Tentang Hati

Tentang Hati
Berkumpul Kembali


__ADS_3

Minggu, hari yang dipilih Tria dan Rio untuk melepas masa lajangnya, akad sekaligus resepsi pernikahan. Acara yang mengambil tempat di kediaman Sang Mempelai Wanita tersebut, sudah mulai rame ketika pagi hari masih menyapa. Aku datang dengan bahagia menyambut hari bersejarah untuk sahabatku ini. Sahabat yang memulai cintanya gara-gara aku membuang cinta seseorang, Dion.


Ketika waktu masih menginjak pukul 07.00 aku sudah sampai di rumahnya. Tria memintaku untuk menjadi pendampingnya saat prosesi akad nanti. Rasanya itu tidak berlebihan, mengingat kami sudah berteman sejak masih duduk di bangku TK. Keluarganya sudah menganggapku sebagai anaknya juga, begitupun sebaliknya.


"Pengantinnya secantik ini, aku takut Rio salfok terus lupa bacaan ijab qobul," godaku pada Tria.


Tria memperhatikan pantulan dirinya di cermin seraya tersenyum. "Gak nyangka ya, aku bisa cantik juga."


"Kamu memang cantik, jangan suka merendah gitu, dong," balasku meyakinkan.


"Kalau aku cantik, kenapa selalu kamu yang ditaksir sama cowok-cowok di sekolah?" tutur Tria. "Apalagi Dion, gak pernah bisa move on," celetuknya kemudian.


"Tapi, yang akhirnya jadian kan kamu sama Rio, bukan aku sama Dion," ungkapku.


"Jangan ngingetin itu, aku jadi sedih," Tria sendu.


"Ngapain sedih? Toh sekarang aku juga sama dia," ucapku seraya tersenyum bahagia.


Tria tersenyum. "Untungnya, coba kalau gak, bisa-bisa kalian diem-dieman kayak waktu pertunangan kemarin. Kan, bahagiaku jadi gak sempurna."


Ku peluk Tria. "Aku sekarang bahagia sama Dion, bahagiamu akan sempurna hari ini."


Tok-tok-tok!


"Pengantin pria sudah datang, ayo kalian turun," pinta Mbak Elin, kakak Tria.


Tria pun mematut dirinya sekali lagi sebelum beranjak berdiri dari depan meja riasnya. Aku pun mencuri-curi sisi lain cermin untuk mematut diriku juga. Dia yang jadi pengantin tapi kenapa aku juga ingin tampil cantik, tak kalah darinya. Ah, naluri wanita!


Ku gandeng lengan sahabatku, perlahan melangkah keluar kamar dan kemudian menuruni anak tangga satu per satu. Di bawah sudah ramai orang yang sedang memperhatikan kami, lebih tepatnya memperhatikan calon pengantin, dan itu bukan aku. Namun, aku tersipu saat ku sadari ada sepasang mata yang tak berkedip menatapku sedari tadi. Lelaki berjas rapi yang duduk tak jauh dari Rio, Sang Mempelai Pria.


Ku kenali siapa lelaki itu, dia Dion. Seperti halnya aku yang diminta menjadi pendamping calon mempelai wanita, Dion pun diminta untuk mendampingi Rio saat ijab qobul. Seperti yang sudah ku ceritakan, antara Dion dan Rio memang terjalin persahabatan yang sangat erat. Riolah yang selalu menjadi tempat berbagi saat Dion galau berkali-kali karena selalu ku sakiti. Namun, justru dari kandasnya harapan Dion untuk bersamaku, Rio dan Tria bersatu dalam tali jodoh yang begitu suci.


Ini adalah prosesi besar untuk Tria dan Rio, tapi kenapa aku juga merasakan debaran-debaran yang tak kalah seru. Jantungku terus dipacu apalagi ketika tak sengaja tatapanku bertemu dengan tatapannya. Hatiku menggila. Kenapa hari ini dia begitu tampan? Apakah aku benar-benar jatuh cinta? Jatuh cinta saat aku sudah memilikinya.


Tria sudah duduk di sebelah Rio. Sebuah selendang putih terhampar di atas kepala mereka. Menjadi saksi bersatunya 2 ego manusia karena cinta.


Aku dan Dion duduk sejajar di belakang Sang Mempelai. Hatiku berdebar semakin kencang. Dengan kebaya melekat tubuhku, jas melekat ditubuh indahnya, membuatku seakan dipasrahkan untuk menjadi calon mempelai berikutnya yang akan disahkan.


Ku lirik Dion, dan lagi lagi aku tak bisa menolak pesonanya. Jas hitam yang membalut tubuhnya menjadikannya begitu gagah. Lagi-lagi aku tergoda. Tria yang menikah tapi aku yang salah tingkah.


"Sah," riuh suara dari orang-orang yang menyaksikan pengucapan ijab qobul membuatku tersadar. Sadar jika aku hanya figuran di sini dan aktor utamanya adalah Tria dan Rio.


Selesai akad, Sang Mempelai yang berbahagia sedang disibukkan dengan sesi pemotretan. Aku memilih untuk menikmati hidangan yang sudah disediakan, memanjakan perut laparku.


"Kamu ikutan tegang, Sayangku. Bayangin aku halalin, ya?" goda Dion.


"Iya," jujurku.


Dion melirikku. "Kenapa ngaku?"


"Jangan menggodaku, Di, aku malu tahu," ku tundukkan pandanganku darinya.

__ADS_1


"Kamu begitu menggemaskan, enaknya aku apain, ya?" godaan Dion ini membuatku makin merona.


"Jangan nakal, Sayang, nanti dijewer sama Mami, tahu!" ingatku.


"Mami gak akan tahu kalau kamu gak ngadu, jadi anak manis, ya, Sayang," ucapnya seraya menyuapkan potongan buah yang ada di piringnya ke mulutku.


"Sayangnya, aku bukan anak manis yang akan menuruti perintahmu. Sudah ah, aku mau foto sama Tria, mau ikut gak?" ajakku.


Dion meletakkan piring kosongnya di meja. "Baiklah, aku akan merelakan diriku untuk menjadi pasanganmu berfoto."


Manis ... manis sekali! Rasanya aku kembali dibuat jatuh cinta dengan kehadirannya. Jatuh karena godaannya dan cinta karena kebucinannya.


*****


Pukul 11.00 acara resepsi dimulai. Sesi pertama selama 2 jam di khususkan untuk tamu-tamu dari teman-teman mempelai, sementara sesi berikutnya khusus untuk tamu dari orang tua mempelai berdua. Meski baru dimulai, tapi sudah mulai ramai tamu yang berdatangan.


"Hai, Bro, sama siapa ke sini? Kok sendirian, aja," suara dari arah belakangku yang sedang berbicara dengan Dion.


"Sayang, sini, aku kenalin temen aku!" panggil Dion.


Aku yang sedari tadi mengobrol dengan Mbak Elin pun menoleh. Dan ... ku kerutkan dahiku saat melihat lelaki yang tengah mengobrol dengan Dion.


"Rosa," lelaki itu nampak kaget juga melihatku.


Senyumku terkembang sempurna. "Desta," aku sebut namanya.


Ya ... itu adalah Desta. Cowok paling saleh seangkatan yang dipuja semua cewek, termasuk aku. Penampilannya yang dulu selalu bersih dan rapi kini sedikit berbeda. Berewok tipis yang sengaja ia tumbuhkan membuatnya semakin penuh pesona.


"Ayumen bojomu, Des, aku gelemlah ta'arufan lek olehe sing ayu-ayu ngene (Istri kamu cantik banget, sih, Des, aku mau ta'arufan kalau dapetnya yang cantik-cantik begini)," seru Bang Ismed, cowok paling senior di angkatan kami.


"Aku kenalin sama Esther, mau gak , Bang?" tiba-tiba Keyla, adik Tria ikut nimbrung obrolan kami.


Mata Bang Ismed langsung berbinar, seakan kejombloan abadi yang menyiksanya akan segera berakhir. "Kene, ndelok potone (Sini, lihat fotonya)!"


"Dengan santainya, Keyla menunjukkan foto Esther yang sedang rebahan cantik di atas lemari. "Cantik, kan, Bang?"


Bang Ismed mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tak menampik jika Esther sangat cantik tapi ada yang mengganjal di pikirannya. Kenapa wanita cantik nongkrongnya di atas lemari. "Key, Esther ki opo poto model iklan lemari (Key, Esther ni apa foto model iklan lemari)?"


Keyla berusaha menahan tawanya tapi akhirnya meledak juga. "Ha-ha-ha ... dia hantu, Bang bukan foto model,"


"Bambang Ketendang Zeno si Coro, Zainuddinnnnnnn ....," umpat Bang Ismed yang dihadiahi tawa dari semua yang mendengar kalimat lucunya.


"Wah, rame banget nih, aku ketinggalan cerita, ya?" Ega, junior Dion dalam dunia perbucinan datang menggandeng seorang gadis yang nampak malu-malu, Zahra.


"Sahabat jadi cinta, nih," seruku menggoda Ega dan Zahra.


Gadis pemalu itu nampak mengulum senyumnya. Menampakkan pesona kepolosannya yang justru menarik untuk bisa diselami hatinya. Wajarlah jika seorang Ega mati-matian mengejar cintanya.


"Kalian,kapan menikah? Nanti aku endors roti, deh," ucap perempuan cantik yang baru saja datang, Handita.


"Tuh, ada juragan roti, buruan pada nikah, deh," timpal Dion.

__ADS_1


"Termasuk kamu tuh, kapan nikah? Nanti aku endors," Rifki suami sang juragan roti ikut menimpali.


"Kok, jadi aku ikutan kena," Dion jadi salting


Menggaruk-garuk kepala yang sebenarnya baik-baik saja, dan kemudian melirikku meminta bantuan untuk tembak ditempat yang dilakukan oleh Handita dan Rifki.


Obrolan seru siang itu seakan membawa mereka pada memori sepuluh tahun silam. Di mana masa-masa SMP mereka lalui dengan segala cerita tentang persahabatan dan cinta monyet yang penuh warna. Hari ABG yang menyenangkan tanpa beban.


*****


Lagi-lagi makan. Begitulah serunya menghadiri acara pernikahan. Jamuan makan tiada henti disuguhkan untuk para tamu. Beraneka hidangan khas nusantara tertata rapi di meja prasmanan. Tinggal pilih. Ada Pecel pincuk godong jati khas Ponorogo, Sambel tumpang khas Nganjuk, Bakso Malang, Nasi goreng saos khas Surabaya, Sate Madura, Gabus pucung khas Bekasi, dan juga Seruit ikan gurame khas Lampung.


"Dion ... Dion ... masih aja sama Rosa, gak bosen?" Anggen, ketua "Geng Gabut" mengejek Dion dengan gaya tengilnya.


Geng Gabut adalah geng yang beranggotakan anak-anak chers. Sudah pasti rame dan berisik. Anggotanya pun berisikan cewek-cewek ekstra di angkatan kami. Linanda Anggen, ketua yang halunya kebangetan. Roffey Zain yang suka blak-blakan, Lina Agustin si emak hantu, Yuli Sumarni si gadis salehah yang salah jalan, serta Kiki Rizki gadis pemalu yang menggemaskan.


"Kenapa harus bosen? Yang ada, aku bosen lihat kalian," jawab Dion santai tak terpancing cerocosan Anggen.


"Apasih lebihnya Rosa? Cantikan juga aku," tukas Anggen.


"Aku juga lebih menggemaskan," timpal Kiki.


"Aku dong paling ceria," Roffey gak mau kalah.


"Aku paling salehah," aku Yuli.


"Dan aku paling menggoda," seru Lina.


Dion menggamit pinggangku mesra. "Sayangnya, aku lebih cinta dia," jujur Dion sambil menatap lembut manik mataku. "Ohya ... Anggen, lupakan aku! Aku tahu kamu adalah ISTRI KEDUA TUAN KRISNA."


Ambyarlah semua keganjenan geng gabut terutama Anggen. Alunan musik yang meneriakkan lagu "Mundur Alon-Alon" seolah menjadi GPS untuk menuntun mereka mencari jejak cinta yang lain. Meninggalkan Dion yang sudah memaku hati hanya untuk Rosa.


*****


Semua nama yang dicatut dalam episode ini adalah nyata, nyata adanya di dunia kita maupun di dunia pernovelan. Maafkan jika tanpa izin menggunakan nama kalian, karena ini adalah kejutan.


Aku menyayangi kalian, sesama author yang ku kenal akrab karena menulis novel. Semoga ini akan menjadi kenangan yang tak akan terlupakan.


Boleh loh, kunjungi novelnya.


Linanda Anggen - Balas Dendam Cowok Kampungan.


Roffey Zain - Suamiku bukan jodohku.


Yuli Sumarni - Ta'aruf Cinta.


Lina Agustin - Apa Aku Berbeda?


Kiki Rizky - Cinta Untuk Zahra.


Nantikan episode-episode spesial berikutnya. Siapa tahu ada nama kalian yang muncul sebagai bintang tamu.

__ADS_1


__ADS_2