
Keseruan di pesta pernikahan Tria dan Rio kemarin berbanding terbalik dengan suasana kantor hari ini. Setelah Mas Rendra dan Maya resmi mengundurkan diri, tinggallah aku sendiri dilanda sepi. Tak ada lagi suara renyah Maya yang selalu menggangguku. Dan juga tak ada lagi Mas Rendra yang selalu menjagaku seperti adiknya sendiri.
"Mbak Rosa kesepian, ya?" tanya Bang Kotan yang kebetulan baru saja mengantarkan kopi ke meja sekretaris Pak Aryan.
"Iya, Bang. Biasanya rame, sekarang sepi banget," jelasku.
"Apalagi Pak Aryan juga lagi gak ngantor, sepi maksimal ya, Mbak?" tutur Bang Kotan.
Tumben Pak Aryan gak ngantor, ke mana dia? Kenapa gak ngasih tau aku? Hmmm ... tapi gak penting juga sih buat aku. Namun penting juga, kalau ada dia setidaknya masih ada yang bisa ku ajak ngobrol, gak gabut-gabut amatlah.
Tak ingin bertanya tapi nyatanya malah pertanyaan itu keluar juga. "Pak Aryan, ke mana?"
"Katanya sih reuni ,Mbak," tukas Bang Kotan.
Reuni? Reuni di mana? Di planet? Sampai belum balik juga dan gak ngantor. Bodo amat juga sih sebenarnya, mending fokus kerja, kerja dan kerja.
"Bukannya Mbak Rosa deket sama Pak Aryan, kok malah gak tau?" selidik Bang Kotan mengerutkan dahinya.
"Biasa aja, kok, Bang. Kami cuma temenan," jelasku.
"Katanya, Mbak Rosa pacarnya Pak Aryan," bisik lirih Bang Kotan.
Aku mendongakkan kepalaku. "Siapa bilang?"
Bang Kotan memperlihatkan cengirannya. Tak jua membuka mulut untuk menjawab pertanyaanku. Sebentar kemudian dia malah pamit untuk kembali ke pantry. Dan aku kembali menatap pekerjaanku, tak menghiraukan kalimat Bang Kotan barusan.
*****
Kerja sendiri, makan siang tak ada yang menemani, dan pulang pun tak ada yang menghampiri. Menyedihkan sekali.
Terduduk di halte yang mulai ramai oleh orang-orang yang baru saja pulang kantor, aku asyik memainkan HPku. Dion terlambat menjemput karena dia harus menyelesaikan pekerjaannya. Aku sudah bilang mau pulang sendiri tapi dia kekeh menyuruhku untuk menunggu. Tidak akan lama, itu yang ia janjikan.
"Bisakah, kita bicara?" suara yang sangat ku kenal berasal dari seseorang yang duduk di sampingku.
Mas Rud, kenapa dia ada di sini? Apa dia menungguku? Untuk apa lagi?
Keputusanku untuk melupakan segala tentangnya ternyata berpengaruh sangat besar pada hatiku. Saat ini, aku bisa berhadapan dengannya tanpa mengalami gelombang rasa yang menggelora. Setidaknya, aku lebih bisa menguasai diriku. Bersikap senormal mungkin, selayaknya dua orang yang tidak pernah saling cinta dan terluka.
"Mau ngomong apa?" tanyaku tanpa menoleh ke wajahnya.
__ADS_1
"Kita ngobrol di mobilku," dia pun melangkah menuju mobilnya.
Haruskah ku ikuti permintaannya? Bagaimana jika dia berbuat sesuatu padaku?
"Sebentar saja," begitu ucapnya setelah aku mengangkat teleponnya.
Ku buang napas beratku. Perlahan bangun dari dudukku dan menuju ke mobilnya. Ragu untuk membuka pintu, tapi kemudian ku yakinkan diri. Inilah saatnya, aku sendiri yang akan memintanya mundur.
"Apakah kisah diantara kita sudah benar-benar berakhir?" Mas Rud memutar badannya ke arahku.
"Berakhir? Tidak akan ada akhir jika tidak ada yang mengakhiri, Mas. Bukankah Mas sendiri tahu bagaimana kisah kita berakhir?" jelasku mengingatkan apa yang telah terjadi diantara kami.
"Aku tahu, apakah kita tidak bisa memulainya lagi dari awal?" tandasnya.
"Aku sudah bertunangan," tegasku.
Celah-celah yang bisa dimanfaatkannya untuk kembali mengusikku benar-benar berusaha ku tutup rapat. Tak ingin lagi terbawa pada rasa yang akan menyakiti, bukan hanya menyakitiku tapi juga Dion. Lelaki sebaik dia harus ku tinggalkan demi Mas rud? Tidak! Aku tak akan sebodoh, itu.
Dia menatapku lembut. "Aku masih mencintaimu,"
Ddrrtt-ddrrtt-ddrrtt!
Dion memanggil. Tepat sekali waktunya. Apakah dia merasa jika aku harus segera ia amankan. Diamankan dari perusak rasaku sore ini.
"Maaf, Mas, aku rasa pembicaraan kita sudah cukup. Terimakasih karena masih mencintaiku," ucapku.
Tak ku toleh sama sekali wajahnya selama percakapan tadi. Bahkan sampai aku memutuskan untuk segera turun dari mobilnya, aku tak menatapnya. Aku lega bisa bicara banyak kepadanya. Meskipun kalimat "Aku masih mencintaimu" masih sedikit menggetarkan hatiku. Abaikan!
"Mas, buka pintunya," pintaku saat pintu mobilnya tak bisa ku buka, terkunci.
Bukannya membuka pintu, dia malah memasang seatbelt-ku. Aku terkesiap dengan jarak yang tiba-tiba dia pangkas. Tetap ku palingkan wajahku dari tatapan matanya. Dia kembali pada posisinya dan kemudian menginjak pedal gas mobilnya.
"Mas, berhenti! Aku mau turun," perintahku.
"Untuk kali ini, biarkan aku mengantarmu pulang," pintanya tenang.
"Aku udah dijemput Dion, Mas," tolakku sopan seraya melepaskan seatbelt-ku.
Tak ku sangka, Mas Rud langsung menepikan mobilnya. Bukannya membuka pintu tapi malah memakaikan lagi seatbelt yang tadi ku lepas. Pada waktu yang bersamaan, Dion kembali meneleponku. Menanyakan keberadaanku yang tak ditemuinya di halte depan kantor.
__ADS_1
Mas Rud mengambil HPku. "Rosa, bersamaku. Aku akan mengantarnya pulang."
Hanya kalimat itu yang diucapkannya dan ia matikan panggilannya. HPku juga dinon aktifkan dan kemudian ia simpan.
Ingin rasanya aku ambil kembali. Namun ku pikir itu akan percuma. Akhirnya ku biarkan saja semua yang dilakukannya. Aku pun tak lagi merengek untuk diturunkan. Ku putuskan untuk mendengarkan apa yang akan dia ceritakan padaku kali ini.
"Meski pikiranku tak bisa fokus, tapi aku berusaha tenang. Aku kepikiran Dion. Tunanganku itu pasti kelabakan begitu mengetahui aku sedang bersama Mas Rud. Namun jika aku tak memberi waktu bicara pada Mas Rud kali ini, dia pasti akan menggangguku lain waktu.
"Mas, kisah diantara kita sudah berakhir, sekarang kita harus menjalani hidup kita masing-masing," tuturku.
"Aku ingin mengawalinya lagi," tiba-tiba Mas Rud meraih tanganku dan menggenggam jemariku lembut.
Ku tepis genggamannya dengan sekuat tenaga. Kali ini Mas Rud tak menahan tanganku, dia longgarkan genggaman jemarinya. Segera ku jauhkan tanganku dari jangkauannya. Takut jika dia berubah pikiran dan kembali menggenggamnya lagi.
"Sa, kita pasti akan bahagia, aku tahu kamu masih mencintaiku," ucapnya kemudian.
"Jangan terlalu yakin, Mas. Aku sudah bahagia dengan Dion. Ku mohon, Mas juga cari kebahagiaan dengan orang yang Mas cintai sekaligus mencintai Mas," tuturku bijak.
"Mauku, hanya kamu," yakinnya.
Aku menatap lurus jalanan di depanku. "Kalau hanya aku yang Mas mau, Mas gak akan meninggalkanku tanpa penjelasan.
Mas Rud menoleh ke arahku sendu. "Aku terpaksa meninggalkankmu."
"Dan sekarang Mas juga terpaksa harus menerima jika aku tinggalkan begitu saja," jelasku yakin.
"Kamu jangan membohongi dirimu sendiri, Sa. Jangan pura-pura bahagia. Hanya aku yang akan membahagiakanmu," terang Mas Rud kembali meraih jemariku.
Ku sentakkan sentuhan tangannya. "Jangan ganggu aku, lagi, Mas. Menikahlah dengan orang lain, karena aku juga akan menikah dengan Dion."
Kalimat itu terpaksa ku ucapkan. Tak tahu lagi bagaimana cara menghancurkan mimpinya. Jika aku tak bisa berbicara baik-baik biarlah dia pergi dengan kekecewaan asalkan dia juga bahagia nantinya.
Hening ... rupanya kalimat terakhirku tadi berhasil membuatnya bungkam. Mungkin dia shok, tak menyangka akan mendengarnya dari mulutku. Aku pun sebenarnya tak tega menyakitinya seperti ini. Terlalu kejam, tapi rasanya akan lebih kejam jika aku memilih untuk kembali padanya dan meninggalkan Dion begitu saja.
Mas Rud menghentikan mobilnya begitu sampai di depan gerbang rumahku. Tak ada lagi obrolan yang tercipta. Dia diam, membuat perasaanku semakin tak karuan. Apa aku keterlaluan?
"Turunlah," hanya kata lemah itu yang diucapkannya.
Mendengar ucapannya, hatiku miris. Ku lepas seatbelt-ku dan ku putar tubuhku menghadapnya. "Jika dulu Mas mengorbankan perasaan agar aku bahagia, sekarang biar aku yang berkorban untuk kebahagiaan Dion. Aku yakin kita juga akan bahagia dengan semua yang telah kita korbankan, Mas."
__ADS_1
Baru aku berniat untuk turun, tapi tiba-tiba saja dia memelukku. Entahlah ... aku tak berniat menolaknya kali ini. Biarlah ini jadi pelukan terakhir yang kami rasakan. Pelukan perpisahan untuk dua hati yang pernah meneguk manisnya cinta.
"Aku turun," ucapku setelah melepas pelukannya. Ku genggam jemarinya sebentar, dan ku ulaskan sebuah senyuman. Dia menatapku lembut. Tatapan deja vu yang dulu membuatku jatuh cinta. Dan sekarang tatapan deja vu itu membuatku patah hati.