
Dion adalah kenyataan yang membahagiakanku. Kenyataan yang tak boleh aku abaikan hanya untuk sebuah khayalan yang belum jelas akan bisa diwujudkan atau tidak. Perasaan bisa berubah seiring berjalannya waktu, apalagi yang bernama cinta.
"Bagaimana status hubungan kita sekarang?" tanyaku sambil menggeser posisiku untuk duduk disampingnya.
"Ya ... kamu nerima lamaranku, gak? Dari tadi kamu belum menjawab iya atau tidak. Kamu hanya sibuk memeluk dan menciumku," goda Dion dengan senyum smirknya.
"Kamu ngelamar aku pakai apa?" tanyaku sambil memicingkan mata.
Dion mendekatkan wajahnya ke wajahku. "Kamu, mau apa?"
Aku menunjuk jari manisku. " Kalau Zayn sih, ngasih cincin berlian nancara ke celline waktu ngajak pacaran. Secara kamu ngelamar aku, jadi harusnya lebih dari itu, kan?"
"Kamu, matre juga, Sayang," ucap Dion sambil mencubit hidungku.
Aku mengusap-usap hidungku yang baru Dion cubit. "Matre itu sekarang termasuk kebutuhan primer, Sayang."
Dion menatapku. "Maafkan, aku, Sayang. Calon suamimu ini belum mampu membelikanmu cincin tapi aku melamarmu dengan ini." Dion mengambil sebuah box dan menyerahkannya padaku.
"Apa isinya?" tanyaku penasaran.
"Biar kayak lamaran-lamaran yang kamu khayalkan, sekarang tutup mata kamu!" pinta Dion.
Tutup mata?
Sepertinya ini akan menjadi lamaran romantis seperti yang sering aku lihat di drama korea.
Apakah sebuah cincin yang akan dia berikan? Tentu saja, bukan. Dia sudah bilang tadi. Ataukah anting? Ku rasa juga bukan. Karena dia sudah pernah menitipkan sepasang anting indah saat aku menolaknya terakhir kali, sekitar 6 bulan yang lalu. Ataukah gelang? Seharusnya juga bukan. Aku sudah memiliki sebuah gelang warisan dari eyang putrinya. Lantas, apalagi yang akan dia berikan sebagai pengikat untukku? Kalung? Ya ... dia belum pernah memberiku kalung.
"Buka matamu!" perintah Dion.
Ku belalakkan mataku. "Jersey? Kamu melamarku dengan jersey? Lamaran macam apa ini, Di? Mana ada orang ngelamar dengan jersey? Ini jauh sekali dari kata romantis."
Dion tersenyum dan mengangguk. "Siapa suruh ngefans sama pemain bola? Coba kamu ngefans sama Zeno, aku bakal ngelamar kamu bawa zainuddin, si ayam pecicilan itu."
Aku cemberut. "Tahu gitu, aku ngefans sama authornya novel "Marriage Order", siapa tahu bakalan kamu kasih surat perjanjian pengalihan aset, bakalan kaya, kan, aku?"
Dion mencubit hidungku. "Kamu kebanyakan main sama Cellina wati "Kencan Buta", ya? Tiba-tiba jadi matre, begini. Namun, penyesalanmu sudah terlambat, Sayang. Rezekimu ya jersey ungu ini."
Ku bolak-balikkan jersey ungu di tanganku ini. Bibirku yang awalnya mengerucut berubah mengembang sempurna. Aku tahu jersey ini adalah jersey kebanggaan tim Nadeo, untuk posisi kiper tentunya.
Ups!
Sebuah rentetan tulisan tersemat di bagian belakang jersey tersebut.
**Rosa, kamu ngefans sama aku. Aku mengagumi Dionmu. Dan Dion selalu mencintaimu. Ini adalah sebuah segitiga perasaan yang indah.
__ADS_1
Jangan lupa, undang aku pada pernikahan kalian!
Orang ketiga di antara kalian
Nadeo Argawinata**
Aku terharu.Tiba-tiba saja air mataku meluruh. Ini bahagia yang tak ternilai. Selama ini, aku sudah salah menduga. Dion yang ku pikir marah karena aku mengidolakan Nadeo, ternyata malah menghadirkan segala hal tentang Nadeo sebagai hadiah untuk melamarku. Meski hanya sekedar jerseynya yang hadir tapi bagiku ini lebih berharga dari cincin Zayn yang berharga satu milyar itu.
Langsung ku sibukkan lagi diriku untuk memeluk Dion. Kalau Nadeo saja mengagumi Dion, apa aku gak rugi kalau harus menyia-nyiakannya? Nadeo mengagumi Dion? Bukannya ini janggal. Mereka belum saling mengenal sebelumnya, tapi kenapa bisa seakrab itu?
Ku lepaskan pelukanku dan menatap wajah Dion untuk bisa menemukan sedikit petunjuk dari kecurigaanku. "Kamu nyuap dia pakai apa? Bisa-bisanya dia memujimu habis-habisan."
"Untuk apa aku melakukan itu?" Dion bertanya dengan santainya.
Aku menunjuk pesan di jersey yang ku pegang. "Untuk ini."
Lagi-lagi Dion mencubit hidungku gemas. "Aku bisa melakukan apapun untukmu, kalau cuma begini, kecil buatku." Dion kembali memencet remote televisi. Nadeoku hadir lagi di sana, masih dengan senyumnya yang mempesona.
"Tatap dia seperlunya! Yang perlu kamu dengar cukup pengakuannya, saja," ingat Dion.
Mendengar peringatan Dion, malah semakin ku pelototi wajah tampan Nadeo Argawinata. Menggodanya untuk sebuah kecemburuan itu adalah kebahagiaan hakiki yang jangan sampai dilewatkan. Dan itu berhasil, dia terpancing dan aku bahagia tentunya.
"Tundukkan pandanganmu!" ucapnya sambil menutup mataku dengan telapak tangannya.
Dion melepaskan telapak tangannya dari kedua mataku. "Aku hanya mengizinkanmu untuk sekedar melihat, jangan terobsesi! Ini terakhir kalinya kamu bisa menikmati wajahnya eksklusif sebelum aku mengharamkannya untukmu."
"Mana boleh, begitu!" gerutuku.
"Bolehlah, sebentar lagi kan aku jadi suamimu. Ingat, surga istri itu ada pada ridho suami!" Dion tersenyum smirk padaku.
"Abis ngaji sama ustaz Jo dari Dunia Abimanyu, ya, waktu ke Surabaya kemarin?" sindirku.
"Bukankah itu lebih berguna, daripada ikut Kak Dwi Wahyudi mengungkap misteri pembunuhan berantai di Sepetak Ruang gelap," kilah Dion.
Ku abaikan Dion dan kembali menatap layar televisi. "Bodo amat. Ayo, nyalakan lagi televisinya! Mana Nadeoku?" omelku.
Layar itu kembali menyala. Senyum mempesona Nadeo kembali memanjakan mataku. Namun Dion tak membiarkan senyumku terkembang lebih lama. Dia memakaikan penutup mata untukku.
"Apaan, sih, ini? Lepasin!" marahku.
"Sudah jangan berontak lagi, diam dan dengarkan!" pinta Dion perlahan membuka penutup mataku dan segera menikamnya dengan manik hitam matanya.
Dion membenarkan letak rambut yang sedikit nakal bermain di wajahku. "Sayang, aku memang tak sekaya Zayn yang bisa melamarmu dengan cincin berlian, aku juga bukan author novel "Marriage Order" yang bisa membuatkanmu surat perjanjian pengalihan aset, tapi akan ku buktikan jika aku akan lebih konyol dari zeno agar harimu tak akan pernah bosan. Aku benar-benar mencintaimu, Sayang, bersediakah kamu menerima lamaranku?"
Ku ulur waktu untuk menjawab lamaran Dion. "Hmmm ... baiklah, tapi jangan haramkan aku melihat Nadeo, dia terlalu indah untuk ku sia-siakan," ucapku sembari mengambil remote dan menyalakan televisi kembali.
__ADS_1
"Gak bisa!" jawab Dion sambil merebut remote dari tanganku. Namun remote itu sudah berhasil ku jauhkan dari jangkauannya sebelum ia bisa mengambilnya. Dia terus saja berusaha untuk merebutnya.
"Apa sih yang membuatmu gak bisa move on dari dia?" tanya Dion masih berusaha merebut remote dari tanganku.
"Dia ganteng dan perutnya sixpack," jujurku.
Spontan Dion membuka kaosnya. "Perutku juga gak kalah sixpack sama dia,"
"Ih, apaan, sih! Pakai lagi kaosmu," ucapku melemparkan kaos yang terserak di sandaran sofa.
"Kamu gak usah munafik, Sayang, aku tadi memergokimu menelan ludah waktu di kamar," goda Dion sambil terus mencondongkan badannya ke arahku.
"Kamu jangan fitnah, ya," tegasku.
"Ngaku, aja!" perintah Dion seraya terus mencondongkan badannya ke arahku.
"Gak," kataku.
"Iya," ucapnya lagi.
"Gak," aku terus membantahnya.
"Ngaku, gak?" Dion mulai menggelitiku.
"Gak," aku tetap membantah tuduhannya.
Dion semakin semangat menggelitiku setelah berulangkali aku menolak mengakui pernyataannya. Ini adalah kelemahanku, aku tak bisa menahan geli.
"Udah ... udah ... jangan digelitikin, lagi," ucapku memohon.
"Sayang, udah ... aku ngaku," ucapku lagi.
Dion masih belum mengakhiri aksinya. " Ngaku apa?"
"Nadeo lebih se*si dari kamu," aku malah menggoda Dion.
Alhasil Dion kembali menghujaniku dengan gelitikan yang lebih gila lagi. Aku tak sadar jika posisinya sudah berada di atas tubuhku.
"Kalau mau main begituan, pintunya dikunci, dong!" Mas Rendra tiba-tiba saja sudah masuk ke ruang tamu apartemen Dion.
Aku belum ngeh dengan yang diucapkan Mas Rendra, sampai aku menyadari dengan posisi kami yang tidak patut untuk dipertontonkan. Aku segera mendorong dada Dion, dan membenarkan posisi dudukku.
"Pergilah, jangan ganggu kesenangan orang!" usir dengan dengan kalimat santai.
Mas Rendra berbalik menuju pintu keluar. "Bilangnya lagi marahan, nyatanya ...,"
__ADS_1