
London, alasan yang akhirnya mempercepat pernikahanku dengan Dion. Percepatan yang awalnya kusanggah tapi pada akhirnya malah membuatku bahagia tak tersanggah. Mungkin aku memang harus dipaksa agar bisa menyadari bahwa cinta itu ada, besar dan sudah bertahta pada singgasananya.
"Sudah siap untuk perjalanan panjang, kita?" tanya Dion begitu pesawat siap take off.
"Hanya 14,5 jam, itu bukan hal yang sulit kulalui, apalagi ada kamu di sampingku," gombalanku mulai fasih, tertular Dion.
"Masa?" godanya dengan menyentil hidungku.
"Sepanjang napasku aja, aku akan sanggup mengarungi bahtera rumah tangga bersamamu, apalagi hanya 14,5 jam bertahan di pesawat yang mengudara," gombalanku semakin menjadi.
"Kok, jadi kamu yang pinter ngegombal?" ulik Dion.
"Terlalu banyak digombalin, aku jadi pinter," gurauku dengan mengerling manja.
"Apakah termasuk gombalan dariku yang membuatmu pinter, Sa?" ucap seseorang yang tiba-tiba menyela obrolanku dan Dion.
Kukenali suara itu, hanya saja aku tidak yakin dengan sematan nama yang sudah terlabel untuknya di otakku. Untuk memastikannya, kucari sumber suara yang berasal dari jejeren kursi di bagian tengah pas di sebelah kiriku. Dion pun melakukan hal yang sama denganku.
"Mengapa Bapak ada dimana-mana?" sapaku tidak ramah.
"Ngintilin kita, kayaknya, Yang," timpal Dion kemudian.
"Ha-ha-ha ... ini namanya jodoh," jawab santai Pak Aryan.
Jodoh? Jodoh macam apa itu? Siapa yang berjodoh?
"Kalian berdua mesra bener? Habis berantem, ya, semalam?" selidik Pak Aryan yang justru membuatku berpikir apakah dia sudah tahu mengenai pernikahan siri kami.
"Malam yang dingin tanpa berantem itu gak seru, Bro!" jawab Dion santai tapi penuh penegasan.
"Kalian mau kemana? Berdua-duaan, awas khilaf!" ingat Pak Aryan.
"Justru kami mau khilaf, makanya sengaja terbang jauh," timpal Dion seenaknya.
"Bapak, mau kemana?" tanyaku untuk menghentikan topik perkhilafan yang mereka bahas.
"Mau jawab ke hatimu, tapi takut ada yang cemburu, ha-ha-ha," gelak tawa mengiringi jawaban konyol Pak Aryan.
"Jangan jadi pebinor!" tegas Dion yang sanggup membuat Pak Aryan memutar tubuhnya ke arah kami.
"Kurasa itu sangat menantang," tawanya lagi-lagi tercipta.
__ADS_1
Dion tak menimpali. Hanya saja ia mengepalkan tangannya dan di posisikan siap meninju. Menunjukkan raut wajah garang untuk menegaskan bahwa peringatannya bukan main-main.
Kuturunkan kepalan tangannya. "Jangan memancing amarah suamiku, Pak!"
"Kalian pengantin baru? Kenapa tidak meminta kado dariku?" ucapnya dengan penuh senyum yang kupikir itu adalah senyum ketulusan.
Laki-laki matang ini memang sungguh tak terduga. Ada cinta tapi tak menampakkan luka. Padahal usia dan pengalaman percintaannya bisa dikatakan level dasar, tapi kelihaiannya menjaga rasa sudah masuk level tertinggi.
"Mau ngasih kami kado apa, Pak? Mobil? Rumah? Paket liburan?" cercaku tak tanggung-tanggung.
"Seperangkat alat sholat," jawabnya singkat, padat, jelas dan bikin amarah meningkat.
"itu mahar, Pak," jelasku.
"Aku sudah siap mahar tapi gak ada yang dihalalkan," kekehnya. "Makanya buat kamu, ajalah!"
"Bapak yang aneh, harusnya tuh cari yang mau dihalalin dulu baru mahar, lah ini malah kebalik," ejekku yang tak pernah membuatnya tersinggung.
"Mahar itu untuk menghalalkanmu tapi ternyata kamu udah dihalalkan tunanganmu," ucapnya tanpa beban.
Mulut Pak Aryan selalu tak bisa dikondisikan. Bergurau semaunya, enteng tanpa beban. Kalau tidak mengenalnya, pasti akan menimbulkan pertumpahan darah. Aku sudah biasa dengan candaannya dan kurasa Dion juga begitu. Meski di hatinya menghiba rasa, mulutnya memutar cinta tapi pada kenyataannya dia tidak akan memisahkan sesuatu yang sudah menjadi milik orang lain.
*****
"Aryan's Hotel" begitulah nama dari tempat yang akan menjadi persinggahan kami selama seminggu di sini.
Setelah check in kami segera menuju kamar yang berada di lantai 19. Pemandangan luar hotel sungguh menakjubakan dari kamar presidential suite yang kami tempati. Jam yang menunjukkan pukul 20.30 waktu London atau pukul 03.30 WIB membuatku bisa menikmati suasana malam kota yang terkenal dengan keromantisannya itu.
"Rasanya seperti mimpi," jujurku pada Dion yang tengah menemaniku menikmati malam di balkon.
"Bagimu mimpi, apalagi bagiku," jujurnya balik menanggapi kejujuranku.
"Terimakasih," ucapku menghambur ke dalam pelukannya.
Dion menyamankan posisi pelukan kami. Dia putar tubuhku hingga berdiri membelakanginya. Tangannya dilingkarkan pada perut rampingku. "Aku yang seharusnya berterimakasih padamu. Status kita ini masih seperti mimpi bagiku."
"Aku yang seharusnya berterimakasih untuk cintamu yang begitu besar."
"Berhentilah untuk berterimakasih, aku takut jika akan membuatku merasa berharga dan akan menjadikanku berbuat semauku," ucapnya seraya menciumi rambutku.
"Apakah kamu pernah berhenti mencintaiku?" tanyaku mengulik perasaan hebatnya yang tak pudar meskipun selalu aku abaikan.
__ADS_1
"Pernah kuputuskan untuk berhenti. Namun, aku malah kehilangan sesuatu yang gak bisa aku jelaskan. Akhirnya aku mendekatimu lagi, bukan untuk memaksakan perasaanmu tapi untuk menjagamu dari jauh. Sepertinya keikhlasanku itulah yang justru membuat takdir menyatukan kita,"
Aku memutar tubuhku. "Makanya waktu itu, kamu yang menjagaku saat Mas Rud meninggalkanku?"
Tak ada jawaban yang keluar dari bibirnya. Hanya seulas senyum sempurna yang menyapu indah di wajahnya. Kembali mendekapku ke dalam hangat peluknya. Dada bidangnya menjadi tempat paling nyaman untuk bersandar.
"Mas," sapaku lembut.
"Hmmm, kamu memanggilku, Mas? Mengapa aku merasakan jika panggilanmu begitu mesra? Aku jadi ingin ...," Dion menjeda kalimat yang diucapkannya. Dia kemudian melepaskan pelukannya dan menggandengku untuk masuk ke kamar. Meninggalkan balkon yang menawarkan panorama malam yang indah di ibukota negara Inggris itu.
*****
Pak Aryan PoV
Adakah yang merindukanku? Seperti aku yang merindukan wanita yang kini telah sah menjadi istri seorang Dion, lelaki yang kuanggap sebagai teman. Rindu yang menyakitkan namun tetap kusimpan. Hanya rasa ini yang kumiliki, untuk selalu mengenangmu sebagai bagian dari cinta yang selalu kuinginkan.
Pencinta sepertiku apakah akan menemukan bahagia? Mungkin begitu anggapanmu dan juga orang-orang yang mengetahui rumitnya perasaanku. Jujur aku bahagia sekarang meskipun bahagia ini tidaklah sempurna. Seperti sakitnya karena jatuh cinta sendiri, aku pun bahagia walau hanya sekadar jadi cinta tanpa balasan.
Cintaku yang masih akan mengukir cerita yang panjang kurasa tidak akan sepanjang mataku yang melihat kalian berdua, di pesawat yang sama denganku. Obrolan romantis kalian yang sampai di telingaku, membuat gemuruh di hati. Namun bukan Aryan Satya Dharma namanya kalau aku tak bisa menguasai perasaanku.
Kucoba untuk menyapa kalian seolah aku tidak terdampak apapun atas pernikahan yang baru saja terjadi hari kemarin. Ya, aku tau semuanya. Namun bagiku kamu dan dia masih Rosa dan Dion yang sebelumnya. Wanita yang kucintai dan lelaki yang engkau cintai. Kuendapkan laraku dan kutinggikan diriku sebagai Aryan yang tetap menjaga cinta tanpa cintamu dan dia harus terluka.
"Mengapa Bapak ada dimana-mana?" sapamu tidak ramah.
Ketusmu itu memang seperti kutukan. Semakin kau ketusi maka lelaki itu akan semakin jatuh hati. Dulu Dion dan kini aku yang menjadi korbannya. Pertanyaanmu itu terdengar menggelikan telingaku. Aku sendiri tidak mengerti mengapa takdir suka sekali mempertemukan kita secara tidak sengaja. Seperti kali ini, aku juga sama sekali tak menduga jika akan bertemu denganmu. Perjalanan panjang yang ku kira akan membosankan ternyata malah membuat hatiku bahagia.
Kamu bertanya mengapa aku ada dimana-mana? Karena cintaku, itulah yang menjadi jawabannya. Ketulusan yang aku miliki, ternyata selalu bisa menghadirkanmu di sisiku. Meski aku harus melihatmu dengannya, tapi aku sudah bahagia. Begitulah, bahagiaku itu teramat sederhana.
"Kalian pengantin baru? Kenapa tidak meminta kado dariku?" ucapku dengan penuh senyum.
"Mau ngasih kami kado apa, Pak? Mobil? Rumah? Paket liburan?" cercamu tak tanggung-tanggung.
Asal kamu tahu saja, aku bisa memberi semua yang kamu minta. Jangankan hanya mobil, rumah atau paket liburan, nyawa pun bisa aku serahkan asal kamu bisa bahagia dengan orang yang kamu cintai. Seperti kamar yang kalian tempati, semua ini adalah aku yang memilihkannya. Kok bisa? Karena Aryan's Hotel ini adalah ....
Ya, seperti itu.
Aku sengaja memilih kamar di sebelah kamarmu. Memiliki balkon yang memungkinkan aku untuk bisa melihat dengan jelas apa yang ada di balkonmu. Apakah aku modus? Mungkin iya tapi tidak 100%. Hanya sekadar ingin tahu dan ya ... aku tahu ....
Tak sengaja aku keluar pada saat yang tepat. Melihat kalian yang sedang berpelukan. Keromantisan yang sebenarnya membuatku malu karena melihatnya dan rasanya juga menjadi ingin meskipun itu hanya akan menjadi sebuah keinginan.
Semoga semua yang kulihat tidak menjadikanku seorang yang berniat jahat. Semoga kebahagiaan yang kalian pertontonkan juga akan selalu membuatku bahagia. Semoga cinta ini akan selalu menuntunku untuk menjagamu bukan untuk melukaimu
__ADS_1