
Pernikahan Tuan Raymond Weil dan Nona Alice, untuk itulah kami datang ke London, Inggris. Mewakili Papi, yang mendapatkan salah satu dari 100 undangan spesial Tuan Raymond. Dan inilah yang melatarbelakangi nikah siri antara aku dan Dion. Pernikahan yang menjadi pergunjingan dan perdebatan sejumlah reader "Tentang Hati", walaupun dari pihak keluarga besar kami berdua semua sudah setuju.
Ini bukan nikah siri seperti yang terjadi di luaran sana. Keputusan berat karena harus menjadi istri kesekian ataupun karena suatu hal yang ingin ditutup-tutupi. Pernikahan siriku untuk menghindari perbuatan terlarang sebelum ikatan suci terjadi. Makanya terasa sakit, jika mereka terus-terusan bicara tanpa memandang dari sudut pandang kami. Ah, ya sudahlah!
Berkebalikan dengan pernikahan siri sederhanaku, acara Tuan Raymond ini sangatlah mewah. Tentu saja, siapa yang tak mengenalnya. Seorang CEO dari perusahaan MANGO, perusahaan yang masuk dalam 50 besar perusahaan tersukses di dunia.
Ini merupakan kali kedua bagiku menghadiri acara yang digelar oleh kalangan yang tidak mungkin aku jangkau. Dulu, aku menemani Pak Aryan menghadiri lelang amal dan kini aku menemani suami siriku menghadiri undangan pernikahan. Ah ... mengapa harus ada kata siri, lagi?
Layaknya pernikahan di negeri dongeng yang aku saksikan di televisi saat aku masih kecil, di sini semuanya nyata. Sebuah gedung resepsi yang sangat luas disulap menjadi ruangan dengan konsep mewah yang belum pernah aku saksikan. Pesta dansa juga menjadi bagian dari resepsi kali ini. Pasangan pengantin begitu romantis ketika berpadu gerak mengikuti irama yang mengalun. Dan keromantisannya masih berlanjut sampai memotong kue pernikahan.
"Sayang, lihat deh Raymond sama Alice! Romantis banget, nanti kita resepsinya kayak gitu, mau gak?" bisik Dion di telingaku.
Kuulas senyum penuhku. "Aku gak suka yang terlalu mewah, gini, Di. Terpenting adalah mencatatkan pernikahan kita di KUA," jelasku seraya tersenyum penuh.
"Gak bisa begitu, aku mau semua orang tahu kalau kamu milikku. Biar Si Bodyguard kesayanganmu itu berhenti menjaga cintanya untukmu," lagi-lagi Dion mengungkapkan kecemburuan yang masih bertahta di hatinya untuk Mas Rud.
Kudekatkan bibirku ke telinganya. "Apakah kecemburuanmu itu adalah resep ketampananmu, Sayang?"
Cup!
Dion memberikan kecupan di pipi kananku. "Kamu jangan menggodaku, Sayang! Atau kamu sengaja untuk ...." kalimat Dion terjeda saat Pak Aryan tiba-tiba menyapa kami dengan sindirannya.
"Kalian, selalu saja bermesraan di mana saja. Cepat kirim undangan padaku!" celetuknya.
"Bapak, ikhlas saya menikah dengan dia?" godaku pada Pak Aryan.
"Jodoh sudah tertakar, Sa, gak bakalan tertukar, kok," jawab Pak Aryan ambigu.
"Dan aku adalah takaran yang tepat sebagai jodoh Rosa," seloroh Dion menguatkan posisinya dihadapan Pak Aryan.
"Ngomong-ngomong jodoh, ini kali kedua kita bertemu tanpa sengaja. Sepertinya jodoh antara kita memang ada," papar Pak Aryan dengan senyum tulusnya tanpa menimbulkan kecurigaan apakah itu tulus ataukah modus.
"Jodoh itu gak melulu sebagai pasangan suami istri, kan, Pak? Mungkin kita berjodoh sebagai teman yang baik," ucapku melonggarkan hati Dion yang kutebak mulai membara.
__ADS_1
Pak Aryan menyunggingkan senyum termanisnya, sementara kedua belah tangannya dia angkat tanda tidak tahu. Bertahan pada posisi seperti itu dan kemudian berbalik dan pergi entah kemana.
*****
Pak Aryan PoV
Hadir sendiri tanpa kekasih ke pesta pernikahan itu memang bukanlah sebuah dosa. Namun aku berdosa saat tak sengaja bertemu denganmu di sini. Kamar hotelmu bisa aku tukar, tapi pertemuan tanpa sengaja kita dua hari ini tetaplah menjadi misteri. Benarkah ada jodoh? Pikiran inilah yang membuat dosa itu terlahir. Doa kecil yang berisi seandainya aku yang ada di sisimu, menggenggam jemarimu sekarang, bukan dia yang menjadi suamimu, tapi aku.
Kucoba untuk membuang jauh segala keegoisanku, harus selalu kupatri bahwa kamu lebih bahagia jika dengannya, lelaki yang kamu pilih. Melepas pandang darimu dan tak sengaja melihat seorang lelaki yang aku kenal. Langkahku pasti, menjauhimu dan berjalan ke arahnya. "Key," sapaku dengan lembut padanya.
Ya ... dia adalah Key Achilles Sanjaya, putra sulung keluarga Sanjaya. Kami berteman karena lingkaran bisnis keluarga kami.
"Kak Aryan, ternyata Kakak diundang juga ke acara ini?" tanya Key yang langsung memelukku.
"Ya begitulah, undangan khusus dari Raymond dengan souvernir 1 perangkat handphone MANGO juga sepasang tiket ke London," paparku dengan senyuman.
"Kakak, datang sama siapa?" tanya Key saat melihatku berdiri sendiri.
"Ha-ha-ha ... aku datang sendiri, aku dapat merubahnya menjadi tiket kepulangan, Elliot yang mengurusnya, pokoknya acara ini sungguh luar biasa bukan," kekehku menertawakan diri sendiri.
"Jangan murung, bahagialah sepertiku! Mencintai harus membuatmu bahagia, begitupun jika terluka, kamu harus tetap bahagia! Mungkin lukamu adalah bahagianya. Jadilah pencinta yang tidak egois! Karena cinta itu membahagiakan," terangku menyadari ada yang tidak beres dengan perasaan Key saat melihat Jessie, tunangannya.
Aku sekilas memperhatikan jika Jessie mencuri pandang pada Zeno, bodyguardnya. Padahal saat yang sama Key sedang mengobrol dengannya. Jessie lebih tertarik memperhatikan Zeno daripada Key. Ada apa dengan mereka bertiga?
Ah, kenapa aku jadi kepo? Bisa-bisanya aku menasihati dia? Padahal aku sendiri butuh nasihat agar bisa pergi darimu. Meskipun aku memilih untuk mendengarkan suara hatiku, untuk tetap di sini. Melihat kalian bahagia dan aku juga harus bahagia karena itu. Ya ... aku bisa menasihati diriku sendiri.
*****
Rud PoV
"Rud, apa kita berjodoh, ya? Sudah main jauh ke London, ketemunya kamu lagi kamu lagi," ucap Zeno, bodyguard Nona Jessie yang kebetulan adalah sahabatku sejak SMA.
Kami sama-sama berasal dari Jogja. Dan entah bagaimana Tuhan menakdirkan, kami memiliki profesi yang sama, bodyguard.
"Tuh, jodohku," tunjukku pada lelaki dan perempuan yang sedang mengobrol sembari diiringi tawa yang tak lain adalah dirimu dan Dion.
__ADS_1
Zeno meluruskan pandangan pada arah yang kusebutkan. "Bangun, woy! Udah punya laki, jangan jadi pebinor!" celetuk Zeno dengan gayanya yang somplak, tertawa diatas lukaku.
"Nasihatin 'tuh hatimu sendiri," perintahku tanpa menjelaskan secara rinci maksud dari kalimatku.
Zeno nampak berpikir, mencerna omonganku. "Gak usah sok mikir 'gitu, kayak punya pikiran, aja."
"Apa, sih? Aku gak paham," tanya Zeno sambil nyengir.
"Aku tahu kamu sama Nona Jessie ada apa-apa," jelasku malas menunggu pikiran Zeno yang lagi jalan-jalan dan gak tau kapan pulang.
"Ssssttttt!" Zeno membungkam mulutku dengan tangan kanannya.
"Lepasin!" sergahku menepis tangan Zeno.
Keributan kecilku dengan Zeno yang sebenarnya hanya gurauan seorang kawan ini, diperhatikan oleh beberapa pasang mata dari orang-orang yang ada di sekitar kami. Mungkin mereka keheranan melihat dua bodyguard yang seharusnya menampakkan tampang garang, malah berkelakuan macam anak kecil.
"Rud, sepertinya kita harus ganti nama duo kita deh. Duo Gagah gak cocok lagi, ganti Duo Pencinta Nyesek, aja, gimana?"
Aku manggut-manggut. "Nyesek, ya?"
"Hu um," Zeno ikut manggut-manggut.
Dan akhirnya kami manggut-manggut berjamaah. Bisa bayangin, kan? Dua bodyguard yang sedang terjebak dalam rasa dan terhalang status. Bikin nyesek tapi harus profesional. Begitulah kenyataan pahit yang harus kami telan.
Beruntung aku memiliki sahabat sepertinya, Zeno yang somplak. Setidaknya lukaku masih bisa ditertawakannya. Dan akhirnya kami tertawa bersama, meratapi lara dalam seutas canda.
Kumelirikmu disela menahan duka, merasakan nyeri. Seandainya dan hanya kata seandainya yang memenuhi ruang pikirku. Seandainya aku memilih mempertahankanmu waktu itu, pasti sekarang akulah yang telah meminangmu. Namun, kini tinggal seandainya.
*****
Kalian yang ingin kepoin pernikahan mewah ala Tuan Raymond silakan mampir ke sini, ya!
Yang kepo dengan cinta bikin nyesek ala Key dan Zeno, buruan cek di sini!
__ADS_1