
Maya PoV
"Mas Ren," aku memegang lengan Mas Rendra.
Aku melihat dengan jelas, bagaimana ekspresimu berubah, saat berbalik dari hadapan Mas Rud. Aku menangkap ada butiran-butiran air mata yang mulai terlahir dari ujung matamu.
"Tenanglah, Dion akan menjaga Rosa," Mas Rendra menenangkanku.
"Rud, seharusnya kamu mampu menjaga ucapanmu!" Mas Rendra marah.
"Aku hanya bicara fakta," Mas Rud menjawab santai.
"Itu fakta yang menyakitkan untuk Rosa! kau tau, itu," Mas Rendra menjelaskan.
"ini lebih baik untuknya!" ungkap Mas Rud sambil beranjak pergi.
*****
Dion PoV
Langkah kaki yang berjalan didepanku, tiba-tiba saja terjatuh sempoyongan. Ya ... aku yang membuatnya tergeletak.
"Jangan datang lagi, kalau hanya akan membuatnya menangis!" suaraku terdengar bersamaan dengan sebuah pukulan ke arah wajah lelaki yang tergeletak tersebut.
"Bukankah, itu yang kau katakan padaku?" lelaki itu membuka ingatanku.
"Aku sudah pergi, tapi kalian yang datang!" korbanku membela diri sambil mengayunkan sebuah pukulan balasan ke wajahku.
"Beraninya kau pergi meninggalkan luka padanya!" aku kembali siap meninju, tapi kemudian ku akhirkan pukulanku ke tanah.
"Tanganku ini terlalu berharga! Tak kan ku remukkan hanya untuk lelaki cemen sepertimu!" aku kemudian berdiri.
"Jangan tampakkan lagi mukamu di hadapan Rosa! Atau, jangan salahkan aku, jika kamu akan mengalami lebih dari ini!" ancamku dan pergi meninggalkan korbanku yang meringis menahan sakit.
Terlihat darah mengalir dari kedua sudut bibirnya. Korbanku lantas menghapus noda merah itu dan ikut berjalan pergi meninggalkan latar kesadisan tersebut.
*****
"Dari mana kamu, Di?" aku menangkap emosi Dion yang meluap-luap.
Dia tadi pamit keluar sebentar dari mobil dan setelah 15 menit kemudian kembali lagi masih dengan tatapan mata yang penuh amarah.
"Aku habis menghajar mantanmu itu!" ucap Dion sambil mengacak rambutnya.
"Apa maksud kamu? Untuk apa kamu melakukan itu semua?" tanyaku bertubi-tubi.
"Gak ada yang boleh membuatmu menangis di depanku!" Dion memberikan alasan.
"Tapi kamu gak harus melakukan itu, Di!" aku memegang lengannya berharap bisa sedikit meredam emosinya.
"Aku gak bisa melihatmu menangis!" Dion memposisikan duduknya untuk menghadapku.
Dengan lembutnya, dia menghapus sisa air mata yang masih membasahi pipiku.
"Melihatmu menangis itu, terasa lebih menyakitkan daripada ini!" Dion menunjuk lebam di ujung bibirnya.
"Ini namanya bukan kamu menghajarnya! Tapi kalian duel!" kataku sambil mengambil kotak obat yang ada di mobil Dion.
Perlahan, ku obati luka yang membuatnya tampak mengalami kesakitan itu.
"Gimana keadaan Mas Rud? Parahkah?" aku bertanya sambil mengobati lukanya.
Dion menepis tanganku dan membalikkan tubuhnya ke arah kemudi.
"Sini, aku obatin!" ucapku sambil menyentuh wajahnya.
"Bisa ya, Sa, kamu nanyain keadaannya ke aku?" nada bicara Dion meninggi.
Aku menghentikan kegiatanku untuk mengobatinya.
"Bukan begitu maksudku!" aku memberi alasan.
Dion memalingkan wajahnya ke arah luar jendela di samping kanannya. Nampak dia memandang kejauhan sambil mengulur panjang nafasnya.
"Di, maafin ucapanku tadi! Aku hanya ingin memastikan, kalau kamu gak akan dapet masalah setelah kejadian ini. Bukan karena aku lebih peduli padanya dibandingkan kamu," ku lembutkan suaraku.
Dion menggeser pandangannya lurus ke depan.
"Apakah kamu pikir aku marah karena kamu lebih khawatir keadaannya daripada aku?" Dion menoleh sebentar ke arahku dan kembali ke pandangan lurusnya.
__ADS_1
Aku memasang telingaku untuk mendengar lanjutan penjelasannya.
"Aku sudah biasa terluka karenamu! Tapi aku tak akan bisa, jika kamu terus-terusan terluka karena dia!" Dion menjelaskan.
Jlebb!
Ungkapan perasaan Dion itu benar-benar menghujam tepat di jantung hatiku.
Biasa terluka karenaku?
Kata itu terdengar lebih menyakitkan, dari kalimatnya yang mengatakan aku lagi-lagi menangis karena Mas Rud.
Aku menyenderkan kepalaku di bahu kirinya. Ingin mengungkapkan kata, tapi aku takut malah akan kembali melukainya. Setidaknya dengan begini, Dion bisa merasakan bahwa aku menganggapnya sebagai tempat kembali. Terdengar miris untuknya, tapi itulah yang dia mau.
"Jangan lagi-lagi kau lakukan hal yang akan membuatku seperti ini!" Dion membelai rambutku dengan tangan kanannya.
"Maafkan, aku!" aku mendongakkan kepalaku menatap matanya.
Dion masih menatap lurus ke depan, hanya saja tatapannya mulai teduh.
"Aku tak membutuhkan kata maafmu! Aku hanya butuh senyummu!" Dion menampakkan senyumnya saat menatapku.
Aku mengangguk dan membalas senyumnya.
*****
Perasaan ....
Bertahta manis di ruang hampa yang disebut hati.
Dia tak bermulut, tapi mampu berbicara.
Ssssstttt ....
Dengarkan!
Coba dengarkan, ada sebuah jeritan dari seonggok hati di ujung sana!
Aku sadar engkau menatapku.
Aku tau engkau mengharapkan sebuah senyum dariku.
Tapi ....
Maafkan aku!
Aku tak bisa memberikan maumu, yang sebenarnya juga menjadi mauku.
Aku harus pura-pura bahagia tanpamu.
Aku tau ini begitu menyakitkan.
Aku bukan hanya menyakiti diriku sendiri.
Tapi aku menyakitimu, yang sesungguhnya tak pernah ingin aku sakiti.
Taukah kamu sayang?
Aku harus meredam gejolak yang membuncah dihatiku.
Aku dipaksa mengunci leherku, agar tak bisa memandang bias wajahmu.
Aku harus menikam penglihatanku, agar mata ini tak mampu menemukan mata indahmu.
Ini sungguh-sungguh menyakitiku!
Sayang ....
Aku sangat merindukan manisnya senyum yang menghias bibirmu itu.
Aku selalu memimpikan tawa renyahmu yang dulu bermain di telingaku.
Dan aku benar-benar gila, karena tak bisa lagi kau manjakan dengan kerlingan matamu.
Apa kamu pikir aku baik-baik, saja ketika harus melihatmu bergandengan tangan dengannya memasuki ruangan itu?
Rasanya ingin ku berlari dan merebutmu darinya!
Tapi sayang!
__ADS_1
Aku lemah!
Aku tak mampu melakukan itu!
Kamu pikir apakah aku kuat melihatmu terus-terusan bersamanya?
Apa kamu berpikir aku ikhlas menyerahkanmu kembali padanya?
Sesungguhnya tidak!
Sama sekali tidak!
Aku hanya lelaki rapuh yang harus terus-terusan berpura-pura kuat dihadapanmu!
Hingga aku tak sadar telah melukaimu dengan kata-kataku.
Ku melihat dengan jelas bagaimana kamu bersandiwara menyapaku dengan senyum manismu.
Aku tau hatimu menangis kala itu.
Aku tau,aku pun akan menangis jika waktu semakin lama mendekatkan kita.
Hanya itulah caraku untuk membuat kita tak semakin tersakiti.
Aku melukaimu
Lagi dan lagi
Ku lihat kau berbalik dari hadapanku dengan air mata yang mulai bermanja di sudut matamu.
Aku tau hatimu remuk kala itu!
Dan aku juga merasakan hatiku yang tersayat-sayat.
Aku kembali melukaimu.
Melihatmu terluka dan luka itu diobatinya.
Dia!
Bukan aku!
Aku tak bisa lagi mengendalikan perasaanku.
Ku percepat langkahku meninggalkan situasi ini.
Tapi pukulan itu tiba-tiba menghantam wajahku.
Kata-kata itu membuatku sadar, bahwa dia benar-benar penjagamu.
Dia kembali mengambilmu dariku, karena aku telah membuatmu menangis.
Aku sakit!
Tapi aku bahagia!
Aku lega karena dia akan selalu menjagamu dari kekejaman hatiku
Biarlah aku berdarah-darah!
Berdarah hatiku!
Dan juga berdarah karena pukulan itu
Darah di kedua sudut bibirku ini perih.
Tapi sesungguhnya hatiku lebih perih melihat air mata yang jatuh dari matamu itu.
Dan itu adalah karena aku
Sayang, maafkan aku!
Aku tak bisa menepati janjiku untuk selalu bersamamu!
Tapi, akan ada 1 janjiku padamu yang aku wujudkan suatu hari nanti.
Dan aku harap, kamu akan mengerti semuanya.
Rosalia Citra Atmadja
__ADS_1
Aku mencintaimu!