
Paginya sepasang pengantin di dunia novel yang sering kubaca itu, sepertinya memang sekadar kehaluan tingkat dewa dari seorang author. Kekagetan seorang wanita yang baru mendapatkan gelar baru sebagai seorang istri ketika bangun tidur dengan dekapan tangan kokoh yang melingkar di perutnya, itu masih mungkin terjadi di dunia nyata. Memandang wajah lelaki yang menghabiskan malam seranjang dengannya, memainkan tangannya, menyentuh wajah menggemaskan yang tengah tertidur kemudian tiba-tiba membuka mata, itu juga sudah terbaca. Apalagi dengan stempel kemerahan yang tersebar dimana-mana, itu hampir ada di semua novel yang menceritakan malam pertama. Dan satu lagi yang tak ketinggalan adalah morning kiss.
Satu hal yang paling berlebihan adalah si wanita yang merasakan sakit di bagian bawah tubuhnya karena merasakan sensasi rasa malam pertama. Permainan bar-bar sang suami yang kuat beronde-ronde dengan berbagai gaya, akan membuat kaki yang awalnya kuat mendaki gunung merapi tempat Mak Lampir merawat Grandong cucunya bahkan berenang menjemput putri duyung cantik yang berasal dari " The Legend of Blue Sea" itu menjadi rapuh seketika, itu terlalu berlebihan. Mungkin ada tapi tidak semua.
Seperti pagi pertamaku setelah menyandang status sebagai istri dari seorang Dion Wijaya. Ketika membuka mata yang kupikirkan pertama adalah mencari HPku. Kebiasaan sewaktu masih sendiri rupanya masih membekas pagi ini. Kemarin aku masih melakukannya dan pagi ini juga. Namun, niatanku terhalang oleh tangan kokoh yang memelukku dari belakang.
Pagi yang kurasa nyata ternyata kembali ke dunia novel juga. Aku terkungkung dalam pelukan hangat yang membuatku nyaman sekaligus berdebar. Guling yang kudekap, biasanya diam. Kini aku yang diam karena guling bernapas yang membuat hasratku menguat.
Entah kenapa aku menjadi sangat mesum ketika berada di dekatnya. Aku seperti kehausan, mendamba sentuhannya. Mengapa aku berhasrat sendiri?
Perlahan ku pindahkan tangannya dari lingkar perutku. Membalikkan badan dan menemukannya yang tengah tersenyum. Ah ....
"Berharap lebih, ya?" tanyanya seraya membelai rambutku.
"Gak," bohongku seraya berusaha melepaskan diri dari hadapannya.
Sejujurnya aku memang berharap lebih.
"Istriku yang cantik, senyum, dong!" rayunya sambil mencium keningku.
"Punya istri cantik, kok, dianggurin?" sungutku kesal.
Dion kembali tersenyum manis. "Dianggurin untuk diapelin."
"Aku gak ngerti,"
"Kamu akan kelelahan kalau semalam kita belah nangka," alasan Dion dengan gaya lawakannya.
"Duren, kali!" aku membetulkan istilah yang ia pakai.
"Emang kamu durian?" guraunya semakin menyebalkan.
"Aku Rosalia Citra Atmadja," lantangku menyebutkan nama panjangku.
"Istri Dion Wijaya yang tercinta," balasnya membuat amarahku sedikit meluruh.
Siapa sih, wanita yang gak seneng dipuja? Jawabannya adalah gak ada. Semua wanita itu haus akan pujian dari mulut manis lelaki, meskipun itu bohong. Setidaknya ketidakjujurannya itu membahagiakan.
"Sayang, mau, gak?" tawar Dion tanpa menyebutkan barangnya.
Kukernyitkan dahiku. "Apa?"
"Aku, menikmati tubuhku?" terangnya kemudian.
"Mas Dionku tersayang, aku mau ... mau salat subuh, dulu," godaku berbisik manja di telinga kanannya.
__ADS_1
Tanpa aba-aba Dion membuatku terlent*ng dan dia berada di atasku tubuhku. Menjadikan kedua lengannya sebagai penopang tubuh agar tidak menghimpitku. Perlahan mendekatkan wajahnya dan semakin memangkas jarak diantara kami. Memiringkan kepalanya dan menyasar telingaku. "Aku yang akan duluan ke kamar mandi."
Aseeeem!
Aku terperangkap PHPnya untuk kali kedua. Sengaja membuatku melayang tapi kemudian dihempaskan, terjerembab dan terjungkal. Sakit yang berlapis.
"Enak, aja! Ladies first," aku segera bangkit dan berlari ke kamar mandi.
"Wleee ....," gayaku menjulurkan lidah padanya seperti anak kecil yang sedang mengejek temannya.
"Kamu berani, ya? Sini aku tangkap!" kejar Dion bak adegan film india, saling kejar-kejaran dan berakhir dengan gelitikan manja membabi buta.
"Udah-udah-udah,aku nyerah!" jujurku, bukan sebuah taktik menyerah untuk kembali menyerang seperti yang ada di serial televisi.
Dion tak berhenti dengan serangannya menggunakan jurus gelitik kanan kiri di perutku. "Aku tak akan tertipu, Sayang."
"Ini bukan tipuan, aku emang gak kuat kalau digelitikin, apalagi lama begini,"jelasku dengan muka memelas, tak kuat lagi menahan geli.
Dion menghentikan aksinya setelah aku terlihat lemah di penglihatannya. Tak lagi punya tenaga untuk sekadar berteriak kegelian lagi. "Kamu, gak apa-apa, Sayang?"
Aku hanya menggeleng. "Kamu aja yang duluan ke kamar mandi, aku mau ngatur napas, dulu!"
Cup!
Aku memaku dan mungkin akan membatu jika setiap hari diperlakukan seperti ini. Manis yang pas porsi, aman dari diabetes dan tetap syar'i. Bibirku mengembangkan senyum sempurna, dicintai itu indah apalagi kita juga mencintainya. Saling cinta dalam bingkai suci pernikahan adalah jawaban dari hatiku yang kemarin sempat dihampiri keraguan.
Sekarang, aku bahagia, teramat bahagia, Menjadi Ny. Dion Wijaya.
*****
Setelah selesai salat subuh, aku mengajak Dion untuk menikmati kesegaran udara pagi. Berjalan santai di sekitar rumah dan kemudian beristirahat di taman utama yang dihiasi suara gemericik dari air mancur buatan. Kicauan burung-burung yang bertengger di ranting pepohonan membuat suasana semakin mendamaikan, penuh ketenangan.
"Pengantin baru, kok udah di sini?" sapa Om Septian yang sudah rapi dengan setelan baju olahraganya.
"Emang harusnya dimana, Om?" celetuk Dion.
"Di bawah selimut tebal," jawab Om Septian seraya terkekeh dan segera berlalu dari hadapan kami.
"Pengantin baru, kok udah di sini?" tanya Ayah Mas Rendra yang datang dari arah perginya Om Septian.
"Emang harusnya dimana, Ayah?" tanya Dion mengulang pertanyaan yang tadi dia sampaikan pada Om Septian.
"Di kamar, dong. Lihat tuh, Rendra dan Maya, masih belum keluar juga," papar Ayah sambil mengarahkan pandangannya pada kamar Rendra yang jendelanya masih belum dibuka, menandakan sang penghuni yang belum terbangun.
"Mereka kejar setoran, Yah," jawab Dion enteng.
__ADS_1
"Kamu seharusnya juga begitu," timpal Ayah dengan senyum smirknya dan segera berlalu juga, berjalan menuju kediaman Eyang.
"Sebentar lagi siapa yang datang dengan pertanyaan yang sama, ya, Di?" tanyaku sambil menengok ke kanan dan kiri.
"Pak polisi," balas Dion singkat.
Pikiranku belum bisa menebak mengapa Dion memberikan jawaban itu. "Kok, polisi?"
"Mau menangkapmu karena lupa memanggil suamimu tanpa Mas," gerutu Dion dengan mengerucutkan bibirnya.
"Kamu mau aku panggil Mas atau mau minta cium sih? Kenapa bibirnya kayak gitu?" godaku.
"Dua-duanya, sini cium!" perintah Dion seraya semakin mengerucutkan bibirnya.
"Pengantin baru, kok udah di sini?" sapa orang ketiga yang melontarkan pertanyaan yang sama.
Kami pun kompak menoleh ke arah orang tersebut yang tak lain adalah Mami.
"Ini mau bergumul di bawah kasur tebal untuk kejar setoran, Mi," jawab Dion menggandeng tanganku dan berjalan meninggalkan Mami.
"Produksi masal sekalian, ya!" teriak Mami yang diacungi jempol oleh Dion.
Aku pun hanya bisa bersikap cuek. Perlahan mulai terbiasa dengan segala keterbukaan keluarga ini dalam hal berbicara. Hal yang tabu diluaran sana, di sini hanya akan menjadi candaan biasa.
"Pengantin baru, kok ...?" sapa Mama begitu kami memasuki rumah yang langsung kupotong dengan penjelasan.
"Ini mau bergumul di bawah kasur tebal untuk kejar setoran, Ma," jelasku seperti yang barusan Dion katakan pada Mami.
Mama mengernyitkan dahi mendengar jawabanku. Namun kemudian hanya menggelengkan kepala melihat aku dan Dion sama-sama saling pandang dan tersenyum canggung. "Jam berapa kalian berangkat?"
"Habis sarapan, Ma. Pesawat kami take off jam sembilan," terang Dion.
"Kamu bawa kunci rumah, kan, Sa?" Nanti kalian mau nginep di rumah Mama, kan?" Mama menelisik jawabanku.
"Kayaknya, tinggal di apartemen Dion, deh, Ma. Lebih deket dari bandara soalnya," papar Dion yang kemudian aku timpali.
"Rosa ambil baju dulu ke rumah nanti, Ma."
"Mama masih sering lupa kalau kamu udah menikah, Nak. Meskipun tinggal di apartemen suamimu, sering-seringlah pulang, rumah Mama tetap rumahmu, tidak ada yang berubah," ucap Mama mulai mengalirkan airmata.
Segera kumerangsek ke dalam pelukan Mama. "Aku tetap anak Mama dan rumah itu tetap rumahku, Ma. Tidak akan ada yang berubah."
"Rosa menikah, bukan berarti Mama kehilangan anak, tapi Mama justru mendapatkan anak lagi," terang Dion kemudian.
Gurauan itu akhirnya berubah menjadi keharuan. Bagaimanapun orang tua akan selalu menganggap anaknya adalah anak kecil, walaupun ia sudah menikah dan bahkan sudah memiliki anak.
__ADS_1