
Dion menatapku dengan senyuman termanisnya.
"Apa?" aku menelisik arti dari senyum mautnya itu.
"Ini minum!" Dion menyodorkan segelas air putih.
Aku menerima gelas itu dan segera meneguknya. Dion mengambil lagi gelas itu dan menaruhnya kembali.
"Kamu pasti kehausan, karena harus berpura-pura bahagia!" Dion mengungkapkan alasannya memberiku minum.
"Aku bahagia!" jelasku.
"Syukurlah, kalau bahagiamu tadi bukan sandiwara," Dion tersenyum lagi.
"Aku kuat! Apa kamu pikir aku selemah itu?" tanyaku.
"Nih, jemperku jadi saksinya!" ucap Dion sambil menunjuk jemper hitamnya.
Aku pun menyentuh jemper itu. Memastikan pikiranku tentang saksi tangisanku tadi.
"Basah," kataku dengan senyum gak enak
Dion kembali tersenyum.
"Maaf!" aku menampakkan ekspresi penyesalan.
"Yang penting kamu bahagia!" ucap Dion sambil mengacak puncak kepalaku.
"Tadi bisa ngakak-ngakak gitu, emang ngobrolin apa sih?" Dion mengulik.
"Ngobrolin kamu!" jawabku enteng.
"Kok, aku?" Dion mulai tertarik.
"Maya mau tukerin kamu sama Mas Rendra!" jelasku.
"Kamu, setuju?" tanya Dion.
"Ya gak lah, Mas Rendra dah tua, alot!" jawabku penuh canda.
"Emang kamu yakin, aku gak alot?" Dion menggodaku.
"Kayaknya sih, gak!" jawabku ngasal.
__ADS_1
"Lagian kamu alot atau gak, aku juga gak ngerasain," ungkapku lagi.
"Rasain dong!" Dion mulai memancing.
Dion hanya tersenyum melihat ekspresiku mendengar kalimat terakhirnya. Dia lantas melihat jam di tangannya. Sudah pukul 20.30 WIB.
"Kamu istirahat, ya! Biar besok fresh waktu pulang," pinta Dion.
"Hmmmm ... Di, makasih ya buat semuanya!" aku meraih jemari Dion.
"Apa ini?" Dion melihat jemarinya yang ku genggam.
"Ucapan terimakasih," jawabku.
"Ucapan makasih itu, ini!" kata Dion sambil menunjuk pipi kirinya.
"Kenapa aku jadi ngantuk banget? Tidur dulu ya!" ucapku sambil melepas genggamanku pada jemarinya.
"Ya sudah, istirahatlah!" Dion menarik selimut untuk menghangatkan tubuhku agar terhindar dari dinginnya AC.
*****
Pagi sudah hampir di penghujung waktu. Dokter pun sudah selesai berkunjung dan mengizinkan aku pulang.
Aahh ... senangnya!
"Segala kesakitanmu, tinggalin di sini! Kita pulang bawa kebahagiaan aja!" Nasehat Dion sambil membelai rambutku.
Ku tatap senyum lembutnya itu. Ku rasakan aliran-aliran energi positif berpindah darinya menembus tubuhku.
Ya ... aku sudah berpikir dan bertekad!
Jika Mas Rud saja bisa semudah itu melupakan masa-masa indah yang singkat diantara kami dan meninggalkanku tanpa alasan, maka aku juga harus bisa melupakannya.
100%?
Sebenarnya belum sebanyak itu!
Tapi, dengan semangat untuk sehat jiwa raga, aku rasa sebentar lagi aku bisa mengubahnya menjadi 100%.
*****
"Langsung pulang, nih?" tanya Dion setelah menjalankan mobilnya keluar dari Rumah Sakit.
__ADS_1
"Emang, pasien baru keluar Rumah Sakit udah pantes nglayap?" tanyaku balik.
"Tergantung pasiennya!" tandas Dion.
Aku langsung cemberut menanggapi kalimat Dion. Penekanan pada ucapannya itu seolah kata yang menyindirku halus.
"Kamu, tuh, bukan pasien tapi korban patah hati!" tegas Dion tetap dengan senyumnya.
"Aku belum siap nglayap! Takut patah hati lagi," kataku.
"Kapok ya? Makanya, cinta jangan coba-coba! Yang pasti-pasti aja deh," ucap Dion seolah promosi terselubung.
"Ternyata, patah hati tu sakit banget! Kamu dulu kayak gini juga ya, Di?" tanyaku.
"Dulu? Sampai sekarang masih berasa!" ucap Dion menatap lurus ke depan.
"Kamu putus juga, sama Ara?" kepo ku keluar.
Hening! Dion masih menatap lurus jalanan. Aku jadi kikuk. Takut salah nanya! Akhirnya aku ikutan Dion menatap jalanan yang mulai ramai. Tiba-tiba, mobil Dion berbelok ke sebuah halaman Restoran.
"Ayo turun! Temenin aku sarapan!" ajak Dion.
Tanpa menjawab, aku langsung mengikuti Dion memasuki area restoran.
"Makan apa?" Dion bertanya padaku.
"Kamu, aja! Tadi kan, aku udah sarapan di Rumah Sakit," jawabku.
"Yakin?" tanyanya meyakinkan.
Aku mengangguk.
"Jus alpukat mau, ya?" tanya Dion.
Aku mengacungkan jempolku sambil tersenyum.
"Sakit gigi?" tanya Dion.
"Gak," jawabku singkat.
"Kok, gak jawab? Cuma geleng-geleng dan ngangguk-angguk kayak lagunya projek pop aja," Dion bergurau.
" Aku bukan sakit gigi, tapi sakit ati," tandasku.
__ADS_1
"Sini, hatinya biar aku obatin!" canda Dion.
Senyum Dion udah balik lagi, aku bahagia melihatnya.