
"Baca apa 'sih?"
Segera kutolehkan pandangan ke arah suara Anggen yang baru datang. Senyum sumringah gadis yang baru menikah itu, mengalihkan perhatian sementara dari novel yang sedang kubaca. Tanpa memutar kata kutunjukkan layar smartphone-ku.
"Aku lebih suka membaca komik," celetuk Anggen setelah dia mendapatkan jawaban tentang apa yang sedang aku baca.
"Kita beda aliran," timpalku sambil membaca kembali.
"Beda aliran tapi satu pekerjaan," balas Anggen mulai menyalakan layar besar di hadapannya.
"Sebentar lagi kita akan mengalir ke muara yang berbeda."
Tiba-tiba aku merasa ada yang memelukku dari belakang. Dagunya ia sandarkan pada bahuku. Ada isakan kecil yang terdengar. Meskipun samar-samar bisa kupastikan jika orang yang berada di balik punggungku ini adalah Anggen. Kuletakkan benda pipihku. Kuusap lengannya yang melingkar pada tubuh bagian depanku.
"Kita masih akan tetap bersahabat meskipun tak lagi bekerja di satu tempat."
Kurasakan ada kristal bening yang jatuh mengenai kemejaku. Keharuan karena akan berpisah, ikut menyeruak dari sudut hatiku. Menularkan rasa sedih, hingga aku pun mulai ikut menangis. Kami berduka. Walaupun kebersamaan kami belum begitu lama, berpisah tetaplah akan membuat hati dilanda susah.
Tak banyak kata yang kami ungkap. Sesuatu yang ingin kami katakan sudah terwakili lewat air mata yang bergulir tak terbendung. Beberapa menit berlalu, kami terpaku dengan posisi saling mendekap erat.
"Ada apa, ini?" suara Pak Aryan mengganggu kedalaman perasaan yang terjadi diantara aku dan Anggen.
"Kenapa menangis?" Pak Aryan semakin penasaran.
"Sedih," jawabku mulai menghapus air mata.
"Perlu aku berikan pelukan penenang?" tawar Pak Aryan sambil mengerlingkan mata.
Kupilih untuk melepaskan pelukan Anggen dan memutar kursi ke belakang. Menghapus air mata yang dia alirkan dengan kubuat senyuman menenangkan. "Aku menyayangimu."
Usapan pada punggung Anggen kuberikan penuh kelembutan. Kembali saling memeluk sebelun kami kembali ke meja masing-masing. Berkutat dengan pekerjaan. Sementara Pak Aryan sudah pergi entah kapan. Mungkin setelah aku dan sahabat yang tadi saling menangis kembali menangis lagi, lelaki itu memilih pergi.
🚗🚗🚗🚗🏍
Waktu pulang kantor sudah berlalu satu jam. Aku masih bergelut dengan kemacetan jalan bersama Pak Aryan. Dion lagi-lagi tak bisa menjemputku. Tak ada pilihan lain kecuali pulang bersama si Abang. Di sepanjang perjalanan kupilih untuk kembali membaca novel online-ku.
__ADS_1
Perhatianku begitu fokus pada apa yang aku baca, hingga pertanyaan demi pertanyaan yang aku dengar hanya aku jawab dengan kalimat singkat. Terkadang hanya gumaman, tanpa melihat wajah yang sedang mengajak berbicara.
Aku terkesiap saat benda pipih yang kupakai sebagai media baca, sudah berpindah tempat ke tangan Pak Aryan.
"Jangan begini, kalau sama suamimu! Dia akan tersinggung dan marah kalau kamu diajak bicara tapi fokusmu bukan padanya," nasehat Pak Aryan seraya mengembalikan apa yang barusan ia ambil.
Kubalas cengiran senyum. "Bapak gak marah?"
"Ini aku lagi marahin kamu."
Lagi-lagi aku memamerkan cengiran. Segera kumasukkan benda pipih itu ke dalam tas. Melihat lurus jalanan yang dipenuhi oleh kendaraan yang berjajar rapi karena kemacetan. Kecepatan yang tak lebih dari 30 km/jam membuat indra penglihatan dihamparkan dengan pencahayaan merah sepanjang mata memandang.
"Baca novel online?" tanya Pak Aryan berikutnya sambil mengganti saluran radio.
Jawabanku hanya anggukan kepala.
"Biasanya orang akan lupa waktu jika sudah mengenal aplikasi online, entah itu game, aplikasi baca atau saluran film. Jangan sampai itu terjadi padamu. Ingat, lagi hamil! Jangan begadang!" nasehat Pak Aryan panjang lebar.
Kubuang pandangan berlawanan arah dengan keberadaannya. "Bapak cerewet sekali."
Tangan Pak Aryan mengacak puncak kepalaku. "Jangan ngeyel! Abangmu ini udah pernah mengalami itu."
"Ketagihan cinta," balas santai Pak Aryan sambil memutar stir bundarnya melewati bundaran dan memilih jalur ke kanan.
"Bapak emang punya cinta? Eh salah, punya wanita yang mencintai, Bapak?" ejekku seraya melepaskan tawa.
"Nah itu, gak ada," jujur Pak Aryan yang membuatku menahan tawa dan hanya melesatkan senyuman.
"Bapak ngenes amat, ya?"
"Masa ngenes itu sudah berlalu, semenjak mengenalmu dan menjadi Abangmu, aku bahagia." Pak Aryan kembali mengacak puncak kepalaku.
Skak Mat! Kalau kalimat itu sudah keluar, maka aku memilih diam. Tak ingin memperpanjang pertanyaan karena takut akan membuat sesuatu jadi runyam. Hanyalah senyum yang bisa membuat aman.
Pikiranku menemukan sebuah bahasan yang akan memecah kecanggungan. "Pak, aku mulai baca novel tentang Tuan Muda. Hidupnya sempurna banget. Tampan, Hartawan, pokoknya idaman. Begitu gak sih aslinya?"
__ADS_1
"Kenapa bertanya padaku?" timpal enteng Pak Aryan.
"Karena Pak Aryan Tuan Muda, walaupun udah gak muda sebenarnya," jawabku dengan ejekan pada kalimat belakang.
"Kamu pikir aku sudah tua? Aku hanya terpaut lima tahun darimu."
"Masa? Kenapa kelihatan selisih lima belas tahun, ya?" ejekku kembali seraya menatapnya dengan memicingkan mata.
"Jangan membuatku gemas!" ancam Pak Aryan dengan tatapan fokus ke depan.
Sebenarnya Pak Aryan itu masih muda, kok. Tak ada keriput atau wajah tua yang terlukis di raut mukanya. Hanya saja aku memang suka sekali menggodanya. Itu bentuk kasih sayang dari seorang adik kepada seorang abang.
"Suamimu mulai banyak kerjaan, nih?" selidik Pak Aryan mengalihkan topik pembicaraan.
"Alhamdulillah. Hikmah punya banyak teman."
"Aku kagum dengan suamimu. Semangat hidupnya untuk membahagiakanmu, luar biasa," puji Pak aryan sambil melihatku sebentar. "Gak nyesel aku melepaskanmu untuknya."
"Bang, aku baca lagi boleh, gak?" rayuanku keluar jika panggilan Abang sudah aku lantunkan.
"Gak!"
"Kok 'gitu, sih? Abang baik deh. Aku doain jodohnya cantik." Mulut manisku mulai menebarkan bisa.
"Sebentar, aja! Kamu bisa pusing kalau membaca di mobil. Jangan sampai aku diomelin suamimu karena membuatmu tidak baik-baik saja saat memasrahkanmu padanya."
"Terimakasih, Abang," ucapku sambil mengerling manja.
"Lima menit," ujar Pak Aryan memberi waktu.
"Itu hanya satu bab. Sepuluh menit?" tawarku yang justru makin membuat Pak Aryan mengurangi waktu.
"Tiga menit atau kusita benda pintarmu!"
Kuhentikan berdebat dengan Pak Aryan. Lelaki yang sangat bijak itu mudah luluh dengan rayuan, tetapi jika berhubungan dengan sesuatu yang berimbas pada kesehatanku maka ia akan tegas. Alhasil kupilih untuk mencari keamanan diri. Menuruti perintahnya.
__ADS_1
"Ingat pesanku tadi! Sampai rumah, kalau suamimu sudah pulang jangan seperti ini! Perhatikan dia!"
Pak Aryan memang sangat perhatian. Bukan hanya denganku tetapi juga dengan perasaan Dion. Ketulusan hati dengan memasrahkan diri sebagai seorang Abang memang tak perlu diragukan. Meskipun banyak orang mempertanyakan berulang, toh kenyataanlah yang meyakinkan bahwa dia memang memiliki hati yang putih. Oleh karena itu aku menyayanginya.