Tentang Hati

Tentang Hati
Serasa Aku yang Dilamar


__ADS_3

Kami turun dari mobil. Melihat sekeliling dan suasananya sudah lumayan ramai.


"Di, kalau Mas Rendra sepupumu, berarti banyak dong saudaramu di dalem?" tanyaku.


"Gak banyak, Sa! Tapi cukuplah, kalau cuma untuk jadi saksi pernikahan kita sekarang juga," Dion mulai bergurau cinta.


"Ditanya beneran, juga," aku cemberut.


"Gak usah tegang, semua keluargaku juga sudah tau kamu dan segala cerita tentang kita kok," jelas Dion.


Stop!


Apa itu maksudnya coba?


Bagaimana bisa?


Dion menggandeng tanganku berjalan memasuki rumah Maya.


Gandengan tangan?


Merasakan gandengan tangan ini, kembali menggiring ingatanku pada Mas Rud lagi. Ketika kami berjalan, dia lebih suka berjalan di depan dan aku dibelakangnya. Dan setelah aku pikir, sepertinya itu adalah pertanda bahwasanya kini dia benar- benar berjalan ke depan, meninggalkanku sendirian menatap kepergiannya.


"Huhh ... lagi lagi dia ... tentangnya ...!" aku menghela nafas.


Ku cari arah lain, untukku menghela nafas agar tak disadari oleh Dion. Tapi dari arah yang ku tuju, ku temukan wajah yang masih ku rindukan. Wajah itu dipenuhi senyum, bukan senyum untukku melainkan senyum hasil candaan dengan 2 orang lelaki yang bersamanya.


Aku kecewa!


Tapi setidaknya aku lega, senyum itu bukan untuk perempuan lain.


Loh ...!


"Untunglah, kamu dateng dengan teman lelakimu," batinku bersorak.


Dia tidak menyadari pandanganku ke arahnya, tapi aku sadar pandanganku tak lagi menjangkaunya karena telah jauh memasuki ruang acara sementara dia masih di luar ruangan.


"Selamat ya, Om, Tante! Bentar lagi dapet mantu," ucap Dion pada seorang Bapak yang akhirnya ku ketahui itu adalah Ayahnya Mas Rendra.


"Iya, sayang, kamu juga cepet nyusul! Mau nunggu apalagi, ini calonnya juga sudah ada. Cantik!" Bunda Mas Rendra berucap.


Kalimat itu membuatku sedikit terkejut. Aku terpaksa mengulur senyum dan berjabat tangan dengan beliau berdua untuk memperkenalkan diri.


Sementara itu, Dion terus saja tersenyum kepada semuanya. Jelas sekali, senyum itu penuh kejujuran, benar-benar terpancar kebahagiaan dari matanya, bukan senyum yang dibuat-buat.


"Senyumin, aja! Doa baik sebaiknya diaminin," ucap Dion lirih di telingaku.


Baiklah, Di, aku menuruti maumu kali ini. Toh sekedar senyum tak akan merugikanku.


"Ini toh, gadis yang bikin cucuku menolak semua perjodohan?" ucap seorang eyang putri yang menampilkan kecantikannya meski tak lagi muda.


Aku tersenyum dan mencium tangan beliau.


"Ini, eyangku!" Dion mengenalkan.


"Saya Rosa, Eyang," aku memperkenalkan diri.


"Cocok njih, Bu?" ucap Ayahnya Mas Rendra yang membuatku malu.


"Ndang dilamar le, ngko didisiki uwong liyo getun!" Eyang Putri menggoda Dion.


"Sabar, Eyang," jawab Dion meredam.


"Dah siap to nduk, jadi istrine cucuku iki?" tanya Eyang padaku.


Aku yang tak menyangka mendapat pertanyaan seperti itu, spontan mengganti rasa terkejutku dengan senyuman.


Eyang putri tersenyum, dan aku hanya bisa membalasnya dengan senyum, senyum dan senyum lagi. Hatiku bergemuruh hebat, serasa aku dilamar mendadak. Sungguh efek keterkejutanku, membuat tulangku seperti melunak. Lemasssss.

__ADS_1


"Eyang, Om, Tante, kami ke Rendra dulu, ya!" pamit Dion yang menyadari keadaanku.


Terimakasih Di, atas kepekaanmu! Kalau tidak buru-buru pergi, mungkin saja aku bisa kena serangan jantung.


Kami pun segera beranjak meninggalkan mereka. Plong sudah perasaanku untuk sejenak. Berada dengan mereka tadi, rasanya lebih tegang dibandingin waktu sidang skripsi.


"Huuhhh ...," aku melepaskan keteganganku.


"Berasa dilamar, ya?" Dion menggodaku.


"Apa?" aku kaget dengan pertanyaan Dion yang selaras dengan pikiranku.


Dion hanya tersenyum. Tangannya masih menggenggam lembut jemariku dari tadi.


Dari tadi?


Tadi waktu dilamar?


Eh, kok dilamar?


Maksudku waktu menghadapi eyangnya?


Oh No!


Berarti Dion merasakan tanganku yang kedinginan dong.


Jangan-jangan, dia terus saja tersenyum karena menemukan ketegangan luar biasa yang membelengguku!


Dasar curang!


Tapi ....


Aku, seharusnya juga menyadari, jika genggaman jemarinya inilah, yang membuatku gak mati berdiri. Mungkin terdengar lebay, tapi memang begitulah yang ku rasakan, tembak ditempat tadi sungguh menguras semua energi, perasaan dan kewarasanku.


"Halo sepupuku yang tukang gombal, akhirnya ada juga yang terpikat dengan bualanmu!" sapa Dion pada Mas Rendra.


"Hai juga, sepupuku yang bucin! Kapan bisa menaklukkan hati Rosa?" Mas Rendra balas menyapa.


"Beruntungnya sahabatku ini, dipersunting pangeran gombal," ucapku ke Maya penuh canda.


"Kamu juga beruntung, ada Mr.Bucin yang standby 24 jam sehari," Maya ganti berulah padaku.


Kami berempat saling sindir dalam bingkai candaan. Bukannya merasa sakit hati, tapi malah larut dalam gelak tawa.


"Muka kamu pucet banget, Sa? Udah diapain aja sama Dion?" Mas Rendra menggoda.


"Maksudmu, Mas?" aku mencurigai kata-kata ambigu Mas Rendra.


"Kamu pikir, aku kayak kamu, cowok mesum," Dion membalas pertanyaan Mas Rendra.


Aku membelalakkan mata. Menemukan jawab atas pertanyaan Mas Rendra yang ambigu tadi.


"Mas Rendra, pikirannya negatif mulu, sih," gerutuku.


Mas Rendra cekakakan mendengar omelanku.


"Kalian udah dewasa, jadi gak salah kan, aku berpikir begitu?" jawab Mas Rendra enteng.


"Tapi, aku gak begitu!" jawabku ketus.


"Eiiitsss ... ini lamaran buru-buru, jangan-jangan?" selidikku.


Aku memicingkan mataku pada Mas Rendra dan Maya.


"Ini lebih dari yang kamu pikir!" Mas Rendra mendekatkan wajahnya dan berkata lirih


Aku terkejut lagi. Jawaban Mas Rendra tak seperti yang aku inginkan. Harusnya mereka mengelak, tapi ini malah melebihi yang ku tebak.

__ADS_1


"Jangan-jangan, ketangkep basah kemarin?" goda Dion.


"Masuk angin dong!" celetuk Maya.


"Beneran, kalian terciduk?" aku penasaran.


"Ha ... ha ... ha ...!" Mas Rendra tertawa ngakak.


"Gini-gini juga, aku lelaki beradab!" tegas Mas Rendra lagi.


"Hadap kanan, kiri, depan, belakang maksudmu?" Dion menimpali.


"Itu, Kamu!" ungkap Mas Rendra.


"Aku tau yang membuatmu pucet gitu, Sa!" Maya bicara.


Aku mengangkat alisku.


"Kayak yang kamu alami tadi," jelas Maya.


"Kamu ngeliat?" tanyaku penasaran.


"Bukan hanya ngeliat, tapi ngerekam juga," Mas Rendra menambahkan.


"Boong!" aku menolak menyetujui perkataan mereka.


"Halo-halo! Ada apa nih rame bener?" sebuah suara membubarkan keriuhan kami.


Aku menoleh ke arah suara.


Busyeettt!


Cowok ganteng!


Karismatik!


"Calon Om kamu! Jangan segitunya ngeliat dia!" Dion buka suara.


"Ha ...?" aku mencari kebenaran pernyataan Dion.


"Ini, yang lamaran yang mana? Double lamarankah?" lelaki ganteng itu menelisik.


"Kalian berdua emang jeli banget bisa ngendus keberadaan wanita cantik," ungkapnya lagi.


"Makanya Om, belajar sama aku!" tukas Mas Rendra.


"Aku dah punya banyak, tapi belum ada yang seperti kalian berdua," ucap si Om sambil menunjukku dan Maya.


"Udah Om, sana aja! Rusuh kalau ada Om," Dion mendorong pelan, tubuh yang kata Dion Omnya itu, supaya lekas pergi meninggalkan kami.


"Rosa, kalau kamu gak minat sama Dion, hubungi aku aja, ya!" celetuknya lagi.


Aku terkesiap mendengar perkataan lelaki itu. Keluarga Dion benar-benar ajaib semua.


"Jangan dengerin dia. Itu Om Septian, anak bungsunya eyang, dia setipe sama Rendra!" jelas Dion.


"Kalian, sekeluarga setipe," ungkapku.


"Kecuali, aku!" Dion menekankan.


"Aku hanya mencintaimu, Sayang!" rayu Dion dengan senyumannya.


Sayang?


Berani memanggilku sayang?


Tapi gak mau dibilang setipe?

__ADS_1


Aahhh ....


Jurus elakan apa lagi itu!


__ADS_2