
"Kita, mau kemana?" tanya Dion dari kursinya.
"Menikah," timpalku.
"Kamu, jangan bercanda," ucap Dion dengan ekspresi datarnya.
Aku menatapnya ketus. "Kalau kamu gak percaya, diamlah!"
"Mana bisa aku diam, kalau kamu mau memaksaku menikah," timpalnya lagi.
"Aku hanya menagih janji yang baru saja kamu ucapkan," tegasku.
"Aku akan menikahimu tapi bukan begini caranya," yakin Dion.
"Aku, maunya begini," jawabku singkat.
Suasana canggung yang tadi terjadi di rumah, berbanding terbalik dengan keadaan di sini, di mobil Dion yang aku sopiri. Kali ini aku perintahkan Dion duduk santai sementara aku yang menyetir. Aku akan membawanya ke suatu tempat. Aku ingin pertengkaran dalam diam ini segera berakhir. Aku bosan diacuhkan dan aku rindu diperhatikan. Aku bosan dilanda sepi, hariku tanpa Dion serasa mati.
"Nyetirnya yang fokus, lihat depan tuh, jangan ngelirik aku terus!" ingat Dion.
"Jangan keGRan! Aku cuma gak mau kamu kabur," kilahku.
"Kalau aku kabur, keenakan kamu bisa dapet mobilku," jawab Dion.
"Kalau gitu, kamu kabur aja deh," selorohku.
Dion memutar tubuhnya ke arahku. "Kalau aku kabur, kamu mau nyari Aryan, gitu! No! Aku akan tetap di sini!"
Geli ... geli ...geli ...
Rasanya aku ingin tertawa ngakak melihat kelakuannya. Masih saja cemburu sama Pak Aryan.Padahal, di hatiku sama sekali gak menyimpan rasa untuknya. Hanya teman, tidak lebih dari itu. Namun aku paham, bagi seorang kekasih, semua lawan jenis pasangannya adalah rival. Harus selalu diwaspadai!
"Jangan ngebut! Aku masih ingin menikmati surga duniaku," lagi-lagi Dion mengingatkan.
Astaga! Lelaki itu benar-benar, ya. Pikiran mesumnya itu tak mengenal situasi dan kondisi. Katanya cemburu tapi tetep aja mesum. Jika wanita merajakan perasaan, apakah lelaki mendewakan piktor? OMG!
Ku lirik lelaki disampingku itu. Dari sudut mataku, dapat ku lihat wajahnya yang masih datar. Tak ada senyum manisnya yang melelehkan.
"Makanya, ini aku mempercepat proses menuju surga duniamu, itu," jawabku yang terjeda oleh pikiran-pikiranku.
Diam. Dion tak menjawab lagi. Sampai aku membelokkan laju mobilku di sebuah parkiran dan menghentikan di sana. Dia tetap tak berkomentar. "Ayo, turun! Mau surga dunia, gak?"
"Surga dunia macam apa yang bisa didapat di sini?" gerutunya.
Setelah mencabut kunci mobil, aku pun keluar. Ku lihat Dion juga sudah berada di depan mobil. Segera ku gandeng tangan Dion. "Ayo, manjakan aku!"
Terus aku gandeng tangannya menyusuri jalanan yang terhampar di depan kami. "Belikan aku gulali!" pintaku.
"Untuk apa? Aku gak mau membelikan sesuatu yang sudah pernah dibelikan orang lain," tolaknya.
"Untuk menghapus jejak kecemburuanmu pada Pak Aryan. Kemarin dia membelikanku gulali maka sekarang belikan aku gulali juga. Biar yang ku ingat adalah dirimu bukan dirinya," jelasku meluas.
Menghadapi kecemburuan lelaki macam Dion itu, gak bisa hanya dengan omongan. Harus dengan tindakan nyata. Jika ia romantis maka kalian harus lebih romantis. Jika ia perhatian maka kalian harus lebih perhatian. Jika ia mesum maka kalian harus lebih mesum. Dijamin pikiran mesumnya akan membeku. Bubar! Ambyar!
"Kalau begitu, aku akan membelikanmu semua gulali yang ada di sini. Agar ingatanmu selalu tentangku," Dion mulai menggombal.
"Jangan lebay, ayo!" aku kembali menggandeng tangan Dion setelah Dion membayar gulaliku.
__ADS_1
"Apakah Aryan kemarin juga kamu gandeng seperti ini?" tanyanya.
"Kemarin aku dipeluk sama Pak Aryan," aku tersenyum smirk.
Tanpa menunggu detik berganti, Dion sudah merangkulku dan ku lihat ada senyum tipis di bibirnya. Dan aku juga tersenyum penuh kemenangan. Modusku perlahan berhasil meluluhkan kediamannya.
"Menipumu gampang, ya, Di?" ejekku enteng.
"Aku rela menjadi korban penipuanmu kalau yang kamu tipu adalah hatiku," akunya dengan kadar senyum yang semakin meningkat.
Berhenti di depan gerobak bakso tusuk dan mengumbar senyum di hadapan Dion. Ku angkat kedua alisku. "Ini nih yang bikin tunanganku cemburu."
"Bang, dua tusuk, ya! yang pedes," pintaku.
Ku berikan gulaliku pada Dion, begitu si abang mengulurkan sebungkus bakso tusuk padaku. Aku menyuapi Dion dengan penuh senyum. "Jika kemarin Pak Aryan yang mencomot bakso di tanganku, kamu pikir dia hendak menciumku maka sekarang aku yang menyuapimu. Apakah kamu berpikir jika aku akan menciummu?" godaku.
Dion nampak bermain dengan mulut dan bibirnya. Menghembuskan napasnya dengan gelisah. Keringat mulai mengintip di dahinya.
"Gila pedesnya, kamu sengaja ya?" ucapnya sambil mengambil sebotol air mineral dingin yang dijajakan di dekat penjual bakso tusuk.
Aku pun memberikan uang untuk air mineral yang diambil Dion. Setelah ku lihat Dion mulai terbebas dari rasa pedas yang menyerangnya, aku ikut duduk di sampingnya. "Pedesnya bakso tusuk itu, tak sepedes kecemburuanmu padaku, Sayang," bisikku di telinganya.
"Apakah kamu juga berbisik-bisik begini dengan Aryan?" ucapnya seraya melihatku dengan ekspresi yang semakin ramah.
"Semakin banyak bertanya, kamu nanti bisa makin cemburu," jawabku mengejeknya seraya tersenyum smirk.
Dion kembali meneguk air mineralnya. "Apa saja yang kalian berdua lakukan kemarin malam?"
Aku menarik tangannya lagi, menuntun untuk kembali berjalan. "Ikuti saja alur yang sudah ku siapkan!"
"Berdiri di sini dan makan baksomu, lagi!" perintahku setelah membawa Dion ke lokasi pelabrakan Anggen kemarin.
"Kamu jangan meremehkan kekuatanku. Kamu belum pernah mencobanya," ucap Dion kembali meraih bakso tusuk di tanganku.
"Ya udah, coba! Habiskan!" tantangku.
"Omong doang itu namanya hoaks," lanjutku.
Dion mulai melahap baksonya. Satu, dua dan mungkin akan menghabiskannya. Bukan karena suka dengan rasa baksonya atau mulai bersahabat dengan kepedasannya tapi karena aku meragukan kekuatannya.
"Ternyata, kamu kuat juga, ya?" pujiku setelah Dion tak menyisakan bakso itu di mulutnya.
"Aku lebih kuat dari yang kamu pikir. Lalu, apa yang Aryan lakukan setelah menghabiskan baksonya?" Dion mencari tahu.
"Pak Aryan gak menghabiskan baksonya," ucapku enteng.
"Kalau begitu, kenapa aku harus menghabiskannya?" Dion mulai geram.
"Selamat, kamu kena prank, Sayang! Ha-ha-ha ...," aku tertawa ngakak.
Dion merangkulku dan mencubit hidungku. "Kenapa kamu mulai nakal? Sebagai hukumannya, kamu harus mentraktirku!" tuturnya kemudian.
"Aku gak bawa uang," jelasku.
Sama sekali, tak ada uang ataupun dompet yang ku bawa. HP pun ku tinggalkan di rumah. Ohya ... HP! Aku belum ngabarin kalau aku keluar sama Dion. Tadi tiba-tiba saja aku membawa kabur Dion tanpa sempat pamitan. Mereka pasti khawatir.
"Di, telepon Kristy, dong! Bilang kalau kita keluar sebentar. Takutnya dicariin," pintaku pada Dion.
__ADS_1
"HPku juga ketinggalan," ucap Dion seraya mengangkat kedua tangannya isyarat tak bisa berbuat apa-apa.
"Yah, gimana dong?" aku bingung.
"Tenang, aja! Mama gak bakal khawatir anak gadisnya diculik karena tadi Mama tahu kalau aku yang nyari kamu," jelasnya menenangkanku.
Benar juga, sih, yang Dion katakan. Kristy pun juga tahu tadi Dion yang bertamu. Jadi kalau aku menghilang, itu pasti bersamanya. Keluargaku itu sudah begitu percaya pada Dion. Dulu aja, waktu aku dan dia belum terikat hubungan, Mama bisa mempercayakanku pada Dion selama opname di rumah sakit. Apalagi sekarang saat hubungan kami tinggal selangkah menuju pernikahan.
"Coba ceritakan, apa yang terjadi selanjutnya setelah foto ciuman itu?" pinta Dion setelah kami memilih untuk duduk lesehan sambil menunggu jagung bakar yang Dion pesan.
"Dilabrak Anggen gara-gara kamu bilang kalau dia adalah istri kedua Tuan Krisna," ceritaku.
Dion nampak terkejut mendengar ceritaku. "Padahal aku hanya bercanda. Kemarin aku bilang begitu karena aku baru saja membelikanmu sebuah novel Karya Syala Yaya yang berjudul "Istri Kedua Tuan Krisna". Semuanya terlintas begitu saja hingga terucaplah kalimat itu."
"Candaanmu gak tepat waktu, Sayang. Suami Anggen itu kebetulan juga bernama Krisna. Makanya dia ngamuk-ngamuk," jelasku.
Dion tersenyum nyengir. "Maafkan, aku, Sayang! Kamu gak kenapa-napa, kan?"
"Untung ada Pak Aryan, dia membelaku. Dia bilang, Anggen salah sangka karena menuduh aku dan dia selingkuh. Dia meyakinkan kalau dia adalah kakakku," jelasku.
"Kakak? Kakak yang menyimpan rasa cinta?" Dion mulai ketus lagi.
"Jangan cemburu! Masih mending dia bilang kakak, kalau dia bilang pacarku, nanti kamu cemburu lagi," ledekku.
"Aku tetep gak suka dia mengaku sebagai kakakmu," gerutunya.
Ku gelengkan kepalaku. "Ayo, temenin aku naik bianglala," rengekku seraya menarik tangannya untuk segera berdiri.
"Jagungnya gimana?" tolak Dion.
Aku terus menariknya. "Nanti kita balik lagi."
Dion pun akhirnya menurut. Mengikuti kemana langkahku menuntunnya tanpa mengeluh.
"Apa kemarin kalian juga naik ini?" tanya Dion kemudian.
"Tentu saja tidak," jawabku tegas.
"Lalu, mengapa kamu mengajakku?" tanyanya lagi.
Bianglala berhenti dan mempersilakan orang-orang yang akan naik. Aku pun menggandeng tangan Dion untuk masuk ke dalam gerbong yang berwarna biru. Perlahan bianglala itu berjalan. Naik dan semakin dekat dengan puncaknya. Aku duduk berseberangan dengan Dion. Menatap matanya yang semakin menampakkan sorot keteduhan.
"Kamu mau tahu kenapa aku naik bianglala ini mengajakmu, bukan Pak Aryan?" tanyaku.
Tak ku tunggu jawaban Dion karena sebenarnya aku ingin meluruskan masalah ini bukan untuk mencari jawaban dia mau mendengar ceritaku atau tidak.
"Aku mau membuat jejak baru denganmu," ucapku seraya mengambil jemarinya untuk ku genggam.
"Perjalanan cinta kita sama seperti perputaran bianglala ini. Selalu berjalan dengan banyak cerita. Kadang dibawah namun juga akan tiba di titik tertinggi. Dulu kamu mengejarku dan selalu aku abaikan. Sekarang aku gak mau kamu mengabaikanku walaupun hanya sedetik saja. Aku mau kamu selalu disampingku. Melewati segala kisah ini. Dan aku mau semua itu aku lalui hanya bersamamu, Di. Bukan Pak Aryan ataupun orang lain."
Dion menggeser tubuhnya untuk semakin dekat denganku. Alhasih gerbongnya sedikit bergoyang. "Selalulah di sampingku meski kadang keyakinanku akan kesetiaanmu sedikit goyang. Percayalah, jika semua kecemburuanku ada karena besarnya rasa cintaku padamu, Sayang. Aku mencintaimu, selalu mencintaimu, dan akan tetap mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu ... Pak Aryan, eh ...," balasku dengan tersenyum nakal.
Dion kembali mencubit hidungku. "Jangan menggodaku terus."
"Aku sangat mencintaimu ... Mas Dionku," akuku seraya menatap mata teduhnya.
__ADS_1
Ia merangsek ke depan dan kemudian mencium keningku. "Selalu panggil aku seperti itu, aku menyukainya."