Tentang Hati

Tentang Hati
Selesai Kakak Laki-Lakiku


__ADS_3

"Karena Tante dan Rosa sudah sehat semua, jadi saya mau pamit dulu!" izin Dion.


Dion sudah bangun dari duduknya untuk pamitan dengan mama.


"Nak, bisakah kita ngobrol bertiga dulu! Ada sesuatu yang ingin tante bicarakan!" pinta Mama.


Dion memandangku penuh tanya. Aku pun mengangkat bahu, tanda tak tau apa yang ingin mama bicarakan.


Dion kembali duduk.


"Iya, Tante," jawab Dion bingung.


Aku bernafas lega. Tak pernah ku pikirkan sebelumnya, mama akan membuat keputusan ini. Sungguh ajaib!


"Mama sudah memutuskan menolak perjodohan Rosa dan Ardi!"


Aku menatap mama, menelisik kebenaran ucapan mama.


"Mama, baik-baik saja?" aku khawatir.


Aku melayangkan pikiranku 1,5 tahun yang lalu, saat mama membuat keputusan yang sama. Keluarga mama memberikan tekanan verbal pada keluarga kami. Mengungkit semua pemberian bagian keluarga untuk mama. Semua itu, membuat mama sampai jatuh sakit dan opname 10 hari di rumah sakit. Dan aku khawatir, semua itu kini berulang kembali.


"Mama baik-baik saja, Nak!" ucap mama sambil tersenyum.


"Gak mungkin mereka nerima gitu aja kan, Ma?" tanyaku yang hafal sifat keluarga besarku.


"Akan selalu ada sesuatu yang harus dikorbankan, untuk sebuah kebahagiaan. Tapi mama sudah memutuskan, demi kebahagiaanmu apapun akan mama korbankan!" jelas mama penuh keyakinan.


Aku mendekati mama dan memeluknya.


"Apa yang mama korbankan?" aku penasaran.

__ADS_1


"Penarikan aset kita, yang dari keluarga mama," mama jujur sambil mengembangkan senyum.


Aku kaget dan refleks melepaskan pelukan mama.


"Itu gak adil ma!" aku gak terima.


Mama menatap langit-langit. Berusaha menahan air mata agar tak mengalir di depanku.


"Sa," Dion memintaku gak frontal dengan keputusan mama melalui isyarat gelengan kepalanya.


"Kebahagiaanmu lebih penting, Nak!" mama kembali memelukku.


Dion melihatku dan menganggukkan kepalanya. Meminta secara isyarat agar aku menerima keputusan mama dengan ikhlas.


"Terimakasih, Ma," aku menuruti isyarat Dion.


"Semoga, kamu nanti menemukan kebahagiaanmu ya, Nak! Agar keluarga eyang, tidak terus-terusan merutuki keputusan kita," doa mama.


"Mama, maafin Rosa ya, Ma! Karena Rosa, mama harus bersusah payah sampai sakit-sakitan," aku meminta maaf.


"Gak ada yang perlu dimaafin sayang!" balas mama.


Mama kemudian mengarahkan pandangannya ke Dion.


"Nak, kebaikanmu pada Rosa, kami gak bisa membalasnya. Semoga Allah, menggantinya dengan kebahagiaan," ucap mama.


"Aamiin! Terimakasih doanya, Tante," balas Dion.


"Sebagai ucapan terimakasih Tante, mulai sekarang, Tante akan menganggapmu bagian dari keluarga ini, menjadi anak lelaki Tante. Bolehkah?" mama menatap Dion.


Dion membelalakkan matanya. Nampak jelas, jika ia kaget dengan apa yang barusan ia dengar.

__ADS_1


"Maksud, Mama?" aku tak kuasa menahan kata.


"Menjadi masmu! Bukankah dari dulu kamu kepengen sekali punya mas yang bisa melindungimu?" ucap mama.


Aku masih belum sepenuhnya setuju keputusan mama. Terasa janggal saja!


"Suatu kehormatan buat saya, Tante, mendapat kepercayaan dari Tante!" ucap Dion penuh senyum.


" Mama! Panggil Mama!" tegas mama.


"Siap, Mama!" ucap Dion penuh penekanan.


Ya sudah, mama siapin makan siang dulu ya! Nanti kamu makan disini!" pinta mama.


Dion mengacungkan jempol ke mama sambil tersenyum. Dia kemudian mengalihkan senyumnya padaku.


"Anak laki-laki mama!" kata Dion penuh senyum ambigu.


"Aku gak mengakui!" tolakku.


"Maumu, aku jadi suamimu ya?" goda Dion.


"Apaan? Ngelunjak!" kataku.


"Tenang! Status perlahan-lahan akan naik level!" ucap Dion penuh senyum mencurigakan.


"Dari abang jadi sayang!" Kata Dion makin ngawur.


"Malam apa, sih, nanti malem? Malem minggu ya? Pantesan! Banyak jomblo yang kehilangan akal!" ledekku.


"Emang, situ gak jomblo?" Dion mengingatkan statusku.

__ADS_1


Iyaaaa ... aku jomblo ... jomblo mengenaskan. Huft ... Resek!


__ADS_2