
Tiba-tiba pintu kamarku kembali di ketuk dari luar. Aku dan Dion spontan melihat ke arah datangnya suara tersebut.
Perlahan pintu terbuka dan ....
Daaaann ...!
Muncullah Maya dengan senyumannya. Di belakangnya ada Mas Rendra yang juga sibuk memamerkan gigi-gigi ratanya. Dion pun beranjak dari duduknya, menyambut kedatangan kedua temanku, yang ikutan menghilang beberapa hari ini.
"Rosa, kamu sakit apa?" Maya mendekatiku.
"Sakit Rindu," jawabku sok ngedumel.
"Maaf," Maya mengerti aku sebel padanya.
"Kalian ke mana, tiba-tiba ngilang?" introgasiku.
Maya dan Mas Rendra saling melempar pandangan.
"Hei, kenapa malah pada diem?" tanyaku lagi karena tak kunjung mendapat jawaban.
"Siapa nih, Sa? Kok gak dikenalin," Mas Rendra mengalihkan pembicaraan.
Aku pun tersadar udah ngacangin Dion.
"Oh ya, kenalin ini, Dion," kenalku.
Mereka bertiga saling berjabat tangan dengan ramah.
"Aku ngobrol sama Dion aja ya! Sa, kamu introgasi Maya aja!" terang Mas Rendra lempar tanggung jawab.
"Loh, kok!" Maya seakan gak terima.
Mas Rendra dan Dion sudah pindah ke sofa. Sementara Maya duduk di sebelahku.
__ADS_1
"Ke mana?" tanyaku lagi penuh selidik.
"Ngurus lamaran," Maya malu-malu mengakuinya.
"Secepat itu?" aku gak percaya.
Maya mengangguk.
"Ini kabar bahagia, kenapa kamu malah bersedih?" tanyaku karena kehilangan senyum Maya.
"Aku bahagia, tapi kamu seperti ini, mana mungkin aku gak sedih?" Maya memberi alasan.
"Apakah aku semenyedihkan itu?" tanyaku kecut.
"Apa kau berencana untuk gak ngundang aku ke lamaranmu?" tanyaku tajam.
"Mana mungkin, aku berpikiran begitu!" Maya berucap.
Aku tersenyum karena berhasil menjahili Maya. Ekspresi Maya begitu lucu, sangat menghiburku.
*****
"Ada penjelasan yang bisa ku dengar?" Mas Rendra, salah satu dari lelaki itu mulai bertanya.
"Apa yang kamu simpulkan dari hasil penglihatanmu?" lelaki satunya yang tak lain adalah Dion, balik bertanya.
"Hubungan Kalian?" Mas Rendra balik bertanya lagi.
"Terus, ngapain kamu di sini? Diakah ...?" Mas Rendra menebak sesuatu.
"Oh My God!" ucap Mas Rendra lagi setelah melihat ekspresi Dion.
Kedua lelaki itu nampak berdiam sejenak. Kenyataan yang baru saja didapat mas Rendra membuatnya nampak syok. Mas Rendra kemudian berdiri dan mendekati Maya.
__ADS_1
"Jam makan siang dah habis nih! Pulang dulu yuk!"ajak Mas Rendra ke Maya.
"Cepet banget! Padahal aku masih pengen denger cerita kalian!" aku bersedih.
"Pulang kantor aku bakal ke sini lagi, jangan sedih," janji Maya padaku.
"Janji, ya!" aku mengacungkan jari kelingkingku dan disambut Maya dengan jari kelingkingnya.
"Aku pulang dulu! Nanti malam kita bicara lagi," ucap Mas Rendra sambil menepuk bahu Dion.
*****
"Kamu hebat, Sa!" nilai Dion padaku setelah Maya dan Mas Rendra sudah pulang.
"Sepertinya, aku tercipta untuk menjadi jalan orang lain nemuin cinta deh, Di," ungkapku.
"Itu menyedihkan, Sa," jawab Dion.
"Tapi, setidaknya ada kebahagiaan yang terlahir dari kesedihanku," jelasku.
"Makanya aku bilang, kamu hebat, Sa! Semoga, kamu juga akan segera menemukan jalan bahagiamu," doa Dion.
"Aamiin," jawabku.
"Kayaknya, kamu akrab banget sama Mas Rendra, Di?" tanyaku.
"Biasa aja," jawab Dion.
"Perasaanku bilang gak biasa," kataku.
"Perasaanmu peka sekali!" Dion membenarkan.
"Kalian ...?" tebakku.
__ADS_1
Jangan main tebak-tebakkan. Rugi gak ada hadiahnya. Dian mengacak rambutku dan kembali menuju laptopnya.