Tentang Hati

Tentang Hati
Kembali Mengusikku


__ADS_3

Malam Sabtu arus lalu lintas lebih padat dibandingkan hari biasanya. Beranjak dari kantor pukul 17.00 tapi baru bisa sampai rumah sekitar pukul 18.30


"Mampir dulu mas," ajakku.


"Gak malam ini, ya! Aku ada janji makan malam sama Ibu," tolak halusnya Mas Rud.


"Baiklah, salam buat Ibu, ya!" kataku.


"Iya, nanti Mas sampein, dapet salam dari calon mantunya," goda Mas Rud sambil tersenyum.


"Tanya sama Ibu, Mas, kapan aku dilamar?" celetukku.


"Sabar," pinta Mas Rud sambil membelai rambutku.


"Ya udah ayo turun! Aku mau laporan sama mama kalau udah nganter anaknya dengan selamet," ucap Mas Rud.


"Cieee ... mama!" godaku.


Mas Rud hanya tersenyum. Belum sempat mengetuk pintu, justru mama mengagetkan kami dari belakang.


"Baru pulang?" tanya Mama.


"Iya tante..," jawab Mas Rud.

__ADS_1


"Ayo, masuk dulu," tawar Mama.


"Maaf tante, saya ada janji sama Ibu! Jadi harus segera pulang," jawab Mas Rud sopan.


"Baiklah, kalau begitu! Salam untuk Ibumu!


Ini ada kue, kamu bawa pulang ya!" ucap Mama sambil menyerahkan kue yang dibawanya.


*****


Aku menghamburkan diri ke sofa ruang keluarga. Mengambil remot dan mencari stasiun TV yang menyiarkan siaran langsung favoritku "Sepakbola".


"Gak mandi dulu?" tanya Mama sambil duduk di sebelahku.


"Sa, Ardi baru pulang dari Singapura?" Mama mulai pembicaraan serius.


Perasaanku mulai gak enak. Penyebutan nama Ardi di depanku, alamat akan mengarah pada pembicaraan yang paling aku benci "PERJODOHAN".


Yaa ... Ardi itu adalah kandidat lelaki yang kekeh mau dijodohkan denganku. Mereka yang berambisi itu adalah keluarga eyang dari mama. Mereka sudah punya niatan itu sejak aku masih di semester 6. Meskipun udah langsung aku tolak, tapi mereka gak jera juga.


Berbagai alasan sudah mereka katakan untuk membujukku. Mulai dari yang bilang dia tampan rupawan, baik hati, suka menabung dan yang paling jelas dari keluarga ningrat. Tapi bukan aku namanya kalau sampai menerima perjodohan itu. Cinta itu TENTANG HATI. Itu prinsip yang gak akan bisa diruntuhkan oleh siapapun. Termasuk anak sultan yang tampan sedunia akhirat.


Setahun berlalu semenjak kepergian dia ke Singapura untuk mengurus bisnisnya, aku pikir perjodohan itu juga sudah the end. Tapi siapa sangka dia balik lagi? Dan menilik dari ucapan mama, gak salah lagi kalau dia akan kembali mengusikku dengan perjodohan yang menyebalkan itu.

__ADS_1


"Sa," panggil Mama lagi.


Aku lebih baik diam, tak berniat menjawab pertanyaan mama. Aku yakin pasti ujung-ujungnya berantem kalau aku membahas Ardi.


"Ya biarin aja dia pulang, Ma! Kan rumahnya emang disini," kataku.


"Aku mandi dulu ya, Ma!" ucapku sambil pergi meninggalkan mama.


*****


"Bu, ini ada kue dari mamanya Rosa!" Mas Rud meletakkan kue di meja makan.


"Bilang terimakasih ya! Gimana kabar mereka? tanya Ibu.


"Alhamdulillah sehat Bu! Tadi mereka kirim salam buat ibu!" Mas Rud menyampaikan.


"Wa'alaikumsalam," jawab Ibu.


"Ayo makan," ayah yang baru datang langsung duduk di meja makan.


Mas Rud dan Ibu segera mengikuti ayah duduk. Makan malam pun berlalu saat soto, makanan kesukaan Mas Rud sudah 2x finish diperut Mas Rud.


"Ardi sudah pulang?" ucap ayah mengawali.

__ADS_1


Mimik muka Mas Rud nampak sedikit berubah. Ibu yang melihat itu segera menyodorkan segelas air putih pada mas Rud. Nampaknya ibu tau apa yang sedang bermain dalam pikiran putranya. Tak jauh berbeda, sang ayah sebenarnya juga tau apa yang terjadi. Hanya saja semuanya canggung untuk membahas masalah ini secara terbuka. Akan ada hati yang terluka, dan itu entah siapa yang akan menanggungnya?


__ADS_2