
Hatiku benar-benar kacau berhadapan dengan situasi yang membuatku tak bisa berpikir jernih. Belum berhasil meyakinkan pilihan yang kujatuhkan pada Dion tapi dia malah sengaja memanas-manasiku dengan perempuan lain.
"Kamu, cemburu?" suara yang kukenali sebagai milik Mama itu tiba-tiba sudah berada di hadapanku.
Kutolehkan pandanganku dan segera menghambur ke dalam pelukannya. "Mama," sebutku lembut seperti mendapatkan tempat untuk menumpahkan segala beban yang membelengguku.
"Kamu, cemburu?" Mama mengulang pertanyaannya. "Dion lebih cemburu saat melihatmu dengan Rud," jelas Mama kemudian yang membuatku berpikir apa saja yang telah terjadi antara aku dan Mas Rud beberapa hari terakhir.
Ciuman itu, pelukannya saat sesi foto dan tatapannya sebelum pergi, itu sudah lebih dari cukup untuk membuat kecemburuan Dion meluber. Dan aku dengan santainya mengulang lagi dan lagi adegan-adegan yang bisa memicu itu terjadi. Pantas saja jika kecemburuan Dion mencapai puncaknya.
"Sa, kok, malah diajak ngobrol di sini? Mama diajak masuk, dong!" suara Mami membuyarkan lamunanku.
Kedua wanita itu saling memeluk seraya menyunggingkan senyum sempurna. Dengan akrabnya bertegur sapa seolah sudah saling mengenal lama. Mami mempersilakan Mama masuk dan aku mengekor di belakang mereka.
Kutinggalkan mereka mengobrol di ruang tamu. Menyiapkan dua cangkir lemon tea hangat untuk menemani mereka bercerita tentangku dan Dion pastinya. Untuk apa Mama menyusulku jika bukan untuk masalah penting. Dan kurasa aku dan Dion adalah masalah terpenting yang harus Mama carikan jalan keluar untuk saat ini.
Meletakkan satu cangkir di meja depan Mami dan satu cangkir lagi di meja depan Mama. "Silakan diminum Mi, Ma!"
Kududukkan diriku, berbagi sofa dengan Mama. Terdiam. Aku akan mendengarkan apa yang akan mereka bicarakan.
"Sebaiknya kapan kita menikahkan mereka, jeng?" tiba-tiba saja Mami membahas masalah pernikahan.
Kalian yakin sekali akan terjadi ikatan suci itu? Padahal Dion saja saat ini sedang meragukanku. Dan mungkin sekarang dia sedang menyeleksi beberapa wanita lain untuk menggantikan posisiku. Kutundukkan kepalaku, aku takut membuat mereka kecewa. Aku takut jika pada akhirnya Dion memilih untuk mengakhiri hubungan kami.
"Kamu, kapan siap menjadi anak Mami, Sayang?" tanya Mami dengan senyum menggodanya.
"Tanya sama Dion, aja, Mi, masih mau gak sama Rosa?" jawabku apa adanya.
Mami mengusap kepalaku dengan lembut. "Kamu takut Dion meninggalkanmu? Itu gak akan terjadi. Semalaman saja dia gak bisa tidur karena diem-dieman sama kamu," terang Mama.
Masa? Masa, sih, Mi? Iyakah? Benarkah? Sungguh? Rasanya aku ingin mencerca Mami dengan segala pertanyaan itu. Namun sikap Dion yang ditunjukkannya tadi, membuatku ragu dengan pengakuan Mami. Mungkin saja Mami hanya menyenangkan hatiku. Ya ... sepertinya begitu.
"Dion menyerah Mi, kemarin saja dia menyuruh Rosa untuk ngejar Mas Rud," ceritaku dengan sendu.
"Sebenarnya, hatimu untuk siapa, Sa?" Mama ikut mengintrogasi perasaanku.
Tentu saja untuk Dion. Hanya saja, ada sedikit rasa yang belum sempurna hilang untuk Mas Rud. Karena itulah aku bingung bagaimana menjelaskannya. Kalau aku jujur, bagaimana tanggapan mereka? Kalau bohong? Ah ...
"Tuh, kan, Mi, Rosa tuh masih cinta sama Rud," ketuk palu Dion yang entah kapan kembali.
Dia sedang duduk di samping Maminya, tepat di hadapanku. Dia silangkan kakinya sementara kedua tangannya ia sedekapkan di depan dada.
"Jeng, kita tinggalkan mereka berdua, yuk! Biarkan mereka berantem sampai puas," tutur Mami seraya berdiri dari duduknya dan diikuti Mama di belakangnya. Mereka berjalan ke luar rumah mengarah ke rumah Eyang.
__ADS_1
Aku masih membisu, begitupun dengan Dion.
"Kita, putus saja! Silakan pilih, aku putusin atau kamu mutusin aku?" tukas Dion memintaku menentukan pilihan.
"Aku ...," tak ku selesaikan kalimatku namun buru-buru dia potong.
"Baiklah, aku terima kamu putusin. Sekarang silakan kamu kembali sama Rud. Besok aku antar kamu dan Mama kembali ke Jakarta," tegasnya, kemudian segera beranjak dari duduknya.
"Aku ... gak mau kita putus," jelasku sebelum dia sempat melangkahkan kakinya.
Dia hentikan langkah yang hendak dia jangkau. "Aku gak mau jadi kekasih bayangan," tohok Dion.
"Kamu sudah dapat penggantiku?" selidikku.
Dion mendekatkan diri padaku, mengambil tempat di sebelahku. "Kalau kamu saja sudah mencari pengganti padahal masih ada aku disisimu, maka aku juga bisa melakukannya."
Balas dendam? Begitukah yang ia lakukan sekarang? Oh ... kejam sekali dia!
"Kalau aku punya penggantimu, ngapain aku masih di sini?" paparku menatapnya dengan menahan air mata yg hendak meluber.
"Tanyakan pada hatimu sendiri! Datangi aku kalau kamu sudah bisa memutuskan!" tegas Dion seraya menyambar kunci motor yang ada di meja dan keluar rumah dengan raut wajahnya yang tidak bersahabat.
Tertegun kumemandang kepergiannya. Beginikah sakit yang ia rasakan saat merasa tak lagi dicintai sepenuh hati? Mungkin lagunya ada band "Setengah Hati" bisa mewakili perasaan, kemarin perasaan Dion dan sekarang adalah perasaanku.
*****
Papi meletakkan sebuah undangan di meja depan Dion. "Kamu yang harus datang mewakili Papi!" perintah Papi kemudian.
Dion mengambil undangan itu dan segera membukanya. Tuan Raymond Weil, CEO MANGO Corporate, begitulah nama calon mempelai pria yang mengundangnya. "Mengapa tidak Papi sendiri yang menghadirinya?"
"Karena yang menikah itu anak muda, jadi yang pantas datang adalah kamu," jelas Papi seraya menyeruput kopi di cangkirnya.
"Gak, ah, Pi. Biar Mas Dito aja, ya. Sekalian ngajak Mbak Sharika sama Arrki jalan-jalan ke London," Dion terus berusaha menolaknya.
"Pokoknya, kamu!" Papi tak menerima penolakan.
"Kalau ke sana harus bawa pasangan, lah, Pi." papar Dion.
"Bawa pasanganlah, gitu aja kok repot!" seloroh Mami dengan entengnya.
Dion membuang napas kasar. "Pasangannya, gak ada, Mi. Mau ngajak siapa?" sindir Dion seraya melirikku tajam.
Aku bagaikan kekasih yang tak dianggap. Nyata-nyata ada di depan mata malah dibilang gak ada. Nyeseknya tuh sampai kemana-mana.
__ADS_1
"Kalian, masih marahan? Sana ngobrol berdua! Satu jam lagi balik ke sini, tentukan tanggal pernikahan kalian," seru Papi.
Tak ada yang beranjak, baik aku maupun Dion. Hanya saling pandang dan kemudiam sama-sama melengos.
"Kalau kalian gak buruan pergi, Papi nikahin sekarang!" ancam Papi yang akhirnya membuat kami meninggalkan sofa empuk yang kami duduki.
*****
"Kamu, mau aku nikahin?" tanya Dion to the point setelah kami berdua baru saja mendudukkan diri di ruang keluarga.
"Mau!" jawabku tanpa berpikir.
Dion menggeser tubuhnya dan menatapku penuh arti. Sepertinya dia tak menyangka dengan jawaban cepatku. Sebuah deheman ia suarakan untuk menutupi sebuah rasa yang ingin ditutupinya. "Gak, nyesel?" tanyanya ingin memastikan.
"Lebih cepat lebih baik," aku sendiri pun bingung kenapa kalimat-kalimat itu tiba-tiba meluncur dari mulutku begitu saja.
Bukannya aku menyesal tapi sejujurnya aku lega. Jika aku paksakan bicara, belum tentu aku bisa mengutarakan semua itu. Sekarang, Dion justru yang sedang meradang. Semua jawabanku seperti berada diluar dugaannya. "Sudah bisa mencintaiku sepenuhnya?"
"Aku tak bisa melihatmu dengan wanita lain, hatiku sakit," jelasku tak memberikan jawaban sesuai pertanyaan yang ia ajukan.
"Aku sebagai tunanganmu juga gak terima kalau kamu bersama lelaki lain," terang Dion membalikkan pengakuanku.
"Kita saling mencintai," jelasku.
"Aku yang mencintaimu sepenuh hati, tapi kamu tidak," sindirnya yang membuatku mengingat lagi semua yang telah memicu pertengkaran kami.
"Aku mencintaimu," akuku dengan memaksimalkan ekspresi penuh cinta.
"Dan juga mencintainya" tohoknya yang sayangnya itu adalah sebuah kenyataan.
Kenyataan yang tak ku pungkiri kebenarannya untuk beberapa waktu lalu. Namun aku menyangkalnya untuk sekarang. Aku sudah putuskan untuk mencintai Dion sepenuh hati. Sedang berusaha dan akan terus berusaha menjadikan dia satu-satunya.
"Kenapa diam?"
*****
Rosa akan menjadikan Mas Rud sebagai cinta masa lalu, seperti kisah novel temen author satu ini, silakan mampir, ya!
Mas Rud sebagai masa lalu, dan Dion selalu ada untuk menjadi tempat bersandar. Begitulah, serupa novel di bawah ini, silakan berkunjung sambil nunggu up Dion dan Rosa tiap pukul 0.00 WIB!
__ADS_1