
Satu jam menjelang tengah malam, kami bertiga masih tetap bersama. Dion masih sibuk dengan penjualan apartemen sementara aku dan Pak Aryan setia menjadi teman. Televisi yang menyala sesekali aku tonton meskipun pikiran tak menjangkaunya. Benda pipih yang ada di tangan pun beberapa kali terjatuh karena aku ketiduran.
"Sa, tidur aja sana! Biar aku di sini menemani suamimu," saran Pak Aryan sambil tiduran di sofa.
"Hm," gumamku tapi tetap tak beranjak.
Bukannya pindah aku malah merebahkan diri di karpet. Meringkuk. Mata yang diserang rasa kantuk sudah tak kuat lagi untuk ditahan. Jangankah pindah ke kamar, berdiri saja sudah tak kuat lagi.
💤💤💤💤💤
Aku terbangun pukul tiga dini hari. Dion masih di depan laptopnya, Pak Aryan pun masih terjaga. Kuperhatikan mereka dengan muka bantalku. Dengan sesekali menguap, aku merapikan rambut dan beranjak berdiri.
"Sayang, mau ke mana?" tanya Dion meninggalkan pandangannya sejenak dari monitor.
"Aku laper, Mas."
"Mau makan apa?" tanya Dion sambil mengekorku ke dapur.
"Apa aja, Mas. Yang penting bikin kenyang," jawabku sambil membuka kulkas.
"Mau aku bikinin roti?"
"Ada nasi gak, Mas?" tanyaku yang kemudian dijawab ada oleh Dion setelah membuka alat penanak nasi.
"Aku bikinin nasi goreng mau, gak?" celetuk Pak Aryan yang tiba-tiba sudah ada di dapur.
"Dengan senang hati," timpalku dengan girang.
Dion pun kembali berkutat dengan laptopnya. Kutemani sambil rebahan di dekatnya. Sementara Pak Aryan sendirian di dapur, mendaulatkan diri sebagai chef. Semerbak wangi yang mulai tercium membuatku meninggalkan Dion dan mendekati Pak Aryan.
"Enak banget 'nih, kayaknya," ucapku sambil mengintip masakan Pak Aryan.
"Siapa dulu chef-nya?" ucap Pak Aryan menyombongkan diri.
__ADS_1
"Aroma belum menjamin rasa," ejekku sambil berlalu.
Sepuluh menit kemudian, tiga piring nasgor sudah terhidang di meja depan televisi. Langsung kuserbu tanpa menunggu mereka berdua. Kunyahan demi kunyahan sangat memanjakan lidahku.
"Mmmmm, enak!" seruku seraya terus mengunyah.
"Rasa dan aroma serupa, 'kan?" ujar Pak Aryan membuktikan ejekanku tadi.
"Iya, nasi gorengnya tampilan menggoda rasa juara. Sayang, pemiliknya banyak yang godà tapi gak ada juaranya," sindirku mengajak bercanda agar suasana tidak hening.
"Pemenang tampilnya belakangan," timpal santai Pak Aryan.
"Awas, belakangan takutnya ketinggalan!" balasku telak.
Pak Aryan membuat isyarat dengan matanya. Memintaku untuk melihat Dion yang hanya diam saja. Benar, suamiku itu hanya fokus menelan makanannya tanpa berucap sepatah kata pun menyambut candaan kami. Tanpa ragu segera kudekati dan meminta perhatiannya.
"Aak," pintaku sambil membuka mulut minta disuapin.
Dion yang melamun, tak menyadari sikap manjaku. Matanya melihat tapi pikirannya berkelana. Tak mau menyerah aku memegang tangannya yang sedang siap menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulutnya. Kusabotase, akhirnya suapan itu meluncur ke mulutku. Saat Dion tersadar, aku berikan cengiran senyum. Usapan lembut di kepala ia sentuhkan berikutnya.
"Aku minta kamu suapin, Sayang. Kenapa kamu malah minta maaf?" tanyaku sambil menjelaskan.
"Maaf, aku belum bisa mendapatkan uang kekurangannya," ucap Dion sambil mengusap puncak kepalaku dan membawa dalam pelukan.
"Mas, jangan menyakiti diri sendiri. Jika kamu gak sanggup, terimalah bantuan dari orang lain. Aku tidak akan mengubah pandanganku tentangmu, kamu tetap Dionku yang mandiri dan bertanggung jawab. Suami terbaik yang paling aku cintai."
Dion mengeratkan pelukannya. Aku pun semakin memasrahkan diri dalam hangatnya rengkuhan yang dia berikan. Saling diam. Hanya kedalaman perasaan yang berbicara bahwa kami akan saling menguatkan. Berpadu hati dalam cinta untuk selalu bersama meskipun duka datang saat bahagia baru saja menyapa.
"Bisakah aku membeli apartemen ini?" celetuk Pak Aryan.
"Tidak! Aku tidak menjualnya padamu," ngotot Dion tanpa pikir panjang.
"Kenapa?" timpal santai Pak Aryan, seperti biasanya.
__ADS_1
Yang satu ngotot, yang satu ngeyel. Itulah Dion dan Pak Aryan saat ini. Sudah tahu Dion tak mau dibantu tapi masih aja membuat penawaran. Akan sia-sia saja, yang ada hanya membuang tenaga percuma. Dan aku merasa kalau debat ini akan lebih panjang dari biasanya.
"Karena kamu modus," jujur Dion tanpa basa-basi.
"Aku tulus," timpal Pak Aryan tanpa merasa sedang dicemburui.
"Kamu membeli apartemen ini karena Rosa," timpal Dion lagi.
Pak Aryan membuang napas jengah. "Kalian adik-adikku, apa salah kalau aku membantu?"
Adik, hubungan persaudaraan yang terjalin karena sebuah pengangkatan bukan keturunan, apakah bisa dipercaya karena ketulusan? Apalagi jika ada perasaan yang dulu pernah bersemayam atas nama cinta yang terpendam. Meskipun sudah mencoba untuk memusnahkan cemburu tapi saat situasi tak bersahabat, semua yang terendap bisa kembali memantik api.
"Aku akan mencari pembeli yang lain," ngotot Dion tak bisa meluluhkan pendiriannya sendiri.
Kugelengkan kepala saat Pak Aryan akan kembali membalas ucapan Dion. Jika ini berlanjut, kurasa bukan jalan keluar yang didapat tapi jalan masuk masalah lain lagi yang terbuka. "Mas, jangan marah. Pak Aryan hanya ingin membantu."
"Jika 3 jam lagi tak ada pembeli, maka suka ataupun tidak, apartemen ini akan kubeli," terang Pak Aryan seraya segera melangkah pergi, kembali ke apartemennya.
Kugenggam jemari tangan Dion. "Kamu harus mandiri tapi tetap jaga dirimu agar tidak menyakiti diri sendiri. Kamu boleh egois asalkan tidak ada orang yang ingin kau buat tertawa malah menangis. Sayang, merendahkan hati bukan berarti kamu merendahkan diri."
Dion tak membalas kalimatku sama sekali. Aku tahu hatinya sedang berkecamuk. Pikirannya sedang mengalami perdebatan antara tetap mempertahankan pendirian ataukah mengendurkan pemikiran. Dia kembali berkutat dengan benda yang sedari tadi ia pantengin.
"Tiga jam," ingatku sambil beranjak meninggalkannya juga.
Biarlah Dion sendiri tanpa sahabat dan juga tanpaku sebagai kekasih halal yang kini melaknat. Dion harus merasakan tak ada teman itu ia akan sendirian. Dia juga harus tahu jika tanpa aku maka hidup yang ia tuju hanyalah semu.
🤲🤲🤲🤲🤲
Saat masalah mendarat, maka sang juru selamat hanyalah doa pada sang Maha Pemberi Nikmat. Kutemui Sang Khaliq, menyeru nama-Nya, memuji-Nya, memohon dengan sangat agar jalan keluar segera ditebar.
Ternyata saat aku menurunkan dua tangan, kulihat Dion justru mengangkat kedua tangan, berganti memuji-Nya. Aku terharu, air mata berlinang. Lelakiku menyerahkan penyelesaian masalah pada pemberi masalah. Bukan menggerutu dan mengumpat tapi berwudhu dan salat.
🌈🌈🌈🌈🌈
__ADS_1
Kembali bertiga, seolah deja vu semalam tapi ini kala pagi menjelang. Tiga jam kemudian. Wajah dengan ekspresi berbeda-beda. Pak Aryan tetap dengan wajah tenang, Dion wajah datar dan aku tegang dengan jantung berdebar-debar. Apakah yang akan terjadi setelah ini? Akankah ada debat yang kembali memanas? Ataukah ada hati yang saling mengalah?