Tentang Hati

Tentang Hati
Diozza Satya Wijaya


__ADS_3

Tujuh hari telah berlalu semenjak malam kelahiran bayiku. Selama itu, kami memutuskan untuk tinggal di rumah Mama sampai buah hati kami berumur empat puluh hari. Hal ini lantaran menuruti saran dari orang tua tunggalku itu. Pengalamanku mengurus bayi masih nol, makanya lebih baik tinggal dulu sama beliau sambil belajar.


Selama seminggu ini, yang memandikan bayi kami adalah Dion. Sekali diajari Mama, dia langsung bisa. Benar-benar suami idaman yang pantas untuk terus aku banggakan. Dia pun sangat cekatan saat harus mengganti popok saat bayi lucu kami pup atau pun pipis. Kami memang sengaja tidak memakai popok sekali pakai. Selain dari segi kesehatan, momen ini kami jadikan sebagai pembuktian bahwa kami adalah pasangan orang tua yang go green dan saling membantu mengurus bayi.. Walaupun kenyataannya sekarang ini masih ada Mama dan Kristy yang ikut mengurusnya. Namun ini adalah persiapan ketika kami nanti kembali ke apartemen.


Selain mereka berdua, yang setiap hari berkunjung ke mari adalah uncle Aryan. Selepas pulang kerja, ia balik ke sini. Dan berangkat kerja pun dari sini. Dengan kata lain, ia pindah ngontrak di rumah Mama. Benar kata Papa, bahwasanya si Abang memang gak bisa jauh dariku. Alhasil dia sudah seperti Papa kedua untuk baby menggemaskanku.


Malam ini, kami mengadakan acara akikah. Dua ekor kambing, kami potong tadi pagi. Ini adalah malam yang istimewa karena seluruh keluarga Eyang dari Jogja dan teman-teman semua berkumpul di rumah Mama. Merayakan penggundulan seorang bayi laki-laki menggemaskan yang bernama DIOZZA SATYA WIJAYA.


Diozza, kalian pasti sudah bisa menebak, merupakan singkatan Dion dan Rosa. Wijaya juga sudah jelas kalau itu nama belakang Dion yang disandang sebagai keturunan dari Trah Wijaya. Lalu, nama tengahnya kenapa kok Satya? Bukankah itu nama tengah Aryan Satya Dharma? Ya, memang.


"Aku adalah uncle-nya. Papa kedua buat Di-junior," ujar Pak Aryan saat semua orang mempertanyakan nama tengah putra kami.


"Sa, kamu punya dua suami? Wah, sepupuku kena shif malam," celetuk Mas Rendra sambil menggendong putri tercintanya yang baru berusia 1 bulan.


"Kamu gak denger, dia bilang uncle," timpal Dion sambil menggeser Pak Aryan yang tadi duduk di sebelahku.


"Uncle, aunty-nya mana?" Maya menggoda Pak Aryan yang tengah menggendong Di-junior.


"Tuh, yang baru datang!" tunjukku pada Tya yang kebetulan sedang berjalan ke arah kami.



Wanita yang berselisih paham sampai kami terakhir bertemu itu tiba-tiba datang dengan wajah cerianya. Dress merah menyala selaras dengan bibirnya yang dipoles dengan warna menggoda. Aku bahkan menjadi lupa mengapa dia bisa datang kemari dan seolah sudah kehilangan rasa bencinya.


"Hai, hai semuanya! Pe, selamat ya! Akhirnya kamu menjadi yang tercantik," seru Tya seperti yang dulu dia lakukan.


Kubalas pelukan Tya dengan canggung. Ada rasa yang belum sepenuhnya kembali.


"Maaf dan terimakasih."


Aku mengernyitkan dahi. Bingung dengan kalimat yang disampaikannya. Tya yang memahami hatiku segera menceritakan panjang lebar. Mengapa ia memilih pergi dan akhirnya justru dipertemukan dengan seorang kekasih hati yang saat ini diajaknya kemari.


"Itu, dia!" tunjuk Tya pada lelaki yang baru masuk dengan sebuah kado jumbo yang menutup wajah dan setengah tubuhnya.


Kami semua terpaku melihat lelaki itu. Aku penasaran karena lelaki itu adalah seseorang yang bisa mengalihkan obsesi Tya pada Pak Aryan. Sementara yang lain menerka-nerka kira-kira apa isi kotak yang dibawanya.



"Om Septian!" seru semua orang saat box besar itu diturunkan dan wajah Om Septianlah yang nampak.


Semua jari telunjuk berlalu lalang antara Tya dan lelaki yang dibilang sebagai pacarnya yang tak lain adalah Omnya Dion dan Mas Rendra. Seolah ingin menjawab penasaran semua orang, dua manusia beda jenis kelamin itu saling mendekat. Sebuah ciuman kening mendarat tepat dengan mesranya. Semua bersorak.


"Jodoh itu ternyata dekat, ya!" celetuk Syala yang datang sendiri dengan kado berbungkus warna ungu.


"Makanya kalau ada yang deket jangan dipisahin! Kamu kena kutukannya Depe tuh gara-gara misahin dia sama Wisnu di novelmu. Jomblo deh," celetuk Anggen yang baru datang dengan suaminya, Tuan Eric.


"Aku jomblo bahagia," kilah Syala.


"Bahagia tuh, kayak aku. Dikelilingi cogan," ujar Nafasal yang sengaja memamerkan Gio dan Bambang, dua lelaki yang sengaja ia gandeng di tangan kiri dan kanan.


"Trio Somplak n The Gank, sudah ngumpul. Ayo, kita kabur!" seru Mas Rendra yang diikuti semua lelaki di ruangan itu, termasuk Dion dan putra lucunya.

__ADS_1


"Kalian bawa apa sih? Boxnya jumbo semua," tanyaku sambil mengelilingi kado yang mereka bawa.



"Buat Di-junior, Tante Anggen bawain stroller yang sama seperti milik Kate Middleton."




"Dua ayunan bayi dari Tante Nafasal," seru gadis dengan dua lelaki itu.


"Syala, kamu bawa apa?" Anggen menyelidik isi box ungu yang tidak ditempeli gambar benda yang menjadi isinya seperti miliknya dan Nafasal.


"Aku bawa bahagia," jawaban klise Syala yang segera ditimpali oleh Tya.


"Ohya, semua! Hari ini aku bawa box besar ini untuk kalian semua. Nanti aku bagi satu-satu."


"Jadi, ini bukan kado buat anakku?" selidikku mulai curiga dengan senyum smirk Tya.


Tya menggeleng dan segera berjalan mendekati puluhan kado yang menumpuk di sudut ruangan. Dia mengambil satu per satu dan membacakan siapa pemiliknya.


"Siapa mereka? Aku gak pernah denger namanya," gumam Tya sambil meneruskan membaca.


"Mereka itu pembaca setia novelku. Setelah tahu aku melahirkan, kado-kado itu setiap hari datang."


Tya terus mengeja nama yang tertempel di luar box. Tepat setelah semua selesai dibaca datang sebuah benda dengan pancaran yang sangat menyilaukan mata. Sebuah box bayi dari Desainer terkenal, Ximo Talamantes.



Semua mata menatap takjub. Hingga para lelaki yang tadi menjauhkan diri kini mendekat kembali. Semua tersihir oleh pesona benda berharga fantastis itu.


"Ketiban rezeki ini, sih!" celetuk Om Septian sambil merangkul bahu kekasih barunya.


"Apakah mendapatkan aku, bukan ketiban rezeki untukmu, Sayang?" sindir Tya seraya mengerucutkan bibirnya.


Tanpa disangka, Om Septian mengecup bibir yang menggemaskan itu. Semua yang melihat, memelototkan mata. Merasa mendapatkan kejutan kemesuman dari seorang Om Septian.


Sedangkan Tya nampak merona.


Dion berdehem. "Sayang, tuan rumahnya kita tapi kenapa mereka yang jadi pusat perhatian?" goda Dion pada pasangan baru itu.


Sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta itu tersipu. Kucubit perut Dion mengingatkan kalau dulu dia juga lebih bucin dari itu. Dion tersenyum dan tanpa ragu mencium pipiku.


"Apa sih, Sayang? Malu banyak orang," tepisku pada bibir Dion yang akan mengecup pipi sebelahku.


"Lihatlah, Sayang! Semua orang sangat antusias dengan kelahiran Di-junior. Sepertinya kita akan kaya mendadak. Bagaimana kalau kita memberikan Sa-junior? Biar kita punya sepasang," goda Dion mengajak kembali bergumul mesra.


Kutatap mata lembut Dion. "Sebentar lagi novelku akan diterbitkan, bukankah itu sudah menjadi sepasang keberuntungan kita?" ucapku menyelipkan kabar bahagia secara tersembunyi.


Dion semakin melebarkan senyumnya. Merasa sangat bahagia dengan kabar yang baru saja dia terima. Doa double bahagianya kemarin diwujudkan Sang Pencipta.

__ADS_1


"Aku ingin Sa-junior juga terbit, Sayang," goda Dion tak ingin mengalah.


Kutangkupkan kedua telapak tanganku pada dua belah pipinya. Mata melembut dalam tatapan mesra. "Sayang, kalau kita bikin Sa-junior, kapan novel ini bakal end?"


"Nanti kalau udah ada Sa-junior, anaknya sepasang-junior serta cucunya sepasang-junior," celetuk Dion yang kuhadiahi sebuah kecupan kecil di bibir.


"Kisah Dion dan Rosa cukup sampai di sini, Sayang. Takutnya mereka makin baper kalau dipanjang-panjangin."


"Tapi stok kebucinanku masih melimpah, Sayang."


"Buat bucinin aku di kamar aja, Sayang."


"Mau."


"Ayo!"


"Haruskah Di-junior aku adopsi? Biar kalian bisa terusin misi bikin Sa-junior?" celetuk Pak Aryan dengan buah hati kami yang berada di gendongannya.


Aku dan Dion saling memandang. Merasa terciduk oleh uncle tersayang. Kami memang seperti keluarga kecil yang tak terpisahkan. Tentang Hati Dion dan Rosa bersatu pada kedekatan kasih Di-junior dan uncle Aryan.


End.


🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒


Alhamdulillah novel pertama Aldekha Depe sudah benar-benar selesai.


Ini adalah nama pengirim kado buat Di-junior. Yang belum tercatat, komen ya! Nanti aku tambahkan.


Rancy, Aryani Disa, Elasukma, Gustaf Abdiel, Santi-santi, Kharda love, Imas Mary'sya, Cahya, Ika Okta Ismawati, Ike Puji Lestari, Maryana Fasyih, Fiya Fiyanti, Selly, dedekchabi23, Candy Tohru, Linda Mutiara, Laila Afif, Neni Lutfianita, Veyona, Nabella Sari, Nurma Yanti, Qiptiyatul Marrofah, Listiana Ngawi, Tria Ayyu Fitria, Danny Tussy, Cheeya Syam Yusuf, Nuzumul Hidayah, Krisnawati Nina, Aviva, Sitti Maryati, Salman Ali, Pita Wulan, Srirahayu, Awdinaa, Rofi'ah, Fafa Diya, Zulul Piping Saputri, Dewi Maduratna, Dini Andriani, afa, Rusilawati, Ririn Ariani, Desi Yanti Sari, W. willyandarin, Asa bernisle_tih, Nurma yanti, Kris Wanti, Maria Ulfah, Yuli Novelis, Ratmini Siska Umami, Rido Robi, Dwi Yuni Yelesvevanti, Wardah Saiful, Katrina Raff, Riva Hesti Amelia, Khinanti, Tia Septiani, Eonnie Vionita, Mellyani Amelia, Heni Nurr, Ayu Clara Pusita, Sitta Azzaky, Chochollacious, Nnuraeni Eni, Wahyu Al-ikhsan, Karlina Sulaiman, Hartati Tati, Rifa afifa, Ayi Sarimanah85, Lucie Anna, Andi Fitri, Dewi Syah, Karmilawati Lukman, Hany Uchiha, Oliefiya Snowly, Nani Rahayu, Nurul, Meti Handayani, Aulia Elpiyanti, Karisma Isma, Rusilawati, Asni J Kasim, Shanty Fadillah, Winarti Win, Dewi, Yelmi Hidayati, Kiki, Lia Trienda, Ny. Anwar, Sri Yuniarti, MC, Lita Ciendit, ViRuzSugAr04, Dila Ayu, pmhh03 (ig), Fauzi Kenzi, Resty julia sari, Apriel Nia.


Terimakasih untuk semua readers dan author yang sudah berkenan mampir. Tanpa kalian, Depe bukan siapa-siapa.


Kunjungi novel Depe yang lain ya!


Selain itu jangan lupa kunjungi novel sahabat Depe dari Trio Somplak n The Gank di bawah ini, ya!









__ADS_1


Salam cinta dari Aldekha Depe! 🥰😍😘💝💖💗💞💕💙


__ADS_2