
"Tahan sebentar hasratmu anak muda, aku akan pulang setelah menghabiskan makanan ini," ucap Mas Rendra yang menyaksikan keromantisan kami.
Mas Rendra buru-buru menghabiskan makanan di piringnya dan menghabiskan segelas air putih di depannya.
Mas Rendra berdiri, "Jangan nyicil, ya!"
"Nyicil? Nyicipin? Ngapain cuman nyicipin kalau bisa dimakan abis," jawab Dion enteng.
Aku melirik Dion dan menggelengkan kepalaku. Menyadari tatapanku, Dion hanya tersenyum dan kemudian mengacak rambut di puncak kepalaku.
"Becanda, Sayang, Ini aku mau makan sampai abis," seloroh Dion sambil menunjuk piring di depan kami.
Aku pun tak merespon omongan Dion. Aku melanjutkan makanku, Dion juga memilih untuk menyantap sepiring berdua, nasi gudeg khas Yogya yang ia siapkan tadi.
"Di, kamu tadi masak atau cuma ngangetin doang?" tanyaku.
"Ngangetin, ini dibawain Eyang," ucapnya sambil nyengir.
Aku pikir masak beneran, aku udah seneng banget pacarku bisa masak. Eh, taunya cuma ngangetin doang," aku cemberut.
Dion tersenyum dan kemudian beranjak. Aku tak memperhatikannya sampai ia kembali dengan 2 mangkuk kecil di tangannya.
"Cicipin deh," pinta Dion.
"Ngapain cuman nyicipin kalau bisa dimakan abis," selorohku menirukan ucapan Dion yang menggoda Mas Rendra tadi.
Aku menyuapkan sesendok isi mangkuk itu ke mulutku. Aku rasakan, dan aku mengulanginya lagi.
"Enak, apa ini juga cuma kamu angetin?" tanyaku sambil terus menikmatinya.
Dion mengusap pelan puncak kepalaku, " Aku buatkan ini spesial untukmu, Sayangku."
Aku menolehkan pandanganku ke arahnya. Ku nikmati manis senyumnya itu. Wedang ronde ini bisa menghangatkan tubuhku, tapi manis perhatiannya itu, sungguh menghangatkan perasaanku.
"Bagaimana menurutmu, bisa dimakan?" tanya Dion kemudian.
"Aku bakalan ngabisin ini," jawabku.
"Kamu habisin wedang ronde ini, nanti ganti aku yang akan memakanmu habis," goda Dion.
"Halalin dulu," ucapku.
"Ayo, aku sudah gak sabar ini!" ucap Dion dengan menaikkan kedua alisnya.
__ADS_1
"Emang udah siap, punya istri cantik yang di kagumi banyak orang?" godaku sambil terus menyeruput wedang ronde yang ia klaim sebagai hasil racikan tangannya tadi.
"Kamu, yang seharusnya siap-siap, karena mau punya suami yang digandrungi banyak cewek," goda Dion balik.
Deg!
Aku fokus memikirkan kalimat Dion barusan. Selama ini, aku tak pernah memikirkan itu. Aku terlalu fokus pada Dion yang selalu tergila-gila padaku. Namun, aku lupa, kenapa tidak pernah terpikirkan olehku kalau ada wanita di luaran sana yang mungkin juga sangat menggilai kekasihku ini. Walaupun Dion selalu bersamaku dan aku tak pernah melihatnya berurusan dengan wanita lain, tapi di belakangku?
Aku pun segera mengambil HP yang tergeletak di sofa. Kembali ke ruang makan, aku masih menemukan Dion yang sama sekali tak terganggu oleh kepergianku yang tiba-tiba.
"Tanggal lahirmu," ucapnya kemudian.
Aku mengerti dan berhasil. Layar HP yang terkunci itu bisa ku buka dengan tanggal lahirku.
Kenapa musti tanggal lahirku? Manis sekali dia!
"Jangan kaget, ya!" ucap Dion yang sedang meneguk air putih sambil menatapku.
Peringatannya itu, justru membuatku makin penasaran. Aku lebih tertantang untuk membuka WAnya. Ku lirik Dion sebelum aku melakukannya. Dion melihatku santai sambil tersenyum. Ekspresinya itu terlihat sangat menyebalkan bagiku.
"Buka aja, aku sudah menunggu kamu melakukan itu dari dulu!" perintah Dion yang kemudian meninggalkanku dan beranjak ke ruang TV dan menyalakannya.
Aku kembali menatap layar di tanganku. Banyak sekali nomor-nomor tak bernama di sana. Satu, dua, lima, sembilan dan bahkan lebih dari dua puluh nomor. Ku buka satu per satu dari urutan paling atas, karena aku pikir itu yang baru saja menghubunginya. Apa ini? Chat dari Arnia, yang mengaku mantannya sewaktu SD.
"Sejak kapan dia pacaran? SD pun sudah ada mantan?" gumamku.
Aahh ... bisa-bisanya dia setenang itu, padahal jelas-jelas ia terciduk. WAnya berisi chat dari banyak perempuan. Aku beranjak duduk di sampingnya, "Siapa ini?"
Dion melihatnya sekilas, "Arnia, mantanku waktu SD."
"Aku juga bisa baca kalau itu," gerutuku.
Aku baca-baca lagi WA dari nomor yang lain. Ada Agnese, Khalisa, Aletta, Zahra, Lisa, Keyla, Rina, Alya, Anita, Caca, Abi, Khanza, Irene, Ida dan ... banyak banget yang lainnya.
Pacarku ... pacarku ... pacarku ....
Ternyata kamu begitu tenar. Ini lagi, WA dari Bang Ismed, Chung Hae, Yuri, dan siapa lagi ini? Jangan bilang kalau Dion juga digilai oleh lelaki dari luar dimensi dunia wanita. Aku jadi bergidik membayangkannya.
Aku sudah tidak bisa lagi menampakkan raut wajah tenang. Dion mencemburuiku karena 1 lelaki, sementara aku? Harus mengerem kecemburuan untuk puluhan orang dari berbagai dimensi. Mana adil kalau begini?
"Kenapa, Sayang?" Dion menggodaku.
Aku menghela nafas untuk mencari sedikit ketenangan. Terlihat gila karena kecemburuanku, akan menurunkan gengsiku di hadapannya.
__ADS_1
"Hapus deh nomor-nomor gak guna gini, menuh-menuhin!" pintaku dalam kecemburuan.
"Kartu memoriku kapasitasnya banyak, kok, gak masalah." jawab Dion.
Aku memasang wajah cemberut dan bergumam, "menuh-menuhin pikiranku."
Dion mendekatkan dirinya padaku, "Aku mendengarnya."
Tiba-tiba, aku dikejutkan oleh HP yang bergetar di tanganku. Sebuah WA masuk, dari Arnia, membuat tingkat kesebelanku menanjak tajam. Apalagi, Dion segera mengambil HP dari tanganku dan akan membuka WAnya. Sebelum itu terjadi, aku sudah berhasil merebutnya, "Kalau mau selingkuh, jangan di depan mataku!"
"Dapet izin, ya, berarti?" tanyanya dengan ekspresi yang semakin membuatku kesal.
"Dapet, tapi aku juga bakal ngelakuinnya," ungkapku.
"Selama adil, aku terima," terang Dion.
Aku mendelik ke arahnya, "Apa maksudmu?"
"Kamu boleh selingkuh, tapi LDR sama mantan SDmu." Dion memberikan syarat.
"Mantanku cuma Mas Rud," tukasku.
"Berarti, aku gak akan mengizinkanmu selingkuh," terangnya.
Aku berkacak pinggang dan menatapnya tajam, "Aku juga gak ngizinin kamu selingkuh, SAMPAI KAPAN PUN!"
"Aku juga gak kepikiran untuk selingkuh, Sayang," ucap Dion seraya menurunkan tanganku yang bertengger kuat di pinggangku.
"Jika kita membutuhkan pergantian siang dan malam setiap hari, maka aku hanya membutuhkanmu untuk menemani pergantian usiaku di sepanjang waktuku. Aku tak ingin menjadi matahari, yang sendirian bersinar di siang hari. Aku juga gak ingin menjadi bulan yang berpendar indah ditemani ribuan bintang di malam hari. Sayang, aku gak bisa jika harus melewati hari tanpamu, Tapi aku juga gak butuh perempuan lain di sisiku, hanya kamu yang aku mau. Aku hanya ingin menjadi Dion yang di dampingi Rosa." ungkap Dion sambil menatap mataku lembut.
Kalau sudah begini, aku sudah tak punya kata lagi untuk membatahnya.
"Kamu takut kalau Arni akan membuatku berpaling darimu?" tanyanya.
Dion menggenggam jemariku, "Sesungguhnya, akulah yang lebih takut kamu berpaling dariku,Sayang. Arnia jauh, ada di Yogya. Sementara Aryan, dia ada di sekelilingmu. Waktumu melihatnya lebih banyak daripada untuk melihatku. Aku takut kamu terpikat olehnya."
Aku menunduk, "Aku hanya menganggapnya teman, apakah aku harus menjauhinya jika kamu merasa tak nyaman dengan kedekatanku dengannya?"
"Aku tidak membatasi pertemananmu dengan siapapun, termasuk Aryan. Hanya saja aku meminta untuk meminimalkan dirimu berduaan dengannya." terang Dion sambil membelai pipiku manja.
Aku mengambil tangannya yang memegang pipiku, "Terimakasih, Sayang. Maafkan aku karena tak bisa menjaga perasaanmu. Mulai sekarang, aku akan selalu menjaga hatiku untukmu."
Dion mengacak puncak rambutku, "Ayo, aku antar pulang! Aku takut akan melahapmu habis jika kelamaan berduaan di sini.
__ADS_1
*****
Teman-teman semua, terimakasih karena sudah meluangkan waktu untuk membaca hasil karyaku. Jangan lupa tinggalkan jejak ya, like n komen agar aku tau dukunganmu untukku.