
Merebahkan diri di kasur, terasa layaknya hadiah me time yang begitu mahal, setelah seharian bergelut dengan pekerjaan dan pulang berteman hujan. Badan boleh rebahan santai, tapi namanya anak milenial tetap saja tangan tak lepas dari HP.
"Grup apa an, nih," gumamku setelah di add masuk grup baru di WA.
Aku serius mantengin grup baru tersebut. Tiba-tiba ada sebuah foto yang muncul dengan bunyi text "Ada yang Terciduk!".
Nampak sepasang kekasih yang sedang berboncengan naik motor dengan begitu romantisnya. Tangan si cewek memeluk mesra perut si cowok. Sedangkan kepalanya dia rebahkan di bahu kiri sang pujaan hati.
"Berasa Dilan dan Milea," WA Maya.
"Dilan dan Milea lewat ini," WA Mas Rendra.
"Mana nih, tersangkanya?" Maya memancing.
"Lagi anget-angetan nih kayaknya!" timpal Mas Rendra.
"Mau dong yang anget-anget!" seru Maya.
Grup baru ulah tangan iseng Mas Rendra itu ramai oleh chat an Maya dan Mas Rendra sendiri. Lebih isengnya lagi, grup itu diberi nama "Gombalan Dilan dan Milea" dengan mengambil fotoku dan Mas Rud tadi sebagai PPnya. Harus seneng atau sebel coba?
"Sayang, jahe angetnya udah diminum belum? Wa Mas Rud.
Aku terbelalak membaca chat mas Rud di grup. Emang nih Mas Rud sengaja mancing kehebohan. Dan benar saja, grup semakin riuh meski hanya dihuni oleh 4 gelintir manusia.
"Sayaaang," goda Mas Rendra.
__ADS_1
"Apa sayang?" jawab Maya menyindirku yang gak muncul-muncul juga di grup.
"Apa kamu perlu aku peluk sayang? biar kamu gak kedinginan." goda Mas Rendra yang semakin menjadi-jadi.
"Mau sayang," Maya membalas godaan mas Rendra dengan tak kalah gilanya.
"Woi ... woi ... ada anak di bawah umur! Jangan main sayang-sayangan di muka umum." Mas Rud muncul.
Aku masih saja menyimak obrolan mereka. Tanpa berniat untuk ikut andil dalam pusaran kegilaan yang mereka ciptakan.
"Mas Rud, Rosa mana kok gak muncul?" tanya Maya.
"Dilan dan Milea sayang! bukan Rud dan Rosa!" Mas Rendra mengingatkan.
"Upsss ... aku lupa sayang!" jawab Maya sambil memajang stiker dirinya sedang menutup mulut.
Lagi-lagi aku masih belum terpikir untuk ikut menghadirkan diri meskipun Maya sudah kelimpungan mencariku.
"Sayang, bangun! Dicari Maya, tuh!" Mas Rud membangunkanku lewat WA.
"Hooaaaamm ...!" balasku.
"Milea ngantuk sayang," jawabku tak sadar ikut gila juga.
"Milea, aku kangen kamu!" goda Mas Rendra yang sok berperan jadi Dilan ... eh mas Rud ... Dilan atau Mas Rud ya?
__ADS_1
"Jangan kangen sayang, itu berat. Kamu gak akan sanggup. Biar aku saja yang kangen!" balas Maya sok-sokan jadi Milea.
"Ini Dilan sama Milea udah ikut emansipasi ya? Bisa ketuker gitu ngegombalnya!" tanya Mas Rud.
"Cinta ini sudah mengubah aku dan kamu menjadi kita. Tak penting siapa yang mengungkap rasa kangen. Yang jelas kangen ini milik kita." Mas Rendra keluarin jurus gombalnya yang nomer 99.
"May, kamu baik-baik aja kan?" tanyaku.
"Emang kenapa?" jawab Maya.
"Aku takut kamu over dosis keseringan denger gombalan Mas Rendra," celetukku.
"Milea ku emang keren, bisa skak mat Rendra si tukang gombal!" tawa Mas Rud penuh ejekan.
"Yang lebih parah gombalnya juga kamu," balas Mas Rendra.
"Kamulah!" balas Mas Rud.
"Kamu!" balas Mas Rendra.
"Kamu!" balas Mas Rud lagi.
"Kamu!" balas Mas Rendra kemudian.
"Stop! Bioskop Dilan dan Milea tutup dulu. Dah jam 23.59," ucapku sambil mematikan "cellular data".
__ADS_1
Kalau aku ikuti terus, kata kamu-kamu itu bisa berakhir besok pagi. Jadi lebih baik ditinggal tidur aja. Selamat Tidur!