
Hening ...
Di ruangan yang hanya ada aku dan Dion ini, tak ada aktivitas obrolan sama sekali. Begitu memasuki ruangan dan melihatnya duduk santai di kursi kebesarannya, aku jadi tak bisa berbicara. Cercaan pertanyaan yang tadi ku alamatkan lewat telepon, tiba-tiba saja urung ku cari jawabannya.
"Bu Rosa, sekarang sudah hampir jam satu, sampai kapan Anda akan diam saja? Apakah Anda tidak berniat untuk kembali bekerja?" sindirnya formal.
"Kenapa gak balas WAku?" tanyaku pada akhirnya.
"Maaf, Bu, ini di kantor. Saya tidak bisa membahas masalah diluar masalah pekerjaan," jawaban Dion yang sangat menyesakkan hatiku.
Tanpa permisi langsung ku langkahkan kakiku meninggalkan ruangannya. Benar-benar tidak menghargai usahaku. Kalau kamu bisa marah tanpa sebab, aku juga bakal melakukan hal yang sama. Lihat saja, sejauh mana kamu tahan aku diamkan.
*****
"Ini sudah jam berapa, Bu Rosa? Kenapa baru kembali dari makan siang?" tanya Pak Aryan sok formal saat aku baru sampai di mejaku saat waktu menunjukkan pukul 14.00 WIB.
"Nanti saya bakalan lembur Pak untuk mengganti keterlambatan saya," janjiku tanpa melihatnya.
"Baiklah," ucapnya lalu meninggalkanku.
Huft!
Lembur satu jam? Sekarang aja mau kerja gak mood, apalagi memperpanjang waktu.
Aarrgghh!
Kenapa dia bisa mengacaukan sistem kerja otakku? Ternyata Dion itu begitu hebat. Aku diginiin aja udah kacau balau. Sementara Dion aku kacaukan selama sepuluh tahun, dia tetap berdiri setegar karang.
*****
Pikiranku masih belum bisa juga ku ajak kompromi untuk bekerja lembur. Sikap dingin Dion benar-benar membuatku kelimpungan. Tak biasanya ia mendiamkan aku seperti ini. Biasanya ia akan menumpahkan segala rasanya, entah itu kemarahan ataupun kecemburuan. Selama ini, kesalahan apapun yang ku lakukan, akan selalu ia maafkan. Sekarang? Apakah ...?
Ku rebahkan kepalaku di atas meja. Rasanya aku ingin tertidur sebentar. Melupakan Dion sejenak dan masalahku yang disebabkan olehnya. Ternyata kecemburuan seorang lelaki itu bisa sangat menjengkelkan, susah dipahami. Ku benarkan nasihat Mama tempo hari.
Angan-anganku melayang pada kegiatan yang ku habiskan dengan Pak Aryan kemarin malam di pasar malam. Sepertinya kediaman Dion bermula dari detik itu. Apakah ada kesalahan yang kami lakukan malam itu? Bagian mana yang membuatnya tak suka?
Suara azan magrib yang terdengar tiga puluh menit yang lalu, masih membuatku malas untuk beranjak pulang. Aku juga bingung mengapa masih ingin di sini, padahal pikiranku tak bisa ku ajak bekerja. Mungkin aku merindukan lelaki yang selalu menjemputku saat-saat seperti ini.
"Kamu, beneran lembur, Sa?" tanya orang yang ku yakin adalah Pak Aryan.
Masih ku geletakkan kepalaku di meja. "Kan, tadi Bapak nyuruh saya lembur."
"Yang ku lihat kamu tidur, Sa, bukan lembur," terang Pak Aryan.
"Bapak salah lihat," ucapku perlahan menegakkan badan.
Pak Aryan nampak terkejut melihat raut mukaku. Wajah lecekku yang berteman dengan mata yang memperlihatkan sisa kesedihan. Sempurna sudah wajah jelekku di hadapannya.
"Itu wajahmu kusut bener, abis putus, ya?" ledek Pak Aryan.
"Enak, aja, Bapak kalau niat doain yang baik-baik saja, kenapa sih?" paparku seraya berjalan meninggalkannya untuk menuju pantry.
"Cuci muka di toilet, Sa, bukan di pantry," ingat Pak Aryan yang mengikutiku.
"Saya mau ngopi, Pak," jelasku singkat.
"Bikinin kopi sekalian, ya," pinta Pak Aryan.
__ADS_1
"Bapak ngapain sih ngikutin saya? Pulang sana, Pak, ditungguin anak istri di rumah, tuh," selorohku.
"Jadwalku lagi nemenin istri keduaku, nih," guraunya.
"Jangan mancing masalah, Pak. Yang kemarin aja belum kelar, Saya pusing nih didiemin Dion," akhirnya aku malah curhat.
"Semalam yang mana?" Pak Aryan menelisik.
"Semalam, yang kita jalan di pasar malam, Pak. Yang kita seru-seruan makan bakso tusuk. Yang kemudian dilabrak Anggen. Masalahnya saya gak tahu, bagian mana yang bikin Dion marah," jelasku lagi.
"Perlukah aku bantu kamu menjelaskan pada Dion?" tawar Pak Aryan.
"Tidak perlu, Pak," ucapku.
"Semoga masalahmu cepat kelar, ya. Aku mau pulang dulu, ayo bareng!" tutur Pak Aryan
"Bapak, duluan aja," jawabku.
*****
Malam adalah waktu yang paling tepat untuk menenggelamkan segala keletihan. Berharap alam mimpi menawarkan cerita yang lebih indah dari kenyataan yang melelahkan. Pertengkaran dalam sebuah hubungan itu biasa terjadi. Namun keegoisan seringkali mengubah masalah yang kecil menjadi terbengkalai dan akhirnya menjadi duri yang bisa menusuk pada pertikaian yang lebih besar. Aku memang bersalah karena menikmati malam berdua dengan Pak Aryan tapi Dion juga tidak benar jika mendiamkanku tanpa ada penjelasan. Mana Dion yang selalu membuatku rindu karena kesabarannya menghadapiku?
Apakah ia mulai bosan dengan sikap egois dan manjaku? Apakah ia akan meninggalkanku seperti Mas Rud dulu? Apakah aku harus mendatanginya lagi untuk menyelesaikan semua ini? Namun mengapa harus aku? Mengapa bukan dia yang mencari penjelasan untuk sesuatu yang membuatnya marah? Mengapa?
Ku lihat lagi HPku. Apakah ada pesannya yang masuk untuk menanyakan kabarku? Tidak ada, sama sekali tidak ada jejaknya menghubungiku. Sampai kapan kemarahannya akan berakhir?
Ku non aktifkan HPku dan ku tinggalkan begitu saja di sofa kamarku. Langkahku keluar menuju balkon. Menatap langit yang juga nampak muram. Seolah sudah berjanji dengan hatiku untuk memvisualisasikan gambaran hatiku yang gundah.
Napas kasar ku serakkan begitu saja. Baru ku sadari jika Dion memiliki pengaruh yang besar dalam hidupku. Kehadirannya selama ini yang tak ku anggap begitu istimewa ternyata sudah berhasil membelengguku dalam kungkungan cintanya.
"Mbak, ada tamu di bawah," Kristy menemuiku untuk memberikan info itu dan kembali berbalik tanpa memberitahuku siapa tamu yang mencariku pukul 20.00 begini.
Antara mandi dulu atau langsung menemui tamu yang mencariku, akhirnya ku putuskan untuk turun, menemui siapa yang berkunjung malam-malam begini. Perlahan aku menapakkan kakiku di lantai untuk segera sampai di ruang tamu. Langkah awalku yang penuh semangat ku pelankan bahkan terhenti saat aku melihat Dion tengah duduk di sofa sedang memainkan HPnya.
Canggung. Perasaan itulah yang kini ku rasakan. Ingin menyapa duluan tapi rasanya begitu enggan. Aku masih trauma diabaikan seperti tadi siang.
"Duduklah," pintanya yang justru membuatku salah tingkah.
Bukankah seharusnya aku yang menyapanya lebih dulu sebagai tuan rumah. Ya sudahlah ...
Ku dudukkan diriku di sofa yang berseberangan dengannya. Suasana ini bagaikan dua orang yang belum saling mengenal, duduk berjauhan. Padahal jika sedang akur, single sofa pun kami perebutkan.
"Tadi siang mencariku ke kantor, ada apa?" Dion mulai bicara.
"Kamu marah sama aku? Kenapa aku hubungin kamu abaikan?" mulai ku curahkan semua yang mengganggu pikiranku..
Dion belum bersuara, dia mengutak-atik HPnya dan kemudian meletakkannya di meja. "Apa ini?"
Sekilas ku perhatikan sebuah foto yang nampak di layar HPnya. Memperlihatkan Pak Aryan yang tengah melahap bakso tusuk di tanganku. Namun karena sudut pengambilan gambar yang berasal dari arah kanan belakangku, foto itu seolah memperlihatkan Pak Aryan yang hendak menciumku.
Rupanya ini yang membuatmu mendiamkanku. Baiklah! Aku bisa memaklumi perasaanmu.. Lelaki mana yang gak akan marah jika wanitanya sedang berbuat demikian. "Yang terjadi sebenarnya tidak seperti yang terlihat di foto ini. Kami tak mungkin melakukannya, itu di tempat umum.
Sorot mata Dion yang biasanya teduh, kali ini memperlihatkan ketajaman. Sepertinya ada pemilihan kata-kataku yang tidak tepat. Owgh ... aku tahu!
"Maksudku, aku tak akan melakukan itu dengan Pak Aryan, kamu kan tahu aku dan dia hanya temenan. Bahkan sama kamu pun yang notabene tunanganku, aku hanya melakukannya tak lebih dari sebuah kecupan," terangku membenarkan kesalahpahaman.
"Kalian berkencan?" interogasinya lagi.
__ADS_1
Sabar ... sabar ... sabar! Menghadapi seseorang yang sedang dilanda cemburu itu tidak bisa hanya dengan sabar kelas ekonomi. Apalagi orang yang dicemburuinya adalah orang yang kemarin aku bilang sebagai orang yang lebih mapan dan tampan darinya. Besok-besok aku harus lebih bijak lagi dengan ucapanku agar tidak menjadi bumerang seperti ini.
"Kami hanya mampir untuk membeli gulali," jabarku.
Dion masih menatapku tajam. "Itu tidak kelihatan seperti gulali."
Ku buang napas kasar. "Itu bakso tusuk."
"Katanya beli gulali, kenapa jadi bakso tusuk?" selidiknya terus.
Sabar ... sabar ...! Ternyata kesabaran kelas bisnis dan eksekutif pun tidak cukup
"Kamu pernah jalan-jalan, gak, Di? Kalau lihat makanan enak, niatnya beli apa, jadinya beli apa? semua pengen dicobain," terangku.
"Maksudmu, kamu juga pengen nyobain Aryan? Apa aku aja gak bisa puasin kamu?" cemburunya makin tak terarah.
Tuh kan, salah lagi? Ish ... gimana coba harus jelasinnya? Harus pakai bahasa apa biar ngerti?
"Bukan masalah gak puas sama kamu tapi ...," aku jadi bingung menjelaskannya.
Dia masih menatap tajam padaku. Pandangannya itu justru membuatku semakin sukar untuk memilih kata yang bisa menjelaskan dengan mudah agar ia paham tentang apa yang terjadi.
"Apakah kamu berpikir untuk mencari kepuasan darinya karena aku selalu menolakmu?" pertanyaan Dion makin menjauh dari sumber masalah.
"Iya, aku gak bisa tahan karena kamu selalu menolakku, makanya nikahin aku biar aku gak mencari kepuasan dari orang lain," aku belokkan sekalian jawabanku.
"Baiklah, kalau gitu aku bakalan nikahin kamu secepatnya," ajak Dion.
"Ayo!" jawabku penuh keyakinan.
"Iya, ayo, tapi bukan sekarang juga kali, Sayang," alasannya.
Ish ... nolak tapi manggil sayang. Dasar!
"Aku maunya sekarang," rengekku.
"Ya gak bisa begitu ...," Dion terus beralasan.
"Bisa, ayo! Mana kunci mobilmu?" pintaku seraya berdiri.
"Buat apa?" Dion masih duduk dengan santainya.
Ku dekati Dion, ku tarik tangannya agar ia segera berdiri. Ia pun bangkit. Ku tengadahkan tanganku. "Mana?"
Tak ku jawab pertanyaannya, hanya saja tanganku terus ku tengadahkan makin dekat ke wajahnya. Menyebalkannya, Dion hanya diam saja. Kesabaranku mulai menipis, ku cari sendiri kunci mobilnya. Tanganku mulai bergerilya dari satu saku ke saku yang lainnya di setiap inci pakaiannya. Di bagian atas penutup tubuhnya nihil, karena memang tidak ada saku.
"Mana?" tanyaku lagi.
"Aku tidak bisa menikahimu sekarang," jawabnya tidak sesuai pertanyaan yang ku ajukan.
Langsung ku balikkan badannya untuk mencari kunci tersebut di saku belakang celana jeans yang dipakainya. Tak ku temukan juga di kedua saku tersebut.
Antara risih dan sebel akhirnya ku putuskan untuk mengecek di saku depan sebelah kanan. Belum sempat ku masukkan tanganku sepenuhnya, sudah di tepis oleh Dion.
"Kamu mau memper**saku?" tanyanya karena sebel terus-terusan aku gerayangi.
"Awalnya iya, tapi sekarang berubah pikiran, aku sudah menemukan apa yang ku cari," ucapku setelah melihat kunci mobil itu ada di sofa deket Dion duduk tadi.
__ADS_1
Segera ku genggam tangan Dion dan menariknya pergi. "Ayo!"