Tentang Hati

Tentang Hati
Sewajarnya Berteman


__ADS_3

Jumat, hari yang katanya pendek itu, sebenarnya sama saja panjangnya dengan hari lain. Tetap, satu menitnya itu enam puluh detik, dan juga sehari itu dua puluh empat jam. Walaupun begitu, nyatanya aku masih berpikiran sama dengan kebanyakan mereka. Vonis jumat itu hari pendek sudah ketuk palu di otakku. Itu berlaku setiap jumat, terkecuali hari ini. Tanpa Maya, di kantor waktu terasa bergulir lebih lama dari biasanya, bahkan terasa lebih lama melebihi malam minggu yang katanya panjang itu.


"Akhirnya, waktu pulang juga," gumamku sambil meregangkan otot-otot tangan dan leherku yang terasa kaku.


"Kenapa ngantuk, ya?" ucapku sambil menguap.


Hmmmm ... gak sopan banget nih, jam segini kok ngajak rebahan. Ya ... ya ... ya ... aku tau obat untuk penyakit ini.


Ku sambar tasku dengan senyum penuh semangat. Ku ayunkan kakiku menyusuri jalan keluar kantor. Melewati trotoar yang mulai ramai oleh pejalan kaki dan menepikan langkahku di sebuah gerobak berwarna kuning.


"Satu bang, yang pedes, ya!" pesanku.


"Sendirian aja, Mbak?" tanya abang cilok yang ku kenal bernama Bang Bambang.


Terasa lucu memang di telinga, "Bang Bambang". Biasanya sih, Bambang itu di panggil Mas Bambang. Lah ini, Bang Bambang bukan dari betawi apalagi dari jawa, tapi malah dari sunda. Entahlah, bagaimana dia berenkarnasi hingga ia bisa jadi Bang Bambang.


"Iy ...." belum selesai aku membuka mulut, ada suara lain yang ikut nimbrung.


"Sama saya, Bang," tukas Pak Aryan yang sudah mematung dalam senyuman di belakangku.


"Bapak, ngikutin saya?" tanyaku to the point.


"Tentu saja," jawab Pak Aryan santai sambil segera duduk di bangku yang sudah disiapkan Bang Bambang.


Apaan,sih, 'ni manajer? Nguntit kok bangga. Aduh ... mana cuma berdua lagi. Di, maafin aku! Bukan aku yang menginginkan ini.


"Kenapa celingak-celinguk?" tanya Pak Aryan sambil menunjuk bangku di sebelahnya.


Tanpa menjawab, aku langsung menggeser sedikit bangku itu, agar lebih berjarak darinya. Aku pun duduk dan segera ku sibukkan diri dengan HPku. Sebenarnya, ini hanya trik untuk tidak mengobrol dengannya. Entah berhasil atau tidak, yang penting aku sudah mencoba.


"Sering makan di sini?" tanya Pak Aryan.


Aku pura-pura tidak mendengarnya. Bukan apa-apa, aku hanya tak ingin dia semakin akrab denganku. Aku berharap, lain kali dia tak akan melakukan ini lagi, karena aku tak menganggapnya ada. Namun, dia justru melakukan hal di luar yang ku rencanakan. Dia menggeser bangkunya untuk lebih dekat denganku.


"Hai, Bro, aku pinjem pacarmu sebentar ya!" ucap Pak Aryan kepada seseorang seraya mengangkat HPnya mengarah kepadaku.


Aku pun terusik. Ku arahkan pandanganku ke arah HP Pak Aryan. Oh ... no! Nampak wajah Dion di ujung sana. Dia tersenyum begitu melihatku kaget karena melihat dirinya. Bukannya marah dia malah menunjukkan senyumannya.


"Kamu bandel sekali, Sayang. Jangan sering-sering makan pedes, inget, lambungmu gak sekuat aku yang memperjuangkan cintamu." goda Dion.


Aahh ... Sayang! Kenapa kamu justru menggodaku. Harusnya kamu marah. Kalau begini, aku kan jadi makin gak enak hati.

__ADS_1


"Aku gak sengaja bertemu dengan Pak Aryan di sini," jelasku.


"Aku yang menguntitnya, Bro," jujur Pak Aryan.


Aish ... kenapa ia bisa berkata begitu. Mau mengajak perang terang-terangan apa? Masalah ... masalah ... masalah ....


"Aku percaya padamu, Sayang. Kalau sudah selesai, cepet pulang," pesan Dion yang membuatku tak bisa berkata-kata lagi.


Kekasihku ini, kenapa bisa percaya sekali padaku. Kemana rasa cemburu yang kemarin membelenggunya? Di, apa kamu sudah mulai mengurangi rasa cintamu padaku? Apa kamu ada wanita lain di sana? Aahh ... kenapa jadi aku yang mulai meragukanmu. Bukankah seharusnya kamu yang cemburu melihatku dengan Pak Aryan?


Iya ... Pak Aryan ... kenapa aku jadi melupakannya?


"Aku udah izin sama pacarmu, ya, jadi jangan menjauhiku begini." ucap Pak Aryan setelah mematikan video call Dion.


"Ini," Pak Aryan memberikan satu mangkuk cilok padaku.


"Bukan menjauhi, Pak, saya hanya menjaga perasaan pacar saya," jujurku.


"Dia sudah mengizinkan," ulangnya lagi.


Aku pun tak berniat membantahnya lagi dengan alasan yang sama. Sepertinya, manajer baruku ini, juga seorang yang nekat, tidak menerima penolakan. Sama seperti Mas ... lupakan!


"Kenapa tidak?" ucap Pak Aryan sambil menikmati cilok di mulutnya.


"Kenapa Bapak mengikuti saya?" tanyaku setelah mengingat bahwa dia menguntitku.


Pak Aryan menelan cilok yang tersisa di mulutnya, "Aku penasaran, kenapa kamu jalan kaki meninggalkan kantor. Aku pikir kamu mencari angkutan online di depan."


"Lalu?" aku masih penasaran.


"Aku kan driver online, harus menjemput rezeki," tukas Pak Aryan dengan senyum merekahnya.


"Kalau saya mau naik angkutan online, saya juga gak mau sama Bapak," jelasku.


"Kenapa?" tanyanya singkat.


"Karena saya tau, Bapak manajer saya," ungkapku.


"Itu kalau di kantor. Kalau di luar aku kan temenmu, masa kamu gak mau berbagi rezeki dengan temenmu ini." jelas Pak Aryan santai.


Bapak Aryan yang terhormat, Bapak itu tidak perlu rezeki dari jadi driver online. Apalagi rezeki itu dariku. Ayolah, Pak, jangan berlebihan untuk mendekatiku.

__ADS_1


"Bapak bisa berteman dengan Mas Rendra, kenapa malah sama saya?" aku semakin bicara blak-blakan pada Pak Aryan.


"Rosa, kamu lupa? Kamu yang lebih dulu mengajakku berteman. Kamu gak lupa kejadian malam itu kan?" Pak Aryan membuka ingatanku.


"Saya ingat, Pak, tapi saat itu saya tidak tahu kalau Bapak bakalan jadi atasan saya. Lagian, waktu itu saya mengajak Bapak berteman karena Bapak seorang driver online, bukan manajer." ungkapku.


Pak Aryan menatapku, " Karena itulah aku ingin berteman denganmu, kamu tulus."


Ku beranikan menatap Pak Aryan ganti, "Saya tidak pernah pilih-pilih dengan siapa saya berteman, Pak. Namun, kalau untuk berteman dengan laki-laki, saya memang menjaga jarak. Saya menghargai pacar saya, Pak."


"Pacarmu sudah tahu kita berteman, bahkan aku juga sudah izin makan berdua denganmu, dan kamu juga dengar kan, kalau dia memberimu izin," jelas Pak Aryan lagi.


Iya ... iya ... iya ... aku tahu itu. Tapi aku gak suka terjebak situasi begini, Pak. Aku gak bisa membohongi perasaanku sendiri, aku merasa gak nyaman.


"Kita berteman yang sewajarnya saja, ya, Pak?" pintaku.


"Kamu bersuudzon jika berpikir aku ingin memisahkanmu dari pacarmu, itu hanya di FTV-FTV," Pak Aryan malah bercanda.


"Alhamdulillah kalau memang begitu, Pak," syukurku.


"Dan sebagai teman yang wajar, jangan panggil aku Bapak! Satu lagi, "aku" bukan "saya"." terang Pak Aryan.


Aku mengangguk dan tersenyum simpul sebentar ... cukup sebentar saja ku berikan itu padanya. Aku kembali fokus dengan cilok pedasku. Cilok yang ku harap bisa menghilangkan rasa kantukku. Berhasil! Bukan karena ciloknya, tapi karena harus berurusan dengan Pak Aryan, yang tiba-tiba menemaniku makan cilok.


"Pak, Saya duluan, ya!" ucapku setelah menghabiskan cilok di mangkukku.


Aku bergegas berdiri dan memberikan uang kepada Bang Bambang.


"Sudah dibayar sama pacarnya mbak," Bang Bambang mengembalikan uang yang ku berikan.


Aku sudah mengerti siapa yang dimaksud Bang Bambang. Ku mendekati Pak Aryan yang tersenyum santai melihatku.


"Terimakasih," ucapku.


Aku hendak membalikkan badanku, tapi suaranya menghentikan langkah yang baru kuayunkan. Ku balikkan lagi badanku, penasaran apa yang akan dia katakan.


"Tidak ada yang gratis, Rosa!" tuturnya.


Aku mengambil uang yang tadi ku berikan pada Bang Bambang, "Saya gak mau gratisan, Pak. Apalagi itu ada balasannya."


Aku buru-buru berjalan menjauhinya. Ku percepat langkahku menjadi setengah berlari. Biarlah aku nampak bodoh, asal aku tidak berlama-lama dengannya. Bisa-bisa dia akan semakin terobsesi denganku. Apakah pikiranku berlebihan?

__ADS_1


__ADS_2