Tentang Hati

Tentang Hati
Haruskah Jujur?


__ADS_3

"Sayang, bangun! Sebentar lagi, kita sampai di Stasiun Tugu," suara Dion samar-samar menggema di telingaku. Menuntun sukmaku yang tadi tercecer di alam mimpi untuk kembali bersatu menyambut dunia nyata. Ku kerjapkan mataku, masih ada tiga lelaki tampan di hadapanku. Pak Aryan tengah tersenyum menatapku. "Iler, tuh, dilap!"


Ku tegakkan badanku. Dion juga menatapku dengan senyum simpulnya. Dia mengangkat tangannya dan membelai sudut bibirku.


"Apakah aku ngiler?" tanyaku malu-malu.


Dion hanya tersenyum kemudian jarinya mengusap kedua ujung mataku. "Capek, ya? Ada kotoran mata di sini."


Menunduk, aku malu.


"Aku tetap mencintaimu dan semakin mencintaimu melihat muka bantalmu, ini," ucapnya yang membuatku semakin malu.


Ah ... mungkin bukan malu tapi aku merasa berdosa. Berdosa karena telah menghianatinya. Bibirku yang dijaganya telah direnggut kesuciannya oleh rivalnya, Mas Rud.


Maafkan, aku!


****


Bertepatan dengan azan subuh, kereta berhenti di Stasiun Tugu Yogyakarta. Kami istirahat di musala stasiun sekaligus menjalankan salat sekalian.


"Rendra sudah menunggu kita di depan, ayo!" ajak Dion setelah aku keluar dari musala.


Melewati pintu keluar, di sana sudah ada Mas Rendra yang menunggu dengan senyum khasnya. Tangannya ia lambai-lambaikan agar kami bisa lebih mudah melihatnya.


"Mantan anggota cheers, ya?" godaku.


"Iya, dong, tuh Dion ketuanya," seru Mas Rendra yang tidak ditanggapi oleh Dion.


"Ih, aku geli," ungkapku sambil bergidik.


"Sepupuku yang ganteng, kamu aja, ya, yang nyetir!" perintah Mas Rendra seraya melemparkan kunci mobilnya.


"Nyonya Dion Wijaya, silakan duduk di depan! Saya yang paling tampan ini, mau rebahan dulu di belakang. Ngantuk, cuy," ucap Mas Rendra sambil sesekali menguap.


Setelah selesai memasukkan barang-barang ke bagasi, masing-masing kami menuju pintu mobil yang berbeda sesuai arahan Mas Rendra.


"Ren, kamu calon pengantin kok gak dipingit?" tanya Dion.


"Buat apa dipingit? Toh, Maya juga masih di Jakarta," jawab Mas Rendra enteng.


"Kapan Maya dateng, Mas?" aku ingin tahu.


"Nanti siang," jawabnya melemah.


"Ren, ngantuk beneran?" Dion bertanya setelah mendengar jawaban Mas Rendra yang tidak renyah seperti biasanya.


Dion geleng-geleng kepala begitu mendapati sepupunya itu telah tertidur pulas di bangku tengah. Padahal barusan ia masih bisa menjawab meski dengan suara melemah. Ataukah itu tadi sudah masuk alam mimpi?


"Cepet banget tidurnya?" celetukku ikut-ikutan menengok ke bangku tengah.


"Tau, tuh, jangan-jangan pas malam pertama, lagi enak-enaknya dia tidur lagi," gurau Dion.


"Apaan, sih?" gerutuku.


"Kenapa, sih, Sayang? Kita sudah dewasa, kenapa kamu begitu risih membicarakan itu. Lagian juga cuma sama aku, ini," terang Dion dengan mengangkat kedua alisnya.


Aku melengos menatap jendela di sebelah kiriku. "Aku malu."


"Malam pertama jangan malu-malu, ya. Nanti bikin aku tambah gemes, lo," lagi-lagi Dion bicaranya nyerempet-nyerempet.


"Udah, ah, ganti topik!" perintahku.

__ADS_1


"Topik kan anaknya Pak Wahyudi, mana mau dia ganti bapak," sekali lagi Dion bergurau.


Aku cemberut. "Gak lucu."


"Kalian bahas malam pertama, emang belum malam pertama?" tiba-tiba Mas Rendra ikut nimbrung obrolan kami.


ku tolehkan kepalaku ke bangku tengah. Rupanya Mas Rendra sudah membuka matanya. Tersenyum penuh, menampakkan deretan giginya yang rapi. "Ngelindur, Mas?" aku merasa ragu karena tiba-tiba tidur tapi kok belum sepuluh menit sudah bangun lagi.


"Aku terpanggil karena ada yang bahas malam pertama."


Pletak!


Sebuah remot kecil menghantam sandaran jok tengah.


"Malam pertama apaan? Kemarin pasti udah kamu cicil," sindir Dion.


"Zaman sekarang, pacaran kalau gak nyicil bikin gak semangat kerja," papar Mas Rendra santai.


"Dikata utang, kali, Mas," selorohku.


Ketawa ngakak, itulah reaksi Mas Rendra mendengar celotehku.


"Dion udah nyicil belum, Sa?" tanya Mas Rendra dengan senyum smirknya.


Dion melempar botol kosong ke arah Mas Rendra. "Nyicil gundulmu."


Di, kamu memang belum nyicil, tapi ...


Tiba-tiba saja ingatanku tentang ciuman paksa Mas Rud tadi hadir kembali. Membuatku merasa jijik dengan diriku sendiri. Dion merasa aku begitu suci tapi nyatanya aku tak sesuci itu.


"Kamu belum nyicil, mungkin mantannya udah," celetuk Mas Rendra seolah tahu apa yang telah terjadi.


Jleb!


Dion menatapku. Memegang tanganku dan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum ketika aku menoleh ke arahnya. Apa maksudnya ini? Kembali ku tundukkan pandanganku. Benar-benar menyesal. Aku bahkan gagal menjaga diriku sendiri.


"Urusin Maya, jangan urusin tunanganku! Aku sanggup mengurusnya sendiri," ungkap Dion.


*****


Setelah melaju sekitar lima belas menit, mobil yang dikendarai Dion berbelok pada sebuah rumah dengan halaman yang sangat luas. Nuansa adat Yogyakarta sangat kental terasa. Mulai dari bentuk bangunan sampai perabotan semuanya serba kayu dan ukir-ukiran jawa. Pepohonan besar dan bunga-bunga memberikan kesan asri dan adem di hati.


"Rumah siapa ini, Di?" tanyaku kebingungan.


Ini tidak seperti sebuah rumah tapi lebih seperti townhouse ala jawa. Tanah yang luasnya ku taksir lebih dari 5000m² ini terdiri dari 3 bangunan rumah. satu di sebelah kanan, satu di sebelah kiri dan satu di bagian tengah menjorok ke belakang. Halaman luasnya dibangun seperti sebuah taman dengan air mancur di bagian tengahnya. Mewah ala keraton, begitulah kesan yang ku tangkap.


"Itu rumah eyang," tunjuk Dion pada bangunan di tengah yang menjorok ke belakang.


Tentu saja, bangunan itu adalah bangunan paling besar. Tak salah kalau itu adalah rumah prabon, istilah untuk rumah orang tua jaman dulu di daerah jawa.


"Itu rumah Rendra," jelas Dion kemudian, seraya menunjuk rumah yang di sebelah kanan.


"Kalau yang ini?" tanyaku menunjuk rumah yang hendak aku masuki.


Dion tersenyum sambil menggandeng tanganku untuk segera masuk. "Rumah kita."


"Rumah kita?" gumamku.


"Iya, Sayang, ini rumah kita," ucap Maminya Dion yang baru keluar.


Tersenyum kikuk, mendengar kata "rumah kita" bukan hanya diucapkan Dion tapi diucapkan Maminya juga. Masih menata hati, sebuah pelukan hangat dari Maminya sudah mendekap tubuhku. Aku pun membalasnya dengan canggung.

__ADS_1


"Pantesan Dion gak bisa move on dari kamu, ya, cantik begini," ucap Mami yang bikin aku makin kikuk.


"Mami, jangan bikin Rosa salah tingkah," pinta Dion yang bolak-balik mengangkat koper kecilku dan juga koper hitam miliknya.


"Kamu antar calon mantu Mami ke kamar dulu, biar bisa istirahat," perintah Mami.


Dion mendahului melangkah. "Ayo!"


Ku ikuti langkah Dion. Sebelumnya aku sedikit membungkukkan badanku di hadapan Mami sebagai tanda hormat dan permisi. "Tante, Rosa ke kamar dulu, ya,".


Senyum Mami mengembang. Membuatku sangat nyaman, hilanglah semua rasa canggung yang sempat ku rasakan sebelumnya. "Mami, Sayang!"


"Masuklah, ini kamarmu!" pinta Dion setelah membuka pintu sebuah ruangan dengan pintu jati berwarna coklat keemasan.


Ku masuki ruangan yang cukup luas itu. Ku tuju jendela yang sudah dibuka. Menampakkan halaman samping rumah Dion yang menyatu dengan halaman samping rumah eyang. Beraneka warna bunga yang tengah bermekaran nampak indah dimataku.


"Aku tinggal dulu, ya," ucap Dion kemudian berbalik dan hendak melangkahkan kakinya.


Ku raih lengan Dion. "Di," panggilku dengan suara agak lemah.


Dion menghentikan langkahnya dan kembali berbalik. "Ada apa?"


"Maafkan, aku!" ucapku sambil menunduk.


Dion berdiri mensejajariku, menghadap ke luar jendela. "Maaf, untuk apa?"


Bingung, bagaimana mengawali pengakuanku. "Ehmmm ... a-aku ... menghianatimu," akhirnya keluar juga kalimat itu meski terbata-bata. Ku pejamkan mataku, tak berani melihat reaksinya.


"Menghianati seperti apa?" tanya Dion dengan nada datarnya.


Berpikir, kata apa yang pas untuk menjelaskan tanpa terlalu menyakitkan. "Ini," aku hanya bisa menjelaskan dengan menunjuk bagian tubuhku yang telah ternoda, bibir.


"Rud?" tebak Dion tanpa meminta penjelasan dengan penunjukanku pada bibirku.


Aku masih menunduk. "Iya,"


Sunyi, hanya langkah Dion yang ku dengar mulai melangkah meninggalkanku. Langsung ku buka mataku dan berjalan mengikutinya.


"Kamu, marah?"


Ah, pastilah dia marah. Kamu bodoh Rosa menanyakan pertanyaan konyol itu. Lelakimu yang bersusah payah menjaganya tapi direnggut paksa oleh sang rival, mantanmu. Siapa yang bisa terima?


"Menurutmu, apa aku harus marah mengetahui semua itu?" Dion bertanya balik, datar masih tanpa senyuman.


Menunduk lagi, itu yang hanya bisa ku lakukan.


"Aku marah, sangat marah, tapi aku bisa apa?" tanya Dion.


"Memarahiku, memukulku, mengakhiri hubungan kita, meng ...," belum selesai aku bicara Dion sudah memotongnya.


"Aku akan segera menikahimu," tegasnya.


Kembali melangkah pergi. Sebelum menutup pintu dia berbalik dan berhenti. "Istirahatlah sebentar kemudian mandi! Nanti aku akan mengajakmu jalan-jalan di sekitar rumah," Dion tersenyum dan menghilang di balik pintu yang tertutup.


Aku? Aku masih terpaku di tempatku berdiri. Tak percaya mendengar reaksi Dion atas dosa yang ku lakukan. Adakah lelaki sebaik dia di dunia ini?


*****


Hai, semua! Kalian sebel gak sih nungguin up Tentang Hati? Kalau iya, sambil nunggu coba deh mampir di novel temen-temen Aldekha Depe. Ceritanya bagus-bagus, malah pada lebih bagus loh, silakan mampir, ya!


__ADS_1



__ADS_2