
Pukul 17.00 rangkaian acara siraman untuk kedua mempelai sudah selesai. Setelah ini mereka menjalani ritual pingitan sampai acara akad nikah besok pagi. Aku menemui Maya, sahabat terbaik yang aku kenal selama enam bulan bekerja.
"Hai, calon pengantin!" sapaku sambil memeluk Maya.
Maya membalas pelukanku dengan hangat. "Hai juga, calon pengantin!"
"Ih ... apaan?" gerutuku.
"Emang kamu gak mau jadi calon pengantin?" tanya Maya.
"Pasti maulah," jawabku penuh keyakinan.
"Ya udah, buruan nikah! Nunggu apa lagi, coba?" seloroh Maya.
"Nunggu poliandri dilegalkan," ucapku dengan senyum smirk.
"Jangan bilang, kalau kamu belum move on juga dari Mas Rud!" selidik Maya sambil berkacak pinggang.
Ku tempelkan jari telunjuk pada bibir mungilku. "Ssssstttt ... jangan kenceng-kenceng!"
"Sa, jangan main api! Mas Dion adalah lelaki terbaik untukmu, bukan Mas Rud. Cinta pertama kalau udah nyakitin gak usah berharap dijadiin cinta terakhir. Lihat, Mas Dion! Apa dia pernah menyakitimu? Apa dia pernah meninggalkanmu tanpa sebab? Tutup mata kamu! Gantengnya Mas Rud jangan sampai membutakan hatimu. Aarrgghh ... aku gak tenang meninggalkanmu kalau hatimu masih goyah, begini." Maya menasihatiku panjang lebar.
"Kekhawatiranmu berlebihan, May," yakinku.
"Semoga saja ini hanya sebatas kekhawatiranku. Aku menunggu kabar baik darimu dan Mas Dion," seru Maya kemudian.
Aku tersenyum. "Tunggu aku jadi sepupumu!"
******
Setelah salat magrib berjamaah, semua berkumpul di ruang keluarga rumah Dion Semua personil lengkap mulai Papi, Mami, Mbak Sharika sekeluarga, Dion dan aku tentunya. Bercengkerama sambil ngemil. Keakraban yang sangat sulit ku tampik, jika aku merindukan saat-saat seperti ini. Dulu ketika Papa masih ada, kumpul-kumpul seperti ini selalu menyenangkan. Membuatku sedikit terbawa kenangan, sedih.
Dion menyadari aku mulai menitikkan air mata. "Kenapa menangis?" dia mengambil tisu dan menghapus bulir air mataku.
Ku gelengkan kepalaku.
"Inget, Papa, ya?" Dion menarikku ke dalam pelukannya.
Rasanya aku malu bermesraan di depan banyak orang apalagi keluarga Dion. Berusaha ku lepaskan pelukannya tapi dia malah semakin erat memelukku.
"Kapan kalian akan menikah?" Papi bertanya saat aku sudah bisa menguasai diriku dan Dion juga sudah melepaskan pelukannya.
"Dion, maunya secepatnya, Pi, tapi Dion menyerahkan keputusan sama Rosa. Kapan dia siap Dion nikahi," ungkap Dion santai.
"Kamu sudah siap menjadi istri Dion, Nduk?" tembak Papi.
Gelagapan.
Tak menyangka jika akan mendapatkan pertanyaan yang to the point begini.
__ADS_1
Bingung.
Bagaimana aku harus menjawabnya. Aku serius menjalani hubungan ini. Namun rasanya hatiku belum bisa seratus persen yakin pada Dion.
Karena apa?
Aku juga tak bisa menjelaskannya.
"Rosa terserah Di ... Mas Dion, aja, Pi," justru jawaban itulah yang keluar dari mulutku.
Tiba-tiba Dion menggenggam erat jemariku. Senyuman termanis, ku hadiahkan untuknya. Meyakinkan bahwa hatiku juga bahagia dengan jawaban yang baru saja aku ucapkan. Ini adalah caraku untuk membuang paksa Mas Rud tanpa sisa dari hatiku. Tak ada alasan untuk mengecewakan Dion apalagi hanya karena cinta lama yang kembali mengusik.
"Kalau begitu, setelah pernikahan Rendra, kami akan membahas ini dengan keluarga besar," jelas Papi.
"Terimakasih, ya, Sayang," Dion mengecup keningku tanpa malu-malu.
Aku kikuk, malu bercampur bahagia. Perasaan yang susah diungkapkan tapi intinya aku bahagia bisa melihat Dion begitu sumringah. Ini lebih penting dari apapun. Membahagiakannya adalah mimpi yang harus aku wujudkan.
"Hai ... hai ... jangan main peluk cium seenaknya, belum sah," Mami lagi-lagi ngomel-ngomel.
"Papi jadi pengen pacaran lagi, Mi, gara-gara melihat mereka bermesraan terus dari tadi pagi," aku Papi.
What? Tadi pagi? Apakah itu artinya kami terciduk? Aku mengangkat kedua alisku seraya menatap Dion. Namun Dion malah mengangkat kedua belah tangannya.
"Mbak Sharika dan Mas Dito gak berencana nambah adik buat Arrki? Jangan sampai disalip Rendra, loh!" goda Dion setelah Papi dan Mami pergi.
"Ha-ha-ha ... Mbak Sharika emang bisa membaca pikiranku," Dion tertawa bahagia.
Dan keluarga kecil itu pun akhirnya sukses juga diusir halus oleh Dion.
"Kamu yakin dengan jawabanmu barusan?" Dion nampak serius dengan pertanyaannya.
"Aku ingin membahagiakanmu, Di," terangku.
"Aku gak mau bahagia sendiri. Apakah kamu juga bahagia sepertiku?" Dion mengorek kejujuran lewat mataku.
Ku beranikan menatap lembut ke manik mata Dion. Memberikan keyakinan bahwa aku tidak main-main dengan keputusan yang telah aku ambil. Bahagiaku sama seperti bahagianya meskipun cintaku tak akan pernah bisa melebihi besarnya cinta yang ia miliki untukku. Namun akan ku buktikan jika aku akan selalu memberikan hari penuh cinta dan tawa bahagia untuknya. "Biarkan aku menghabiskan hariku untuk selalu belajar mencintaimu lebih dan lebih lagi, Di."
Dion mencium keningku dan kembali meraihku ke dalam pelukannya. Berulangkali mencium puncak kepalaku dan tak pernah melepas senyum dari bibirnya. "Marilah kita saling belajar untuk selalu saling mencintai."
*****
Sehabis salat isya, acara midodareni dimulai. Rombongan calon pengantin pria dan keluarganya sowan ke rumah calon pengantin wanita. Uniknya, calon pengantin tidak boleh bertemu karena masih menjalani tradisi pingitan. Acara ini berlangsung hingga pukul 24.00 karena memiliki beberapa rangkaian acara. Aku senang sekali bisa berada di sini, rasanya aku seperti sedang mengikuti siaran langsung prosesi nikahan ala-ala putri keraton yang biasanya hanya bisa ku saksikan di televisi.
Malam Midodareni ini ternyata benar-benar ada bidadarinya, ya. Aku melihatnya sedang membaca pesanku.
Tertebak pasti siapa pengirim pesan rayuan model begini. Siapa lagi kalau bukan Mas Rud. Tentu saja aku abaikan, untuk apa membalasnya? Hanya akan menyenangkan hatinya dan membuatku kembali terendap lara.
"Hai, bidadariku!" sapa Dion yang membuatku agak gelagapan, takut jika yang datang adalah Mas Rud.
__ADS_1
Untungnya, Dionlah yang mampu menenangkanku. Coba kalau yang di sini adalah Mas Rud, aku khawatir lama-lama orang-orang akan menyadari jika ada suatu kisah lampau antara kami berdua. Tentu saja itu bukan hal yang ku inginkan. Karena pasti akan memancing emosi Dion.
Kesabaran pasti ada batasnya, bisa jadi Dion diam dengan ulah Mas Rud hari ini. Namun jika dia terus berulah, aku yakin Dion tak akan tinggal diam. Jangan sampai kejadian di acara pertunangan Maya dan Mas Rendra sebulan yang lalu, akan ada season duanya.
"Kamu, kaget?" tanya Dion sambil mendudukkan dirinya di sebelahku.
"Aku kaget karena kamu bilang ada bidadari di sini," alasanku.
"Kamulah bidadari di hatiku," rayunya penuh keyakinan.
"Apakah ini di kayangan? Apakah aku Dik Cang E yang sedang dirayu Panglima Tian Feng?" gurauku.
"Aku gak mau jadi dia. Masa aku reinkarnasi jadi siluman b*bi? Menghabiskan waktu menemani Biksu Tong ke barat sama Sun Go Kong dan Wu Ching. Mauku ini adalah dunia cinta kita, dunia milik Dik Rosa dan Panglima Dion yang tampan berseries," rayu Dion diselingi tawa renyangnya. "Manis, gak, sih?" tanyanya kemudian.
"Manis, sih, tapi manisan aku," celetukku.
"Manisan akulah," aku Dion penuh percaya diri.
"Sssssttttt! Jangan berisik! Arrki lagi bobok," ucap Mbak Sharika yang membuatku dan Dion sepakat untuk diam.
Aku menggeser tubuhku untuk melihat Arrki yang sedang terlelap di kasur pink-nya. Wajah tak berdosa ini, lagi-lagi sanggup membuatku terpana. Tak sadar aku jadi senyum-senyum sendiri.
"Nanti, kita bikin yang lebih imut dari Arrki, ya," bisik Dion lirih di telinga kiriku.
Cubitan imutku bergelayut mesra di pahanya. Meringislah ia karena merasakan sakitnya. Hendak membalasku tapi buru-buru ku tunjuk Arrki yang sedang tertidur. Alhasil, urunglah niatnya untuk membalasku. Ku tunjukkan senyum cengiranku karena menang satu kosong darinya.
"I love you," bisik Dion di telingaku. "Besok, ikutan nikah, yuk! Rasanya aku udah gak tahan, nih," ucapnya dengan wajah mesum.
Ku lirik tajam tunanganku yang berubah bernafsu itu.
"Nikahnya sekarang aja, yuk! Lirikanmu makin membuatku gak tahan,"
Makin ku tajamkan lirikanku.
"Ayo, sekarang, saja!" Dion menarik lenganku.
Menuntunku meninggalkan acara yang baru setengah jalan. Pulang ke rumah Dion dan membawaku ke kamarnya. "Lepaskan kebayamu dan pakai ini!"
*****
Gak tahan, ya, buat baca kelanjutannya? Sabar! Author lagi nunggu like, komen, vote dari kalian semua, hehe
Daripada hasrat kalian tak tersalurkan, mending baca novel teman author di bawah ini, ya!
Seru abis!
__ADS_1