
Pintu ruang operasi itu belum juga terbuka. Padahal kami, aku, Dion dan Pak Aryan sudah lebih dari satu jam menunggu. Kami saling terdiam dengan pikiran kami masing-masing. Aku, dihinggapi kekalutan tentang keadaan lelaki di balik pintu itu. Mereka? Mereka pasti juga sama, mengkhawatirkan Mas Rud dan pasti juga mengkhawatirkan perasaanku pada Mas Rud.
"Aryan, kamu pulang duluan, aja. Biar kami yang menunggu di sini sampai keluarganya dateng." Dion berucap.
Pak Aryan melihatku dan Dion, kemudian melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Baiklah kalau begitu, kalau ada yang bisa aku bantu, hubungi aku!" Pak Aryan pun melangkah menyusuri lorong rumah sakit dan menghilang di ujung lorong yang berbelok.
"Keluarganya, kok, belum ada yang dateng, ya, Di?" tanyaku khawatir.
Dion membelai rambutku. "Sabarlah, mungkin mereka terjebak macet."
Mata itu begitu teduh. Tak nampak kegusaran atau kemarahan dengan apa yang terjadi. Dia juga belum menanyakan bagaimana aku bisa berada di Rumah Sakit ini bersama Mas Rud. Sebenarnya, aku juga bingung, jika harus menjelaskannya. Huh ... aku menghela nafas kasar.
Dion menyadari apa yang baru saja ku lakukan. "Ada apa?"
Aku menatapnya. "Kamu, gak bertanya apa yang terjadi?"
"Sekarang, yang terpenting adalah keadaan Rud. Masalah yang lain, bisa kita bahas nanti." ucap Dion penuh kedewasaan.
Di, kenapa kamu begitu baik? Apakah kamu akan tetap sebaik ini, jika tahu aku baru saja meragukan perasaanku sendiri setelah kembali bertemu dengannya.
Ku tundukkan kepalaku, ku pejamkan mataku yang sudah tak bisa menahan diri ketika bertemu dengannya. Apakah Dion saja tak cukup memuaskan pandanganku? Hingga kehadiran Mas Rud membuat nafsuku meliar. Ku hela nafas panjang dengan lembut. Berusaha menyadarkan otakku yang mulai terkontaminasi virus "gagal move on".
"Permisi," suara seorang lelaki menyapa kami.
Dion berdiri dari duduknya. "Iya, ada yang bisa saya bantu?"
"Maaf, saya mau menyerahkan ini, tadi saya lupa membawanya." lelaki itu memberikan sebuah benda pipih kepada Dion.
"Ini, HP Rud?" Dion memastikan.
"Benar," jelas lelaki yang mengenalkan diri bernama Bang Ismed kepada kami.
__ADS_1
Bang Ismed adalah tukang kebun rasa bodyguard keluarga Tuan Wijaya, calon besan keluarga Tuan Sanjaya, Sang empunya acara lelang amal. Pak Key, yang tadi sempat dikenalkan Pak Aryan adalah tunangan Jessie, anak tunggal Tuan Frans Wijaya.
"Kalau begitu, saya permisi dulu," Bang Ismed meninggalkan kami berdua.
Dion kembali duduk dengan HP Mas Rud di tangannya. "Bawalah, ini." Dia malah menyerahkan alat komunikasi Mas Rud itu kepadaku. Loh, kok!
"Kamu, bawa aja!" aku menyerahkan HP Mas Rud kembali kepada Dion. Aku keberatan jika HP itu berada di tanganku. Aku takut jiwa kepoku memberontak dan akan menjahili benda pribadi itu.
Dion menatapku. "Simpanlah, dulu! Nanti, kalau dia sudah baikan, kita balikin lagi. Kamu lebih berhak menyimpannya, kamu lebih mengenalnya." Dion tersenyum manis. "HP ini pasti terkunci, kamu gak usah takut."
Apa kamu lupa, Di, jika aku itu orangnya kepo? Dia mantanku, mantan yang meninggalkanku pas lagi sayang-sayange, pas lagi jeru-jerune, seperti lagunya Deni Caknan. Namun, kenapa kamu tak khawatir sama sekali? Apa kamu gak takut, jika aku terjebak CLBK lagi dengannya? Apa kamu gak memikirkan dirimu sendiri? Bagaimana jika aku meninggalkanmu dan memilih kembali padanya? Bukankah kamu tahu, jika aku adalah perempuan yang lebih merajakan perasaan daripada hasil pikiran.
"Masukkan ke tasmu, nanti kalau tertinggal malah hilang." Dion mengingatkan.
Terpaksa ku turuti semua permintaan Dion. Ku simpan HP yang berwarna hitam itu. Semoga hitamnya chasing benda pipih itu, tetap menyimpan rahasia sang pemilik. Tak membuatku berupaya untuk ingin tahu.
"Di," aku memanggil kekasihku dengan lembut.
"Ada apa? Mau aku peluk? Ini tempat umum," ia memberondong kata.
"Bukan, jangan bercanda!" ucapku serius.
Dion lantas menyenderkan punggungnya. Tangannya ia lipat di depan dadanya. "Dari tadi, aku sudah menunggu kamu mau tanya apa, tapi kamunya malah diem."
Dia benar. Aku yang ingin bertanya, malah pertanyaanku ambyar. Aku tersenyum nyengir padanya. "Lupakan!" Ku alihkan pandanganku. Ku lihat sepasang orang tua sedang menuju ke arahku. Jarak yang semakin dekat, membuatku bertambah yakin, bahwa mereka adalah orang tua Mas Rud.
"Ibu," sapaku pada seorang perempuan yang berusia sekitar lima puluh tahunan itu. Aku mencium tangannya, tapi beliau malah mengambilku ke dalam pelukannya.
Ku lihat Dion menyalami Bapak tersebut yang adalah ayahnya Mas Rud. "Masih di ruang operasi, Om," jelas Dion. Ayahnya Mas Rud kemudian duduk di samping Dion.
"Silakan, duduk di sini, Bu ... eh maaf Tante." aku membenarkan panggilanku pada beliau. Iya, Ibu ... adalah panggilanku pada beliau sewaktu aku masih menjalin hubungan dengan Mas Rud. Meskipun hanya dalam hitungan bulan, tapi aku sudah mengenal keluarganya dengan akrab. Dan lahirlah panggilan "Ibu" itu.
__ADS_1
Baper lagi kan, aku.
Hmmm ... Tuhan ... jangan Kau bolak-balikkan hatiku seperti ini. Perasaan ini bukan hanya tentangku, tapi ada hati lain yang akan ikut bermain di sini.
Segera ku sadarkan pikiranku. Ku beralih mendekat ke arah Ayahnya Mas Rud. Ku cium tangannya."Om," Hanya kata itu yang bisa ku keluarkan dari mulutku. Aku kelu di hadapan mereka. Untunglah ada Dion yang menjaga suasana agar tidak kaku. Dia mengobrol dengah Ayahnya Mas Rud. Sesekali, Ibu juga ikut berbicara.
"Kalian, pulang saja, biar kami yang menemani Rud di sini." pinta Ayahnya Mas Rud.
"Gak apa-apa, Om. Kami, temani Om dan Tante, di sini." jelas Dion.
"Kalian, sudah di sini dari tadi, sekarang kalian istirahatlah!" Ibu ikut menimpali.
"Baiklah Om, Tante. Kami pamit dulu, hubungi kami sewaktu-waktu Om dan Tante butuhkan." Dion menyerahkan kartu namanya.
"Terimakasih, ya, Nak." ucap Ibu.
Dion tersenyum kepada Ayah dan Ibunya Mas Rud.
"Tante, besok kami balik lagi, kalau ada apa-apa jangan sungkan hubungi Rosa." ucapku.
Ibunya Mas Rud memelukku lagi. "Panggil Ibu, saja, Sayang." Aku mengangguk. Bersembunyi di balik senyuman. Sebenarnya aku mulai tak bisa lagi menahan perasaanku.
Ku tinggalkan beliau, orang tua yang sempat ku gadang-gadangkan menjadi orang tua keduaku. Masih bisa ku rasakan kehangatan kasih mereka. Sama seperti dulu, hanya kini kami yang berbeda. Kami sudah berjalan di arah yang berlawanan. Dan aku sudah berjalan menggandeng tangan yang lain.
Yaaa ... seperti saat ini. Tanganku sudah digandeng mesra oleh Dionku, kekasih termanisku. Maafkan aku, Di. Beberapa jam ini, aku menduakanmu dalam pikiranku. Ku eratkan lagi perasaanku yang sempat goyah tadi. "Di, bolehkah aku main ke apartemenmu?"
Rupanya Dion terkejut dengan pertanyaan yang baru saja aku utarakan. Dia menghentikan langkahnya dan menatapku. "Apa aku tidak salah dengar?"
Aku menggeleng. Entahlah, rasanya aku ingin mendamaikan perasaanku. Menghangatkan lagi hatiku untuknya yang sempat mendingin karena terbuai oleh kehadiran Mas Rud. "Aku laper, bisa masakkan aku sesuatu?" alasanku.
Dion mengeratkan genggaman tangannya seraya mempercepat langkah menuju parkiran. "Kamu, ketagihan masakanku, ya?"
__ADS_1
"Baiklah, aku akan memuaskan nafsu ...." Dion melirikku nakal. "Makanmu," lanjutnya kemudian.