
"Sayang, sarapan dulu! Bacanya nanti lagi," ingat Dion dengan nada yang sedikit tinggi.
Ini adalah peringatannya yang ketiga kali. Entahlah, gara-gara keasyikan dengan cerita tentang Daniah aku jadi membantah. Mengabaikan omongan Dion dan tetap mencuri-curi cara agar tetap bisa membaca. Benda pintar itu aku genggam di tangan kiri, sementara tangan kanan menggenggam sendok.
Cengiran senyum aku tunjukkan pada Dion. Sebenarnya aku ingin menjadi istri yang manis, tetapi godaan dari apa yang kubaca juga begitu tinggi. Sehingga aku terjatuh pada lubang yang sama berkali-kali. Mengabaikan peringatan Dion dan membaca kembali.
Suara bel apartemen yang berbunyi saat Dion hendak mengingatkanku lagi, menjadi penyelamatku kali ini. Suamiku itu memilih beranjak dari duduk dan bergegas membukakan pintu. Belum sadar juga, novel online itu tetap kubaca.
"Wah, sarapan gak bagi-bagi," ucap Pak Aryan sambil mengambil benda pipihku dan memasukkan ke kantongnya.
Gerutuan yang sudah siap aku gelontorkan, terpaksa aku urungkan. Mengingat aku sudah membuat Dion sewot maka aku tahu diri untuk tidak berebut dengan Abangku itu. Hanya kutatapkan kegeraman pada Pak Aryan yang duduk tepat di seberangku. Dia hanya mengangkat kedua pundaknya tanda tak tahu.
"Rosa mau kamu anter apa bareng aku, aja?" tanya Pak Aryan sambil ikut menyantap sarapan yang Dion siapkan.
"Aku ada di rumah sampai sore nanti. Jadi, aku anter aja. Nanti pulangnya baru bareng kamu," tutur Dion dengan mengulas senyumnya.
Rasanya, aku seperti nona besar. Ada lelaki yang siap sedia untuk mengantar dan menjemput saat aku pergi. Satu Abang dan satu lagi suami tersayang. Betapa bahagianya menjadi aku. Begitulah, memang aku merasa jika Dewi Fortuna berpihak pada Rosalia.
"Baiklah, telepon aja kalau ada sesuatu yang perlu aku bantu."
"Bantu aku perhatiin dia kalau di kantor makan gaji buta," sindir Dion padaku tetapi lewat obrolan dengan Pak Aryan.
"Kalian berantem?" tanya Pak Aryan to the point.
Lelaki yang sudah mempatenkan diri sebagai abang kami itu, bergantian melempar pandang padaku dan Dion. Seolah sedang mencari jawab atas pertanyaan yang sebenarnya sudah ia ketahui apa jawabnya. Dengan santai ia meneruskan kunyahan hingga semua tertelan. "Aku sudah menasihati istrimu, tetapi sepertinya ia bandel."
Kupelototi si Abang. Ancamannya benar-benar ia jalankan. Ia yang biasa menjadi pembelaku kini ganti melawan. Lelaki berdua ini kalau lagi berseteru maka aku adalah penyebabnya. Sementara jika akur, aku akan menjadi korban mereka. Jadi, aku memilih yang mana?
"Ia membaca tanpa tahu waktu."
Memang, tetapi tahukah kamu Sayang jika membaca itu seperti candu. Semakin asyik maka akan semakin nagih. Mengabaikan waktu dan bahkan orang penting di sekelilingmu. Membaca membawa kita pada dunia kehaluan sempurna.
"Maaf, Mas. Dunia halu itu sangat seru," pintaku dengan nada mendayu.
"Apa kasih sayangku masih kurang membuatmu menghalu?"
Aku bangun dari dudukku dan berdiri di sampingnya. "Bukan begitu, Mas."
__ADS_1
"Bikin novel aja, Sa! Buat menyalurkan kehaluan akutmu," celetuk Pak Aryan yang mengusik jiwa seniku.
"Aku setuju. Bukankah menulis adalah hobimu sejak dulu. Sekarang saatnya kamu asah kembali," timpal Dion penuh semangat hingga melupakan bahwa ia sedang dibelenggu amarah.
Pikiranku sedang menguji saran mereka. Mempermainkan kata-kata memang keahlian yang sudah bertahun-tahun aku lupakan. Hobi yang kusadari sejak kelas enam SD itu, pernah gencar kusalurkan saat ABG. Senang membuat cerpen yang mengambil inspirasi dari kepingan kisah cinta monyet yang akrab singgah di hatiku.
"Tapi, aku gak PD."
Dion melingkarkan tangannya di perutku. Perlahan ia tarik tubuhku hingga jatuh di pangkuannya. "Tulisanmu berkarakter, Sayang. Cerpenmu yang berjudul "Striker Menyebalkan" feelnya sangat dalam. Kegerahan seorang cewek karena dikejar-kejar seorang cowok yang punya hobi bermain bola.
Eits, tunggu! Itu adalah cerpen yang kubuat sewaktu SMP. Terinspirasi dari seorang lelaki yang tiada henti mengejarku. Bertahan meskipun selalu mendapatkan penolakan. Kalian tahu siapa lelaki itu? Tentu saja, Dion. Siapa lagi?
"Kenapa kamu bisa membaca cerpen, itu?" selidikku dengan memicingkan mata.
Dion mencubit hidungku mesra. "Apa kamu lupa jika cerpen itu seperti piala bergilir? Beralih dari satu tangan ke tangan lainnya. Bahkan dibawa teman lelakimu yang bahkan mereka tidak membacanya. Hanya demi bisa untuk berdekatan denganmu, mereka bisa melakukan semuanya."
Aku mengernyitkan dahi. "Benarkah?"
"Tentu saja, benar. Karena salah satu dari lelaki itu adalah aku." Dion mencubit hidungku gemas. "Aku membacanya, makanya aku tahu isi cerita itu."
Kuulaskan senyum canggung. Mulai paham ke arah mana pembicaraan ini akan bermuara. Dion membicarakan sebuah cerpen yang kutulis tentang dirinya. Kubuang arah pandanganku dari melihatnya. Aku malu. Sama sekali tak menyangka jika cerpenku bisa dibacanya.
"Aku pergi dulu, aja. Sepertinya adegan romantis akan dimulai. Abang Aryan belum cukup umur," goda Pak Aryan bangkit dari kursi dan segera melenggang pergi.
Mengabaikan ucapan konyol Pak Aryan, kami meneruskan obrolan. Memang benar yang dipikirkan Pak Aryan, kami semakin bermanja. Dion membelai rambutku dan berkali-kali menyentil hidungku. Mengingat cerpen itu memang seperti bernostalgia. Terbawa kenangan saat perjuangan Dion baru berada pada titik tiga tahun awal.
"Aku dukung kamu, Sayang. Daripada sekadar membaca, lebih baik sekalian menulis. Karena bakat kamu terlalu berharga untuk kamu sia-siakan begitu, saja."
Kupikir juga begitu. Namun aku masih belun percaya diri. Sekadar menulis, aku yakin bisa. Namun bukankah menarikan pena itu ada ilmunya?
"Kamu pasti bisa, Sayang!" Dion terus memberikan semangat.
Aku yang awalnya ragu, lama-lama ikut terpacu. Dukungan Dion membuatku terpompa untuk kembali menggeluti dunia yang sudah lama kutinggalkan itu. Sebuah ide tiba-tiba saja datang. Ya, aku akan menceritakan sebuah kisah yang akan menjadi sejarah.
Segera kumencari benda pintarku. Sayangnya, aku tak menemukannya. Bukankah tadi aku memakainya untuk membaca? Lalu, sekarang di mana? Pikiran kufokuskan untuk mengingat. Ah iya, aku baru ingat.
🏢🏢🏢🏢🏢
__ADS_1
Dengan tergesa, kulangkahkan kaki memasuki ruangan seorang manajer yang sangat kukenal. Memastikan keberadaannya pada sang sekretaris , langsung kumasuki ruangannya tanpa mengetuk pintu. Berdiri di seberang mejanya sambil menengadahkan tangan.
Pak Aryan yang sedang sibuk dengan tumpukan kertas di hadapannya segera menghentikan gerak jarinya untuk membubuhkan tanda tangan. Pandangannya ia angkat hingga tepat pada wajah sebalku. Dengan santai ia berdiri dari duduknya. Sedikit melangkah dan kemudian memilih untuk duduk di tepi mejanya.
"Apa?" tanyanya sok gak tahu apa yang aku mau. Padahal kuyakin dia mengetahui dengan jelas bahwa aku ingin mengambil kembali sesuatu yang tadi diambilnya.
"Handphone-ku."
Pak Aryan mengambil sesuatu dari saku kemejanya. "Makanya jangan bandel."
"Hm."
"Jadi, mau bikin novel?" tanya Pak Aryan berikutnya saat aku hendak melangkah pergi.
Terpaksa kuhentikan langkah dan memutar sedikit badan hingga tepat menghadapnya. "Mungkin."
"Kurasa, kamu sangat cocok jadi penulis novel romantis. Pengalamanmu digombalin bisa kamu jadikan cerita. Apalagi ada Dion, suamimu itu gudangnya kalimat romantis."
Pijaran ide seketika bersinar terang di otakku. Kalimat Pak Aryan membuka sebuah lorong cerita yang ingin kutulis. Kisah perjalanan panjang menemukan sebuah ujung terang dalam bingkai perasaan. Tentang Hati yang tak akan menepi meskipun jalan berliku penuh batu menghalangi.
"Terimakasih, Abang. Karenamu aku menemukan ide cerita novelku," ucapku sambil tersenyum lebar.
"Hadirkan aku sebagai malaikat pelindung tokoh utama wanita, ya! Nitip tokoh," ujar Pak Aryan sambil mengacak pelan rambutku.
"Gak tokoh utama, aja?" godaku sambil menaikkan alis.
"Biar Dion aja yang jadi tokoh utama. Aku cukup bahagia jadi malaikat pelindung."
"Curhat, Bang?" sindirku sambil memutar badan dan melangkah pergi. Meninggalkan Pak Aryan yang tersenyum mendengar penuturanku.
🌹🌹🌹🌹🌹
Pembaca setia Tentang Hati, mampir juga yuk ke novel baruku.
Judulnya memang bikin sebel, tapi percayalah jika isinya gak seperti yang cerita kebanyakan.
"Aku, Si Pelakor" novel baru yang bercerita tentang Wanita Pengganggu yang Tersakiti.
__ADS_1