
Perasaan yang sempat membuncah akhirnya terpecah setelah kami saling bicara. Mauku yang tak seperti maunya, akhirnya bisa menjadi mau kami. Bukan saling ngotot dengan kemauan masing-masing tapi saling mengendurkan ego hingga akhirnya saling mengerti. Begitulah seharusnya berumah tangga.
Hubungan manis antara Dion dan Rosa dengan segala sikap manis dan saling menggoda telah kembali. Bercanda menunggu malam semakin larut, kami merunut kisah-kisah lalu. Memutar cerita untuk melekatkan cinta agar semakin erat.
"Teleponmu, Mas!" ujarku saat melihat layar benda pintar Dion menyala tanpa suara. Hanya getar yang memberi tahu bahwa ada panggilan yang menunggu untuk segera diangkat.
Aku yang sedang santai menonton televisi, seketika menolehkan pandangan saat Dion beranjak dari duduknya. Berjalan menjauhiku dan seketika terpaku. Rasa penasaran yang menggantung di pikiran membuatku memilih berdiri. Mendekatinya yang menunjukkan raut wajah penuh keterkejutan.
"Aku akan segera ke sana!"
Hanya kalimat itu yang keluar dari mulutnya, sebelum panggilan itu usai. Mengabaikan aku yang menunggu ceritanya, dia melangkahkan kaki menuju kamar. Kuikuti tanpa banyak bertanya karena aku tahu dari raut wajahnya bahwa ada sesuatu yang mengusiknya.
Dia mengambil jaket dan kembali keluar kamar. Menyambar kunci mobil di meja dan berbicara sebentar padaku.
"Aku ke kantor dulu, kamu di rumah saja."
"Ada apa, Mas?" tanyaku penuh rasa penasaran.
Ke kantor malam-malam begini adalah sebuah tanda jika ada sesuatu yang terjadi. Hal yang tak bisa diwakilkan menunjukkan jika kehadiran Dion sangat ditunggu. Apalagi Dion pergi tanpa mengganti pakaiannya. Itu berarti keadaan darurat.
"Kantor kebakaran," ucap singkat Dion sambil mengusap kepalaku dan beranjak pergi.
"Mas, aku ikut!" pintaku sambil mempercepat langkah mengikutinya.
"Kamu di rumah saja, angin malam tidak baik untuk ibu hamil, Sayang. Doakan yang terbaik," pinta Dion sambil mengulur senyum, memberiku ketenangan.
Sebenarnya aku ingin memaksa tapi mendengar nasihat Dion, niat ini kuurungkan. Aku hanya berpesan agar dia berhati-hati. Kuiringi kepergiannya dengan doa semoga dia tetap fokus berkendara meskipun pikirannya sedang berkecamuk. Dalam kebingungan, yang bisa kuandalkan hanya tetangga depan, Pak Aryan.
__ADS_1
Segera kupencet bel apartemennya. Tak berselang lama ia keluar dan nampak penasaran mendapati wajahku diserbu rasa cemas. Pertanyaan pertanyaannya tentu saja mencari tahu apa yang terjadi. Kujawab gamblang dan ia memberiku rasa tenang dengan kalimat penguatan.
"Mau masuk?" tawarnya yang segera kutolak dengan gelengan.
"Kalau begitu, masuklah. Jangan cemas, kalau ada apa-apa telepon aku!" perintah Pak Aryan yang memintaku untuk kembali ke apartemen.
Aku kembali ke apartemen dengan hati gundah. Kecemasan bukannya berkurang malah semakin menjadi. Pikiranku dipenuhi oleh Dion. Bagaimana reaksinya melihat hasil kerja kerasnya diserang api yang berkobar? Lantas separah apa kebakarannya?
Banyak tanya mengganggu pikiranku. Apakah benar keputusanku untuk tetap di sini? Bukankah seharusnya aku memberinya semangat dari dekat? Apakah aku harus menyusulnya? Ya ... lebih baik aku berangkat sekarang. Daripada galau menanti bukankah lebih baik aku menyaksikan sendiri?
Segera ku cari baju hangatku dan menyandang tas selempang. Mencari pertolongan dari seseorang yang tadi menawarkan bantuan. Kupencet bel apartemennya, menunggu si empunya keluar dengan perasaan gelisah. Rasanya aku ingin cepat-cepat menemui Dionku.
"Mau menyusul?" tanya Pak Aryan begitu melihatku memakai tas.
"Bisa anterin, kan?" ucapku bukan dengan kalimat meminta tapi memaksa.
Tanpa mengganti pakaian, aku dan Pak Aryan pergi begitu saja. Aku dengan dress selutut dan jaket, sementara Pak Aryan hanya memakai celana pendek dan kaos oblongnya. Demi segera menyusul Dion kami mengabaikan udara malam yang tak baik untuk kesehatan.
"Apa kamu gak kedinginan hanya memakai rok pendek?" tanya Pak Aryan begitu kami memulai perjalanan.
"Semoga saja tidak. Aku terburu-buru. Bapak juga hanya pakai celana pendek," balasku masih dengan menggenggan benda pintar di tangan.
"Jangan khawatirkan aku. Kamu sedang hamil, seharusnya kamu menunggu seperti apa yang diperintahkan suamimu," nasihat Pak Aryan sambil fokus dengan kecepatannya.
"Kalau Bapak terus mengomel, aku bakalan turun dan cari taksi saja," ancamku menatap tajam ke arahnya.
"Justru karena aku tahu kamu keras kepala, makanya aku buru-buru mengantarmu. Model wanita sepertimu bakalan nekat kalau ditolak, benarkan?" ujar Pak Aryan dalam sindiran.
__ADS_1
"Hm."
Sambil mengobrol aku berusaha menelepon Dion. Namun tak sekalipun panggilanku dijawabnya. Berdoa, hanya itu yang bisa menenangkanku saat ini. Semoga suamiku dapat menguasai perasaannya. Tetap kuat dan sabar dengan musibah yang datang.
"Pak, cepetan dong!" seruku dalam mode perintah.
"Katanya mau menguatkan, tapi kamunya aja gak tenang. Mau bikin pikiran suamimu bercabang? Kalau kamu gak bisa menguasai diri, aku puter balik ini," terang Pak Aryan, menasihati sekaligus mengancam.
Akhirnya aku memilih diam. Dalam hati tetap diserang berbagai pertanyaan meskipun mulut tak sedetik pun membuka. Segala pikiran negatif berkecamuk. Kekhawatiran yang diakibatkan oleh pikiran yang terus menerka-nerka. Bagaimana? Apakah? Bilamana? Mengapa? Pertanyaan itu terus saja mengganggu.
Saat mendekati lokasi, pikiranku semakin kacau. Ramai lalu-lalang orang dan puluhan mobil pemadam kebakaran sedang berusaha menjinakkan api membuat otot-ototku melunglai. Ini bukan pertanda baik. Sepertinya api yang berkobar bukan menyerbu dalam pasukan besar. Semoga saja tidak! Lalu ....
Di mana suamiku?
Masih dari dalam mobil aku berusaha mencari keberadaan Dion. Tengok kanan-kiri, mencari diantara kerumunan orang dan bahkan di tempat yang di luar nalar semua aku sasar. Setelah menemukan tempat parkir aku sudah tidak sabar untuk keluar. Rasanya ingin berlari dan berteriak memanggil Dion. Namun Pak Aryan menahanku.
"Jangan memisahkan diri dariku! Aku bertanggung jawab atasmu pada suamimu," ingat Pak Aryan.
Kuturuti perintahnya. Aku baru keluar saat dia juga siap keluar. Mengekor di belakangnya yang mencari jalan, aku celingak-celinguk mencari Keberadaan Dion. Nihil. Mataku tak dapat menemukannya. Terus kuikuti Pak Aryan yang sesekali bertanya pada orang yang ditemuinya. Menanyakan keberadaan pemilik gedung yang sedang terbakar. Berkali-kali ia mendapatkan jawaban mengecewakan, tapi tak juga menyurutkan niat untuk terus mencari jawaban.
Hingga tak sengaja mataku menemukan lelaki yang tengah duduk di bawah pohon palem. Postur dan pakaian yang dikenakannya sama. Celana panjang dan jaket hitam. Ya ... aku yakin itu adalah Dion.
"Pak, di sana!" seruku pada Pak Aryan yang segera kutinggalkan. Berjalan cepat ke arah di mana sosok yang kucari telah kutemukan. Melupakan jika aku tak lagi bernapas untuk diri sendiri. Hingga tanganku ditarik oleh Pak Aryan yang mengingatkan.
"Jangan berlari!"
Kupelankan sedikit langkahku. Menjaga agar calon baby lucu yang sedang berproses di dalam sana tetap terjaga keamanan dan kenyamannya.
__ADS_1
"Mas," panggilku saat sudah berdiri tak jauh dari lelaki yang duduk dalam diamnya itu.