Tentang Hati

Tentang Hati
Tak Bisa Lagi Saling Membohongi


__ADS_3

Dion PoV


Perang dingin antara kita tak kusangka bisa separah ini. Korban kekejaman keegoisan dua hati, aku dan juga dirimu, rasanya sudah masuk kategori parah dan mungkin tak terselamatkan. Aku memang yang mengawali, berharap engkau bisa mengerti apa yang sebenarnya ku inginkan. Melupakannya, membuang semua sisa rasa yang masih berlabel namanya. Namun mengapa pada akhirnya justru aku yang ingin kamu lupakan.


Hatiku sebenarnya sudah tidak kuat lagi menahan sesak. Ingin aku berteriak, bahwasanya aku mencabut kembali kata putus yang sempat aku tawarkan dan kau beli dengan harga tinggi, penyesalanku. Namun entah mengapa keegoisanku memenangkan perlawanan dari hati kecilku yang ingin segera menghentikan ini.


Sakit, rasanya terlampau sakit melihatmu pamit. Ingin kumerengkuhmu dalam pelukanku dan menyentuhkan bibirku pada bibirmu agar kau tak lagi mengucapkan kata itu lagi. Sungguh, aku benci mendengarnya.


"Rosa masuk tuh, kejar sana!" perintah Rendra yang masih juga ragu untuk kulakukan.


Aku masih memaku, tak jua beranjak dari dudukku. Masih bingung, apa yang akan ku katakan jika aku menemuimu. Seakan kata-kata yang biasa aku lontarkan padamu itu, lenyap begitu saja. Kecanggungan meraja di hatiku.


"Udahlah, gak usah sok kuat! Kami semua tahu kamu itu "mendem roso"," celetuk Om Septian yang kuakui kebenarannya.


"Ayo, kita bubar, aja! Ada yang menolak rapuh," seloroh Rendra seraya berdiri dan meninggalkan duduknya.


"Sayang, ayo kita masuk kamar, aja! Siapa tau menginspirasi," sindir Rendra sambil mengulurkan tangannya dan disambut oleh Maya. Mereka pun memilih pulang.


Tinggal aku dan Om Rendra di sini.


"Masuklah!" perintah Om Septian untuk kesekian kalinya.


"Apa yang memicu kemarahanmu padanya? Rud? Kesalahan fatal apa yang mereka lakukan sampai bisa membuatmu menyerah?" cerca Om Septian begitu aku tak kunjung menuruti perintahnya.


Kesalahan kalian? Cinta yang tak berujung, itulah kesalahan yang sebenarnya tak bisa kusalahkan. Karena cinta tak pernah salah, hanya saja ia datang pada saat yang tidak tepat.


"Berselingkuh di belakangmu?" tanya Om Septian lagi.


"Tidak, Rosa dan Rud bahkan mengakui sendiri perasaannya di hadapanku," jelasku.


"Selingkuh?" selidiknya lagi.


Kudongakkan kepalaku menatap langit. "Belum bisa saling melupakan."


Om Septian membuang napas kasar. "Itu bukan alasan untuk berpisah, masuk sana! Perlu aku antarkan?" papar Om Septian kemudian.


Akhirnya aku ringankan langkah untuk menemuimu. Berjalan perlahan dan berhenti ketika sampai di depan pintu kamarmu. Kuketuk tiga kali tapi tak ada jawaban. Apakah kamu enggan atau sudah tertidur?


"Sa, bisa kita bicara sebentar? Bolehlah aku masuk?" benar-benar kubuang keegoisanku.


Aku takut, takut jika penyesalanku datang saat kamu sudah pergi. Penyesalan yang sama dengan yang dirasakan oleh Rud.


Belum ada juga jawaban darimu. "Aku masuk, ya." Ku coba untuk memutar handel pintu dan terkunci. Ternyata kebiasaanmu mengunci pintu ketika berada di kamar, kamu terapkan di sini juga.


Mencari kunci cadangan di laci meja televisi. Memilih satu yang kuyakin itu adalah kunci kamarmu. Bergegas kembali dan memasukkan ke lubang yang ada di pintu kamarmu. Pas. Setelah ku putar sekali, terbukalah kuncinya dan ku tarik handel itu lagi


Ceklek!


Dapat kulihat, wajahmu yang sedang terlelap. Binar ayu pada wajahmu yang biasanya terpancar kini nampak sendu. Sisa airmata yang telah berulangkali kamu tumpahkan membuat matamu sembab. Perlahan kulangkahkan kakiku mendekatimu. Samar-samar kudengar kamu mengigau menyebut namaku. Sekali, dua kali dan menjadi berkali-kali.

__ADS_1


Hatiku rasanya bergetar mendengar panggilanmu. Apakah kehadiranku sudah merangsek masuk bahkan sampai ke alam bawah sadarmu. Apakah aku sudah salah menuduhmu? Apakah sekarang aku menjadi seseorang yang sangat penting bagimu?


"Di," lagi-lagi kamu memanggilku.


Kududukkan diriku di tepi ranjangmu. Mengelus lembut pipimu dan kurasakan jika suhu badanmu di atas suhu normal, panas. Kupastikan sekali lagi dengan menyentuh keningmu, benar, kamu demam. Segera ku mencari termometer di kotak P3K, dan kembali untuk mengukur suhu tubuhmu. Beberapa waktu berlalu dan berbunyilah alat itu. Angkanya menunjukkan 38,9 derajat celcius.


Kulepaskan jaket yang masih melekat di tubuhmu. Setipis mungkin adalah pakaian yang paling tepat ketika seseorang sedang dilanda demam. Kuselimuti dengan kain batik tipis, dan meninggalkanmu sejenak.


Menuju dapur menyiapkan air hangat untuk mengompres tubuhmu. "Apakah aku sudah salah menyuruhmu meninggalkanku?"


Kusiapkan sebuah wadah untuk menaruh air hangat yang baru saja kusesuaikan suhunya untuk mengompresmu. Sebuah handuk kecil kuambil untuk menyeka tubuhmu.


Sepanjang jalan menuju kamar, pikiranku diliputi berbagai pertanyaan. Mengapa aku tak bisa benar-benar meninggalkanmu? Pergi bukan solusi tapi malah menambah perih. Mungkin banyak orang mengataiku bodoh, untuk apa bertahan dengan wanita yang masih bertahan pada hati yang lain. Namun, ini tentang hati. Hati tidak peduli kata disakiti atau menyakiti tapi hati ada untuk dicintai ataupun mencintai.


"Di," igaumu lagi.


Kuletakkan handuk yang sudah kubasahi air hangat dikeningmu. Erat kugenggam jemarimu, bertaut dengan jemariku. Mengusap pipimu dengan lembut. "Apakah aku yang telah membuatmu sakit?"


"Aku ingin membahagiakanmu, tapi nyatanya malah kita berdua tidak bahagia."


Kurasakan tanganmu bergerak, mengeratkan genggaman pada jemariku.


"Sembuhlah dan kita akan bahagia bersama," ucapku seraya mengecup punggung tanganmu yang berada dalam genggamanku.


*****


Terbangun pada dini hari, membuat mataku harus memicing karena lampu kamarku masih menyala. Rasanya tadi sudah kumatikan. Tiba-tiba mataku menemukan seseorang yang tengah terlelap sedang duduk menyender di kursi samping ranjangku.


Kurasakan sesuatu yang menempel di dahiku, handuk basah. Baru kurasakan jika tubuhku sedang tak baik, suhu tubuhku lebih tinggi daripada biasanya. Sepertinya aku demam dan dia yang mengompresku hingga tertidur .


"Aku mencintaimu, Sayang," ucapku seraya mengeratkan genggaman jemariku.


Kutatap lelaki di hadapanku ini. Perasaan yang tadi sudah ikhlas untuk kulepaskan, sekarang menjadi tak ingin aku biarkan pergi. Aku ingin setiap aku membuka mata yang kulihat adalah kamu.


Tunggu!


Kenapa telapak tangannya terasa lebih hangat. Apakah ini karena aku yang sakit ataukah dia ketularan sakit?


Perlahan kupaksa tubuhku untuk duduk. Suhu tubuhku, rasanya sudah menurun. Aku memutar pandangan dan menemukan sebuah termometer yang berada di atas nakas. Segera kuambil dan kuselipkan di ketiaknya.


"Di, aku merindukan senyummu."


Sebuah rengkuhan menarik pinggangku dan membawa ke dalam sebuah pelukan. Aku terjatuh ke pangkuannya, Dion.


"Aku lebih merindukanmu, Sayang," akunya setengah berbisik, menguarkan hawa panas dari dalam mulutnya.


"Badanmu panas, berbaringlah aku akan mengompresmu," ucapku setelah termometer yang tadi kuselipkan di ketiaknya berbunyi, kini kuamati hasil ukurnya.


"Skin to skin?" ucapnya yang harus kutanggapi dengan mengerutkan kening.

__ADS_1


"Biasanya kalau bayi panas solusinya adalah skin to skin dengan ibunya. Saling berpelukk ...," bibirnya kusambar dengan bibirku, sebuah kecupan kecil mendarat untuk menghentikan ide gilanya.


"Aku bukan ibumu, aku calon ibu dari anak-anakmu," ucapku sambil menatap manik matanya.


Senyum yang kurindukan itu akhirnya dapat kunikmati kembali. Bahagia ini rasanya tak bisa kubendung lagi. Sudah lupa pada janji untuk meninggalkannya berganti rasa untuk selalu ada di sisinya. Dia bahagiaku.


"Besok, kita menikah, ya?" pintanya manja seraya merapikan rambutku ke belakang punggungku.


"Aku mau tapi readersmu banyak yang tidak merelakan kamu bahagia bersamaku," ucapku sambil menunduk. "Aku plin-plan, aku terlalu sering menyakitimu, aku tidak pantas untukmu."


"Hatiku adalah milikku. Tak ada yang berhak mengaturnya. Aku yang tahu mana yang terbaik untukku. Mendiamkanmu selama beberapa hari ini, aku merasa sangat tersakiti. Readersku, mereka menyanyangiku, ingin aku bahagia. Namun mereka lupa, bahwa bahagiaku adalah kamu, sejak sepuluh tahun lalu bahkan sampai sekarang saat kita saling menyakiti."


Dion menatapku lembut dan menyunggingkan senyumnya. Aku bahagia, begitu bahagia dan mungkin aku jadi manusia yang paling bahagia detik ini. Kutemukan Dion, lelakiku yang penuh cinta.


"Taukah kamu, Sayang? Keputusan kita untuk mengakhiri hubungan ini, selain aku kehilanganmu, aku juga terancam kehilangan readersku. Mereka itu bar-bar sekali, Sayang, mereka mengancam akan membuangmu ke laut," terang Dion seraya mengubah posisiku untuk duduk membelakanginya. Memeluk erat pinggangku dan menyenderkan kepalanya di ceruk leherku.


Aku menoleh ke arahnya. "Apakah mereka itu Linanda Anggen dan Tya Gunawan?"


"Tentu saja itu mereka, Sahabat author kita, Aldekha Depe. Kita adalah role model pasangan bucin tahun 2020 ini, Sayang. Mereka tidak rela kalau kita berpisah begitu saja."


"Aku tahu, mereka berdua itu wanita-wanita modus, Sayang. Mereka menginginkan kita bersatu karena ada udang dibalik bakwan," tandasku.


"Benarkah? Jadi, kita balikan sekarang?" tanya Dion kemudian.


Kuhilangkan senyumku dan menggeleng. Menundukkan kepala, mengingat semua kalimat dari orang-orang yang menyudutkanku. Bahwa aku tak punya hati, membiarkanmu berjuang sendirian untuk hubungan ini. Aku hanya sibuk mengurusi hatiku untuk Mas Rud dan tak melihat ketulusanmu selama ini.


"Cinta ini milik kita, Sayang. Orang lain tidak berhak menghakimi. Aku mencintaimu, teramat mencintaimu. Yang aku mau adalah dirimu, hanya kamu," ungkap Dion yang tak bisa kusangkal jika itu memang yang ingin kudengarkan.


Aku tak ingin meyakinkannya dengan kata-kata. Tak ingin terus-terusan berjanji jika pada akhirnya aku selalu mengingkarinya. "Kali ini, biarkan aku melakukan ini!" pintaku seraya memutar tubuhku dan segera memangkas jarak yang ada.


Kutautkan bibirku pada bibirnya yang sudah lama ingin kunikmati. Menyentuh benda kenyal itu dan menyesapnya dengan lembut. Perlahan kugiring dia untuk membuka mulutnya dan bermain penuh gejolak rasa disana. Menyapu inci demi inci dengan lembut yang kemudian semakin menuntut seiring dengan detak jantung yang kian terpacu.


Ci*man yang awalnya hanya siratan kasih sayang yang ingin tersalurkan itu berubah menjadi pag*tan dan lum*tan yang penuh ga*rah. Seolah ada gejolak cinta yang hanya bisa terungkap lewat n*fsu yang membara.


Napas yang mulai tersengal pun seolah kuabaikan karena tidak ingin semuanya berakhir.


"Aku mencintaimu," ucapku masih dengan bibir yang saling menautkan diri.


Akhirnya terpaksa rasa yang membara itu kami hentikan saat pasokan oksigen mulai menipis. Kumemeluknya erat, menyandarkan tubuhku padanya, mencari kehangatan untuk perasaanku dan juga tubuhku yang merindukan hangat perhatiannya. Dion mengecup puncak kepalaku dengan lembut.


"Tak usah lagi kita membohongi diri, karena sebenarnya cinta itu sudah mengakar kuat di hati kita."


*****


Jangan bercanda masalah hati, ya! Apalagi saling membohongi perasaan. Takutnya nanti terjebak cinta yang rumit. Kacau kan?


Yang selalu merasa up Tentang Hati kurang banyak, coba mampir novel teman author ini.


Seruuu!

__ADS_1



__ADS_2