Tentang Hati

Tentang Hati
Jakarta, Aku kembali (2)


__ADS_3

Saatnya kembali telah tiba, pulang ke Indonesia. Jakarta yang penuh cerita akan kembali kujajaki setelah perjalanan panjang yang akan dimulai ini menemui titik akhir. Delay satu jam dari jadwal yang tercantum di tiket, yakni pukul 13.00 waktu London tidak menjadi masalah. Selama berdua dengan orang tercinta, segala benci akan menjadi rasa yang dinikmati.


Penerbangan kali ini, pesawat akan transit di Amsterdam, dan selanjutnya akan landing untuk terakhir kali ini di Bandara Soekarno Hatta, Indonesia. Selama perjalanan, selalu ada keromantisan dari suamiku itu. Perhatian kecil yang manis, sanggup membuatku terlena dan berulangkali mengucap syukur karena telah diberi kesempatan untuk memilikinya.


"Kita mau pulang naik apa, Mas?" tanyaku terdengar manis karena mulai terbiasa dengan panggilan Mas ke Dion.


"Taksol aja, ya," idenya sambil menunjuk mobil yang memiliki nomor polisi sama dengan yang tertera di aplikasi.


"Selamat siang pengantin baru, mari saya antar ke apartemen!" sapa sopir taksol dengan senyum sumringahnya.


"Pak Aryan!" kagetku seraya memperhatikannya lebih dalam.


"Kukira setelah seminggu di London kamu tidak akan mengenaliku," ucap Pak Aryan seraya bolak balik memasukkan barang-barang kami ke bagasi mobilnya.


"Memangnya saya amnesia?" celetukku sembari berjalan menuju mobil, membuka pintu belakang dan duduk beristirahat di sana.


Dari dalam mobil, kulihat Dion dan Pak Aryan sedang berbicara dengan diiringi senyum dari masing-masing bibir mereka. Keakraban yang belakangan ini semakin terasa. Aku bahagia.


Tak berselang lama, mereka masuk ke mobil dan menempati kursi depan dimana Pak Aryan duduk di belakang kemudi sementara Dion ada di sebelahnya.


"Gimana honeymoonnya? Sukses?" tanya Pak Aryan begitu mobil mulai keluar dari area bandara dan masuk ke dalam tol.


"Ssssstttt ... belum menikah dilarang tanya honeymoon! Kalau kepengen, susah," timpalku dari bangku belakang.


"Aku memang belum menikah, Sa, tapi kalau hal begituan aku udah khatam. Jangan menganggapku selalu polos," tuturnya yang kubalas dengan tawa.


"Justru itu, Pak. Ha-ha-ha ...." tawaku lepas melupakan Dion yang mungkin saja kembali memendam cemburu.


"Kalian kalau ketemu debat aja kerjaannya, besok biar diundang ke Telinga Najwa, ya?" timpal Dion yang asyik dengan HP di tangannya.


"Habis tuh Pak Aryan, katanya tampan, mapan, rupawan, dermawan, setan ... eh ...kok jomblo. Aku takut dia karatan, Sayang," ejekku tanpa mengenal kata sungkan.


"Tuh, istrimu yang suka kelewatan. Untung kuanggap adik perempuan, kalau tidak udah kupenjarakan," balas Pak Aryan menunjukkan kelapangan hatinya pada Dion.


"Kalian berdua sama aja," balas Dion santai.


Hatiku berbunga karena menang berdebat dengannya. Tak ada kecurangan dan tak ada kecemburuan yang kutangkap dari gelagat suamiku. Tatapan mata Pak Aryan pun mulai terasa biasa di mataku. Mungkin dia mulai memudarkan perasaan cintanya dan menumbuhkan rasa sayang sebagai seorang kakak yang tidak punya saudara perempuan.


*****


"Mas, jangan lupa kasih tip buat Pak sopir yang tampan tapi jomblo, ya," seruku seraya berjalan menuju dapur untuk mengambilkan minum Dion dan Pak Aryan.


"Tenang aja, Yang. Nanti aku kasih tip nomor telepon wanita cantik, dia," balas Dion menimpali ejekanku.


"Kalian berdua sama aja," celetuk Pak Aryan menirukan ucapan Dion di mobil tadi.


Kami bertiga pun terbahak bersama. Menertawakan kejombloan Pak Aryan yang mengenaskan. Memang tidak sopan, tapi dalam pertemanan ini adalah keakraban. Sebenarnya aku tak berniat mengejeknya, ini hanya seru-seruan dan sebuah lecutan agar ia lebih semangat menjemput jodohnya.

__ADS_1


"Selamat mengobrol, ya! Nyonya rumah mau mandi dan istirahat dulu," pamitku setelah meletakkan dua minuman kaleng dingin dan beberapa toples cemilan di meja yang ada dihadapan mereka.


"Selamat beristirahat!" saut Pak Aryan menjawabku sambil meraih minuman kaleng yang baru saja kuambilkan.


*****


Perlahan kukerjapkan mataku. Sekali, dua kali dan sudah beberapa kali. Kutangkap jelas jarum jam yang menunjuk dua angka membentuk pukul 17.30. Rupanya sudah menjelang magrib. Bergerak menggeser tubuh dari ranjang, mendekati nakas dan meneguk segelas air yang tersedia.


"Siapa yang naruh air putih di sini?" pikirku tapi segera teralihkan pada tempat dimana aku tidur.


Baru menyadari jika ini bukan kamarku. Warna dindingnya yang putih, tak seperti kamarku yang bercat biru tosca. Kuedarkan pandanganku dan tak menemukan sebuah globe yang setia berdiri tegar di rak bukuku. Dimana ini?


Tiba-tiba pintu dibuka dari luar. Dion masuk dengan senyum yang menambah ketampanan wajahnya. Dia langsung berjalan ke arahku tanpa ragu. Aku hanya mematung menyaksikan semuanya, seolah sedang dalam mode pause.


"Udah bangun, Sayang?" sapanya hendak mencium keningku tapi segera ku tepis.


Dion mengernyitkan dahi. Nampak kaget dengan reaksiku tapi sebentar kemudian mencubit hidungku pelan. "Lupa kalau kita sudah halal dan tinggal serumah?"


Halal? Serumah? Kutepuk jidatku sendiri hingga mengeluarkan bunyi plak. Baru mengingat jika aku bukanlagi Nona Rosa tapi Nyonya Rosa. Perlahan kuulas senyum canggungku. Merasa sedikit yakin jika omongan Dion tentang otakku yang konslet benar adanya.


"Mandi dulu, Sayang. Sebentar lagi magrib," suruh Dion sambil mengusap rambutku.


"Mas, udah mandi?" tanyaku saat melihatnya duduk di ranjang dan mulai berkutat dengan HPnya.


Dia tolehkan kepalanya padaku seraya mengumbar senyuman. "Masa udah seger begini belum mandi?"


"Jangan menggoda, nanti aku khilaf sebelum waktunya," celetuk Dion yang kubalas dengan senyum salah tingkah.


*****


Begitu selesai makan malam kami bersantai sambil menonton televisi. Mengistirahatkan raga yang lelah setelah menempuh perjalanan panjang London-Jakarta. Bersiap untuk kembali bertarung dengan tumpukan pekerjaan esok hari. Aku duduk menyender di sofa sementara Dion rebahan dengan menjadikan pahaku sebagai bantal.


"Kapan kita ke rumah Mama, Mas?" tanyaku tanpa melupakan sematan kata Mas di depan namanya.


"Tadi aku udah telepon Mama, katanya lagi di luar sama Kristy. Rencananya mereka bakalan mampir sini malahan," jelas Dion sambil memainkan HPnya.


"Benarkah?" tanyaku memastikan mengingat rasa kangenku yang sudah menumpuk dengan mereka.


Ting-tong!


"Mungkin itu mereka," tebakku bahagia.


Segera kuangkat kepala Dion untuk berpindah dari pangkuanku. Beranjak berdiri dan berjalan cepat menuju pintu. Berharap penuh jika yang memencet bel adalah Mama dan Kristy, adikku tersayang. Rasanya aku sudah tak sabar bermanja dengan Mama serta berdebat gak jelas dengan adik cerewetku itu.


"Hai, adik! sapa Pak Aryan yang merangsek masuk begitu saja dengan membawa kotak besar yang dibungkus seperti kado.


Sempat tertegun sebentar, akhirnya aku kembali sadar. Segera menutup pintu dan mengikuti langkah Pak Aryan yang sudah menghilang. Sampai di ruang tamu yang merangkap ruang santai, kutemukan dua lelaki berselisih usia itu sedang serah terima bungkusan yang dibawa Pak Aryan.

__ADS_1


"Kirain buat saya, Pak," celetukku begitu bungkusan besar itu sudah berpindah ke tangan Dion.


"Buat kalian berdua, dong," terang Pak Aryan seraya duduk di single sofa yang berwarna hijau tosca.


Ting-tong!


Sebuah bunyi bel kembali terdengar ketika Pak Aryan baru saja mendudukkan dirinya di sofa.


"Kalian ada tamu penting? Aku pulang aja, kalau begitu," ucap Pak Aryan kemudian.


"Gak usah, Bro. Itu kayaknya Mama sama adikku. Di sini saja sekalian aku kenalin," pinta Dion yang mulai luwes memanggil Pak Aryan dengan sebutan Bro.


"Baiklah, siapa tau jodoh sama adikmu, ya?" kekeh Pak Aryan.


Saat mereka terlibat obrolan penahanan kepergian, aku menyambut kedatangan tamu yang kuperkirakan adalah keluarga intiku. Benar saja, begitu pintu kubuka, menghamburlah Kristy ke dalam pelukanku. "Mbak ... aku kangen!" seru Kristy dengan bahagianya.


"Kalian kayak anak kecil, aja. Kalau ngumpul berantem, sekalinya pisah lebay," terang Mama duluan pergi meninggalkan kami yang masih asyik saling melepas rindu.


"Ayo, kita masuk, dulu!" ajakku begitu kami saling melepaskan pelukan.


Kami pun berjalan beriringan sambil berpegangan tangan. Layaknya sepasang kekasih yang terjebak LDR dan baru bisa berjumpa. Langkah kami terhenti saat melihat pemandangan langka. Mama dikerubuti dua orang lelaki tampan yang bergantian mencium tangannya.


"Ih ... so sweet," pekik Kristy yang membuat Pak Aryan menoleh ke arah kami, melihat Kristy tentunya.


"Kamu, Kristy, ya? Kenalin aku Aryan, kakak sulung kalian," sapa Pak Aryan dengan PDnya.


"Kakak sulung?" tanyaku penasaran darimana silsilah itu bisa terjadi.


"Iya, kan, Ma?" Pak Aryan memastikan sama Mama.


"Panggil Mama, lagi," celetukku gak terima.


"Ayo, duduk dulu!" perintah Mama karena melihat kami terus berbincang sambil berdiri.


"Mulai sekarang, anak Mama bukan hanya Dion, Rosa dan Kristy. Aryan sekarang Mama jadikan kakak sulung Kalian," terang Mama membuktikan kebenaran ucapan Pak Aryan.


"Asyik, dapat dua Mas super tampan," seloroh Kristy yang emang gak bisa nolak pesona lelaki good looking.


"Hati-hati, Kris! Kakak-kakakan begitu kebanyakan modus," lirikku pada Dion yang dibalas senyuman smirk olehnya.


"Terbukti, kan? Perlahan-lahan status akan naik level. Dari abang jadi sayang," goda Dion yang terbukti kebenarannya.


"Ogah aku punya adik ipar, tua," sindirku pada Pak Aryan yang gak mengerti dengan sindiran yang tengah aku mainkan dan Dion.


"Jangan dengarkan pengantin baru yang naik level dari abang jadi sayang, ini. Ayo kita ke ruang makan, Mama bawa banyak makanan," ajak Mama melerai debat kusirku.


Kristy mengikuti langkah Mama seraya bergelayut di lengan Pak Aryan. "Ayo, Mas baruku yang ganteng!"

__ADS_1


Dion pun merangkul pundakku dan menjadi penghuni rumah terakhir yang melangkahkan kaki meninggalkan ruang tamu menuju ruang makan. Suasana keluarga yang riuh ramai dan penuh tawa, bahagia.


__ADS_2