Tentang Hati

Tentang Hati
Dion PoV (2)


__ADS_3

Aku membiarkanmu duduk manis di meja makan. Malam ini, aku akan memanjakan matamu dengan pesonaku sebagai chef gantengmu, gadisku.


"Aku mengizinkanmu untuk memandangku di sepanjang hidupmu, jadi gak usah curi-curi pandang begitu," tukasku sambil menyajikan makanan di atas meja yang ada dihadapanmu.


Aku tau kamu malu karena terciduk sedang mengagumiku. Aku bisa menangkap jelas salah tingkahmu itu. Aku ingin menikmati pemandangan ini lebih lama, tapi suara bel mengganggu bahagiaku. Dan semakin mengganggu saat ku lihat Rendra, sepupuku, yang hadir di tengah kebersamaan kita.


"Syukurlah, kalau kamu baik-baik saja," kalimat Rendra yang ditujukan padamu terdengar lirih di telingaku ini, berhasil memanaskan hatiku.


Apa dia pikir aku sebejat itu? Mana mungkin aku bisa menyakitimu. Memberimu sesuatu yang enak saja, aku akan memikirkannya dengan begitu matang.


"Kamu pikir, aku bakalan nyakitin dia?" gerutuku.


Rendra kemudian melihatmu dari ujung ke ujung, "Hmmm ... mungkin kamu menyakitinya di tempat yang tak terlihat."


Beneran deh, aku geram dengan pikiran kotor sepupuku itu. Bisa-bisanya dia bicara begitu di hadapanmu. Padahal jelas-jelas dia tau, bagaimana aku menjagamu. Tak mungkin aku merusakmu hanya untuk memuaskan hasratku.


"Pergilah, aku mengusirmu!" marahku.


Aku mengusir sepupupu yang nampak kelaparan itu, lapar perutnya dan juga kekepoannya. Dia nampak penasaran dengan apa yang terjadi antara kita. Penasaran bukan karena apa alasan yang melatarbelakanginya, tapi penasaran apa yang akan aku lakukan padamu. Terlebih lagi, sepupuku itu juga kelaparan, apalagi melihat gudeg di hadapannya, ia tak akan mampu untuk tak menghabiskannya. Dan benar saja, ia menyikatnya dalam sekejap.


"Jangan nyicil, ya!" ucapnya meracau saat gudeg itu berhasil dibersihkan dari piring yang ku sajikan, dan ia pun akhirnya beranjak pulang setelah aksi pengusiranku beberapa waktu yang lalu.


"Nyicil? Nyicipin? Ngapain cuman nyicipin kalau bisa dimakan abis," jawabku enteng.


Aku Menyadari tatapanmu padaku.Aku hanya bisa tersenyum dan kemudian mengacak rambut di puncak kepalamu.


"Becanda, Sayang, Ini aku mau makan sampai abis," selorohku sambil menunjuk piring di depan kami.


Keterkejutanmu dengan godaanku ke Rendra ini masih terlalu dini, Sayang. Santailah! Karena aku akan mengejutkanmu dengan kesempurnaanku yang tak pernah kau sadari sebelumnya.


"Di, kamu tadi masak atau cuma ngangetin doang?" tanyamu.


"Ngangetin, ini dibawain Eyang," ucapku sambil nyengir.


Aku pikir masak beneran, aku udah seneng banget pacarku bisa masak. Eh, taunya cuma ngangetin doang," cemberutmu.


Ekspresimu itu, membuatku susah untuk tak terus menjahilimu. Aku selalu bahagia bisa mengacak emosimu, membuatmu terbang, ku jatuhkan perlahan, terjerembab dan akhirnya kau tak berkutik karena ku angkat kau lebih tinggi dari apa yang kamu pikirkan. Dan itulah pesonaku, yang akan semakin dalam membelenggumu erat.


"Cicipin deh," pintaku.


Ku lihat kamu segera menikmati semangkuk wedang ronde hangat yang baru saja ku ambilkan. Aku tau kamu pasti akan bertanya, apakah ini aku buat atau cuma aku angetin. Dan benarkan, belum selesai aku berpikir, tanyamu sudah terucap.


Ku usap pelan puncak kepalamu, " Aku buatkan ini spesial untukmu, Sayangku."


Dan seperti tebakanku, kamu akan kembali terpesona dengan keahlianku.

__ADS_1


"Bagaimana menurutmu, bisa dimakan?" tanyaku kemudian.


"Aku bakalan ngabisin ini," jawabmu.


"Kamu habisin wedang ronde ini, nanti ganti aku yang akan memakanmu habis," godaku.


"Halalin dulu," ucapmu.


"Ayo, aku sudah gak sabar ini!" ucapku dengan menaikkan kedua alisku.


"Emang udah siap, punya istri cantik yang di kagumi banyak orang?" godamu sambil terus menyeruput wedang ronde yang ku klaim sebagai hasil racikan tanganku sendiri.


"Kamu, yang seharusnya siap-siap, karena mau punya suami yang digandrungi banyak cewek," godaku balik.


Wajahmu nampak pias saat mendengar kalimatku tentang wanita disampingku. Rasanya aku ingin sekali menyentuhkan bibirku ini di pipi mu, ketika melihatmu mulai cemburu dengan ucapanku. Aku abaikan saat kamu mulai kepo dengan HPku. Aku ingin tahu, apa yang akan kamu lakukan dengan kecemburuanmu itu.


"Tanggal lahirmu," ucapku saat kamu mulai usil dengan HPku di tanganmu.


Aku tau, kamu pasti bertanya tentang sandiku, kenapa harus tanggal lahirmu. Memang harus begitu, Sayang. Kamu adalah hidupku. Bahkan aku mau bukan aku saja yang hidup karenamu, tapi HPku juga. HPku harus hidup dengan tanggal cantikmu, sama seperti aku yang jadi pemiliknya. Aku juga akan selalu hidup karenamu, Rosaku yang cantik. Begitulah kamu bertahta di hatiku.


"Jangan kaget, ya!" ucapku sambil menatapmu.


Dan ku lihat, kamu semakin penasaran setelah mendengar kalimat peringatanku. Oh ... Sayang, kamu sangat lucu dengan ekspresimu itu. Ku nikmati gumamanmu, yang masih bisa terdengar lirih oleh telingaku. Bagaimana kamu cemburu dengan Arnia, mantan SDku, dan sejumlah WA dari perempuan-perempuan lain yang memang sengaja untuk tak ku hapus.


Aku memang menunggu saat ini. Saat kamu mulai cemburu dengan wanita-wanita di sekelilingku. Aku merasa kamu cintai, Sayang! Aku bahkan rela kamu cemburui seumur hidupku, asalkan kamu mencintaiku selamanya. Aku semakin bahagia saat kamu berkacak pinggang dan menatapku, "Aku juga gak ngizinin kamu selingkuh, SAMPAI KAPAN PUN!"


Ku genggam jemarimu, "Sesungguhnya, akulah yang lebih takut kamu berpaling dariku, Sayang. Arnia jauh, ada di Yogya. Sementara Aryan, dia ada di sekelilingmu. Waktumu melihatnya lebih banyak daripada untuk melihatku. Aku takut kamu terpikat olehnya."


Aku benar-benar takut kehilanganmu, Sayang. Ketika aku harus mati-matian untuk mendapatkanmu, maka aku juga akan mati-matian menjagamu untuk tidak akan pernah berpaling dariku.


"Aku tidak membatasi pertemananmu dengan siapapun, termasuk Aryan. Hanya saja aku meminta untuk meminimalkan dirimu berduaan dengannya." terangku sambil membelai pipiku manja.


Aku bukan lelaki posesif, tapi aku hanya menjaga apa yang sudah ku miliki untuk tidak diambil lelaki lain. Aku ingin menjagamu, dan aku juga tau jika kamu merasa bersalah telah membuatku cemburu. Padahal kamu juga tidak berniat untuk melakukan itu. Aku memahami, jika sikapmu yang ramah dan mudah akrab akan membuat siapapun nyaman didekatmu. Itu adalah potensi munculnya cinta dan aku gak suka.


Kamu yang cemburu, tapi ujung-ujungnya kamu juga yang merasa bersalah. Maafkan aku karena menggodamu, kamu membuatku semakin gemas dengan ekspresimu itu.


Ku mengacak puncak rambutmu, "Ayo, aku antar pulang! Aku takut akan melahapmu habis jika kelamaan berduaan di sini.


*****


Kehangatan keluargamu, mampu mengobati rinduku pada kedua orang tuaku yang jauh di sana. Aku merasa sangat bahagia, bisa diterima menjadi bagian dari keluargamu, seperti yang ku inginkan. Bisa bercanda tawa dengan Kristy yang sudah ku anggap adikku sendiri, dan juga Mama yang punya kedekatan denganku melebihi mamiku sendiri, membuatku merasakan kembali hangatnya sebuah keluarga.


"Udah gak bisa nahan kangen sama Mbak Rosa, ya, Mas? Baru dua hari dah pulang lagi," goda Kristy.


Aku menebar senyumku, "Adek Mas ini emang tau aja, rasanya Mas udah pengen cepet-cepet nikahin Mbakmu itu, Mas gak kuat jauh-jauh dari dia."

__ADS_1


"Ihh ... Mas Dion, aku bilangin Mama, ya!" ancam Kristy.


"Mau bilang apa?" tanya Mama yang tiba-tiba muncul sambil membawa nampan berisi dua gelas teh anget.


"Mas Dion udah kebelet nikah, Ma," cerita Kristy.


Aku sungguh malu, bukan karena godaan Maya, tapi karena Mama yang justru tersenyum mendengar ocehan putri bungsunya itu. Sebenarnya memang aku menginginkan untuk segera menikahimu, tapi aku masih menunggu sampai hatimu benar-benar menginginkanku, dari alam bawah sadarmu.


Apalagi, saat melihatmu begitu terkejut dengan pertanyaan Mama yang menanyakan kesiapanmu untuk menjadi istriku, membuatku harus bersabar lagi. Ini tidak ada apa-apanya untukku, menunggu dalam ketidakpastian selama sepuluh tahun saja aku mampu, masa aku lemah untuk menunggumu siap menjadi istriku.


Istri? Membayangkanmu menjadi istriku, rasanya aku geli sendiri. Bagaimana kamu bisa membuang gengsimu di hadapanku, sungguh membuatku penasaran. Ahh ... jangankan membayangkan masa itu, beradu pandang denganku saja, aku tau jika kamu sudah salah tingkah.


Seperti saat ini, saat kamu terpaku di hadapanku. Bukannya segera menarik dirimu, tapi kamu justru terhanyut oleh lamunanmu. Mungkin kamu terpesona oleh ketampananku yang selalu kau abaikan itu. Mungkin juga kamu sedang dimabuk oleh aroma tubuhku yang membuai hayal indahmu.


"Malu, diliatin Mama dan Kristy," ucapku lirih.


Sebenarnya aku tak mau menghentikan situasi ini, tapi keberadaan Kristy dan Mama, membuatku mengambil keputusan untuk tak mengambil kesempatan dalam keterkejutanmu. Aku bisa curang, tapi aku tak seegois itu.


Ku lihat kamu segera tersadar, dan menarik diri dari buai pesonaku. Aku pun lantas mengambilkan bantal kaki berwarna coklat tua di belakangku. Inilah yang membuatmu bisa terjebak dalam hangat pesonaku.


Kamu pikir, hanya kamu yang melayang. Sejujurnya aku juga sama. Menikmati wajahmu sedekat ini, membuat jantungku seolah berpacu dengan ribuan kuda di medan peperangan. Berdegup hebat, yang tak bisa ku kendalikan.


"Baru ditanya aja udah grogi, gimana kalau denger ijab qobul?" Kristy tertawa ngakak.


Ku lihat kamu malu, benar-benar malu. Apalagi dengan adegan tadi yang tak pantas kamu pertontonkan di hadapan mereka.


"Aku, tidur dulu aja, ya. Udah malem," ucapmu sambil beranjak dari dudukku.


"Duduklah, aku gak akan memaksamu," pintaku seraya tersenyum manis.


"Mbak Rosa, jangan jual mahal, nanti ditinggalin Mas Dion nangis-nangis," Kristy lagi-lagi menggodaku.


"Mama ...!" rengekmu mencari perlindungan dari Mama.


Bukannya membelamu, mama malah ikutan menggodamu. Itu membuatmu semakin salah tingkah dan terlihat marah, bukan pada mereka, tapi justru padaku.


"Di, kamu pulang gih, udah malem, nanti digerebek warga," ucapmu sambil menarik tanganku untuk segera berdiri.


"Itu emang maunya Mas Dion, Mbak, biar cepet dikawinin." celetuk Kristy dengan senyum smirknya.


"Hust ... nikah dulu baru kawin," bisikku lirih ke Kristy, karena gak mau terdengar Mama.


Aku tak bisa melihatmu terus-terusan digoda. Aku suka, tapi aku tak tega. Akhirnya ku putuskan untuk segera pamit sama Mama.


"Udah-udah, ayo pulang," ucapmu sambil mendorong tubuhku untuk segera keluar rumah.

__ADS_1


"Kemarin kangen-kangen, sekarang diusir-usir," teriak Kristy.


Kristy, adik terbaikku. Godaanmu itu selalu berhasil membuat kekasihku tersipu. Dan aku, tentu saja aku merasa menang, karena secara perlahan aku bisa menyemaikan benih cinta pada hatimu yang dulu gersang untukku.


__ADS_2