
Goresan pena kehidupan yang mengukir setiap kisah, selalu memiliki dua sisi berkebalikan sebagai penyeimbang. Perpisahan pasti akan terjadi saat pertemuan mencantumkan diri. Seperti situasi yang harus kami alami detik ini. Saat waktu menjelang siang, tepatnya pukul sepuluh pagi, keramaian di rumah Mama sebentar lagi akan berangsur sepi. Kerabat dan sahabat baik yang berasal dari luar kota maupun yang dekat tapi sengaja menginap mulai undur diri.
Dari sekian banyak yang masih tinggal, Mas Rendra dan kerabat dari Jogja bersiap untuk berpamitan. Barang-Barang yang terdiri dari keperluan sehari-hari dan beraneka makanan sudah selesai di masukkan ke dalam bagasi mobil. Keluarga besar Eyang akan segera kembali dengan tiga mobil berpenumpang banyak. Sementara bus yang mereka sewa langsung pulang begitu acara resepsi telah usai.
Keharuan selalu mewarnai saat pisah menamakan diri. Bukan sebuah kisah lebay namun naluri. Tangis bukan bukti kerapuhan hati tapi wujud sayang sebagai sesama manusia yang saling terikat oleh perasaan. Pelukan sebelum kepergian adalah obat untuk rindu yang nanti akan hadir membelenggu. Dan juga sebagai doa agar kedekatan ini akan diberi kesempatan untuk kembali bersua dalam suasana bahagia berikutnya.
"Kalian berdua harus rukun, ya. Selalu ingat pesan Eyang, kalau ada masalah bicarakan dari hati ke hati bukan saling berdiam diri," nasihat Eyang untukku dan Dion sebelum masuk mobil.
Dion merangkulku dan mengulas senyum penuh keikhlasan yang kubalas dengan jenis senyum yang sama. "Iya, Eyang. Dion akan jadi imam yang baik untuk istri yang cantik dan baik ini."
Sebenarnya aku malu, menampakkan kemesraan di depan khalayak ramai. Namun demi memberi ketenangan dan kelegaan pikiran, rangkulan Dion tak kupermasalahkan. Apalagi bisa kutemukan rona bahagia di raut wajah mereka, keluarga Jogja yang akan menempuh perjalanan kembali.
"Ingat, jangan sampai kalah cepet dari Rendra dan Maya!" pesan Om Septian sebelum menutup jendela mobil di samping kemudinya.
Mulai lagi kekonyolan keluarga ini. Pemesanan untuk sebuah jiwa baru seenteng membuat bakwan isi udang. Bisa instan dengan bumbu siap saji. Padahal kan kenyataannya tidak semudah itu. Bukan hanya menyatukan dua benih dengan kualitas terbaik tapi juga harus disertai doa. Dan itu pun tidak bisa saling berlomba. Karena sebuah nyawa bukan roda menggelinding yang bisa di gas pol agar los dol.
Dion memasang senyum nakalnya. "Om tuh yang perlu dicarikan istri. Apa perlu bantuanku?" goda Dion dengan menaikturunkan kedua alisnya.
"Bawakan aku yang seperti istrimu! Nanti aku salip bikin kesebelasan," balasnya enteng tak mau dikalahkan omongan.
"Buruan pulang aja, Om. Kurasa istriku dalam bahaya Om-Om bermata keranjang," usir Dion sambil melambaikan tangannya.
Kami semua kompak melambaikan tangan sebagai salam perpisahan. Air mata yang tadi sempat merintih kini berganti doa dalam lirih. Semoga perjalanan mereka dijauhkan dari mara bahaya dan dilancarkan sampai tujuan. Aamiin
"Kalian berdua lupa jalan pulang?" sindir Dion pada Mas Rendra dan Maya yang duduk santai di teras rumah.
"Kami justru hafal jalan pulang, makanya balik belakangan," timpal Mas Rendra dengan santainya.
"Terserahlah. Awas jangan jadi nyamuk dalam kelambu," ingat Dion karena sepupunya itu selalu punya trik baru untuk mengganggu.
__ADS_1
Ya ... Dion dan Mas Rendra akan selalu bertukar kata dalam setiap kebersamaan. Debat tanpa bobot tapi cukup bisa meramaikan suasana. Kadang, aku memilih pergi saat dua sejoli itu mulai berdebat tidak sehat. Biar saja mereka bergulat hanya demi masalah yang sepele dan tak penting untuk di bahas. Kehadiran mereka selain jadi obat sepi juga seringkali jadi hiburan gratisan.
"Sa, aku balik dulu, ya," pamit Pak Aryan yang baru keluar.
Di belakangnya Kristy membawakan sekantong makanan yang mama berikan untuk anak sulung tampannya.
"Balik ke apartemen kan, Pak?" tanyaku memastikan.
Pak Aryan mengacak rambutku. "Aku mau pulang. Gara-gara kumpul sama keluarga besar kalian, aku rindu Papa. Rasanya udah lama aku gak menemuinya," jelasnya seraya melirik Dion yang memperlihatkan wajah tak suka dengan tindakan yang baru saja ia lakukan padaku.
"Bawakan calon mantu sekalian, biar Papamu tambah senang," seloroh Dion sambil mendekatkan tubuhku padanya. Mengantisipasi jika Pak Aryan khilaf dan memelukku sebelum pergi.
"Nanti aku bawakan cucu dari kalian, aja. Bukankah itu lebih menghiburnya," balasnya yang selalu bisa menimpali Dion dengan trik cerdas.
"Bikinin sendiri, dong! Masa gak mampu?" ejek Mas Rendra yang suka menyela jika topiknya menggelitik telinga.
Pak Aryan menoleh ke arah Mas Rendra. "Aku punya 2 calon keponakan, itu pasti akan sangat ramai."
Aku heran dengan pemikiran lelaki matang yang lebih sudi melajang daripada sibuk mencari pasangan ini. Hidup sempurnanya yang dipenuhi gelimang harta tak lantas menjadikannya sebagai penikmat tubuh wanita tanpa bingkai pernikahan. Wajah tampannya pun tak ia manfaatkan untuk menggaet wanita semaunya. Entahlah ... kapan ia akan menyiapkan hati untuk diisi cinta yang akan membahagiakannya.
"Hot uncle butuh aunty cantik loh, Pak," sindirku yang hanya dibalas senyum olehnya.
"Kalau ada aunty cantik, gak jadi hot uncle lagi, dong, Sa?" timpal Pak Aryan sebelum mengambil pemberian mama yang dibawa Kristy.
"Kalau kalian merindukanku, datang saja ke rumah," ucap Pak Aryan sebelum melangkah pergi menuju mobilnya. Kuikuti perjalanannya hingga ia masuk mobil, melajukan dan menghilang di balik pintu gerbang.
"Sayang, 'gitu banget ngeliatnya?" seru Dion saat melihatku begitu terpaku dengan kepergian Pak Aryan.
"Hm," gumamku yang masih setengah sadar dengan pertanyaannya tapi tak begitu fokus karena pikiranku lebih tertuju pada seseorang yang baru saja berlalu.
__ADS_1
"Aku cemburu kalau kamu memandang Aryan dengan begitu dalam," ujar Dion dengan sebuah pernyataan tentang perasaan.
Kata cemburu membuatku sadar, bahwa lelakiku ini mulai berada pada keadaan tidak normal. Emosinya yang mulai meningkat harus segera diturunkan pada level normal. Setiap lelaki pasti memiliki cemburu jika wanitanya menajamkan mata pada lain pria. Dan kurasa kecemburuan Dion dalam level sangat wajar. Tak seperti Tuan Arga yang menaruh cemburu untuk kakak kandung sang istri tercintanya. Kalau Dion begitu, kurasa aku lebih memilih berubah menjadi batu.
"Cemburumu pada Pak Aryan itu hanya buang-buang energi, Sayang. Dia sudah kuanggap Abangku sendiri," terangku sambil bergelayut manja di lengannya.
"Tetap saja dia lelaki normal, kalau kamu terlalu dekat dengannya, hatinya bisa goyah. Aku tak melarang, hanya berilah kadar yang pas," nasihat Dion sambil mengacak rambutku yang tadi sempat di acak juga oleh Pak Aryan.
"Apakah menurutmu aku terlalu bermanja dengannya?" celetukku sambil menariknya masuk rumah.
"Aku akan menyeretmu kalau kamu berani bermanja padanya. Manjamu hanya boleh denganku," ucapnya melemaskan langkah mengikuti ke mana kakiku berjalan.
"Sekarang aku yang akan menyeretmu ke ranjang," ucapku dengan berani.
"Aku dengan suka rela menyerahkan diri," terang Dion segera melempar tubuhnya ke ranjang begitu sampai di kamar. Tubuh terlentangnya itu memang sengaja ia buat untuk menggodaku.
"Jangan meliarkanku yang sedang jinak, Sayang. Aku mau tidur, badanku capek."
"Aku pijitin, ya?" tawarnya dengan tubuh yang langsung ia dudukkan.
"No!" tolakku memilih segera berbaring dengan pose miring memunggunginya.
Dion mulai memijit kakiku. "Aku gak minta bayaran, loh, Yang."
"Aku tahu modusmu, Sayang."
"Kali ini bukan modus," ujar Dion menaikkan pijatannya dari kaki bawah menuju ruas tulang di atasnya.
"Bibirmu tidak modus tapi tanganmu nakal, Sayang."
__ADS_1
"Dia di luar kendaliku," tutur Dion semakin menaikkan pijatan. Semakin naik, naik dan akhirnya memilih berbaring di belakangku. Selimut tebal yang tadi menggantung di ranjang bagian bawah, ia tarik hingga menutupi setengah lebih badan kami. Dibawahnya, Dion mendekapku dengan erat. Dagunya ia lekatkan pada bahuku bagian belakang. "Ayo, Sayang! Kita tidur dengan posisi seperti ini."