Tentang Hati

Tentang Hati
Tertangkap Basah


__ADS_3

"Bangun ... Bangun ...!" sebuah panggilan dengan nada yang agak tinggi masuk ke dalam dunia mimpiku.


Memaksaku keluar dari dunia yang diistilahkan dengan bunga tidur itu. Kukerjapkan mataku dan samar-samar kudapati dua bayangan wanita yang tengah berdiri di sisi ranjangku. Tak ada senyum di sana, yang ada wajah penuh tanda tanya.


"Kalian, ngapain bisa seranjang berdua?"


Mendengar kalimat itu membuatku amat bingung dan terkejut. Spontan kumenoleh pada sisi kiriku dan ada Dion di sana yang juga mengerjapkan matanya. Tentu saja aku kaget tapi kemudian ingatanku kembali.


"Ini, gak seperti yang Mama dan Mami pikir. Kami gak melakukan apapun," ungkapku untuk meluruskan pikiran negatif yang ada di pikiran mereka berdua.


Kutoleh Dion, bermaksud agar dia menguatkan alibiku. Namun bukannya buka suara, dia malah memejamkan matanya kembali.


"Di, jelasin dong!" pintaku sambil menggoyangkan lengannya untuk membangunkannya.


"Di, bangun!" pintaku sambil terus menggoyang-goyangkan lengannya.


"Iya, Mi, semalam kami anu. Cepet nikahin, aja, Mi. Takutnya perutnya Rosa makin gede," celoteh Dion tetap memejamkan matanya.


Kupukul keras lengannya. "Bangun! Jangan ngomong sembarangan!"


"Kalian gak usah ngelak, lagi. Sudah jelas begini. Sekarang kalian mandi, sarapan dan kita bahas masalah ini," tegas Mama.


"Ma, semalam tuh aku sakit," aku mencoba menjelaskan.


"Memang terasa sakit kalau pertama anu," balas Mami.


"Rosa sakit panas, Mi," jelasku lagi.


"Terang saja akan terasa panas, Sayang. Kamu baru pertama kalinya, gak usah kaget, lama-lama enak," terang Mami lagi.


"Iya, Mi, Rosa udah enakan setelah dikompres Dion," jelasku lagi dan lagi.


Mami mengerling nakal pada Dion. "Astaga, Sayang, main cantik, dong. Jangan bar-bar, masih ada hari esok."


Hanya bisa menghela napas panjang. Tak mengerti dengan jalan pikiran mereka yang mesum. Anak dan Maminya kok sama aja. Percuma aku menjelaskan pada Mami. Mungkin Mama akan mengerti jika aku menjelaskan padanya.


"Pegang keningku, Ma! Aku tuh gak bohong," terangku menunjukkan bukti.


Mama mendekatiku dan melakukan apa yang aku minta. Mengecek keningku dengan punggung tangan kanannya. Sekali dan ia mengulanginya lagi. Sebuah senyum tergambar di wajahnya. "Kamu, sakit cinta. Eh salah, sakit karena bercinta."


Ha? Mama kenapa ikutan mereka juga?


Tak ada harapan lagi kalau begini. Siapa yang bisa membantuku? Apa iya akan benar-benar berakhir dengan pernikahan paksa hasil penggerebekan.

__ADS_1


Haish!


Aku beranjak dari ranjang dan menyadari sesuatu. "Pakaianku masih lengkap, Ma, Mi? Kalau semalam aku aneh-aneh pasti aku gak berpa ...," ucapanku tak terselesaikan, aku malu menyebut katanya. Lihat juga Dion! pintaku sambil membuka selimut dan


"Aaaaaaaa ...," aku segera menutup kembali selimut dan menariknya hingga sampai menutupi dadanya.


Apalagi itu Dion? Kenapa dia bisa bertelanjang dada? Bukankah dia semalam sakit, kenapa malah menanggalkan atasannya?


"Sudahlah, Sayang, kalian sudah tertangkap basah. Sudah sana bersih-bersih, Mami sama Mama mau nyiapin sarapan," kalimat mereka sebelum meninggalkan kami berdua. Beranjak keluar kamar dan menutup kembali pintunya.


"Di, apa-apaan, sih, kamu?" tanyaku sambil melemparkan kaosnya yang tergeletak sembarang di kursi tempat kami berenak-enak semalam.


Ah, kenapa jadi menyebut kata berenak-enak, sih? Padahal kan memang enak? Iya, sih, enak. Namun bukan enak seperti yang Mami dan Mama pikirkan. Ini enak yang ... yang enak juga. Ah, sudahlah!


"Sini, Sayang!" ucap Dion sambil menepuk ranjang di sebelahnya.


Bukannya duduk di tempat yang dia mau, aku malah sengaja menjatuhkan diri di kursi enak-enak. Yah, kenapa masih terbayang enak-enak itu, sih? Sepertinya otakku sudah teracuni oleh pikiran kotor itu.


"Jelaskan padaku kenapa kita bisa tidur seranjang? Kenapa kamu bertel*njang dada begitu?" tanyaku bertubi-tubi.


Dion merubah posisinya, menyingkap selimutnya hingga batas perut bawahnya dan menjadikan kedua lengannya sebagai bantal. Senyum nakal menghias bibirnya yang semalam berhasil aku ambil keperjakaannya itu.


Ish!


"Apa kamu perlu penjelasan detail tentang apa yang terjadi diantara lelaki dan wanita dewasa yang tidur seranjang? Kalau kamu masih penasaran, sini aku ceritakan dengan mereka adegan!"


"Gak perlu, sekarang kamu keluar dari kamarku! Aku mau mandi," usirku setelah lelah mengulik jawaban darinya.


Untuk kalimat pengusiranku kali ini, Dion cepat sekali bereaksi. Bergegas bangun dan duduk di ranjang tepat di hadapanku. "Ayo, mandi bareng!" ucapnya menggoda dengan senyum seringainya.


"Di, mesummu itu bisa dipending dulu, gak? Belum sah," ingatku untuk memecah kepingan pikiran kotor yang bersarang di otaknya.


"Kamu terlanjur membuatku ketagihan. Yang semalam itu manis sekali, Sayang. Aku kecanduan," ungkapnya tanpa rasa malu.


"Semalam itu aku hanya khilaf, Sayang." ucapku seraya berdiri.


Kaget, saat tiba-tiba Dion menarikku dan terperangkaplah aku ke pangkuangnya. "Khilafmu, aku suka! Rugi aku selalu menolaknya, dulu."


"Kita ulangi lagi yang semalam, yuk?" goda Dion lagi.


Dion yang mulai mendekatkan wajahnya, tak bisa kutolak. Sejujurnya aku juga menginginkannya. Kebisuan beberapa hari yang lalu menuntut untuk dikembalikan pada suhu normalnya, bahkan rela untuk diterpa suhu diatas rata-rata. Tautan benda kenyal itu tinggal menyisakan beberapa cm lagi saat tiba-tiba ....


"Kalian terciduk untuk kali kedua pagi ini."

__ADS_1


*****


"Ckckckc ... kemarin aja duduknya jauh-jauhan, sekarang? Nyamuk mau lewat pun bakalan kejepit," sindir Mami seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Makanya nanti malam kita nikahin, titik." tandas Papi.


"Nanti malam, Pi?" tanyaku sambil menoleh ke arah Dion. Berharap dia ikut menanyakan keseriusan waktu sakral yang Papi katakan. Namun, dari raut muka yang ku tangkap, dia kelihatan senang. Mungkin baginya nanti malam itu justru waktu yang sangat lama. Kalau bisa pasti dia minta sekarang juga.


"Kamu temani Dion ke London, menghadiri undangan Tuan Raymond," perintah Papi dengan wajah sumringahnya.


"Sekarang hari Rabu, sementara kalian harus berangkat Jumat pagi. Oleh karena itu, nanti malam adalah waktu yang tepat untuk menikah," terang Mami meneruskan penjelasan Papi.


Mama berdehem sebelum ikut berbicara. "Sementara nikah siri dulu, ya. Setelah pulang dari London baru kita adakan resepsi besar-besaran."


Kuhela napas mendalam. "Tidak bisakah menikahnya setelah dari London sekalian, Ma? Kenapa harus menikah siri dulu, sih?" cercaku untuk menolak secara halus.


"Mama gak bisa ngasih izin kamu ikut, kalau kalian belum berstatus suami istri," jelas Mama.


"Kalau begitu, Rosa gak usah ikut, Ma," usulku dengan wajah memelas.


"Dion gak mau datang sendiri," seloroh Dion yang kuhadiahi pelototan geram.


"Sayang, kalian harus tetap menikah! Ingat, kalian sudah tertangkap basah," Mami mengungkit-ungkit kesalahpahaman tadi pagi.


"Mi, semalam kami gak ngapa-ngapain. Rosa demam, Dion yang mengompres dan tertidur di kursi samping ranjang. Saat Rosa terbangun dini hari, badan Rosa sudah mendingan, Dion ganti yang sakit. Hanya itu, Mi," jelasku berharap dapat mengundur jadwal akad.


"Mana buktinya kalian sakit? Ini, sudah sehat semuanya," Papi ikut mencari kebenaran pengakuanku.


"Rosa juga bingung, tiba-tiba saja waktu bangun kami sudah sehat," terangku yang juga tak mengerti dengan demam yang tiba-tiba datang dan menghilang begitu saja.


"Kalian sakit karena saling menyakiti. Pokoknya kami semua sudah memutuskan, kalian menikah nanti malam." Tegas Papi yang tak bisa dibantah lagi.


"Menikah itu enak kok, Sayang. Bukankah kalian sudah DP tadi malam?" goda Mami dengan senyum nakalnya.


OMG!


Keluarga apa ini? Anaknya tertangkap basah, bukannya dimarahin tapi malah digodain.


"Ya sudah, kami mau pergi mencari keperluan acara nanti malam. Kalian berdua di rumah saja, jangan kemana-mana! Nanti habis zuhur, ada orang salon ke sini buat perawatan kalian berdua sebagai calon pengantin," papar Mami yang kurasa berlebihan.


Tak menunggu lama, mereka sudah pergi meninggalkan kami berdua. Dion langsung menggamit pinggangku dan tersenyum manja. "Hai calon istriku, DP sini, dong!" pintanya seraya menunjuk bibirnya.


*****

__ADS_1


__ADS_2