
"Mbak, kalian tidak di apartemen, ya? Aku pencet bel berulang kali gak ada yang bukain pintu?" tanya Kristy saat teleponnya kuangkat.
"Kami lagi periksa kandungan, Kris. Kamu gak bilang dulu kalau mau berkunjung, jadi kita kan gak ketemu. Lalu sekarang di mana? Aku pulangnya masih lama," jelasku sambil mengingat kami mendapatkan antrean ketiga sementara sekarang dokternya saja belum datang.
"Mampir di apartemen Abang."
Anak gadis nyamperin pria matang yang jomblo. Memikirkan itu aku sedikit berpikiran negatif. Bukan tak percaya dengan Pak Aryan hanya saja aku takut adikku jatuh cinta pada pesonanya. Sebenarnya tidak masalah jika mereka memang berjodoh. Hanya saja jika memikirkan mereka hanya berdua, tetap saja aku gelisah.
"Kamu sama siapa?" selidikku tanpa basa-basi.
"Aku sama Mama, Mbak. Tenang saja! Di sini aku gak berdua tapi berempat?" tutur Kristy yang kembali menghadirkan tanya di benakku. Aku menelisik siapa yang menjadi orang keempat di antara mereka.
"Kamu kesitu bertiga?" telisikku berikutnya.
Penasaran menghantui pikiranku. Mengumpulkan nama-nama yang mungkin hadir di sana. Mulai Mas Rendra, Maya dan gak tau siapa lagi. Namun itu juga gak mungkin karena setahuku mereka ada di Jogja. Sudah kuputar ingatanku tapi tak ada nama yang bisa menjadi tersangka.Otakku mentok. Rasanya mereka tak memiliki kenalan akrab yang mungkin untuk diajak berkunjung ke apartemenku.
"Berdua, Mbak."
Nah, berarti siapa yang ada di apartemen Pak Aryan sebelum Kristy dan Mama datang. Laki-laki atau perempuan? Pikiranku mulai memilah satu per satu nama yang mungkin menjadi tamu apartemen Abang jombloku. Sayangnya tak banyak pilihan yang bisa kujatuhkan sebagai target.
Bolehkah jika aku berpikir itu adalah Tya? Namun untuk apa dia di sana? Bermalam bersama? Ish! Kutepiskan alasan itu dari pikiran meskipun jujur aku merasa sangat terganggu. Menilik ketegasan Pak Aryan untuk menolaknya, rasanya tak mungkin dia menerima Tya bermalam di apartemennya. Namun, jika gadis itu berbuat nekat dan melakukan hal di luar nalar, bagaimana?
"Apakah dia wanita?" selidikku tak terputus.
"Laki-laki, Mbak."
__ADS_1
Oh Tidak! Jangan sampai yang dibilang Tya kemarin benar. Bahwasanya Pak Aryan itu adalah ba*ci. Eh, bukan banci tapi penyuka sesama lelaki. Tidak! Tidak! Tidak! Namun kalau tidak, kenapa ada lelaki di apartemennya? Mungkin sahabat! Mana mungkin? Abang jomblo itu juga gak punya teman. Haist! Siapa dia?
"Coba katakan siapa lelaki itu!" perintahku tak sabar.
"Om Najendra, Mbak."
"Najendra Dharma?" seruku memastikan.
"Iya, Papanya Pak Aryan."
Kaget. Orang tua tunggal yang super sibuk itu tak biasanya menemui anaknya. Selama aku di apartemen, seingatku tidak pernah menjumpainya berkunjung ke sana. Ini kenapa tumben-tumbenan berada di tempat itu, apalagi berbarengan dengan kedatangan Mama. Aku mencium ketidakberesan. Sepertinya ada sesuatu yang janggal.
"Kalian tunggu aku pulang! Aku pengen ngobrol," kilahku untuk mencegah mereka pulang duluan sebelum kedatanganku.
Tebakan adikku itu memang tepat. Dari malam itu, masalah sari, sebenarnya aku sudah menaruh rasa curiga. Naluriku sebagai wanita yang pernah disukai pria mengatakan bahwa ada sesuatu yang terpendam diantara mereka. Pikiranku mengarah pada hubungan yang terikat dengan rasa yang bertahta manja di hati.
Belum sempat aku mau berkilah Kristy sudah menutup teleponnya. Kubuang napas kasar, membuat Dion mengernyitkan dahi. Tadi aku yang penasaran, sekarang sepertinya Dion yang ganti menggantungkan tanya di pikiran.
"Ada apa?" tanya standar Dion mengawali penyelidikan.
"Aku curiga Mama sama Om Najendra ada apa-apa deh, Sayang."
"Masih juga berpikiran begitu. Sudahlah, biarkan saja. Toh apa salahnya jika mereka saling mencinta? Menghabiskan waktu sendiri itu tidak mudah," ujar Dion dengan bijaksana.
Memang tak ada yang salah dengan cinta. Kapan datang, tak ada orang yang bisa menyangkal. Kepada siapa juga tak pernah salah. Cinta tak pernah pilih kasih. Tua muda bisa merasakannya. Semua berhak untuk bahagia karenanya. Tak terkecuali, pasangan single parent itu. Kesepian yang mereka rasakan mungkin sudah saatnya berhenti di tempat.
__ADS_1
Hanya senyuman kecut kuberikan pada Dion. Bukan aku tak ikhlas Mama bahagia, hanya saja ada gurat tak rela Papa punya pengganti. Bukan menginginkan Mama sendiri sepanjang usianya, hanya saja tidak sekarang waktunya. Lalu kapan aku siap menerima? Jujur aku tak tahu.
"Mengganti bukan berarti melupakan yang pernah ada. Setia bukan berarti hanya ada dia satu-satunya. Waktu itu panjang, Sayang."
"Sepanjang waktu yang kita habiskan untuk menunggu antrean, Sayang," timpalku karena belum juga dipanggil untuk menemui dokter.
Ketika kami baru mulai akan menggombal, sepertinya semesta tidak mendukung. Seorang suster keluar dari ruang praktek dokter dengan sebuah catatan di tangannya. Semua orang yang berada di ruang tunggu termasuk aku, menunggu nama untuk keluar dari mulutnya. Berharap yang dipanggil tak ada di tempat sehingga nomor antrean mereka berkurang satu. Itu berarti akan memangkas waktu untuk menunggu.
"Nyonya Rosalia Citra Atmadja," sebut suster itu untuk nomor antrean ketiga yang tak lain adalah punyaku.
Dengan hati senang bercampur jantung yang berdegup kencang, aku dan Dion memasuki ruangan. Seorang wanita dengan usia sebaya dengan Mama, berkepala lima tengah duduk di meja sambil membuka-buka catatannya. Setelah kami duduk, kata sapaan ramah terucap dari bibirnya.
Berbagai pertanyaan awal tentang riwayat pencarian keringat dalam nikmat, waktu terakhir kedatangan tamu yang mengganggu malam biru hingga tilik calon baby dilakukan, kami kembali ke meja praktek dokter dengan perasaan bahagia. Sebuah kantong yang terlihat dari hasil USG, meyakinkan bahwa calon bayi lucu itu kini telah berproses di dalam rahimku.
"Bu Rosa, calon ibu harus selalu bahagia, ya! Jangan banyak pikiran, nanti akan berpengaruh pada yang ada di dalam kandungan. Itu saja pesan saya," nasehat dokter Sitta.
Kubalas senyuman, semua yang dokter ramah itu katakan. Setelah aku yang diberi wejangan, kini giliran Dion yang diberi arahan. Sebelum berbicara, dokter itu memerhatikan dengan senyum yang susah diartikan.
"Pak, selama trimester pertama, boleh kok main sama ibu, asal harus dengan penuh kelembutan."
Rona merah seketika membias dari wajah Dion. Kalimat yang diucapkan dokter itu sesuai dengan yang kukatakan beberapa waktu lalu. Perbedaannya aku melarang tapi dr. Sitta memperbolehkan asal dengan pelan-pelan.
"Namun saya yakin Bapak mainnya gak seperti para CEO bucin di novel, kok. Dari raut muka Bapak saja saya bisa menebak," goda wanita bertitel Sp.OG itu.
Aku menyetujui kalimat yang baru saja kudengar. Dion adalah simbol kelembutan seorang pria. Selalu bermain dengan hati tanpa pernah menyakiti. Panas tanpa mengenal kata buas. Setiap sentuhannya adalah cinta yang membara tetapi penuh kasih dalam penyampaiannya. Berbeda sekali dengan Po dan Koi yang rajin mengasah jurus baru setiap waktu, Dion selalu memulai dengan penawaran yang saling membahagiakan.
__ADS_1