Ada! Aku menemukannya. Dia bersembunyi di sebelah kiri Dion. Bagaimana bisa aku tidak menyadari kehadirannya? Apalagi ini? Apakah lagi-lagi sebuah kebetulan? Namun kebetulan yang berulang itu bukankah sebuah setingan Tuhan.


"Jodohnya Rud, sebentar lagi akan jadi jodohnya orang, Bun," Mas Rendra justru menjawab pertanyaan Bundanya.


"Sudah-sudah, kita makan, dulu! Ngobrolnya nanti dilanjutkan lagi," Eyang menyela.


Akhirnya semua diam, fokus pada makanan yang ada di piringnya masing-masing. Begitupun aku, berusaha menikmati sarapan kali ini. Tak terpengaruh oleh kehadiran lelaki yang selalu membuat hatiku berantakan. Setidaknya itu berlaku sampai dini hari tadi. Tidak untuk sekarang!


Tidak!


*Tidak!


Tidak*!

__ADS_1


__ADS_2