
Bayangan tentang tatapan Mas Rud tadi terus-terusan bermain di kepalaku. Dapat ku rasakan bahwasanya tatapan itu sangat mendalam. Ada suatu rahasia yang tersimpan rapat, ingin tapi tak dapat diungkapkan. Pelukan tangannya pun ku rasakan kehangatan, bukan pelukan yang dipenuhi hasrat kepemilikan. Entahlah, pesan apa yang ingin dia sampaikan.
Setelah sesi foto tadi, aku memilih untuk beristirahat, kembali ke kamar. Sementara Dion masih berkumpul dengan keluarga besarnya. Waktu sudah meninggalkan pukul 13.00 sejak lima belas menit yang lalu. Saatku hendak memejamkan mata, tiba-tiba dering telepon mengurungkan niatku. Nomor tidak dikenali. Entah kenapa pikiranku langsung tertuju pada Mas Rud. Hal ini akhirnya membuatku galau, harus mengangkatnya atau kubiarkan saja. Sudah dua kali telepon itu mati, hatiku lega saat tidak berdering untuk ketiga kalinya. Namun rupanya itu tak berlangsung lama, karena telepon itu berdering kembali.
"Sa," suaranya begitu lembut menyapu pendengaranku.
Ku pejamkan mataku. Menguatkan pagar pertahananku agar semakin kokoh. "Ada apa?" tanyaku, akhirnya bisa juga pertanyaan itu ku sampaikan padanya.
"Apa kamu yakin akan menikah dengannya?" kalimat itu yang dia pilih untuk ditanyakan.
Padahal kalimat itu jugalah yang masih belum 100% kutemukan jawabannya. "Iya," jawabku tanpa kata pendamping.
Biarlah kata "iya" itu kuat berdiri sendiri sebagaimana harapanku agar Mas Rud juga memiliki ketegaran untuk masa depannya tanpa aku. Dia harus menghabiskan waktunya yang masih panjang bersama wanita yang bisa membahagiakannya. Dan aku juga akan menghabiskan sisa waktuku bersama Dion, orang yang mencintaiku dan perlahan aku juga semakin mencintainya meskipun belum sepenuhnya.
"Apakah kamu merelakan aku menikah dengan wanita lain?" telisik Mas Rud yang membuatku ingin menjawab tidak namun aku tak bisa melakukannya.
"Bahagiakan dirimu, Mas! Aku akan merasa bersalah kalau kamu terus-terusan begini. Ikhlaskan jika kita memang tak berjodoh," paparku menahan luka.
"Apakah kamu akan bahagia bersamanya?" tanya Mas Rud yang membuatku semakin berkecamuk.
Ingin ku jawab aku bahagia bersama Dion, walaupun bahagia itu akan lebih sempurna jika aku bersamanya, tapi tidak mungkin itu ku ucapkan. Biarlah aku berbohong, kurasa semua akan bahagia. Biarlah luka itu milikku dan miliknya. Suatu saat pasti akan sembuh dengan sendirinya. "Kamu pasti akan menemukan jika aku bahagia dengannya."
"Berlarilah padaku jika kamu tidak bahagia! Aku meninggalkanmu dan dia yang merawat lukamu. Aku sadar jika dia lebih berhak atas hati dan dirimu. Maafkan aku yang salah mengambil keputusan dan terlambat menyadari kekeliruanku," jelasnya dengan suara sendu.
__ADS_1
Salah mengambil keputusan? Apa yang sebenarnya terjadi? Keruwetan macam apa yang membuatnya keliru?
"Aku balik ke Jakarta sekarang, bisakah kamu keluar sebentar, aku ingin melihatmu! Mungkin ini terakhir kalinya kita bisa bertemu," pinta Mas Rud.
Tanpa menunggu detik berlalu, aku langsung menghamburkan diriku untuk keluar dari kediaman Dion. Tak memedulikan penampilanku yang acak-acakan. Kalimat terakhirnya yang menyatakan jika ini mungkin kesempatan terakhirku untuk melihatnya, membuatku tak bisa memikirkan hal lain kecuali aku harus melihatnya.
Langkahku terhenti saat melihatnya sudah menungguku. Berdiri dengan kaca mata hitam yang menutupi indra penglihatannya. Perasaanku berkecamuk, ada rasa yang tak bisa kujelaskan. Kutatap nanar wajahnya, perlahan dia membuka kaca matanya. Kudapati rona merah pudar di sana, bekas air mata yang berusaha ia sembunyikan. Tak ada kata yang terucap, hanya mata yang saling berbicara. Menghentikan sejenak waktu, terbuai oleh mata yang saling menatap. Dia memakai kaca matanya kembali. Memutar langkah dan semakin menjauhiku, lantas menghilang di balik pintu gerbang.
Huft!
Kubuang napas lelahku, lelah harus berurusan dengan keruwetan perasaan. Semoga keputusan untuk saling mengakhiri ini, menjadi langkah awal untuk kebahagiaan semuanya. Biarlah waktu yang menjadikan ini terakhir kali aku bisa melihatnya.
*****
Aku tahu kamu sedang letih, bergelut dengan perasaan yang sulit untuk kamu putuskan. Meskipun aku bahagia kamu telah menjatuhkan pilihan padaku, tapi sebenarnya aku juga tahu ada sisi lain hatimu yang belum sepenuhnya bisa menerimaku. Masih ada dia yang begitu sukar kamu hilangkan dari lngatanmu.
Berdiri di depan kamarmu, berniat memintamu untuk mengisi kelapangan perutmu, ternyata aku mendengar kamu tengah berbicara dengan seseorang lewat telepon. Aku harusnya tak menguping, tapi aku tak sengaja mendengar kalimat yang membuatku urung untuk melangkah pergi.
"Bahagiakan dirimu, Mas! Aku akan merasa bersalah kalau kamu terus-terusan begini. Ikhlaskan jika kita memang tak berjodoh,"
Aku terpaku mengingat hasil pendengaranku. "Ikhlaskan jika kita memang tak berjodoh" sedikit mengusik pikiranku. Apakah aku salah telah hadir dihatinya? Apakah aku yang membuat tali jodoh mereka urung terjalin? Apakah ...?" pikiranku harus ku hentikan ketika mendengar handel pintu hendak di buka. Memundurkan langkah dan menepi di sudut yang tersembunyi.
__ADS_1
Kulihat kamu melangkah cepat bahkan sedikit berlari menuju pintu keluar rumah. Tak memedulikan penampilanmu yang sedikit berantakan. Masih dengan kebaya yang tadi kita gunakan couple-an dan rambut yang sudah kamu gerai. Aku yakin kamu terburu-buru hingga mengabaikan dandananmu. Secuek-cueknya kamu, aku tak pernah melihatmu seberantakan ini.
Rasa penasaran membuatku berjalan mengikuti langkahmu. Kujaga jarak, agar kamu tak menyadari kehadiranku di belakangmu. Ketika kamu menghentikan langkah di teras, maka ku hentikan juga langkahku di balik jendela kaca. Mengikuti arah pandangmu, dan ku temukan siapa yang membuatmu jadi seperti ini.
Rud
Lelaki itu! Selalu dia yang sanggup membuatmu mengabaikan segalanya, dan mungkin juga sanggup mengabaikan aku.
Kuusap wajah lusuh ini dengan kedua tanganku. Rasanya keyakinanku untuk bisa memilikimu yang tinggal selangkah lagi memudar. Apalagi ketika ku melihat tatapan mata kalian yang saling beradu. Ada rasa yang begitu agung yang tak bisa disampaikan oleh bibir kalian yang kelu. Apakah kalian masih memendam rasa yang begitu besar? Apakah itu bukan sisa perasaan? Apakah itu rasa yang masih utuh yang tetap kalian simpan?
*****
Dia telah menghilang dari pandanganku, tapi aku masih memaku di tempatku berdiri. Ada gemuruh yang membuat pertahananku runtuh. Masih terbayang jelas raut wajah yang ia tunjukkan padaku. membuatku tak bisa lagi berpikir jernih, bahkan sempat aku ingin mengejarnya, bilang jangan tinggalkan aku. Namun kakiku seolah melemah, terlintas jika sekarang aku tak bisa mengambil keputusan itu. Ada lelaki yang menungguku di singgasana cintanya. Menunggu penobatanku sebagai ratu di kerajaan cintanya. Aku terjebak! Terperangkap oleh rasa cinta masa lalu dan masa depan.
"Kejarlah jika hatimu masih menjadi miliknya!"
*****
Kisah cinta Dion , Rosa dan Mas Rud pantaskah disebut sebagai "Kabut Menjelang Pernikahan" seperti novel temen author ini?
Ataukah Mas Rud akan menjadi suami kedua untuk Rosa? Kebalikan dari novel temen author ini "Istri Kedua Tuan Krisna".
__ADS_1