
Perempuan ....
Makhluk yang amat sukar untuk dipahami. Antara hati dan mulutnya tak selalu berkata yang sama. Seringkali hati berbicara cinta tapi mulut bicara benci. Terkadang rindu bertahta di sanubari tapi mulut mengingkari. Begitulah perempuan.
Dan itu termasuk aku. Tak ku sangkali jika aku merindukan Dion. Bukan sekedar rindu tapi rindu yang teramat berat. Rasa yang mencekikku ini sebenarnya ingin ku hantarkan pada pemiliknya. Namun egoku begitu tinggi, tinggi sekali. Hingga aku memilih untuk menahan sesak di dada.
Siangku sudah menghilang dalam kerinduan. Soreku sudah berlalu dalam rindu yang makin menggebu. Dan malam pun datang membawakan rindu yang sudah segudang
Aarrgghh!
Rindu ini membuatku gila. Kegilaan yang membuat hatiku ambyar. Seambyar sadboy n sadgirlnya the godfather of brokenheart. Dan haruskah aku menjadi bagian dari mereka agar sakit hatiku ini bisa aku jogetin, kriuk-kriuk. Ah, aku rupanya sudah segila itu.
Ku pandang pintu yang ada di hadapanku. Bagaimana bisa langkah ini membawaku kemari? Saat aku tengah merutuki keputusan nekatku, tiba-tiba saja pintu itu terbuka. Sepasang kaki perlahan berjalan masuk dan berbalik tepat di depanku. "Apa kamu merindukanku, Sayang?" ucapnya lembut.
Mendengar suaranya saja, seolah keambyaranku kembali membentuk sebuah wujud hati yang utuh. Aku hendak memeluk dan menikmati aroma tubuhnya yang selalu menenangkanku. Namun rupanya dia sudah menghilang dari pandanganku.
"Di!" ku berteriak memanggilnya seraya mempercepat langkahku untuk mengejarnya.
Ruang tamu nihil, dapur nihil, di mana dia?
Kamar? Aku ragu untuk mencarinya ke kamar. Ku putuskan untuk menunggunya di ruang tamu. Sepuluh menit berlalu tapi ia tak kunjung keluar.
Aku tak kuat lagi menahannya. Perlahan ku edarkan pandanganku ke dalam kamar yang kau biarkan pintunya terbuka. Sepi ... di mana kamu? Ku biarkan kakiku beringsut masuk dan ku dudukkan tubuhku di tepi ranjang. Kamar ini begitu rapi dan wangi. Aku terbuai kenyamanan.
Ceklek!
Menoleh ke arah datangnya suara membuat napasku tercekat seketika. Lagi-lagi ini dosa ataukah pahala? Ku lihat Dion sedang menggeleng-gelengkan kepalanya. Tetes-tetes air yang masih membasahi rambutnya, membuatku tak bisa menahan saliva yang bermain di dalam mulutku.
"Kenapa kamu melihatku begitu?" ucap santai Dion sambil berlalu di hadapanku.
Aku tersentak oleh kalimatnya. "A-aku keluar dulu."
Tanpa menatapnya, aku berdiri dari dudukku. Rupanya aku sudah meleleh melihat pemandangan indah bagian atas tubuhnya. Sekat-sekat diperutnya itu mendidihkan nafsu-nafsu kecil yang berdiam di tubuhku. Ini bahkan lebih indah dari yang semalam ku lihat di tubuh Mas Rud.
Ish! Hitamnya khayalanku.
*****
Menunggunya keluar dari kamar terasa begitu menjemukan. Ku ambil segelas air putih untuk membasahi kerongkonganku yang mulai mengering. Meja makan, inilah ruangan yang ku pilih untuk menunggunya. Ku teguk beberapa tetes air untuk menghilangkan dahaga yang menyerangku.
"Di," panggilku saat Dion juga ikut mengambil segelas air dari dispenser.
Pandangan Dion hanya sekilas menyapaku, dia berlalu tanpa sepatah kata pun. Lantas dia duduk di kursi seberangku. "Ada apa?"
"Kamu masih marah?" tanyaku memperhatikan wajahnya.
__ADS_1
"Bukankah kamu yang marah sama aku?" jawab Dion setelah berhasil menyisakan setengah air putih yang ada di gelasnya.
"Aku?" tunjukku pada diriku sendiri.
Dion menyenderkan tubuhnya kemudian ia lipat sepasang tangan itu di depan dadanya. "Bukankah kamu yang memintaku untuk mengoreksi ulang hubungan kita?"
Ah ... Di!
Jangan bilang kalau kamu menelan mentah-mentah semua yang ku katakan. Apa kamu gak mengerti, jika perempuan itu marah maka segala yang diucapkannya adalah sesuatu yang berbanding terbalik dengan yang dia inginkan.
Mengapa kamu bisa setenang ini? Apa kamu sudah berhasil mengoreksi hatimu? Apa kamu sudah punya jawaban atas permintaanku?
"Lalu?" aku mulai mengkhawatirkan kelanjutan hubungan kita.
"Yang lalu biarlah berlalu," ucap Dion kemudian.
Aku menegakkan postur tubuhku. "Maksud kamu?"
"Akan selalu ada kenangan dari setiap kisah," sambungnya lagi.
Ketenanganku sudah mulai terusik. Ku memilih untuk berdiri dan mendekatinya. "Kenangan? Kita berakhir?" Aku mulai tak bisa menahan gejolak perasaanku. Ku rasa air mataku mulai mengintip dari balik layar indra penglihatanku.
"Jika itu maumu, maka aku akan mengabulkan," jelas Dion.
Mengabulkan mauku?
Dan apa sebenarnya yang ku mau?
Aarrgghh!
Ku pegang lengannya. "Kamu melepaskanku?"
"Gak ada lelaki manapun yang mau hati kekasihnya terbagi. Begitu pun aku, aku mau hanya menjadi satu-satunya di hatimu. Namun jika kamu tidak mampu menjadi seperti yang ku mau, maka biarlah aku yang mengikhlaskanmu untuk meraih bahagia seperti yang kamu mau." ucap Dion seraya menepis tanganku dan berjalan ke ruang tamu.
"Di, aku mencintaimu, aku mohon jangan lepaskan aku," rengekku sambil bergelayut manja di lengannya.
"Bukan aku yang melepaskanmu, tapi kamu yang memintanya. Dan bukankah kamu tahu jika cintaku padamu, akan bisa mengabulkan semua maumu, meski itu bukan mauku." jelas Dion yang membuat hatiku makin sakit.
"Lihat aku!" pintaku. "Cemburui aku saat aku berduaan dengan Pak Aryan. Cemburui aku saat aku belum bisa memusnahkan semua rasaku pada Mas Rud. Cemburui aku sesuka hatimu, Di, tapi ... jangan lepaskan aku," mohonku.
Dion menatapku. "Kenapa aku harus mempertahankanmu? Apa kamu bisa menjauh dari Aryan? Apa kamu bisa membuang perasaanmu pada Rud? Bisa?"
Aku menunduk, permintaan itu terlalu berat. Untuk masalah Pak Aryan, aku memang tak menaruh hati untuknya. Hanya saja jika harus resign dari kantornya? Aku belum siap, aku masih begitu mencintai pekerjaanku.
"Bisakah kamu memberiku waktu untuk resign? Bukankah kamu yang mendukungku dengan pekerjaan ini?" pintaku manja.
__ADS_1
Dion meraih daguku. "Kalau Rud, apakah kamu akan minta perpanjangan waktu juga untuk melupakannya?"
Mataku yang dipaksa menatapnya karena sentuhannya pada daguku, sebentar ku alihkan. Aku tak tahu bagaimana menjawab pertanyaan mengenai Mas Rud. Karena aku sendiri tak memahami perasaan seperti apa yang sekarang ku miliki untuknya. Apakah cinta atau sekedar terbawa perasaan semata.
Dion melepaskan raihan tangannya pada daguku. "Ayo, aku antar kamu pulang. Aku tidak ingin memaksamu untuk menerimaku kalau nyatanya di hatimu masih ada orang lain. Bukankah kita semua akan tersakiti jika tetap memaksakan keadaan. Kembalilah padanya!"
"Mungkin aku memang masih mencintainya, mungkin dia pun masih mencintaiku. Namun aku tak mau menyakitimu, Di," jujurku.
Ku gapai lengannya, mataku, ku isyaratkan untuk memintanya tidak melepaskanku. Dion pun mengurungkan niatnya, dia kembali duduk di sofa. Aku beringsut dudut di karpet tepat di depannya. Ku rebahkan kepalaku di pangkuangannya. "Di, bantu aku melupakannya. Jangan lepaskan, aku!"
Dion membelai rambut pada puncak kepalaku. Dia menatap lekat mataku yang menengadah ke matanya. "Aku tak akan semudah itu melepaskanmu."
Dia kemudian membimbingku untuk duduk di pangkuannya. Sebuah pelukan hangat mengungkung dari tubuh belakangku kemudian dia sandarkan kepalanya di ceruk leherku. "Sayang, bagaimana harimu selama aku tak menghubungimu? Apa kamu merindukanku?"
"Ku nikmati pelukannya yang membuatku nyaman. "Mungkin aku masih merindukan Mas Rud tapi nyatanya aku tak bisa jika kamu mengabaikanku begitu saja."
"Benarkah?" yakin Dion seraya mengeratkan kaitan lengannya di perutku.
Aku memiringkan tubuhku agar bisa melihatnya. "Apa kamu sudah memaafkanku?"
"Aku tak bisa melihatmu merengek seperti tadi." Ku rasakan hembusan napas hangat Dion menyapu telingaku. Dia lantas berbisik, "Melepaskanmu bukan hal yang mudah untukku."
Ku putar tubuhku untuk bisa leluasa memeluknya. Ku dekatkan bibirku ke pipinya.
Cup!
Sebuah kelembutan ku sentuhkan pada pipi kirinya. Lantas ku paku tatapanku pada bening matanya. "Nadeo?"
Dion melepaskan ikatan rambutku. "Kenapa dia?"
Bibirku mengerucut. Aku sebel mengapa ia bertanya seperti itu. Bukankah semalam kita bertengkar karena dia. Apakah dia sengaja menggodaku?
Dion mengambil remote tv yang ada di meja. Dia tekan tombol berwarna merah itu. Sebuah suara yang sepertinya aku kenal menyapaku.
"Hai, Rosa!"
Ku alihkan mataku untuk mencari sumber suara. "Nadeo!" Aku tak percaya dengan apa yang baru saja ku lihat dan ku dengar. Nadeo menyapaku! Dia memanggil namaku.
Aku bahagia sekali mendengar cerita dari Dion, kekasihmu, jika kamu sangat mengidolakanku. Tapi sesungguhnya, aku yang mengidolakan dia.
Malam itu, setelah aku tanding, dia menemuiku di hotel. Bukan hal yang mudah untuk melakukan itu, tapi ia begitu kekeh. Dia bilang, kamu menomorduakan dia kalau ada aku, makanya dia menemuiku agar kamu tahu bahwa hanya dialah yang pantas untuk menjadi nomor satu di hatimu.
Banyak lelaki yang bisa mencintaimu dengan tulus. Namun lelaki yang dengan tulus memperjuangkan cinta untuk membahagiaanmu itu hanya satu, Dion. Jadi, Rosa, bersediakah kamu menerima Dion sebagai tunanganmu?
"Tunangan?" gumamku sambil memutar tubuhku agar bisa melihat Dion utuh.
__ADS_1
Dion menatapku lembut, dia mengambil tanganku dan dia bawa ke dalam sentuhan bibir lembutnya. "Tetaplah bersamaku meskipun rasamu belum seutuhnya untukku. Nikmatilah cintaku, bahagialah ketika rasa cemburuku membuatmu terluka, katakanlah semua yang mengganggu pikiranmu, biarkan aku jadi pendengar yang baik untuk segala keluh kesahmu, amarahmu dan bahkan sifat manjamu. Izinkan aku menjadi lelakimu."
Ku peluk tubuh Dion erat. Tak ada lagi kata yang ingin ku sampaikan, semua raguku telah dia jawab. Jangankan menjadi tunangannya jika dia mengajakku menikah sekarang pun, aku tak akan menolaknya. Benar kata Maya, Dion adalah kenyataan yang membahagiakanku.